15 September 2013

Puisi Dian Sastro

#Bimbingan Orang Tua

Orang pintar mengatakan, "keindahan hidup adalah saat kita mampu melihat perbedaan..."

Aku sepakat dengan pendapat itu, walau ternyata membuat perbedaan itu tak mudah dilakukan. Sifat gumunan dan budaya sawang sinawang yang begitu mengakar di masyarakat menjadi hambatan utama.

Gumunan, kagetan, sok heboh sudah jadi tren. Apa yang lagi rame, itu yang diikutin. Asal banyak yang omongin, dianggapnya sebuah fakta dan tak perlu pikir panjang untuk klik bagikan. Seolah lupa bahwa yang banyak itu juga sama dengan aku yang asal share.

Sawang sinawang pun sama. Aku suka membuat asumsi tentang orang lain disesuaikan dengan mood pribadi. Tak cari data pembanding sudah berani ambil kesimpulan. Lihat orang suka tertawa, dianggapnya tak punya air mata. Ada yang sedikit berbagi, dipikirnya punya BRI.

Huuuh...
Kenapa aku seringkali melihat simbol tanpa tahu nilainya. Bukankah kita dilarang berunjukrasa hanya karena kesempatan yang tidak sama. Seolah aku lupa bahwa hidup punya banyak pilihan dengan tingkat kenyamanannya berbeda.

Kenapa aku tak berpikir seperti waktu nonton Dian Satro membaca puisi..?

Aku tak mengerti sastra, makanya enggan berdebat tentang gaya dia membaca atau salah pengucapannya. Lebih suka kunikmati wajah cantiknya, asal tak lupa bahwa puisi itu dibuat tak ada urusan dengan wajah mulus. Walau sama-sama indah, aku harus belajar untuk memisahkan yang aku bicarakan itu keindahan perempuan atau tentang sastra.

Di lain sisi, aku musti mampu mencerna semua pendapat orang lain secara positif. Pro kontra hanyalah soal suka dan tak suka dalam wacana. Secara personal, tak boleh ada kebencian yang ditebarkan. Tak suka gaya seseorang dalam satu kesempatan, bukan berarti aku harus membencinya. Karena suatu saat pasti ada pendapat dia yang aku suka.

Seperti waktu aku baru kenal ibue Ncip dulu. Ada teman sekantor yang tanpa sengaja melihat sepotong cetingan ibue lalu bilang, "dasar keong racun..."

Walau tak sependapat, aku musti mengerti bahwa temanku tak terlalu salah. Siapapun yang tak suka crosscheck, pasti akan berpikir sama saat melihat seorang laki-laki dan perempuan yang baru kenal sudah ada kalimat, "tidur kok ga ngajak-ajak...?"

Mana dia tahu kalo kalimat itu sebenarnya komplen yang disampaikan secara halus. Penyebabnya adalah aku ketiduran saat chatting sebelumnya. Mungkin temanku akan berpikir lain bila mau sedikit scroll ke bawah dan menemukan kalimat selanjutnya, "kalo ngantuk pamitan dong. Udah ngetik panjang lebar ga dibales-bales, emang enak..?"


Intinya
Kesalahpahaman yang fatal kadang bisa dihindari hanya dengan sedikit energi. Tapi kenapa ya, sekedar memutar roda mouse saja aku seringkali malas. Apakah melihat sesuatu secara lengkap dari segala sisi memang sesuatu yang berat..?
#mumet...

*gambar comot di yutub

55 comments:

  1. iyah, tidur sama Dian Sastro kok nggak ngajak-ngajak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngajak2 mah bakal mangpret dian sastronya tauuu

      Hapus
    2. pacul kan biasanya tidur sama lik sastro...

      Hapus
    3. Salah satu tren dan ciri khas postingan Mas Rawins serimg disisipi (sengaja disisipi) gambar atau foto wanita cantik, seksi, dan Bohay. Jadi betah betah juga di sini secara gambar wanita cantik menjadi daya pikat juga. Soalnya saya kan laki laki, masa iya sih mengagumi laki laki hiheiheiheiee.

      Ngomong ngomong soal DS alias Dian Sastro, saya ada kawan kantor yang fans berat sama DS ini. Nyaris semua yang ada unsur DS nya dia beli hiheiheie. Namanya juga idola ya nda

      Hapus
    4. Bohong ah...
      Kemarin katanya ngefans sama lik Zach, hayooo...?

      Hapus
  2. baru tahu kalau puisi dian sastro ada keong racun,,,,
    ehehehehehehehe,,,,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keong racun maksude sama yg nulis artikele mba hehe...

      Hapus
    2. makanya aku kasih tau, neng...
      coba tanya si om tuh :D

      Hapus
  3. Balasan
    1. tembok yang di CET, ngga lama kemudian temboknya langsung MLENTING....gituh azh segala nanya2 seh...huh

      Hapus
    2. haha bener tuh kata si mamang...

      Hapus
  4. ditinggalin tidur saat chating sama dian sastro ko' baru cerita sekarang sih....coba sejak dulu....pasti aku udah mangpret lari kerumahnya DianSastro yng di Cilebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. di cilebut mah bukan dian sastro kali mang...
      tapi aki sastro...

      Hapus
  5. Ya kadang gitu sih mas, penyakitnya males mikir, kadang asal jeplak nuduh dan ngomong, penyakit kronis manusia

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu dia om...
      aku yang sudah sedikit menyadari saja masih enggan berubah. semua masih sekedar wacana semata. payah ya..?

      Hapus
  6. karena tiap orang berada dan tumbuh dgn lingkungan yg berbeda-beda, jd wajar saja klo sudut pandang / pemikiran mereka berbeda-beda :D

    dian sastro nya cakep skali :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. katanya berbeda beda, kok ikutan bilang cakep sih..?
      apa dia dilihat dari segala sudut pandang memang cakep..?

      Hapus
  7. terlepas dari gaya dan cara Dian Sastro menyampaikan puisi, yang pasti jangan sampai mas mengalami kontroversi hati ...

    #tervicky

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru itu masalahnya, om...
      si dian itu bisanya mempersuram isi hati ini sampai bikin labil ekonomi, haha...

      Hapus
  8. wah baru tahu kalau Dian sastro pinter membaca puisi hehe...

    BalasHapus
  9. dian sastro itu ternyata anaknya pak sastro bakul jambu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak tau lik. taunya bakul jamu. tapi namanya ginem...

      Hapus
  10. Tapi kadang gue om yg suka salah paham.. Kalo ada cewek cantik mau kenalan ama gue, langsung tak dhedhes kalo dia musti jadi pacar gue ... Itu baru kenalan, apalagi kalo ngajak tidur bareng, pasti langsung gue bilang, "Wegah! ... Wegah nolak!" <== iki komen opo iki?

    BalasHapus
    Balasan
    1. JIah.. kita sama brow... saya jg pasti menolak... menolak untuk ga di ajak..

      Hapus
    2. kalo yang kayak gini sih enaknya langsung ditanya, wani piro..?

      Hapus
  11. Hmmm kayaknya saya termasuk yang GUMUNAN... fakta, wkwkwkk

    BalasHapus
  12. puisinya indah, apalagi yang baca puisinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gumunan itu artinya keheranan yah kang..

      Hapus
    2. kira kira begitu, om
      asal dengar apa langsung kaya orang gunung lihat laut. heran yang teramat sangat sampai hebih sendiri..

      Hapus
  13. khusus tulisan yang ini berat bray...
    berat untuk difahami, gak ngerti ngomong apa lah
    mbuhhhhh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha aing ge lieur...
      kumaha kegiatan pasukan, naha sepi di grup..?

      Hapus
    2. pasukan keur saribuk, coba we cek di web aya nu alanyar geura

      Hapus
    3. euweuh ning
      terakhir shangrila nya..?

      Hapus
  14. Walau terlihat indah, namun tetaps aja ada perbedaannya. Hidup tidak terlepas dari kodrat dan pilihan Kan ?

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita memang musti memilih jalan sendiri walau kadang dikacaukan oleh yang disebut takdir, pak. hehe

      Hapus
  15. pusisi ya? mmm, bahasa yang sulit dicerna (bagi saya) karena tiap orang punya interpretsi yang berbeda-beda...dulu waktu sekolah, puisi yang cuma 1 bait, bisa diterjemahkan menjadi satu halaman oleh bu guru bahasa indonesia...intinya, puisi itu ngirit...xixixixi, ngirit kertas, yang maknanya lebih ramah lingkungan, mengurangi penebangan kayu akasia, mengurangi polusi udara, emisi gas rumah kaca......xixixi...# dijewer sama Mbak admin puisi cinta

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak juga sih Mang, saya cuma becanda kok...

      Hapus
    2. aku juga tak pernah bisa mengerti puisi. penuh penafsiran yang kadang tak bisa ditebak maunya kemana. lebih enak yang blak blakan dan gamblang. makanya aku suka bingung kalo ada yang posting puisi musti komen apa. jadilah aku pembaca gelap karena memang tak bisa komentar apa apa...

      yang sesat mah pulisi kali, mang..? :D

      Hapus
    3. lho ibu khusna ngga tau apa ? ada puisi yang sangat pendek tapi katanya isinya saaaanggaaaaat paaanjaaang dannnn lebaaaarrrr daaan luaaaasss banget.

      dikata-katain sama orang pinter sih katanya : kalau mau ngarti-in dan nerjemahin itu puisi jika semua pohon (kayu) dijadikan penanya dan semua air dijadikan tintanya : ngga akan pernah selesai untuk menuliskannya___ kata orang pinterrrrr

      judul puisi sama isinya ini tho : "TUHAN"

      Hapus
    4. halah...
      mulai kapan bisa ngomong tuhan, mang..?

      Hapus
    5. mabok artikel, jadi ngomong ngaco dagh...

      Hapus
  16. dian sastro memang raja tidur, itu ya kesimpulannya ?
    hehe..
    sampean kuwi pinter tapi koyo ilmu padi mas ,
    ngerti prokotol kyoto, woconane voltaire, bukune kang lenin, kang marx, habermas, wes embuh kok puinter tho sampean kuwi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jo seru sero tho, om...
      cuma copas di google apa susahnya...

      Hapus
    2. tinggal buka google doang kok :D

      Hapus
  17. saya termasuk yg suka juga dgn dian sastro..

    BalasHapus
  18. iya pak kebanyakan seperti itu jarang banget yang mau scroll mouse. tapi kalo saya malah rajin scroll mouse.. soalnya takut ada yang ketinggal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku paling rajin scroll mouse kalo buka blog orang
      liat judulnya doang langsung scroll ke komen... :D

      Hapus
  19. bahsa gaul baru nih keong racun = tidur bareng :D .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gaul..?
      Emang siapa yang gaulin..? :D

      Hapus
  20. aku gak ngerti mas, maksutne dian sastro salah baca puisi yg mane?

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena