04 Februari 2018

Bulepotan

Gerimis selepas ashar di stasiun Tugu sisi selatan...

Melipat jas hujan setelah menurunkan penumpang, ada order masuk. SOP-nya, yang konon kabarnya hasil kesepakatan, namun entah kesepakatan pihak mana, siapa yang tanda tangan dan bukti hitam di atas putihnya tak pernah tersosialisasi, ojek online dilarang menaikan penumpang di seputaran stasiun. Area yang diijinkan untuk mengangkut penumpang di seberang hotel Neo, sekitar 300 m ke arah timur dari pintu keluar stasiun.

Baru mau kirim pesan ke pemesan tentang itu, dari belakang ada bule nunjuk-nunjuk hape ngasih tau kalo dia yang order. Belum sempat bicara, helm yang masih nyantol di spion diambil lalu duduk di boncengan.

"Excuse me, sir..."
Mencoba mengkomunikasikan masalah premanisme terhadap ojol dengan bahasa sederhana -karena memang ga bisa ngomong rumit pake bahasa planet- agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berakibat insentif hangus dampak rating bintang 1. Belum kelar bicara, bani kisruh berdatangan dengan segala intimidasinya.

Mencoba minta waktu untuk berkomunikasi dengan si bule -yang bagaimanapun juga beliau tamu Jogja yang mungkin datang kemari karena tertarik cerita konon kabarnya kota wisata yang warganya ramah- tetap saja ditabrak dengan bermacam ancaman. Situasi makin tidak kondusif akhirnya aku ikut membengok, "ngomongo dhewe karo bulene, nyuk...!"

Jebulnya sama begonya denganku soal bahasa. Cuma bisa ngacung-ngacungin tangan dengan ekspresi wajah tak seindah kembang di pasar kempit. Koplaknya si bule malah mudeng, kasih kode lalu jalan kaki ke arah timur. Aku pun ikut ngacir dan menunggu beliau di tempat aman.

Antar ke daerah Minggiran. Sampai tujuan aku coba membuka percakapan yang intinya mau minta maaf dengan kejadian tadi. Aku ndak mau ada kesan buruk baik soal pelayanan ojek maupun citra Jogja dimata beliau.

Tapi kayaknya ada masalah...

"Apologize me, Sir. I'm anu.. want nganu, Sir..." 
Dia mengangkat kedua tangan dan menaikan kedua alisnya seolah nanya kenapa. Mulai mikir, "masa ga dong basa Inggris..?"

"Speak English..? Sprichst du deutsch?..? Parlez-vous fran├žais..? Spreek je nederlands..?" 
Tetap dijawab dengan isyarat yang sama...

Lagi mbatin, "mas dab, Ik inlander godverdomme en my endas starting mumet..." 

Ada yang keluar dari homestay menyambut sambil nyengir, "pake bahasa tarzan wae, mas. Bule gagu kui..."

Howalah...
I'm muted instantly...

#OdjekBedjo

2 comments:

  1. Ooo, indah ki jebul kembang sarkem(pit)to? Tak kira bocah kranggan.

    BalasHapus
  2. juosyah..tongkrongane siki nang sarkem.jiahahahahaha

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena