05 Agustus 2011

Mengenang Merapi

Oktober 2010...
Aku sedang mengerjakan proyek data center di Pusdatin Kemhan Pondok Labu ketika ibue Citra laporan Merapi meletus. Saat itu ibue Citra memintaku tetap tenang, karena Jogja tetap aman dan nyaman dari serbuan debu vulkanik Merapi. Namun pemberitaan di tipi yang kadang lebay membuatku tak mampu menahan diri untuk minta ijin pulang.

Hatiku makin empot-empotan ketika penerbanganku terus ditunda-tunda dengan alasan keamanan. Aku pun meluncur ke stasiun Jatinegara dan menumpang Fajar Utama menuju Jogja. Sampai Purwokerto, serangan debu vulkanik mulai masuk gerbong kereta. Masuk Kebumen, jarak pandang keluar jendela makin tertutup debu tebal. Perasaan makin tak jelas dan yang terpikir kaya apa Jogja bila di Kebumen saja sudah sedemikian parah. Bolak-balik ibue Citra telpon mengatakan Jogja tak apa-apa, aku anggap sebagai sebagai penghibur saja agar aku tak terlalu kawatir. Ternyata ibue memang benar. Sampai Wates debu menipis dan di Jogja dampak Merapi hampir tak terasa.

Mendengar aku pulang, Sopi, juragan Rifka Anisa menghubungiku untuk membantu di posko. Disana aku cuma orientasi sebentar lalu menghubungi teman-teman Jalin Merapi yang bergerak di garis depan. Dari beberapa pilihan, aku pilih bergabung di Magelang karena aku lihat Jogja sudah kelebihan relawan.

Seminggu kemudian ijin kerjaku habis sementara Merapi makin menjadi. Aku putuskan untuk keluar kerja dan tetap bergabung bersama teman-teman relawan. Hampir tiga bulan lebih aku di lereng Merapi sampai amukannya mereda. Begitu banyak cerita dari sana yang tertuang di jurnal blog sebagai pelampiasan segala unek-unek. Terutama kepada penguasa negeri yang pengelolaan bencananya begitu acak adut.

2011...
Anaz menghubungiku lewat japri dan minta ijin untuk mengambil beberapa tulisan untuk dibukukan dalam satu kompilasi amal. Buku bertajuk Relawan Merapi: Berbagi Jejak Kebersamaan untuk Anak Negeri, bisa terbit dengan cara gotong royong teman-teman blogger. 100% hasilnya akan disumbangkan untuk korban Merapi yang sampai saat ini belum juga tuntas. Anaz minta aku pilih tulisan yang akan dimuat. Namun karena aku seringkali melupakan apa yang pernah aku tulis, aku minta beliau untuk memilih sendiri mana yang pantas.

Aku sebenarnya ingin mengadakan semacam give away dengan hadiah buku ini. Namun apa daya, statusku sebagai manusia hutan Kalimantan yang terisolir dari peradaban membuatku susah bergerak. Sehingga aku cuma bisa pesan beberapa buah buku yang kemudian aku serahkan ke Anaz untuk acara give awaynya. Buat teman-teman yang berminat, silakan tunggu berita selanjutnya dari beliau di blogger, multiply, kompasiana ataupun pesbuk.

Yang tak sabar menunggu acara tersebut, sekaligus ingin berbagi dengan korban Merapi, bisa memiliki buku ini dengan biaya pengganti ongkos cetak Rp 37500,- belum termasuk ongkos kirim. Silakan hubungi Mas Trie di nomor 0877 7166 6071 / 0813 2884 4443. Pembayaran bisa melalui transfer BCA atau Mandiri.

Ada sedikit review dari pak Odi yang bisa dibaca disini. Mohon maaf bila aku belum bisa memberikan review. Soalnya buku untukku Anaz kirim ke Jogja sehingga aku belum bisa baca. Yang selalu jadi pikiranku adalah, tulisan-tulisan saat itu isinya cuma misuh-misuh plus bahasa binatang segala. Semoga Anaz sempat mengeditnya sehingga bisa pantas untuk dibaca khalayak ramai. Terima kasih buat Anaz dan kawan kawan yang telah rela bersusah payah mengangkat jejak-jejak di lereng Merapi. Semoga amal ibadahmu diterima, Naz...

Semoga saat aku pulang cuti lebaran nanti
Buku itu masih utuh dan belum dipipisin
Karena kemarin ibue sempat cerita
Kalo Citra sudah mulai melahap sampulnya...



18 comments:

  1. met kenal sob : tulisan2 kamu bagus,,walau aktipitas nya di hutan kalimantan tapi tetep bisa berkreasi,,,:)

    BalasHapus
  2. Amin Mas. Moga bukunya kalopun terlahap hanya 'berlubang kecil' doang hingga masih bisa dibaca. Dan sekalian moga blogspotnya anaz cepet sembuh hingga bisa ngasih kabar via blogspot. HalahAmin Mas. Moga bukunya kalopun terlahap hanya 'berlubang kecil' doang hingga masih bisa dibaca. Dan sekalian moga blogspotnya anaz cepet sembuh hingga bisa ngasih kabar via blogspot. Halah

    BalasHapus
  3. nggak kerasa hampir setahun kejadiannya yah. *eh bener kan?

    dulu saya juga sempet panik, pas tau merapi meletus gede gitu.. pas dijakarta, liat berita tipi, plus telepon dari keluarga. sayang, nggak bisa bantu banyak..

    BalasHapus
  4. sayang sekali mbak Anaz sekarang jarang update di blogger ya,lebih banyak di MP

    BalasHapus
  5. artikel yg sangat baik dan bagus... :)

    BalasHapus
  6. pas merapi meletus aku full ngeblog. sekolah libur... banyak penampakan... uuuuf... rasanya hidup di alam lain pas itu sampe lupa makan. gak tau abis itu suka dadah-dadah sama merapi...

    BalasHapus
  7. oke banget tulisannya,love,peace and gaul.

    BalasHapus
  8. sepertinya sih belum dipipisin tapi di ompolin ama Citra soalnya kangen sama papae he he he...

    BalasHapus
  9. Kalo menurut ku Tulisan kang Rawin seputar bencana merapi tergolong bagus,sebab di dalam nya terdapat kritikan keras dan Sindiran buat pemerintah.

    Aq msh ingat Tulisan kang Rawins tentang para Donatur yg datang langsung Ke lokasi bencana dgn membawa mobil sedan menemui para korban bencana untk memberi bantuan,bahkan mereka enggan untk menyerah kan nya ke POSKO.lalu ada jg segelintir org2 yg ber foto2 dgn background para korban bencana kemudian foto2 itu di upload ke facebook.

    Apik tulisane Rika kang,ora di gawe2..

    r bencana merapi tergolong bagus,sebab di dalam nya terdapat kritikan keras dan Sindiran buat pemerintah.

    Aq msh ingat Tulisan kang Rawins tentang para Donatur yg datang langsung Ke lokasi bencana dgn membawa mobil sedan menemui para korban bencana untk memberi bantuan,bahkan mereka enggan untk menyerah kan nya ke POSKO.lalu ada jg segelintir org2 yg ber foto2 dgn background para korban bencana kemudian foto2 itu di upload ke facebook.

    Apik tulisane Rika kang,ora di gawe2..

    BalasHapus
  10. sukses buat bukunya, blogger juga bisa berbuat, blogger power gitu lho... :D

    BalasHapus
  11. manteb nih bos. salam kenalll

    BalasHapus
  12. salut banget Kang atas keikhlasan sampean ikut jadi relawan dengan melepas pekerjaan. dan Alloh telah memberikan gantinya walo harus ke Kalimantan.
    sukses untuk bukunya

    BalasHapus
  13. Saya tak membayangkan bagaimana keadaan di sekitar merapi pada saat itu, sedangkan saya yang di Purbalingga saja merasakan dampak abu merapi..

    Semoga saja sekarang semua sudah kembali seperti sedia kala..

    BalasHapus
  14. Wah, jdi mningatkan sya lgi mas
    dlm kjdian yg sllu d blg Jogja kota mati
    pda wkt tu..
    slm knal kawan.
    ok, sksez sllu!

    BalasHapus
  15. jadi ingat waktu itu ada keluarga yang lagi di jogja. untung mereka selamat.

    BalasHapus
  16. saya cuma bisa liat berita di TV, dan dpt update dr adik yg jadi relawan juga di Boyolali
    salut buat Mas Rawin yg rela keluar kerja dan jadi relawan

    BalasHapus
  17. Ada awal dan ada akhir. Ada saat mulai meletus dan memuntahkan lahar serta awan panas. Ada saat mulai 'tenang' kembali. Letusan Gunung Merapi menyisakan kepedihan, kesusahan dan juga 'keberkahan' bagi penghuninya di lereng Merapi. Ingat Merapi jadi terkenang dengan sosok mBah Maridjan. Salut dengan 'keteguhannya'. Hidup adalah kehormatan. Bangga dan salut dengan para sukarelawan yang membantu dan berjuang dengan gigih membantu 'korban' Merapi. Salam sukses.

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena