10 Mei 2010

Belajar Kaya

Sore-sore, ketika si bos ngajak aku main ke pesantren di daerah Pleret, Bantul sana, aku sedikit ogah-ogahan sebenarnya. Tapi karena ada sedikit rasa greng dalam hati, aku ikut juga akhirnya. Walau ketika lewat mini market aku minta berhenti sebentar, si bos ngelarang. "Ga usah beli tolak angin, Ko..."

Si bos tahu kebiasaanku bawa tolak angin kalo diajak ke tempat-tempat seperti itu. Bukannya untuk obat perut kembung di perjalanan. Tapi aku perlukan ketika aku nanya ke pak kyai, "Pak kyai orang pinter bukan..?"

Kalo jawabnya bukan, aku pamit pulang setelah basa basi. Ngapain kalo sowan trus ga dapat apa-apa. Kalo dijawab, iya. Langsung tolak anginnya aku kasihin, lalu pulang juga. Malas bicara dengan orang yang pinter tapi pamer. Aku juga malas kalo harus terbungkuk-bungkuk mencium tangan segala. Toh dia juga manusia seperti aku. Aku cium tangan hanya kepada orang tua dan mertuaku saja. Ke istri pun aku tak pernah mau cium tangan. Mending cium yang lain deh...

Ternyata aku salah persepsi. Sampai sana, aku temukan kyai muda yang kontemporer. Wah asik neh kalo nemu yang kayak gini. Pas ada pengajian lagi jadinya bisa numpang makan nasi kebuli yang katanya menggunakan resep rahasia yang hanya diketahui oleh bani tertentu.

Aku dan si bos sempat jadi perhatian ratusan santri disitu ketika ngobrol bareng pak kyai. Aku kira karena aku paling ganteng walau cuma pakai sendal jepit. Ketika pulang ada santri tua yang numpang ikut mobil cerita, katanya dia saja 3 tahun nyantri baru bisa ngobrol banyak dengan pak kyai. Ini kok baru datang udah bisa duduk bareng ngomong ala preman. Hihihi... tiwas kegeeran...

Salah satu obrolan yang menarik adalah ketika aku mengatakan sekarang Islamku tunggal KTP doang. Kesehariannya aku malah lebih sering bicara tentang atheis. Jawabannya jauh dari apa yang aku bayangkan semula. "Orang yang mau bicara dirinya atheis, lebih baik daripada orang yang taat beragama tapi hanya warisan. Orang mau mengatakan dirinya atheis, itu berarti dia sudah banyak melakukan pencarian spiritual dan banyak mengusik tentang Tuhan. Ketika itu sudah ditemukan, kualitas religinya jauh lebih baik daripada yang beragama hanya karena orang tua atau lingkungannya beragama itu. Contohnya orang yang berantem, ketika menjadi sahabat dia akan lebih erat. Daripada orang yang memulainya dengan percintaan yang lebih mudah menjadi musuh ketika ada sedikit keretakan. Cuma masalahnya, bagaimana kita bisa bersahabat setelah saling bermusuhan..?"

Akupun bilang, "jangan suruh aku shalat sekarang-sekarang, pak kyai..."

Beliau menjawab, "Semua itu perlu proses. Rasululoh saja baru shalat ketika berumur 53 tahun. Ayat tentang pelarangan khamr pun turun ketika para sahabat sudah bosen dengan minuman keras. Kalo memang masih suka mabuk ya mabuk saja. Dipaksa juga percuma, di belakang nyolong-nyolong. Mau judi, main cewek, kalo memang masih belum ada kesadaran dari lubuk hati, jalani saja. Suatu saat kesadaran itu akan datang tapi harus dipancing. Yang penting kesadaran itu sudah ada sebelum kita mati. Mati dalam kondisi belum sadar, itu namanya konyol. Tapi ingat, kita tak pernah tahu kapan kita mati. Jadi lebih cepat lebih baik. Ga mau ibadah, mau mabuk, silakan saja dilakukan. Yang penting satu, jangan bohong kepada siapaun, termasuk diri sendiri..."

Pak kyai sempat nanya, apa keinginanku sekarang dan kenapa malas ibadah. Aku jawab saja, aku ingin banyak uang. Aku malas karena aku kecewa kepada Tuhan. Yang nyuruh aku kerja tuh siapa kalo bukan Tuhan. Aku sudah berusaha maksimal sampai pulang malam, kenapa hasilnya gini-gini saja. Percuma saja aku minta-minta diberi rejeki yang banyak, bila usaha kerasku berdasarkan kata "Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau mengusahakannya sendiri" hanya dijawab "rejeki, jodoh dan mati adalah urusanku..." Plis dong, Han... Jangan bohongi aku terus dengan kata-kata yang kadang saling bertolak belakang.

Jawab beliau, "Jangan sekali-kali berdoa minta rejeki, tapi mintalah kita mampu menjadi orang kaya. Manusia menjadi kaya itu bukan keharusan, melainkan kesemestian. Kalo keharusan, banyak uang hanya menjadi target yang kita kadang ragu-ragu bisa apa engga. Tapi bila sudah menjadi kesemestian, kita tuh yakin banget kita mampu menjadi orang kaya. Tuhan juga mikir dan pilih-pilih orang. Berikan sesuatu kepada ahlinya. Bila kita saja tak yakin kita bisa kaya apa engga, ya jangan harap Tuhan akan memberikan kekayaan. Soal rejeki, Tuhan tak pernah memandang manusia itu beragama atau tidak, melainkan dari keyakinan manusia itu sendiri, mampu apa tidak menjadi orang kaya."

"Aku tidak perlu berdoa dong..?"

"Perlu atau tidak itu relatif. Bagi sebagian orang, doa dan agama malah menjadi candu yang membius manusia hingga terbuai dalam kedustaan. Akibatnya banyak orang yang lupa bahwa manusia hidup di dua alam, dunia dan akherat. Seringkali kita selalu berpikir terlalu banyak dengan janji surga dan ancaman neraka, sehingga lupa bahwa di dunia itu kita harus berusaha mencari harta. Setelah itu tercukupi, walau cukup itu relatif, baru pikirkan kebutuhan spiritualnya. Memang lebih baik jika keduanya berjalan bersama. Tapi bila tak mampu, jalankan satu persatu. Dunia dulu baru akherat. Untuk ibadah saja kita butuh biaya kok. Kebiasaan berdoa sering membuat manusia lupa, baru berusaha sedikit sudah banyak berdoa agar diberi yang banyak. Ya ga nyambung dong. Sekarang mendingan fokus berusaha, urusan spiritual biar para kyai yang urus. Aku bantu deh..."

"Siyap, bos. Tapi aku malas lho kalo disuruh baca wirid ini itu biar katanya usaha lancar..."

"Tidak perlu. Yang perlu dilakukan cuma mampu menanamkan kesemestian menjadi kaya. Mampu ini dalam artian mau berusaha keras secara fisik dan perhitungan yang matang. Mampu menjadi kaya juga berarti yakin bahwa uang itu hanyalah alat dan bukan tujuan akhir. Tujuan dari kaya itu adalah agar bisa beribadah dan membantu orang lain yang tidak mampu secara ekonomi agar bisa beribadah."

Wokedeh, seep...
Baru kali ini aku tak bisa bicara banyak di depan kyai. Biasanya aku selalu dicap ngeyelan dan murtadun bila diskusi dengan orang-orang semacam itu. Pandangan kontemporer semacam ini malah bisa lebih membukakan hatiku tentang pemaknaan religi. Aku jadi sadar bila aku sedang berhadapan dengan seorang ulama yang berpandangan luas dan tak seuprit macam FPI yang katanya pejuang agama.

Yang paling aku ingat dari beliau adalah, "tidak salah orang menjadi atheis. Manusia kadang perlu pergi menjauh agar kerinduan dalam hatinya bisa tumbuh lebih dalam..."

Terima kasih, pak kyai. Insya Alloh aku akan lebih sering datang lagi untuk mengaji. Cuma satu keluhanku di pesantrenmu. Di tempat ngobrol ga ada toilet. Sehingga ngobrol jam-jaman aku harus nahan kebelet dan terpaksa pipis ngumpet di balik mobil di pinggir sawah.

Thanks berat buat Gusti Allah yang telah mempertemukan aku dengan ulama besar semacam itu. Ai lap yu pulll, Gus...



4 comments:

  1. melu merguru meng kyai rawin lah.

    lik ajari inyong mene sugih...^:)^

    BalasHapus
  2. Orang inih, kalo urusan sugih banter temen...

    BalasHapus
  3. mantap.........

    BalasHapus
  4. nama kyai nya siapa mas? n alamatnya di mana? :D

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena