07 Januari 2014

Elpiji

#Dewasa

Jurnal panjang dan menyebalkan
Kalo ga mau mumet, silakan lewat saja...

Biasanya aku malas ngomongin sesuatu yang lagi rame. Namun setelah baca-baca tulisan beberapa teman, kepala ini mendadak gatel ingin ikut ngomong soal elpiji juga.

Bukan soal elpijinya, melainkan prihatin dengan mereka yang tak mau kalah dengan anggota hewan yang suka ngomong gegap gempita tapi tak mau baca data.


Salah satunya nulis Pertamina serakah mau untung besar sampai menaikan elpiji 15 kg menjadi 120 ribu. 

Yang ini kayaknya tak mau menengok ke belakang bahwa Pertamina sudah sejak lama mengusulkan kenaikan ini berdasarkan hasil audit BPK yang menyatakan bahwa unit bisnis elpiji merugi. Sekali lagi unit bisnis elpiji, bukan profit Pertamina secara keseluruhan.

Pemegang saham Pertamina adalah negara melalui Menteri BUMN. Berarti kerugian Pertamina juga kerugian negara. Tahun 2011 saja Pertamina setor pajak ke pemerintah sebesar 50 trilyun rupiah dan itu belum termasuk deviden. Datanya bisa dibaca di sini.

Ingat...
Pemerintah hanya menyubsidi gas 3kg yang dianggap untuk masyarakat kelas bawah. 

Adalah aneh bila gas 12 kg yang dikatakan untuk menengah ke atas, harus Pertamina yang kasih subsidi sementara negara sudah terima duit segitu banyak. Kemana dana sebesar itu bila pemerintah kemudian cuci tangan dan hanya menyubsidi gas 3 kg saja.?

Kalo pemerintah mau fair, semestinya gas 12 kg juga disubsidi. Atau subsidi ditanggung Pertamina namun pemerintah membuatkan payung hukum agar hasil audit BPK yang menyatakan rugi bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.


Ada yang membandingkan harga elpiji kita dengan elpiji negeri jiran yang hanya 20 ringgit.

Pernyataan itu ada benarnya. Namun perhatikan dong data dari International Institute For Sustainable Development bahwa harga elpiji 14 kg di Malaysia sebenarnya RM 54.39 Harga jual RM 26.60 itu setelah disubsidi. Datanya bisa dilihat di sini.




Paling gampang bandingin aja dengan gas swasta berlabel Blue Gaz. Harga untuk tabung 5,5 kg itu 95 ribu perak. Datanya bisa dilihat di sini.


Kemudian ada yang bilang elpiji domestik dimahalkan tapi untuk ekspor dimurahkan.

Ada benarnya
Namun perlu dipahami yang diekspor itu adalah LNG bukannya elpiji alias LPG. Perbedaan antara LNG dan LPG bisa dibaca di sini.

Keduanya sama-sama bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Tapi karakteristik LNG itu tekanannya sangat tinggi sehingga kurang cocok dikemas dalam bentuk tabung kecuali diconvert menjadi CNG seperti yang sudah dipakai oleh bus TransJakarta

Makanya di luar negeri gas bisa lebih murah, karena yang dipakai adalah LNG yang didistribusikan ke rumah-rumah melalui jaringan pipa gas.

LNG atau gas alam cair ini memang melimpah di Indonesia makanya harga jualnya juga relatif murah. Beda dengan elpiji yang dihasilkan dari pengilangan minyak mentah sebagaimana bensin atau minyak tanah. 

Karena minyak mentah sebagai bahan bakunya 60% masih diimpor, wajar bila biaya produksinya jadi tinggi. Kecuali kalo elpiji yang diekspor murah, baru namanya kurang ajar.

Lagian operator LNG itu bukan Pertamina melainkan Tangguh. Cari saja di google siapa pemegang saham Tangguh. Semuanya operator luar negeri semacam BP, MI Berau B.V, LNG Japan Corporation dll.


Dah ah cape...

Eh, sekali lagi...
Ini bukan semata bahas carut marut politik kenaikan elpiji. Namun sekedar keinginan agar teman-teman mau sedikit baca data dulu sebelum ngomongin sesuatu. 

Kalo males cari data, ga perlu pake menyalahkan pihak tertentu. Curhat saja tentang anggaran dapur yang bertambah. Itu malah aman.

Tak terlalu sulit kok belajar jadi blogger cerdas
Kecuali niatnya ngejar traffic doang sih silakan saja ga mikir juga...

Maaf buat yang tidak berkenan...
Sama-sama...


61 comments:

  1. Parah ente gan
    Sdh jelas kenaikan lpg nyusahin rakyat msh dibelain juga. Pertamina songong mentingin diri sendiri biar pegawainya bergaji gede. Tdk mau mikir msh bnyk rakyat yg hidup dibwh garis kemiskinan. Bagemana kesejahteraan rakyat bisa merata kl yg kaya trs saja diperkaya tdk peduli mencekik rakyat kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan gitu gan nanti pertamina nangis loh, tapi di daerah saya baik kok pertamina mau suplai gas lewat jalur pipa ke tiap rumah.... keren khan

      Hapus
    2. begini aja Gan, gimana kalo Bu Karen kita ajak masuk KPK? cakep lho doi sekarang.

      Hapus
    3. soal remunerasi, dimana mana bidang migas standar gajinya memang tinggi. coba cari data upah minimum propinsi yang banyak perusahaan tambang. pemerintah mengeluarkan dua macam ump dimana ump bidang pertambangan lebih tinggi dibanding bidang lain.

      coba juga cari data standar gaji pertamina dan bandingkan dengan perusahaan migas asing. rata-rata cuma setengahnya lebih sedikit itu pun di unit bisnis hulu.

      pertamina juga harus bersaing mendapat karyawan ahli. kalo kasih standar gajinya terlalu rendah, orang-orang pinter macam lik zach mana mau kerja di pertamina. mendingan masuk perusahaan asing dong. tuh contohnya lik reo...

      kalo lihat apa apa jangan sepihak lah. cari data sana sini jadinya bisa bikin kesimpulan yang fair walaupun kadang ga sependapat dengan isi hati sebenarnya

      Hapus
    4. Tambang dan Migas itu resiko kecelakaan kerjanya tinggi,.. siapa tahan kerja dengan bahaya kalo di gaji ga sesuai

      Hapus
    5. nah lho...
      gimana ini kalo ada dual anonim beda pendapat gini... :D

      Hapus
    6. DUOS Anonim...
      mas rawins sendiri merasakanlah kerja ditambang..kalau saya sih tiap hari nambang mas, gali lubang tancep lubang

      Hapus
    7. nah
      tancep menancep itu yang aku belum kesampean, om...

      Hapus
  2. biarin azh dah...lama-lama ge' pada mati semua.

    #semua yang hidup pasti mati....

    BalasHapus
    Balasan
    1. orang kaya mati... orang miskin mati... raja raja mati ... lagunya siapa ya kang hehehe

      Hapus
    2. tapi kalo matinya dimakan sama pion ya nggak asyik. mendhing dihajar kuda letter L.

      Hapus
    3. Ngenes nek matine dihajar menteri, jalane miring ya kang ..?

      Hapus
    4. berarti judulnya disampluk miring ya...?
      tapi mang lembu malah kudanya yang miring...

      Hapus
    5. kuda-kudaan memang harus miring mas, kalau njengking itu namanya doggy

      Hapus
    6. kalo palanya yang miring, piye..?

      Hapus
  3. aku gak paham, tapi aq gak setuju kalau elpiji naik harganya. rakyat sudah tercekik masak iya mereka yang berdasi yang duduk dikursi jabatan malah mau mencekik. meski saya bukan pengguna elpiji tetap saja tidak setuju karena saya berbicara sebagai rakyat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang naik itu kan cuma elpiji 12 kilo. yang 3 kilo engga. jadi yang dikatakan memberatkan rakyat kecil itu dimananya?

      lagian pertamina bilang, peredaran elpiji 12 kg itu cuma 17% dibandingkan yang 3 kg. atau coba keliling ke rumah tetangga, bandingkan berapa orang yang pake 12kg dan berapa yang 3 kg...

      biarpun cuma rakyat, ikut belajar baca data boleh kan..?


      Hapus
    2. seempat gonjang ganjing lpg 3kg langka mas...susah kalau agen besar sudah main gitu.

      Hapus
    3. sebuah resiko pasti ketika satu produk ditawarkan dengan dua harga. penyelengan pasti susah dihindari. agen pun tergiur main curang mindahin isi gas 3 kg ke 12 kg biar dapat keuntungan banyak..

      Hapus
  4. mumet ya kang kalau harga elpiji naik, berhubung saya tak menggunakan tabung gas elpiji, melainkan di suplai dari pertamina Subang melalui jalur pipa gas, kebetulan ada di kecamatan saya, tapi itu baru rencana pemasangan pipanya, sekarang masih pakai kayu bakar ... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mari kita bakar sate saja

      Hapus
    2. nah kalo pake jaringan pipa semestinya lebih murah, mang. karena yang biasa pake pipa itu LNG. semoga bener ngurusnya ya. disini pipa ledeng aja sering bocor... :D

      Hapus
    3. disinis pipa pdam malah sering kena back hoe

      Hapus
    4. kalo si om seringnya kena back street ya..?

      Hapus
  5. Balasan
    1. mending poligami dong..?

      Hapus
    2. poli pantay aja om biar bisa nyantay kaya mang lebay...

      Hapus
  6. Maklum lah oom, kecerdasan kita memang levelnya baru segitu. Dikasih penjelasan sampai ndower juga gak bakalan mau tahu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kok bisa pada jadi pejabat..?
      herannya lagi blogger sebagai jurnalis publik juga pada ikutan. gimana kalo warga dan pejabatnya sudah senada seirama gitu..?

      Hapus
    2. Jawabnya cuma satu: Itulah Indonesiaaaaaaaaa

      Hapus
    3. slamete aku ra melok nulis ndaaaaaa....

      Hapus
    4. lain kali nulis lah om ben ketok keren...

      Hapus
  7. kado tahn baru dari pemerintah adalah kenaikan elpiji

    BalasHapus
  8. Maturnuwun Kang buat tambahan informasi dari sudut pandang lainnya. apa kudunya cuman komen nice info gan? Hahaha.
    Keren Kang! :d

    BalasHapus
    Balasan
    1. asline aku yo ngenes elpiji naik. waktu di jogja masih 80 ribu saja disini sudah 120 ribu. tapi kurang nyaman juga dengar mereka yang banyak bicara itu...

      Hapus
  9. di perumahan tetangga juga gasnya sudah di salurkan melalui pipa2 mas. Cuma ketemnpatku gak tau deh mungkin karena harus melintasi sungai dan jalan tol jadi agak susah

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga sih bukan karena amal ibadah ya, bu...
      hehe

      Hapus
  10. Itulah gunanya grafik dan statistik..untuk dibaca dan kemudian diambil kesimpulan. Kebanyakan dari mereka yang protes dan emnyalahkan pihak tertentu, mungkin belum paham dengan adanya data yang disajikan.
    #mumet, nulis apa toh aku iki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maunya sih begitu
      tapi pada kenyataannya lebih sering ditutup dengan kata indonesia raya memang begitu. hehe kacaw ah...

      Hapus
  11. Elpiji regane munggah, digawe sante bae lah, wong nangomah elpiji mung go masak banyu go adus tok, 3 wulan luwih nembe entek .. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yang keren
      lha wong rokok tiap taun naik saja ga ada yang protes. coba aja itung berapa biaya rokok per bulan dan bandingkan dengan biaya gas...

      Hapus
  12. blogger juga manusia lik.....
    #manusia indonesia yg 80% sukanya ikut-ikutan doang....wkwkwkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. huh dasar orang malasyah..

      Hapus
    2. selalu kompak dengan orang cilembu ternyata...

      Hapus
  13. pak kok yo sampiyan iso sempet sempet e golek golek data ngono lho pak..
    wah pancen oyee tenan ikii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap ada kontroversi, ada baiknya kita jangan ikut salah satu pihak dulu walaupun hati terdalam sudah menentukan pilihan. cari bacaan banyak kok di internet dan jangan hanya informasi sepihak. maksudnya bisa fair saat akan menyimpulkan sesuatu...

      Hapus
  14. Mnurut sy mah mahal jg gpp yg pnting bs kebeli...

    *sombong mode: on

    Lha ini uda mahal, pake d umpetin lg ama agen gas'y...
    Cuapedweeehhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya itu yang lebih penting
      asalkan barangnya ada, biar mahal masih bisa diusahakan. malah bisa jadi pemicu agar lebih giat cari duit untuk nyukupin kebutuhan

      Hapus
    2. Setuju bgt dah..

      * tua bgt da ah bahasanyah....

      Hapus
    3. ah elah malah ditua tuain...

      Hapus
  15. kalau memang datanya demikian adanya ya memang pantas lah di naikkan, asal sama-sama fair sajalah tentang data keuangannya. Asline untung di bilang rugi, itu kan ndak fair.
    Kalau saya sih manut bae, lha wong nggawe lpg dewe yo ora gablek, ora iso, nek tuku regone yo ra sampek koyo regone sempak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling gampang kan bandingin dengan harga produk swasta yang tak kenal subsidi. kalo harganya terpaut ga begitu jauh bisa dibilang dah sesuai pasaran. kalo mau bandingin dengan negara lain semestinya tidak ambil harga mentah mentah. tapi cari dulu data subsidi dan pendapatan perkapita negara tersebut...

      Hapus
  16. kenapa gak pake gas alam yang dialirin pake pipa langsung aja gt ya mas? biar gak usah cangkeul ngantri kalo tiba2 elpiji kaclep...

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah mulai kayaknya teh
      tuh kata mang yono di subang lagi dibangun jaringan pipanya...

      Hapus
  17. yang dibahas tingkat tinggi nih,ijin nyimak aja dah...

    BalasHapus
  18. saking berlimpahnya gas, smp2 perkampungan warga kerendem lumpur gas... ironis...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena