09 Februari 2016

Sangkulirang Trip - Kalah Banyak

#Semua Umur

Bengalon adalah kota kecamatan di Kabupaten Kutai Timur. Kotanya tidak terlalu besar namun bisa dibilang lumayan ramai untuk ukuran kota kecamatan di Kalimantan.

Terdampar di Bengalon jam 2 pagi gara-gara Dibohongi Sopir Travel, aku pilih penginapan kecil sebelum pasar. Pertimbangannya ada ATM di depan hotel dan Indomaret di sebelahnya biar butuh apa-apa tidak perlu cari jauh-jauh dan yang pasti harganya standar. 

Kalo fasilitas hotelnya tidak terlalu banyak berharap. Ada AC dan dikasih handuk sudah bagus. Pengen ngopi musti nongkrong di warung. Tapi itu bukan masalah, bisa istirahat sudah lebih dari cukup.


Paginya sehabis cari sarapan di pasar, aku nelpon sopir travel untuk nanyain aku dijemput jam berapa. Bolak-balik nelpon sampai jam makan siang, tetap saja tidak bisa dihubungi padahal ongkos sudah dibayar di muka.

Oh iya...
Kerjaan ini sebenarnya ada 2 tim. Timku mengerjakan instalasi radio, sedangkan pemasangan tower dikerjakan tim lain dari Samarinda. Kacaunya - karena proyek multilevel marketing sebagaimana aku ceritakan di jurnal Kelaparan di Berau - aku baru dapat nomor kontak tim tower tepat setelah sarapan di Bengalon. Kebayang kan repotnya kerja tanpa koordinasi sejak dini..?

Lagi empet tidak ada kontak dari sopir travel, kegalauanku meningkat gara-gara tim tower bilang sudah nunggu di penyebrangan dan bolak balik nanyain kapan aku sampai lokasi. 

Lebih galau lagi waktu aku sampein masalahku, dia ngomong gini, "padahal subuh saya lewat Bengalon, kenapa ga sekalian ikut..?"




Ga enak bikin orang lain nunggu, habis makan siang aku lupain janji manis sopir travel lalu cari mobil carteran lain dan alhamdulillah dapat. Sayangnya pas sopirnya jemput, waktu sudah menunjukan jam 1 siang alias sudah overstay alias harus bayar 2 hari. 

Meluncurlah aku menyusul tim dari Samarinda. Baru saat itu aku tahu kalo tujuanku bukan Sangkulirang melainkan pelabuhan penyebrangan GM (kenapa namanya GM aku ga tau). 

Sangkulirang cuma kecamatannya, rutenya beda jauh. Mungkin hampir sama dengan sebagian teman kita bilang Borobudur Prambanan itu satu lokasi di Jogja. Padahal rutenya berlawanan arah...

Sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan akhirku desa Pelawan, di pelabuhan GM harus nyebrang sungai menggunakan perahu dengan tarif aduhai. Satu orang tarifnya 20 ribu. Mobil sekelas avansa 200 ribu. Karena waktu itu numpang truk, bayarnya 700 ribu. Penyebrangan lumayan ramai hampir tiap 10 menit sekali. Kebayang bagaimana hidupnya ekonomi di sini...




Sampai Penyebrangan GM menjelang sore, aku ketemu tim dari Samarinda, cipika cipiki bentar baru ngobrol soal kerjaan. Dan aku rada nyesek ketika teman bilang, "kita ga bisa nyebrang sekarang, pak..."

"Loh katanya penyebrangan buka 24 jam..."
"Iya. Cuma air lagi surut jadi ga berani nyebrangin truk. Kalo mobil kecil sih bisa saja..."
"Waduh... Dekat sini ada penginepan engga..?"
"Penginepan terdekat ya yang bapak nginep semalem.."
"Trus rencananya gimana..?"
"Ya kita tidur di sini..."

Langsung garuk-garuk kepala...
Masuk hotel ga sampai 12 jam harus bayar 2 hari, eh malah tidur di emper warung di pinggir sungai yang nyamuknya tidak bersahabat...

Nikmati saja lah...

10 comments:

  1. Asik banget ya pengalamannya .. :)

    BalasHapus
  2. gpp pak demi anak istri tercinta

    BalasHapus
  3. wah kelaparan di Berau, harusnya mampir ke warung temenku tuh hehehe

    BalasHapus
  4. tidak bertanggung jawab sekali itu supirnya yah mas

    BalasHapus
  5. itu sopir travel keterlaluan banget, ga profesional .kayanya ga banyak saingan ya jadi senaknya ajah, conba kalau di kota gede ga akan laku tuh sopir kaya begituan.. ada - ada ajah

    BalasHapus
  6. pengalaman yang tidak akan terlupakan, simpen di memori ya he he

    BalasHapus
  7. Yg sabar yaaaa garut2 nyamuk nya hahaha

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena