02 Oktober 2013

Karina

#Dewasa

Acara satu jam bersama Google hari ini nyangkut di berita tentang lurah Lenteng Agung, Susan Jasmine Zulkifli. Ini berita lama yang aku kira sudah selesai, jebulnya masih rame di media massa.

Menurutkan opini pribadi...
Tak semestinya kita mengabaikan kinerja seseorang dalam melayani masyarakat hanya karena berbeda agama dengan mayoritas warganya. Bagaimanapun juga ini negara konstitusi, bukan konstituen.

Agama adalah pedoman agar manusia mampu menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Ketika fanatisme agama sudah melanggar batas kemanusiaan, berarti sudah melanggar pula kaidah ketuhanan yang menjadi tujuan penciptaan agama. Tak salah bila KH Ahmad Dahlan mengatakan bahwa fanatisme itu merupakan sumber kebodohan.





Kepikiran itu, aku jadi ingat Karina
Gadis kecil yang aku pungut dari sebuah keluarga Nasrani yang bercerai. Sebenarnya ada 3 anak yang harus dihidupi oleh sang ibu. Namun aku pilih Karina karena dia seumuran dengan Adi.

Setahun Karina menjadi bagian hidupku, tak pernah sedikitpun aku mengusik agama warisan keluarganya. Tugasku mendidik sebatas pembelajaran budi pekerti, menyekolahkan dan membantu mengerjakan PR. Waktunya Adi belajar ngaji, aku biarkan Karina bermain atau baca buku pelajaran.

Saat mereka mau tidur, aku pun menemani mereka bergantian berdoa. Aku awali dari si Adi baca "Bismika Allahumma ahya..." Kemudian beralih ke Karina baca doa bapak kami walaupun aku cuma hapal "Bapak kami yang di sorga.." doang, selanjutnya ga apal...

Biarpun jarang berangkat, tiap minggu aku selalu nanya Karina mau ke gereja atau sekolah minggu apa tidak. Di malam natal, walau tak ada pohon natal aku siapin hadiah dan kumasukkan ke kaus kaki yang dia gantungkan di tempat tidur.

Sampai suatu hari anakku itu bilang, "Ayah, Karin boleh ikut ngaji sama Adi engga...?"

Aku ikuti saja apa panggilan hatinya. Dan siapa sangka, dia belajar Iqro lebih cepat ketimbang si Adi. Bahkan doa mau tidur, mau makan dll dia sudah lancar. Ternyata diam-diam dia ikut ngapalin tiap kali Adi baca doa.

Sayang kebersamaan itu tak bisa dijalani lebih lama. Ibunya datang ke rumah, "Saya mau menikah lagi, mas. Sepertinya sudah tidak keberatan lagi untuk biayai hidup dan sekolah anak-anak..."

Aku cuma bisa bilang iya, tanpa pernah memahami apa yang berkecamuk dalam hatiku saat itu. Yang jelas, itu hari terakhir aku melihat Karina. Ayah barunya membawa keluarga itu pindah entah kemana...

Memang hanya setahun
Namun aku bisa merasakan indahnya kebersamaan dalam perbedaan kedua anakku itu.




Sebagai pembanding...
Aku punya teman yang kehidupannya berantakan karena perbedaan agama dalam keluarga. Namun menurutku, masalahnya bukan pada agama. Melainkan orangnya yang tak mampu mengelola perbedaan ke arah yang positif.

Tapi sudahlah...
Isi kepala manusia begitu beragam dan tak mungkin dibuat seragam
Yang pasti aku hidup di alam merdeka yang harus menghargai kata tidak sepakat


Intinya
Aku tak pernah tau bagaimana orang memandang prinsip hidupku. Aku hanya ingin belajar tentang kemanusiaan sebelum aku memulai belajar syariat. Itu saja...

Quote of the day
Perbedaan itu lebih manusiawi untuk dinikmati - aktivis anti gay


73 comments:

  1. Apa bedanya kemanusian dan syariat Kang ?

    Sepertinya 11 - 12 nih, he,,, he,, he,,,

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semestinya syariat itu lebih luas maknanya dan mencakup sisi kemanusiaan juga. Namun yang berkembang dalam pemikiran awam. syariat cenderung dipakai ke arah fiqih yang mengatur tatacara keagamaan vertikal ketimbang horisontal.

      Makanya aku lebih suka memisahkan keduanya, walaupun mungkin ini keliru, pak. Aku juga bikin aturan sendiri tentang pilar keagamaan dalam bentuk segitiga Maslow. Dimana pondasi paling dasar adalah hubungan kemanusiaan dan syariat aku tempatkan di atasnya, disusul tarikat, hakikat sampai dengan hakikat

      Sekali lagi maaf kalo tidak sesuai kaidah sebenarnya...

      Hapus
    2. Tuimben nda pasang gambar cewek cakep, seksi n bohay

      Hapus
    3. adanya gbr cowok pakek tengtop :| .

      Hapus
    4. kira-kira bisa nggak dibilang sekseh?

      Hapus
    5. maksud mas rawin akhlak euy ;)

      dalam islam, akhlak itu lebih utama dari pada ilmu loh. ckck goog good ... jozzz kemanusiaan...

      Hapus
    6. Ya harap dimaklum, om doddy
      Pemahaman agamaku kan cetek banget, makanya penyampaiannya ga bakalan bisa sesuai dengan kaidah sebenarnya dan lebih sering pake bahasa awam yang pasaran :D

      Hapus
    7. hikss..jadi terharu membaca tulisan mas rawins, hiks
      waktu itu sudah ngeblog apa belum mas? sudah ada blog.rawins apa belum?
      kok masih nggateng ya

      Hapus
    8. waktu itu masih di blogspot yang sekarang sudah musnah diisengin orang.
      apa, om. gendheng maksudnya..?

      Hapus
    9. hahaha saiki waras yo wes an, opo ijek gendheng

      Hapus
    10. ben dadi gurune wiro sableng, om :D

      Hapus
  2. keluarga yg mengadopsi karinaitu sampiyan pak?

    wah hebat banget bisa legowo seperti itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang cuma setahun doang, pak

      Hapus
    2. mudah-mudahan karina nanti baca blog Pak Raw...

      Hapus
    3. Tapi kayaknya ga ngerti siapa rawin dia bu, hehe

      Hapus
    4. kalau lihat potonya pasti langsung tanggap

      Hapus
    5. Coba di ajak Manjat Tower, pasti tau Rawins

      Hapus
    6. Sekarang Karinanya di mana, Mas?

      Hapus
    7. Tidak ada kabar beritanya, om
      Rumahnya yang dulu juga jauh sih dari rumahku, udah loncat kecamatan

      Hapus
  3. Terharu membacanya. Semoga Indonesia diguyur lebih banyak orang seperti mu, Mas. Setelah dibawa bundanya masih suka berkunjung kah Karina?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ketauan jejaknya, bu.
      Ibunya ga bilang akan pindah kemana setelah menikah. Dulu di kampung belum banyak hape soalnya.

      Hapus
  4. Perbedaan itu lebih manusiawi untuk dinikmati - aktivis anti gay (mantab nih...ngeplak banget)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mau ngeplak gay, maksudnya..?
      Heheh

      Hapus
    2. sudah sudah..jangan keplak keplakan di sini...!!!

      Hapus
    3. eh sembarangan, emangnya aku gay..?
      Haha

      Hapus
  5. itu foto tahun berapa pak? kok kayaknya wajah panjenengan beda?

    saya sempat beberapa kali mengikuti berita tentang Bu Lurah LA itu. andai saja masyarakat bisa membuka mata, mungkin tak akan terjadi demo-demo seperti itu. perlu kita pahami, bahwa tugas beliau adalah memimpin kelurahan, menjadikan kelurahannya maju, berkembang dll...nah andai ada yang melenceng, baru masyarakat mengingatkan, tapi kalau masih lurus-lurus saja selama tak mengusik agama lain tak mendiskriminasikan masyarakat...its Ok. dapipada punya pemimpin yang berKTP Islam tapi kok korupsi---ya artinya dia belum mampu menjalankan amanah itu. belum mampu memahami dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun berapa ya. Dulu si Adi masih TK sekarang dah masuk SMP. Sekitar 2005 atau 2006an kali bu.

      Soal lurah, mungkin itu yang dimaksud oleh Ahmad Dahlan dulu tentang fanatisme. Padahal bukti sudah banyak. Panggilannya ustadz, titel kyai haji tapi masih saja korupsi.

      Kenapa ga belajar ke Jokowi yang selalu menggandeng orang beda agama tapi bisa kerja. Sekarang Ahok sudah jelas sepak terjangnya. Dulu di Solo FX Hadi tak kalah keren. Anehnya, keinginan menjaga toleransi itu malah dicap sekuler. Ga ngerti maunya sebagian saudara kita itu sebenarnya gimana..?

      Hapus
    2. namanya juga sodara sodara sebangsa dan setanah air Pak, walau bumi yang dipijak sama, isi kepala (*eh...pemikiran) belum tentu sama ya...?

      Hapus
    3. Setuju .. negarakita kan Bhinneka Tunggal Ika

      Hapus
    4. Beda pendapat aku ga pernah permasalahkan. Diskusi tukar pandangan juga jadi asik. Yang penting jangan memaksakan kehendak pake kekerasan saja...

      Hapus
    5. nancy lumintang11 Oktober 2013 14.57

      Kalo maksanya pake duit gimana om

      Hapus
    6. Itu mah bukan maksa kali..?
      ngerayu, heheh...

      Hapus
  6. Kirana sudah besar sekarang pastinya ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. kirana atau karina ... kaya model dia.

      Hapus
    2. Gapapalah sama temen salah dikit kenapa..?

      Hapus
  7. Ngikik geli pas baca soal lurah Susan ini Kang. Yaampun aja deh komennya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga tau lah om
      Kenapa pada ngotot pengen orang seagama tanpa mikirin kinerjanya...

      Hapus
  8. perbedaan akan selalu indah bila kita tdk mengusiknya, semoga aja karina tetep pada pendiriannya. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apapaun itu asal dari hati nurani ga perlu dipermasalahkan. Apalagi dia masih anak-anak...

      Hapus
  9. masih kecil jadi cepat nangkap ya karina

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anaknya cerdas memang...

      Hapus
    2. Bapaknya engga tau kemana, dibilang cerai,pak

      Hapus
  10. Dedaunan Hijau2 Oktober 2013 10.46

    putrane berapa to pak sebenarnya
    kok ada yg dah gede juga ya
    andai karina baca blog ini ya

    BalasHapus
  11. itu karina kapoor bukan pak?

    BalasHapus
  12. Aku bengong baca tulisan ini .. terharu.
    Sampeyan mulia sekali Mas.
    lagi2 salut aku.
    Tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Engga gitu juga kali, om...
      Sekedar pengen nerapin demokrasi dari level terkecil saja kok

      Hapus
  13. Perbedaan itu lebih manusiawi untuk dinikmati.. bahasa'e terdengar kurang enak deh kalo yg ngomong manusia normal itu terkesan museum banget ya om -_-.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dienak enakin aja atuh, neng...
      Perlu dibantuin..?

      Hapus
  14. Betul kalau melihat kasusnya Bu Lurah sebaiknya agama jangan di bawa-bawa. Malu lah sama agama, nanti di kiranya agama yang mengajarkan begitu, padahal kan nggak.
    Dan untuk kisah Karina saya senang tapi juga sedih padahal Karina memiliki keinginan sendiri. Semoga aja Ibunya mengerti dan tak memaksakan kehendak kepada Karina nantinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga orang banyak. Di rumah anak cuma dua biji saja berantem mulu. Padahal satu pabrik, hehe...

      Hapus
  15. perbedaan itu kalau di mengerti indah . tetangga saya pun non muslim tapi kami saling menghargai
    kalau masalah lurah itu yang entingkan kinerjanya, bukan agamanya apa ya pak ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya untuk kasus itu aku setuju dengan pendirian jokowi ahok

      Hapus
  16. Salut saya Mas karena mampu mendidik seorang anak walaupun dengan latar belakang berbeda agama,serta tidak membeda-bedakan satu sama lainnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup cuma titipan kok
      Tuhan saja tidak otoriter, kenapa kita suka memaksakan diri..?
      Yang penting tanggung jawab kan, pak..?

      Hapus
  17. sebuah keteladanan yang sampean lakukan Kang, karena sebenarnya itulah cara mendidik dengan hati tanpa memberikan paksaan ini dan itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dibesarkan di lapangan, pak
      Aku sadar, mungkin apa yang aku lakukan secara itu salah secara teori. Tapi karena praktek itu seringkali beda dengan teori, mau ga mau aku musti fleksible dan menata perilaku menyesuaikan kondisi nyata dalam keseharian. Nyatanya anak anak kalo dikasih kebebasan malah jadi bisa belajar tanggung jawab kok

      Hapus
  18. benar2 sebuah pelajaran yang sangat berharga,.
    sayang banget harus di akhiri kisah indah nya ya gan,.

    ffiuh,.,
    semoga tetap pada kebaikan deh gan,.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalani dengan santai saja, om
      Hidup sudah ada yang atur kok

      Hapus
  19. haha mas rawin merendah nih. qiqiqiqi

    saya setuju sama mas rawin bertindak ke karina. tapi saya gak punya konsep yang kuat buat mejelaskan agama warisan. kan agama itu unsurnya baru sah kalo dia berakal, diapahami, imani, lakuin. namun kirana adalah anak2. agamanya hanyalah bayangan. dia gak berdosa. gak ada beban syariat kepada dirinya. mas rawin sudah oke melakukan tindakan yang persuasif. dengan akhlak mas rawin tunjukkan. yah akhirnya dia dapat bibit hidayah. jozz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga ada yang merendah kok. Orang kenyataannya begitu...

      Yang pasti aku ga suka otoriter. Anak pun aku anggap sudah punya hak bicara karena aku menyakini setiap orang sudah dibekali tuhan dengan kemampuan berpikir. Tugasku cuma mengikuti saja sejauh mana kemampuan otaknya untuk aku ajak bicara tentang masa depan dia. Asalkan tidak melampaui batas kemampuannya, anak-anak bisa kok mengikuti gayaku.

      Hapus
  20. Hmmmm selain Jokowi-Ahok, sekarang ada tambahan, Mas Rawin (ME), semoga banyak orang yang berpendirian seperti ini... kalau tidak, suatu saat, percaya atau tidak NKRI bisa pecah belah... btw, ga coba search di google nama lengkap si Karina, siapa tahu ketemu, sekarang kan jamannya Sosmed, dari anak SMP - ke atas semua pada GAUL... Salut juga buat sikapnya Mas dalam mendidik Karina....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah jauh atuh ngebandingin aku sama jokowi. Aku ga punya banyak kemampuan. Cuma punya keinginan agar dunia menjadi damai doang. Bete liat yang gontok gontokan mulu, hehe...

      Hapus
  21. aku baru tau cerita karina itu mas...
    hehhe taunya adi doang:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimaklumin lah kan eteh orang baru, hehe...

      Hapus
  22. rika keton tuwa temen kang

    BalasHapus
  23. seandainya seluruh isi dunia ini pola pikirnya dibuat kaya mas rawins semua,, pasti tidak ada pabrik senjata, dan lebih malangnya setan pada nganggur hehehehe.

    tapi memanag yang satu itu hanya Alloh Tuhan Semesta Alam. selain itu selalu ada dua antara pro kontra..tapi jujur saya harus lebih banyak lagi berkaca dan meniru mas rawin.. kebersamaan memang indah nggih mas.. thanks sharenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap ada lah, pak...
      Karena sumber pertentangan bukan cuma soal keyakinan. Duit kayaknya lebih dominan jadi penyebab semua ini. Kenapa yang dibahas tentang agama, karena sebenarnya agama itu mengajarkan kedamaian. Tak semestinya malah dijadikan alat pemicu pertumpahan darah..

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena