Rawin

05 Januari 2017

Bandung Keringetan

#Semua Umur

"Bandung keringetan..."

Komentar paling sering aku dapat bila ada teman main ke Bandung aku minta singgah ke kantor.

Memang bener sih...
Lokasinya dari bunderan Cibiru naik tinggi ke lereng gunung Manglayang. Namun setidaknya tidak sepelosok Cilembu. Secara administratif masih masuk wilayah kota alias belum dibilang Bandung coret

Bikin kantor tidak di tengah kota bukan tanpa tujuan. Pekerjaan berkutat dengan coding program butuh ketenangan. Faktor strategis bagiku bukan masalah. Karena bidang usahanya lebih banyak nyamperin konsumen bukan konsumen yang harus datang berkunjung.

Bagiku Bandung kota bukan pilihan. Bising oleh lalu lintas yang makin macet, banjir mulai melanda kemana-mana, menepi ke lereng gunung sepertinya alternatif terbaik.

Gunung Manglayang yang merupakan barisan akhir dari jajaran gunung Burangrang, Tangkubanparahu, Bukit Tunggul dalam mitologi Sangkuriang suasananya enak buat ngadem. Saat kepala mulai panas oleh pekerjaan, tinggal jalan kaki sedikit sudah bisa melihat keindahan bumi Parahyangan. Apalagi kalo malam, Bandung lautan cahaya terlihat jelas dari sana.




Memang tak sedingin Lembang atau Ciwidey. Namun sudah lumayan sejuk ketimbang di Bandung kota yang makin panas oleh para mojangnya. Tak perlu lagi pasang AC biar bisa nyenyak tidur. Yang ada malah pasang heater biar rada rajin mandi.

Dan soal heater di kamar mandi itu merupakan salah satu masalahku di sini. Mandi air panas terus, kulit mengelupas. Mandi pake air dingin, rematik kambuh. 

Tidak mandi juga masalah....
Bikin salah tingkah banyak mojang Priangan gareulis...

Kepiye jal..?

Read More

31 Desember 2016

Catatan Akhir Tahun

#Semua Umur

Ini pergantian tahun kedua dalam posisi nganggur...

Pergantian tahun kemarin bisa dibilang yang pertama aku jalani di Jogja, setelah selama 5 tahun terakhir di tengah pedalaman Kalimantan terus.

Semestinya sih masih di Kalimantan...
Pasca resign dari tambang pertengahan 2015, aku mencoba peruntungan di Banjarmasin bareng teman. Namun nasib rupanya belum berpihak dan menjelang akhir tahun aku putuskan menutup usaha lalu pulang ke rumah.

Awal tahun sempat menjadi karyawan lagi. Ambil kontrak pendek 3 bulan doang karena niatnya cuma buat refreshing sebelum memulai usaha baru.

Menjelang ramadhan aku ke Bandung bikin persiapan bareng teman-teman eks tambang dan setelah lebaran resmi memulai bikin startup IT yang bergerak di bidang software setelah sebelumnya di Banjarmasin mencoba main di infrastruktur.



Walau merangkak, namun perjalanan lumayan mulus. Menjelang akhir tahun saja kondisi agak repot gara-gara sedikit salah perhitungan cashflow terlalu banyak masuk ke riset.

Kondisi sulit di akhir tahun tak aku anggap masalah biarpun kepala cenut cenutnya minta ampun. Begadang malam pergantian tahun pun aku jalani di kantor bareng tim untuk mempersiapkan rencana awal tahun biar segera bangkit dari keterpurukan.

Selamat tahun baru 2017
Tahun yang menjadi berkah bagi semuanya...

Read More

24 Desember 2016

Ambisi Juara

#Semua Umur

"Siapa sih yang ga kepingin anaknya jadi juara..?"

Ungkapan hati yang sering aku dengar dari ibu-ibu yang dampingi anaknya di tempat latihan meroda dan itu benar sekali. Bermacam dukungan mereka lakukan dari sekedar teriak-teriak kasih semangat sampai siapin dana lebih buat bayar pelatih privat.

Ada yang agak kebablasan...
Obsesi anaknya jadi juara diraih dengan cara turun kelas. Sah dan tidak melanggar aturan memang. Namun buatku strategi cerdik itu terasa kurang mendidik.

Aku belajar dari Citra...
Setelah beberapa kali ikut kompetisi dari lokal sampai nasional selalu juara 1, ada yang sedikit berubah dalam latihannya. Ketika aku tanya kenapa, jawabnya, "merodaku kan sudah kencang, yah..."
#Manusiawi...

Kompetisi di Magelang kemarin...
Banyak atlet kelas standar turun di kelas pemula demi piala. Bahkan kontingen dari India, atlet kelas speed ikut nimbrung. Pake sepatu speed pula. Sama saja anak SMA ikut ujian SD...

Yang aku lakukan sebaliknya
Usai balapan di kelas pemula, Ncit aku ikutkan di kelas standar.

Satu dua teman yang mempertanyakan, "balapan standar pake sepatu pemula apa bisa menang, pak..?"




Dan itu benar...
Dari 9 anak yang balapan dalam satu race, cuma si Ncit yang pake sepatu pemula dimana ukuran rodanya lebih kecil kurang bisa dibawa kencang. 

Hasilnya memang tidak bisa juara dan nongkrong di posisi ke 5. Tapi dengan itu aku bisa bilang ke dia, "berarti mbak latihannya masih kurang..."

Biar kekalahannya tidak bikin berkecil hati, aku tambahin, "tapi mbak hebat loh. Pake sepatu pemula bisa kalahin 4 atlet kelas standar. Kalo pake sepatu standar, pasti menang. Besok dibeliin tapi harus semangat latihan, mau..?"

Beberapa kali latihan pasca kompetisi Magelang, ibue laporan kalo Citra kembali semangat. Tinggal aku yang mumet mikirin anggaran beli sepatunya...
#Mondol

Read More

Foto Seribu Tiga

#Semua Umur

Selalu ada teman yang mengeluh minder foto-foto jepretannya kurang bagus. 

Padahal ga harus gitu kali...
Foto itu tentang seni yang tidak punya patokan pasti. Bagus atau jelek itu tergantung pemirsa melihatnya dari sisi apa, minat, hubungan sosial, mood dan juga isi dompet...

Soal menuhin hardisk, kayanya itu suratan takdir semua tukang jepret. Jaman digital seperti sekarang beda dengan jaman kamera analog dimana mikir panjang sebelum njepret jadi kewajiban, mengingat keterbatasan jumlah frame dalam satu rol film dan menyangkut biaya.

Tukan jepret senior sekalipun, kebanyakan obral murah urusan tekan tombol shutter. Sampe rumah baru dipilih pilih mana yang layak tayang mana yang sebaiknya tekan tombol Del.

Selain soal skill, insting dan feeling, foto yang menurut orang banyak hasilnya bagus itu lebih banyak karena unsur pilihan. Cari hasil yang terbaik, crop atau edit sana sini baru upload. Sementara isi hardisk yang lain kita tak pernah tahu.

Aku sendiri nasibnya sama kaya judul di atas. Dari seribu kali jepret, paling banter tiga foto doang yang layak tayang. Itu pun menurut pandangan pribadi yang mungkin bagi orang lain fotonya jelek.

Jadi tak perlu kita mengeluh hardisk dipenuhi foto-foto jelek. Pilih satu yang bagus untuk diaplut dan orang lain akan anggap kita tukang jepret jempolan...

Banyakin latihan saja...
Dan keep jepret...

Read More

09 Desember 2016

Menanam Sirih

#Bimbingan Orang Tua

Mudik kemarin...
Lihat ibue Ncip punya bibit sirih di polibag, langsung aku minta buat ditanam di Bandung. Katanya itu sirih kraton. Tapi bodo amat lah yang penting namanya sirih aku pikir ga ada bedanya...

Aku perlu daun sirih sebenarnya berawal dari kebiasaan jadul. Kerjaan tiap hari mantengin layar monitor bikin mata suka terasa lelah. Simbah yang dulu ngajarin untuk merendam mata pake air rebusan daun sirih.

Kebiasaan itu agak lama terlupakan, apalagi setelah ngungsi ke Bandung. Aku pikir kalo mata lagi lelah, dibawa cuci mata ke seputaran kampus bisa bikin seger. Ternyata malah pindah ke hati lelahnya...

Namanya di kota ga kaya di kampung. Celingukan ke tempat tetangga ga ada yang nanam sirih. Nanya dimana ada yang jual, malah dikomentarin, "kaya nenek nenek aja mau nyeupah..."
#Ahelah...


Tanya ke tukang sayur, ada pencerahan, "ada di pasar Cicadas, tempat orang jual sajen..."

Baru mau bilang tengkiu
Eeeh komentar lanjutannya ga enak. "Bikin sajen mau buat penglaris apa melet anak orang, mas..?"
#Mondol...


Terakhir...
Kebetulan ada teman yang bilang lagi keluyuran seputaran Antapani, sekalian aja aku minta tolong beliin. Dan jawabannya, yess...

Begitu teman sampe dan nyerahin kantong keresek, perasaan ga enak tiba-tiba datang. Setelah buka oleh-oleh, spontan aku nanya, "ini apaan..?"

Jawabannya tanpa rasa dosa sama sekali...
"Jaman instan. Sudah ga masanya rebus daun sirih sendiri..."



Ya bener sih...
Tapi niatnya kan buat nyuci mata...
Kalo sabun sirih bukannya untuk nyuci mulut..?
#Mbuhlah...



Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena