Rawin

02 Juli 2019

Tahan Lama Di Ranjang

Situasi sulit sejak tiga tahun belakangan ini, semestinya mulai membaik sejak tahun lalu. Namun status tahun politik membuat banyak hal khususnya terkait bidang ekonomi jadi melambat dan cenderung berjalan di tempat. Cari info proyek kesana kemari lebih banyak mendapat jawaban, "nanti lah nunggu pilpres selesai..."

Bukan hanya proyek baru. Yang sudah berjalan pun banyak yang mendadak "pending". Memang masih banyak pekerjaan yang bisa terus jalan, namun jumlahnya tak sebanding dengan permintaan. Alhasil banyak yang musti bertahan dalam posisi gigit jari.

Banyak teman yang sampai depresi akut. Kapasitas otak kadang tak lagi mencukupi untuk membagi ruang berpikir tentang cara berkelit dari berbagai kejaran masalah. Sekedar bertahan untuk hidup menjadi prioritas membuat upaya bangkit kembali seringkali menjadi angan yang sulit diwujudkan.

Apalagi bila terus terbelenggu masa lalu alias gagal move on. Di saat susah masih saja kepikiran masa lalu yang bahagia. Melihat anak-anak harus pindah ke sekolah gratisan tak berkualitas, sementara di atas kertas tertulis deretan angka lumayan panjang yang tak bisa ditagih, rasanya tak cuma sakit. Tapi musti ditambah pake kata banget banget dan kebangetan.

Dalam kondisi begini, solusinya hanya teori Darwin. Pilihannya hanya "ndableg" atau jadi korban seleksi alam. Lupakan perasaan dan pikiran yang hanya menambah energi negatif. Biarkan saja orang mau bilang atau bergosip apa. Lebih baik tutup mata tutup telinga termasuk ketika ada yang nagih utang. Kalo ada yang ngotot, kasih saja nasehat dengan tak kalah ngotot, "ketimbang marah-marah gitu, lebih bermanfaat bantu doain cepet dapat kerjaan lagi biar bisa bayar utang. Kalo kondisinya tak juga berubah, berarti Tuhan belum berkehendak duitmu balik. Berani po melawan kehendak Tuhan..?"

Perubahan mindset juga harus ditularkan ke keluarga. Anak-anak musti bisa cuek bermain tanah liat atau beluluk sementara teman sebayanya sibuk dengan hape. Istri belajar senyum dengan uang belanja 200-300 ribu seminggu tanpa mengingat-ingat dulu sebulan pengeluarannya 10-20 juta. Hanya itu step awal untuk bertahan hidup agar lebih banyak bagian otak yang bisa dipakai untuk memikirkan cara bangkit kembali.




Berat banget memang...
Tapi nyatanya bisa. Anak-anak sudah berhenti bertanya kapan ikut robotik atau balapan sepatu roda lagi. Time Zone atau Trans Studio sepertinya sudah terhapus dari kamus mereka. Ibunya pun tak jauh berbeda. Telah mampu melupakan dompet penuh kartu dan kegiatan gesek sana gesek sini. Segala hal yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil mampu dijalani, sekarang bisa dinikmati dengan penuh senyuman. Soal senyumnya manis atau kecut itu beda kasus...

Cara menyikapi masalah sudah berbeda, cenderung santai dan bernada optimis. Misalnya ketika bilang, "ayahnya si Dudut sekarang tahan lama di ranjang..."

"Wah pasti seneng dong..?"
"Engga lah. Kasian..."
"Kok bisa..?"
"Lha ga dapat-dapat kerjaan. Akhirnya siang malem pagi sore kerjaannya tidur terus. Piye jal..?"

Wis lah pokoknya kisruh pilpres dah rampung
Yakin saja semua segera membaik
Amiiin...



Read More

27 Juni 2019

Sapi Trip #2

Melanjutkan tentang Perjalanan Mengurus Bantuan Sapi...

Sampai Purwokerto sekitar jam 4 sore dengan kepastian jam pulang belum ada gambaran. Namanya rombongan santri ketemu kyai, acara lain-lain bisa lebih banyak daripada tujuan sebenarnya. Apalagi ketika sampai maghrib pak kyai belum juga pulang sementara tamu lain yang mau sowan cukup banyak. Ditambah ketua rombongan bilang, "nanti kasih kesempatan tamu lain dulu. Kita maleman aja lah biar santai ngobrolnya..."
#NahLoh...


Sampai saat bakda isya, pak kyai bilang, "pada makan dulu ya, saya harus pergi isi pengajian..."

Baru mau teriak "yess..!" komandan pasukan keburu menjawab, "terima kasih sekali, bah. Bukan menolak rejeki, tapi kita baru saja makan..."
#BelumRejeki

Yoweslah...
Singkat cerita kita pamitan dan segera loading penumpang untuk persiapan pulang. Sesaat menjelang berangkat, sesuai SOP, sopir wajib mengingatkan penumpang untuk berdoa, memeriksa apakah ada yang ketinggalan dan sebagainya. Sudah check and recheck langsung konfirmasi akhir, "kita pulang sekarang ya..?"

Eh jawabnya, "cari makan dulu lah. Laper, bro..."
#Yaoloh...


Jam 22:30 tiba di kediaman pak ketua. Tuan rumah yang baik selalu menawari kopi terhadap tamunya dan tamu yang baik tidak boleh menolak tawaran mengisi perut. "Sebentar saja lah, sekalian ngobrolin rencana selanjutnya...

Sebentarnya orang Ciglagah...
Yang katanya cuma bahas bakal lokasi kandang sapi, obrolan simpang siur ke urusan proyek, korupsi kepala desa, pilpres, sidang MK dan banyak lagi. Ketika jam dinding menunjukkan angka 2, pembicaraan beralih, "mancing gurame di kolam, yuk..."

Jebul bukan basa basi...
Segera saja teman-teman pindah lokasi nongkrong ke tepi kolam ditemani bulan separuh dan mungkin juga demit pinggir sungai yang mulai terkantuk-kantuk, untuk membuktikan diri bila mereka pejuang mancing yang pantang menyerah. Diawali mengurai senar yang kusut dimainin kucing, gonta-ganti umpan dari pelet, keong, cacing, bekicot dan entah apa lagi.

Satu jam berlalu belum juga ada yang menyambar umpan, salah seorang nanya ke pemilik kolam, "kolamnya dalam gak..?"
"Paling sedengkul..."

Kata sedengkul direspon cepat dengan buka celana. Bermodal kancut dan seser di tangan, teman melompat ke kolam lalu teriak, "dengkulmu ambles..."

Ternyata dalamnya memang sedengkul tapi nyeburnya pake egrang. Kebayang kaya apa rasanya menjelang subuh begini merendam perut di cuaca orang keluar rumah saja harus pake jaket. Dan yang lebih tak terbayangkan lagi adalah, begitu nyebur ikan berlompatan ke darat. Alhasil, kesunyian malam terpecahkan oleh yang mungutin ikan sambil misuh-misuh, "ngapain nyebur bawa seser coba? Tau begini, tadi lemparin blarak ke kolam selesai urusan..."
#Kapok...


Dan eh...
Ternyata urusannya belum kelar sampai di situ. Sambil menyiangi ikan, teman yang punya kolam diinterogasi, "kolam dikasih apa sih..?"

"Pakan ikan, daun keladi."
"Semprul ga ngomong dari tadi..!"
"Emang kenapa..?"

Ga jawab...
Mungkin sibuk berdoa agar guramenya tambah nikmat karena dibakar sambil garuk-garuk selangkangan yang gatal dijamas rendaman daun keladi...
#Amiiin...



Read More

26 Juni 2019

Sapi Trip #1

Beberapa hari lalu...
Dikontak teman dari Banser Gandrungmangu, "mas, hari rabu besok tolong antar ke Purwokerto mengurus sapi bantuan untuk GP Ansor Kertajaya. Jemput di Pasar Kunti jam 8 pagi..."

Pamitan ibue Ndut sekalian konfirmasi kendaraan dipake apa engga. Mungkin terbiasa tiap hari kamis musti mengantar keponakan kontrol ke RSUD Banyumas, ibue nanya, "pulangnya jam berapa, sampe malem ga..?"

"Katanya sih sebentar. Tapi berhubung urusannya sama pasukan ureng-ureng, anggap saja pulangnya minggu depan."
"Kok bisa..?"
#LiatSajaBesok...


Dan beneran...
Sesaat menjelang detik-detik proklamasi, rencana berubah, "jemputnya ke Ciglagah habis dhuhur saja, mas..."

"Habis dhuhurnya gapapa, offroad ke Ciglagahnya itu yang repot..."
"Santai, mas. Info terkini jalan sudah diurug, garansi bisa lewat..."

Ternyata benar...
Jalan yang rusak parah waktu musim hujan kemarin sudah diurug tanah. Di jalanan datar perjalanan bisa lancar biarpun debunya menyesakkan nafas. Masalah terjadi di batas desa. Jembatan dibangun cukup tinggi, jalan naiknya terlalu terjal plus belum diaspal alias masih tanah urug. Naik pelan-pelan ban selip, kasih ancang-ancang agak kencang mobil kandas.

Dua kali kolong mobil nyium beton ujung jembatan tanpa berhasil naik, aku kasih pilihan putar balik kembali ke rute semula dengan resiko nambah perjalanan 30 kiloan atau cari sukarelawan untuk angkat mobil ke atas jembatan. Opsi kedua yang dipilih. Betul-betul pasukan santri fast response. Gak pake lama setelah dikontak, bantuan berdatangan walaupun yang dikirim kebanyakan anak-anak balita.
#Yungalah...


Sampai titik penjemputan, apa yang dibayangkan beneran terjadi. Manifest penumpang yang info awalnya 4 orang, mendadak bengkak jadi 7 orang ditambah 2 balita dan bagasi tambahan satu tandan pisang.

Ga pengen komen apalagi komplen, karena yakin jawabannya tak bakalan jauh dari "ada yang mau ke kota apa salahnya ikut nebeng pelesir" atau "numpang sowan ngalap berkah ke pak kyai masa ga boleh ikut..?"

Wis pokoknya atur-atur sendiri saja lah gimana caranya, mau dipangku mau dilipat yang penting muat. Sopir taunya mancal gas sambil komat kamit tidak ada razia atau pecah ban bawa beban overweight di jalanan berbatu.
#Bismillah...


Read More

10 Juni 2019

Barokah Trip

Pasca mandeknya kegiatan di Batik Tour, acara berebut peruntungan kue wisata pada libur lebaran kali ini tak bisa ikutan. Jangankan cari tamu untuk dipandu pelesirannya, sekedar ngojek narik pemudik yang turun di terminal atau stasiun pun tidak. Beneran full time di kampung bersama keluarga.

Ada sih beberapa trip pendek mengantar saudara atau tetangga. Di kampung sini nyantri di pondok pesantren lumayan ngetren. Kebetulan beberapa ponpes melarang santri datang atau pergi sendiri tanpa didampingi keluarga. Sehingga setiap musim liburan, pihak keluarga harus menjemput dan kembali mengantar ketika usai. Oleh karena itu, kayaknya libur lebaran kali ini adalah musim liburan yang barokah biarpun di pesantrennya cuma sampai tempat parkir doang.

Sayang ada yang kelewat...
Perasaan, persiapan kendaraan dan uba rampe buat di jalan sudah siap sebagaimana mestinya. Lupa kalo ini bukan wisatawan hepi-hepi yang cenderung suka musik-musik ceria sepanjang perjalanan. Baru saja jalan beberapa meter sudah ada rikues, "mas, lagunya Nisa Sabyan ada..?"
#Dyaaaarrr... 

Langsung ikutan rikues sekhusyuk-khusyuknya kepada Gusti Kang Murbeng Dumadi, semoga mereka segera dapat hidayah agar berubah haluan jadi NellaLover atau Vianisty. Untuk menghibur diri sebelum doa diijabah, dalam hati aku bernyanyi, "satu satu aku sayang ibu... dua dua juga sayang ibu, tiga tiga sayang semua ibu... satu dua tiga sayang Nissa Sabyan..."
#Mumet

Change..!!!
Kata Rhenald Kasali
Maka berubahlah, merubah mindset bahwa yang dilayani kali ini adalah manusia-manusia relijius. Biasanya sapa perdanaku, "Selamat pagi bapak ibu dan semuanya. Saya Rawin yang akan mengantar anda berkeliling kota Yogyakarta. Mohon diperiksa perlengkapan anda, hp, kamera, topi dan lain lain apakah ada yang tertinggal di hotel. Air minum ada pintu, termasuk tisu dan tas plastik untuk tempat sampah bla.. bla.. bla..."

Berarti kali ini harus begini...
"Bismillahirahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil’aalamiin, wash-sholaatu wassalaamu ‘ala isyrofil anbiyaa i walmursaliin, wa’alaa alihi washohbihii ajma’iin. Nahmaduhu wanasta’inu wanastaghfiruhu wana’udzubillahi min syuruuri anfusinaa wamin sayyiaati a’maalina. Min yahdillah falaa mudhillalahu wamin yudhillhu falaa haadiyalahu. Allohumma solli wasalim ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa’alaa alihi wasohbihi ajma’ina amma ba’du. Pertama-tama kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT bla.. bla.. bla... "

Dan kayaknya begitu selesai mengucap salam, penumpangnya sudah pada baris di pinggir jalan nyetop bus umum...
#Kapok...



Read More

12 Juli 2018

Ngapak Ora Penak


Sudah sebulan anak-anak di kampung berbaur akrab dengan budaya dan tradisi Banyumasan ndeso, namun tidak ada perubahan yang berarti dalam hal bahasa atau dialek yang mereka ucapkan.

Jadi kepikiran kebiasaan yang berlaku ketika ada perpindahan antar budaya semacam itu. Orang berlidah Jogja yang sudah bertahun-tahun bermukim di daerah Banyumas sangat jarang yang "kegowo kelu". Bahasanya tetap "bandhek" walau pun setiap waktu ngobrol dengan lawan ngapak. Sebaliknya, orang Banyumas yang pindah wilayah umumnya cepat beradaptasi ikut bahasa setempat walau terkadang "medhok" nya tidak mau hilang.

Dulu kupikir berkaitan dengan gengsi, mengingat ada yang mengidentikan "ngapak" sebagai bahasa ndeso dan "bandhek" adalah bahasa kaum ningrat. Orang Jogja biar puluhan tahun tinggal di Cilacap, gengsi kehilangan identitas keningratannya makanya tidak mau ngomong ngapak. Sebaliknya orang Cilacap baru beberapa hari di Jogja, gengsi dianggap ndeso, lalu ngomongnya maksa di o o in. Beli french fries di warung, ke SPG bilangnya, "tuku kentong goreng, mbok..."

Namun melihat apa yang terjadi pada anak-anak, sepertinya fenomena itu bukan soal borjuis vs proletar. Sebulan lebih mereka di Cilacap, belum mampu merubah "tai ayam" menjadi "tembelek". Kebalikannya si Ncip yang dulu dibesarkan di Cilacap, seminggu di Jogja sudah cukup untuk menyulap "tembelek"-nya menjadi "telek".

Anak-anak yang belum mengenal gaul tidaknya suatu budaya mengalami kesulitan beradaptasi secara cepat, bisa jadi karena menjadi "Banyumas" itu memang susah. Apalagi bila tidak dibatasi di lingkup bahasa saja, tetapi bagaimana menjadi "egaliter" di kala orang mulai membuat kasta secara sosial, bagaimana menjadi "blakasuta" di jaman kepalsuan dianggap kekinian, dst dst...

Jadi kepiye, lik..?
Lah mbuh nyong be mumet koh...
Anggap bae ora ngapak ora kepenak...

Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena