24 April 2010

Perempuan dalam Dua Budaya

Sebenarnya sedikit riskan untuk menulis topik pesenan neng Cemutz ini. Bagaimanapun ini sedikit rasial dan sukuisme walaupun sudah menjadi rahasia umum di masyarakat kita. Jadi tolong anggap saja ini sekedar wacana dan jangan sampai dimasukin hati, apalagi dompet.

Aku sendiri sempat heran, kenapa sebagian masyarakat kita sering mempermasalahkan kesukuan ini hanya untuk Jawa dan Sunda saja. Suku lain jarang dibahas, misalnya orang Jawa kawin sama Eskimo apa es campur. Atau mungkin karena aku hidup hanya di kalangan dua suku itu, jadi informasi dari suku lain tidak aku dengar.

Ada stereotip di masyarakat kita, khususnya suku Jawa yang melarang perempuan Jawa menikah dengan laki-laki Sunda. Tidak pernah aku temukan alasan pasti, karena sudah kebiasaan orang tua kita ketika ditanya hal semacam itu hanya cukup menjawab, ora ilok atau pamali.

Mungkin ini ada kaitannya dengan mitos yang berkembang di tanah Jawa, yang mengatakan orang Jawa lebih tua daripada orang Sunda. Maksudnya apa, aku kurang faham. Tapi bila ditelusur ke leluhur orang Sunda yang dulu mengasingkan diri ke daerah Banten, mereka menyebut bahasanya sebagai Sunda karuhun. Karuhun itu bisa diartikan sebagai leluhur. Bisa jadi cikal bakal bahasa Sunda memang berawal dari sini. Padahal secara kosa kata, Sunda karuhun banyak persamaan dengan bahasa Jawa kuna.

Budaya patriarki kita menganggap bahwa laki-laki posisinya lebih tua daripada perempuan. Jadi bisa dikatakan bila perempuan jawa dinikahi laki-laki Sunda, berarti sama saja dinikahi oleh adiknya.

Catatan sejarah juga pernah menceritakan tentang Perang Bubat. Ketika Gajah Mada sedang memenuhi Sumpah palapa nya, seluruh asia tenggara sudah ditaklukan, kecuali Pakuan Pajajaran. Kesulitan itu kemudian diakali oleh Hayam Wuruk dengan mempersunting Dyah Pitaloka, putri Prabu Siliwangi untuk dijadikan istrinya. Namun pemikiran gajah Mada lain lagi. Dia menganggap dengan pernikahan itu, Majapahit akan berada di bawah Pajajaran, karena bagaimanapun juga menantu harus mau sungkem ke mertua.

Agar posisi Pajajaran tetap di bawah Majapahit, satu satunya jalan menurut gajah Mada adalah dengan cara menaklukannya secara militer. Sehingga ketika rombongan Dyah Pitaloka sudah tiba di lapangan Bubat di seputaran Blitar, Gajah Mada menyerang mereka sampai akhirnya Dyah Pitaloka bunuh diri. Dendam lama ini yang mungkin digembor-gemborkan ke anak cucunya, sehingga muncul pemeo laki-laki Jawa boleh menikahi perempuan Sunda, tapi sebaliknya tabu.

Memang susah kalo sudah berhubungan dengan kata ora ilok atau pamali. Karena alasan pastinya tak akan pernah sampai ke level kita secara gamblang, walau mungkin itu nasehat yang baik sebenarnya. Kalo aku sendiri sih lebih cenderung menganggap itu sebagai pencegahan atas konflik yang mungkin terjadi di tengah pernikahan itu nantinya. Bagaimanapun perbedaan latar belakang budaya bisa membuat orang susah untuk berkomunikasi secara total.

Walau mungkin ini sudah tidak begitu relevan lagi di masa kini. Dimana dunia pendidikan sudah menerapkan satu kurikulum secara nasional. Jadi walau berbeda suku, pembelajaran formal yang diterima boleh dikatakan relatif sama. Hanya saja, masyarakat kita masih banyak yang memegang teguh adat dan kebiasaan karena pengaruh lingkungan. Sehingga upaya nasionalisasi pemikiran kadang tidak berjalan maksimal juga.

Budaya atau cara pandang stereotip memang susah dihilangkan dari masyarakat kita. Kadang itu yang membuat seolah-olah suku-suku bangsa itu diklasifikasikan dalam benak mereka. Seperti orang Jawa dianggap rajin dan tekun bekerja, walau yang malas juga banyak. Tapi di mata umum, mereka akan berpendapat seperti itu. Sampai-sampai ketika mau cari pembantu rumah tangga, kita lebih suka mencari orang Jawa daripada suku lainnya.

Perempuan Sunda apalagi yang disebut mojang priangan akan digeneralisir sebagai perempuan yang pasti indah, walau yang jelek juga banyak. Sayangnya di mata umum, keindahan itu lebih cenderung diarahkan ke fisik. Sedangkan sisi non fisik, perempuan Sunda cenderung dianggap materialistis dan hanya suka bersolek. Tak heran bila ada anekdot yang berkembang, mengatakan bahwa perempuan Jawa bangun tidur yang dipegang sapu, sedangkan perempuan sunda cermin.

Pengibaratan lain yang pernah aku dengar adalah, wong Jawa mangan kaya ratu, tapi turune kaya asu (makan seperti ratu tapi hidupnya seperti anjing). Dan orang Sunda dianggap kebalikannya.

Maksudnya kira-kira begini. Orang Jawa tidak pernah begitu memperhatikan soal penampilan, tapi urusan makan nomor satu. Pake baju butut ga masalah, yang penting makan kenyang. Dan realitanya, terutama di daerah pedesaan. Bertamu ke orang Jawa, walau rumah sudah hampir rubuh, kopi atau teh manis tetap terhidang. Sedangkan ketika aku berkunjung ke rumah orang Sunda, paling banter air putih itupun jarang.

Beberapa tahun aku hidup di Bandung, aku bisa melihat beberapa perbedaan budaya yang menyangkut penampilan. Seperti misalnya lagi ngumpul di kantor, orang Jawa tetap terlihat lebih kucel dibanding orang Sunda. Aksesoris orang Sunda kebanyakan selalu di atas orang Jawa, walau posisi di kantor dia lebih rendah. Tapi ketika ngobrol bersama sambil merokok, yang bungkus rokoknya diletakan di meja biasanya orang Jawa. Orang Sunda lebih suka mengambil rokok sebatang dan memasukan kembali bungkusnya ke saku. Tak jarang walau mereka membawa rokok sendiri, ketika melihat ada yang tergeletak di meja, mereka ikut nebeng. Istilah mereka, rokok cap cik. Cik bagi sabatang euy...

Tapi karena ini soal budaya antar bangsa, perbedaan-perbedaan ini tak bisa kita perbandingkan. Karena dalam satu suku pun, tetap ada perbedaan antara daerah tengah dan pinggiran. Seperti orang Jokja yang mengatakan orang Banyumas sebagai kaum ngapak. Padahal dalam bahasa Banyumas sendiri kosa kata ngapak itu tidak ada. Sebagai balasan atas sindiran kekasaran bahasa itu, orang Banyumas mengatakan orang Jokja sebagai bahasa bandhek. Yang mungkin berasal dari kata gandhek, yang artinya pesuruh atau kacung.

Buatku tidak ada yang jelek dari budaya suatu suku, asalkan kita tidak melihatnya dari kacamata suku lain. Perkawinan campuran dianggap akan berakhir tragis menurutku cuma masalah perpedaan latar belakang kebiasaan saja. Asalkan kita mampu berasimilasi, masalah semacam itu bisa teratasi.

Aku sendiri kenapa memilih istri dari satu suku, satu daerah malah, hanya karena alasan simpel. Biar ga ribet harus bolak balik kesana kemari ketika harus mudik lebaran. Itu saja...

Jangan seperti temanku, cewek Jawa yang nekat menikah dengan orang Sunda. Peringatan orang tuanya tak pernah dihiraukan, karena sudah telanjur cinta. Awal pernikahan berjalan indah dan mereka mempersiapkan bulan madu. Agar tidak terjadi masalah di jalan, si suami memeriksa mobil dan meminta istrinya membantu.

Ketika butuh alat, si suami berteriak, "Sayang, cokot baud..."
Demi cinta si istri menurut, walau bingung.

Merasa dicuekin, suami teriak lagi, "Cokot tang, say..."
Walau mangkel, si istri masih menurut.

Masih ga diambilin baud dan tang, suami ganti perintah, "cokot dongkrak wae atuh..."

Kali ini istri lari ke kamar dan menangis. Dia sms orang tuanya sambil ngemut tang, "aku wes ra kuat, mbok. pengen muleh..."
 
Simboknya cuma menjawab singkat, "dikandani, ngeyel kowe..."

Ambil positifnya saja ya, say...

17 comments:

  1. ngakakkkk.... :))
    cerita di ujungnya lucu bener deh, hehe...

    BalasHapus
  2. healah, kena musibah dikatain lucu...

    BalasHapus
  3. betul mas,sebenarnya aku masih bingung mengenai larangan perkawinan antara adat sunda dan jawa ini. orang tuaku tidak pernah menjelaskan secara gamblang. tapi kalo bisa sih, mas nulis tentang adat padang dan jawa, yang katanya juga sih, ndak boleh..

    BalasHapus
  4. Parah ah! Masak disuruh nyokot tang..

    BalasHapus
  5. Aduh bingung nih di akhirnya.
    1."Sayang, cokot baud..."
    2."Cokot tang, say..."
    3."cokot dongkrak wae atuh..."

    Ketiga point tersebut menurut orang jawa diartikan apa? Koq bisa sih perempuan jawa tsb nangis hehe..

    Siapa yang tahu, tolong jawab ah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cokot dalam bahasa jawa artinya "gigit/makan" .. Hmm masa cokot tang ( gigit tang) pdahal maksudnya kan ambilin tang kan, by.org jawa yg dulu merantau di cikarang dn berteman dg berbagai suku indonesia dan menjujung tinggi solidarity dengan botol minuman keras

      Hapus
  6. indry... gausah dipikirin deh. itu cuma bawaan mitos yang dibesar-besarkan sehinga mensugesti kita seolah-olah memang benar begitu...

    BalasHapus
  7. yu mil... wis tau ya..?

    BalasHapus
  8. fanfeb...
    cokot tuh dalam basa jawa artinya gigit, makanya tangnya diemut...

    BalasHapus
  9. Wah... apik. Apik postingane. Setiap postingan selalu "jeru". Nambah wawasan sejarah dan humor. :D

    BalasHapus
  10. wah jangan bikin aku malu pak lirik...

    BalasHapus
  11. ada juga yang bilang klo jawa lebih mulia dari sunda
    http://faidah-ilmu.blogspot.com/2011/01/qiyas-yang-paling-buruk.html

    BalasHapus
  12. itu yang terakhir beneran terjadi? atau cuma fiksi?

    cokot dalam bahasa Sunda berarti ambil. sedangkan dalam bahasa Jawa berarti gigit.

    dulu saya juga sempet bingung pas awal2 tinggal di Bandung , maklum asli dari Solo.

    Untungnya tidak sampai menggigit uang, ketika ada teman sekantor yang bilang : eta cokot duit na.

    :P

    BalasHapus
  13. Kasian bgt yah ,,, ceritanya bukan tentang keunikan dari masing2 suku. tapi lebih ke Jelek dan bagus nya salah satu suku.

    BalasHapus
  14. Kang, ijin copas dialoge ya...

    BalasHapus
  15. hmmm...
    Banyak sih yang gatau fakta kalo orang Banten yang selalu diidentikan dengan orang Sunda itu ternyata juga ada Jawanya, Jawa Banten merupakan campuran etnis Jawa bekas pasukan kerajaan Demak dan Cirebon yang menyebarkan Islam di Banten dengan suku aslinya Sunda Banten. kalo tak percaya coba ke Serang ngomongya pake bahasa Jawa manggil kaka perempuan Teteh (khas untuk pr Sunda) yang laki-laki Kakang (khas untuk lk Jawa). jadi ada akulturasi, unik ga sunda juga ga jawa.
    dan Saya orang Banten, kalo ada cowo jawa yang suka saya tanya dulu bagaimana pandangannya sama cewe Sunda kalo negatif.. saya gamau karena berarti dia ga mengharga perbedaan..

    BalasHapus
  16. waktu perang bubat mangnya prabu siliwangi udah lahir? mungkin maksudnya kakeknya prabu siliwangi kali? masa2 kerajaan dulu ada peperangan bukan karena etnis tp wilayah kekuasaan dan sumber daya alam

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena