Rawin

26 Juni 2018

Wisata Kekinian Plesir Kampung

Nge-mall..? Basi...
Wisata pantai..? Sudah biasa...
Piknik ke gunung..? Terlalu mainstream...


Yang kekinian itu pelesiran ke kampung, berbaur dengan masyarakat tradisional, mengenal kearifan lokal tersisa sebelum benar-benar punah. Secara sederhana travelling itu kan tentang pengalaman baru. Mencari sesuatu yang belum pernah kita coba, bukan tentang yang kita suka. 

Makanya suka merasa aneh kalo ada yang jauh-jauh ke pantai Depok, giliran makan bukannya pesen seafood malah nanya mekdi dimana. Ada yang turun dari bis wisata berspanduk sekolahan asal Jakarta masuknya ke mall cari jersey bukannya ke Turi ngeborong salak pondoh. Apa di Jakarta mereka mainnya di sawah tak pernah ke mall..?

Sisi lain...
Di jaman serba gampang begini, hampir segala hal dianggap instan oleh anak sekarang. Ingin bermain cukup colak-colek di app store. Susah payahnya membuat mainan dari kulit jeruk tak kan pernah terpikirkan. Contohnya ada tetangga yang tidak tahu bahwa hamil itu umumnya 9 bulan. Baru menikah 2 bulan sudah melahirkan, bisa jadi merupakan salah satu dampak pola pikir instan yang tidak memahami proses produksi.

Oleh karena itu...
Sudah dua tahun ini anak-anak lebih banyak diajak kembali ke alam. Bermain di sawah melihat orang menanam padi atau nimbrung ke tempat perajin gula tradisional. Dibilang tidak seru, nyatanya mereka antusias dan penuh keceriaan. Yang bilang tidak asik, paling banter bocah alay yang mendefinisikan wisata itu sebatas selfie di spot viral.

Jadi kepiye..?
Merasa gaul pajang foto junkfood waralaba atau berdiri di tangga pesawat..? Haha digaulinya kurang dalem itu mah...

Pokoknya cek saja foto-foto terposting di medsos teman
Kalo masih ada yang aplut foto wisata tematik semacam ini
Itu salah satu tanda-tanda pemostingnya ndeso dan kurang modal buat plesir... 

#TurisKere
#KapokmuKapan
#BaliNdesaBaeLah 

Read More

24 Juni 2018

Generasi Ke 5



Satu hal yang tidak boleh ditinggalkan setiap pulang kampung adalah sowan mbah buyut. Menjadi wajib bukan soal waris atau minta sembur apalagi uwur, melainkan jepret gambar beliau bersama anak-anak. Karena menyatukan leluhur dan keturunan yang terpisah lima generasi dalam satu frame adalah sesuatu yang teramat langka.

Kondisi simbah saat mudik terkini masih sehat bugar ceria banyak tertawa seperti biasanya. Hanya penglihatan yang sudah mulai bermasalah tak bisa lagi mengenali siapa yang berdiri di ambang pintu tanpa bersuara.

Namun melemahnya mata fisik sepertinya membuat mata hati menjadi tajam. Begitu antri salaman beliau langsung komen, "kamu lagi prihatin..? Tidak kerja..? Ada masalah bla bla bla..."

"Kata siapa lagi susah..?"
"Lha ini sampai kurus kering begini..."

Citra yang nyamber, "ini tanganku bukan tangan ayah, Ki..."
"Ooowh..."

Tetep sehat yo, mbah...
Sing sabar le nunggu jemputan...
Semoga sampai turunan ke 7...


Read More

MenDeso lah Nak


Aliran hidup generasi milenial yang tak bisa lepas dari gadget kadang musti diselingkuhi. Ada masanya anak-anak diajari menjadi ndeso, belajar kreatif dengan apa yang disediakan alam agar mereka memahami gaya hidup yang tidak katro

Berharap tak seperti mereka yang katanya kekinian. Di medsos pajang foto maunya terkesan wah ala horangkayah, tapi kisah di status tentang pedihnya hati gegara susah cari premium atau gas melon. Kepiye jal..?

Pokoknya jauhi gadgetmu dan jadilah ndeso, nak. Biar bapakmu aman dan nyaman berpesbukan tanpa perlu rebutan hape...

#NcipNdeso

Read More

21 Juni 2018

WIsata Sampah Teluk Penyu

Habis nonton ebeg kemarin, si Ncip keterusan "mendem" seharian uring-uringan minta ke pantai. Pengen ke nyebrang ke Nusakambangan, juru kunci pelabuhan Karangsuci lagi syawalan di Jojok. Alhasil ke Teluk Penyu dengan nawaitu "asal meneng..."



Karena beneran tidak ada yang menarik di sana...
Sebenarnya punya potensi bagus, tapi entah ada apa dengan Disparta Cilacap. Di pintu masuk bayar untuk 3 orang, jebul tiket cuma dikasih 2 lembar. Penataan pantai kacau balau. Dulu warung-warung seafood pinggir pantai digusur kirain mau dibikin taman, ternyata dibiarkan yang pada akhirnya dikapling Deasy Ratnasari dengan lagu tenda biru buat pedagang rupa-rupa.

Sampah dimana-mana. Sempat nanya ke seseorang, mungkin petugas karena pakai kaos dengan identitas pemkab, dapat jawaban, "namanya orang banyak, pak..." 
Tidak ada kambing hitam malah nyalahin banyak
Emang banyak yang warnanya hitam ada?

Pengamen persis kaya lagu jadul, datang dan pergi sesuka hatimu. Baru lewat serombongan belum lima menit datang lagi gerombolan yang baru. Dibilang ga ada receh, ada yang jawab nanti dikasih kembalian. Dibilang baru saja ada yang ngamen sudah datang lagi, eh jawab, "astopirloh pak banyakin istigfar ini lagi lebaran sekali kali amal kenapa...?"

Puas si Ncip bermain pasir, mandi dan beranjak pulang, datang tukang parkir nyamperin. Dikasih 5 ribu perak minta tambah 5 ribu lagi. Dikomplen, "mahal amat..?"
"Dikiranya ga cape apa nungguin mobil..?"
"Yang nyuruh nungguin siapa..?"
"Lah pokoknya 10 ribu..."

Timbang rame, cung mangewu lagi
Dan tiada karcis sebagai gantinya...

Kaya kuwe ceritane, lik...
Wassalam...

#PlesirCilacap
#AjaDolanTelukPenyu 
#PokokeLah

Read More

20 Juni 2018

Mohon Nafkah Lahir Batin

Merantaulah agar kamu tahu rasanya mudik...



Propaganda kapitalis yang memanfaatkan keluguan umat dan momen hari raya keagamaan. Mudik dianggap identik dengan Idul Fitri yang tak bisa lepas dari ibadah puasa. Mudik dianggap bagian dari rangkaian ritual puasa padahal yang dianut pemeo jadul, poso ora poso asal mudik...

Realitanya tak ada Idul Fitri bagi kebanyakan pemudik. Adanya ucapan sugeng riyadi di hari riyaya. Hari dimana perantau memamerkan kesuksesan di kampung halaman walau sebagian sebenarnya semu. Tapi itulah pemicu perputaran kapital yang luar biasa besar dalam sepenggal waktu. Dari sekedar penjual mercon sampai juragan pesawat terbang berbusa-busa menawarkan dagangan dengan kamuflase ibadah mudik. Alhamdulillahnya "korban" nya mau. Syukron akhi...

Atas nama silaturahmi, itu benar tapi tidak banget. Saling bermaafan sebagian masih sebatas formalitas. Umumnya cuma nyamperin yang hubungannya baik-baik saja. Kepada yang jelas-jelas banyak masalah kebanyakan enggan mendekat tak peduli itu keluarga sendiri.

Jadi jamaah mudikiyah apa bukan urusan masing-masing. Tapi tidak semestinya terlalu didramatisir ala yang banyak tayang di medsos. Unsur borjuis kapitalis lebih dominan ketimbang sisi romantis agamis. Atas nama pencitraan saja makanya banyak yang tidak sadar bahwa sebagian isinya omong kosong layaknya ucapan mohon maaf lahir batin...

Lha trus kepiye..?
Emang tidak ada ucapan dan tindakan lain yang yakin lebih ikhlas dan tulus? 
Misal, mohon nafkah lahir batin...

Luweh...
#MabokSirupMarijan
#KorbanKongGuanIsiRenginang


Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena