11 September 2013

Negeri Agraris Ironis

#Dewasa

Lagi cari data di web FAO untuk melengkapi data di Wikipedia, aku malah nemu info yang sebenarnya nggegirisi buat Indonesia yang katanya negara agraris dan pernah berswasembada pangan.




Dari total produksi padi dunia sebanyak 723 juta MT (metric ton), China menduduki peringkat pertama sebanyak 201 MT, disusul India 158 MT dan berikutnya Indonesia 66 MT. Ini data tahun 2011 dan data lebih baru belum ada.

Untuk data perdagangan, Thailand yang menjadi pengekspor padi terbesar sebanyak 26% dari total perdagangan padi dunia, padahal secara produksi Thailand berada di peringkat ke 6 dengan total produksi sebanyak 35 MT. Disusul Vietnam (15%) dengan produksi 42 MT, Amerika Serikat (11%) dengan produksi 8,4 MT.

Indonesia yang secara produksi berada di peringkat 3 justru menjadi pengimpor terbesar di dunia (14%) diikuti Bangladesh (4%) dan Brasil (3%).
#mantap...




Aku ga ngerti bagaimana penguasa negara ini mengelola pertanian. Mengapa lebih suka menghabiskan banyak devisa untuk mengimpor beras, ketimbang menyubsidi petani agar bisa menekan biaya produksi. 

Dengan mudah mereka mengatakan beras impor lebih murah dari beras lokal. Orang pupuk saja harganya selangit. Tata kelola irigasi acak adut sampai petani musti menggunakan pompa untuk mengairi sawahnya. 

Menurut mbahnya Ncip, dibutuhkan waktu 10 jam untuk mengairi sepetak sawah dengan biaya sewa diesel 20 ribu perak per jam. Dan itu dilakukan seminggu sekali. Padahal sawahnya tak begitu jauh dari jaringan irigasi Sidareja-Cihaur yang bersumber dari bendung Manganti.

Melihat kenyataan banyaknya komoditi pertanian yang musti impor sementara petani sulit bergerak, mau ga mau aku jadi berburuk sangka kepada penguasa. Lihat saja kasus sapi kemarin (semoga ga ada yang mutung lagi dengan contoh ini).

KPK mengatakan, dari tiap kilogram daging impor itu, Lutfi dapat komisi 5 ribu rupiah, Fatonah 3 ribu dan Zaky seribu perak.
#asu...


Atau masyarakat yang salah..?
Tau sendiri kan, sebagian teman kita banyak yang sok-sokan lebih suka barang impor. Katanya kalo impor lebih keren. Sampai-sampai teman di Cibaduyut ada yang buka kartu. Katanya sepatu yang di mall berlabel made in Singapore itu dibikin di rumah dia. Diekspor ke Singapura, ganti label doang dan masuk lagi ke Indonesia dengan harga 3 kali lipat. Gobloknya yang beli kok mau..?

Contoh lain...
Ada teman yang nyeletuk, "gudeg di Malaysia itu lebih enak ketimbang Jogja."
"Kok bisa..?"
"Katanya sih karena nangkanya impor. Gudeg Jogja kan nangka lokal..."
"Emang impor dari mana..?"
"Dari Jogja lah..."
#mondol...


Intinya
Aku malah jadi kepikiran buruh tani dipersenjatai biar bisa mengkudeta konspirasi kemakmuran penguasa. Mungkin kalo negara dikelola petani, labil ekonomi negara agraris ini bisa diharmonisasi menjadi lebih baik...
#mumet


115 comments:

  1. Hahahahaha... semua terjangkit virus Vicky... tapi bicara soal petani, saya pernah dengar ada orang pemerintahan yg usul, bagaimana kalo petani digaji untuk mngelola lahannya... besar kecilnya gaji sesuai dengan besar kecilnya penghasilan pertaniannya.. anggap saja "Gaji" ini sebagai motivasi, penyemangat, penambah gairah mereka dalam bertani...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah.. pertamax ternyata.... Oh ya, Saya ada add di FB Mas, Mohon direject, xixixixi... sy jg copot cerita gudeg Jogja di atas buat pamer di wall saya, wkwkwkwk

      Hapus
    2. hebat bih bang dapat pertamak... hadiahnya dari mas rawins suruh jemur padi hehehe

      Hapus
    3. Hahahaha.. sudah selesai nih jemurnya,, giliran siapa yg mau nggiling???

      Hapus
    4. aku pikir tak perlu sejauh itu
      petani itu manusia yang polos. asalkan panen sudah seneng, jarang mikirin berapa biaya produksinya. kelemahan ini saja dikasih perhatian khusus oleh pemerintah aku pikir sudah bagus.

      Hapus
    5. Hehehe.. betul Mas, perhatian pemerintah mungkin seperti bantu menjaga/mempertahankan tersedianya lahan produktif yang cukup. Karena banyaknya kasus konversi lahan produktif menjadi lahan hunian barangkali bisa menjadi alasan kenapa produksi pangan kita menurun. Contohnya saja di daerah Bali sini, banyak sawah2 sekarang berubah jadi perumahan dll...

      Hapus
    6. indonesia kan luas, bang...
      kalimantan masih banyak tanah kosong telantar. eks proyek lahan gambut sejuta hektar dulu sekarang nganggur malah sebagian jadi perkebunan sawit.

      semestinya proyek tersebut bisa dijalankan lagi setelah dievaluasi kegagalan proyek terdahulu. pasti ada kesalahan di pengelolaan saluran pengairan. gambut yang semestinya menyimpan air kenapa malah mengering dan sering kebakaran

      indonesia banyak orang pinter dan punya ipb kenapa tidak dimanfaatkan. apa anggarannya sudah habis dibagi-bagi untuk proyek ga jelas macam bailout century..?

      Hapus
    7. ah mas rawin ini jagan berburuk sangka dong ah..proyek hambalang, proyek sapi gila, proyek jalan raya yang tiap tahun ada kok belum di hitung mas, hahaha

      Hapus
    8. haha kurang kerjaan kalo mau ngitung semuanya
      ikuti falsafah orang cilacap saja dah, usdek
      *usaha dewek dewek...

      Hapus
    9. Itulah yg aneh Mas, dulu walaupun Pak Harto n kroni2nya korupsi, tapi saat itu kita termasuk negara pengekspor Beras. Barangkali bidang pertanian begitu beliau perhatiken. Bahkan ada acara2 khusus petani, klompencapir, Mas ingat ga acara ini? Nah, setelah reformasi saya kira semakin makmur pertanian kita, ternyata oh ternyata, duitnya kebanyakan masuk lobang angin....

      #kapan lobang anginku kemasukan duit gede yo?

      Hapus
    10. makanya aku kadang kepikiran prabowo
      walau punya track record jelek di mata aktifis ham, aku melihat beliau aktif di hkti. kayaknya bisa bagus kalo memang keaktifan karena beneran ngerti pertanian, bukan sekedar jabatan kosong...

      sekarang anti korupsi cuma omong doang kok
      kalo dulu korupsinya hanya di pusat, sekarang sampai ke level desa pun belajar berani korupsi...

      Hapus
    11. Iya Mas, saya malah dah bosan dengar berita2 korupsi...
      Prabowo??? Hahahahaha.. koq malah sama...??

      Katakan Tidak Padahal Korupsi

      Hapus
    12. makanya korupsi mending dilegalkan biar cepet punah
      orang kita kan ga suka sama yang legal legal gitu...

      Hapus
  2. berarti kesimpulannya mendingan beras atau daging impor aja , kan dapet komisi... belum sekarang ditambah kedelai yang mulai menghilang, berapa tuh komisi buat kedelai, saya mau ikutan nyalo ah... heheeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu cuma keburuksangkaan aku aja mang. wajar kalo anak anak muda sekarang malas bertani di kampung, karena mereka sudah mulai belajar ngitung. daripada macul, mending sawah dijual buat modal jadi pejabat. mayan banyak colongan, katanya...

      Hapus
    2. hhehehe..ternyata di negeri tlatjap juga begitu, tak kira tho di negeri saya saja yang seperti itu

      Hapus
    3. mau macul pake apa coba..?
      gambarpaculnya saja sudah kabur ke korea..

      Hapus
  3. Seperti mati di lumbung padi om

    BalasHapus
    Balasan
    1. kira kira begitu, om...

      Hapus
    2. seperti mati habis minum obat kuat dalam pelukan model

      Hapus
    3. mati dilumbung padi karena ketimbun padi, kasihan tuh ndak ada yang nolongin

      Hapus
    4. nolongin..?
      nyolongin maksudnya..?

      Hapus
  4. indonesia yg no 3 saja tdk sampai 10% dr produksi dunia. knp thailan yg no 7 bisa ekspor sampai 26% total dunia. bener tdk ini datanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. coba baca ulang, pak...
      ada perbedaan antara total produksi dunia dengan total perdagangan dunia. kan ga semua hasil produksi diperdagangkan ke negara lain. yang diperdagangkan hanya sekitar 5% saja dari total produksi dunia.

      asumsikan saja 35 juta ton yang diperdagangkan. berarti 26% itu sekitar 9 juta ton saja. produksi thailand kan 35 juta ton. masih ada sisa 24 juta ton untuk makan warganya.

      Hapus
    2. Terakhir saya ke Kuala Lumpur tahun 2009 lalu dan sempat mampir ke salah satu pedagang lapak di Jalan sekitar wilayah CHinaTown, Di sana banyak penjual kaset kaset lagu Indonesia seperti kaset Hetty Koes Endang, dll, Bahkan kaset Qiroah Murrottal dari Indonesia dan tentu saja dijual berkali kali lipat. Bukti produk Indoneisa (termasuk TKI) masih diminati di Jiran iehiheiheiee

      Hapus
    3. indonesia sebenarnya unggul di produk, pak. tapi karena mentalnya tak ikut jadi unggulan, beginilah jadinya. kualitas produk juga ikut melorot kaya celana pak asep :D

      Hapus
    4. hehehehe....selamete saya tidak peduli dengan branding, lha suka sama tahu dan tempe sih...

      Hapus
    5. Hahahah celana saya sudah dari kemarin mlorot terus mas Rawins. Sudah saya peganging erat erat masih suka melorot.
      Piye ki

      Hapus
    6. kalau nanti malam malahan pak asep sengaja celananya di lorotin .... ups keceplosan hehehe

      Hapus
    7. haha iya
      selamat malam jumat aja dah buat pak asep...

      Hapus
  5. kok bisanya malah kayak gtuh yah aku malah nggak ngerti sama indonesia ini malah barang kita di imporkan semua ke negara tetangga disana ganti label trus dijual impor lagi dengan harga mahal, itulah gobloknya orang indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu sudah umum terjadi kok
      coba aja jalan jalan ke sentra industri rumahan yang berstatus kualitas ekspor. cerita senada banyak terdengar.

      belum lagi kemalasan kita mengolah dan lebih suka jual mentahan. kayu kalimantan berkualitas tinggi dijual gelondongan pake nyelundup segala. masuk china diolah disana lalu dijual lagi ke indonesia. mantap kan..?

      Hapus
    2. oh jadi begitu ya mas...ambil untungnya sendiri, tidak ajak ajak saya, huh

      Hapus
    3. pipit gawe sampean aku sing fitri ne ae lah

      Hapus
  6. Hayolah kita kudeta saja... Rakyat Indonesia mang kebanyakan terlalu manut ya udah tau dikadalin juga. Lama2 negara ini dijual juga mungkin n dibeli lagi sama kita...dan mungkin kebanyakan akan bangga karena hidup di negara hasil impor

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi repot juga, om...
      orang kita biasanya cuma kompak bersatu kalo masih di jalan. begitu nyampe tujuan pada berantem dengan teman seperjuangannya dulu.

      inget aja angkatan 66 atau angkatan 98 yang idealis waktu masih di jalanan. begitu menjabat, sama aja kaya yang mereka gulingkan dulu...

      Hapus
  7. waduuh, kok bahasa kaya gitu skrg2 makin digemari banyak blogger ya hehee salam makmur aja lah dari pada kena konspirasi yg gak jelaas ;D

    BalasHapus
  8. tunggu dulu ada intermezo...beberapa minggu lalu ada berita di TV "Ahmad Zaky diciduk polisi"......hahaha, anak saya yang heboh, merasa ada namanya disebut di situ, dia nggak terima........

    BalasHapus
    Balasan
    1. santai saja bu
      nanti ketika zaky junior sudah besar, dia yang akan membersihkan segala pencemaran nama baik klan zaky, hehe..

      Hapus
  9. ayo pemerintah, dukung dong petani kayak Pak Joharipin, jangan mbulet wae di urusan perut sendiri...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pejabat kita kebanyakan bermental birokrat dan tak mau tahu kondisi lapangan. wajar kalo mereka lebih suka kasak kusuk di birokrasi saja. kalo turun lapangan takut keliatan begonya kali...

      indonesia memang masih butuh presiden tentara biar bisa gerakannya didukung militer. sekaligus seorang petani biar ngerti kebutuhan pokok rakyatnya. bagaimana mungkin negara bisa maju kalo warganya kelaparan

      Hapus
  10. bahan baku tempe tahu saja kebanyakan impor, duh ironis negri agraris

    BalasHapus
    Balasan
    1. alasannya kedelai kita kualitasnya kurang

      gimana bisa bikin kedelai berkualitas, kalo petani muda intelek yang menguasai pertanian tak pernah didukung. kalo acara cari artis atau miss missan saja gegap gempita sambutannya. kompetisi akademis, sepi sepi saja tuh...

      Hapus
    2. siapa bilang kita kekurangan kacang kedelai, pan tiap suami istri punya kacang kedelai sendiri sendiri, masak masih kurang

      Hapus
    3. kacang itu harus pas anget - anget mas agus, kalau udah dingin basi heheeh

      Hapus
    4. kalo dingin kan gampang dijemur biar anget
      tanya om agus tuh..?

      Hapus
    5. emang apanya yang di jemur?

      Hapus
    6. kalau garing di basahi lagi kan ?

      Hapus
  11. astaga Indonesiaaaa, sby mana sby?

    Why? statusiasi? harmonisasi? Kudeta? My age 29? I'm? kesuraman? labil ekonomi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngapain, om..?
      butuh ucapan prihatin..?

      Hapus
  12. Lama-lama, anak cucu kita akan lupa kalo negara kita adalah negara agraris, sebab anak muda di kampung lebih suka mencari pekerjaan asal bukan jadi petani.
    Di kampung, sekarang betapa repotnya mencari tenaga buruh tani, banyak mereka yang lebih suka berbondong-ondong ke Malaysia. Akibatnya, seharusnya lahan potensial di kampung kurang tergarap dengan maksimal.

    Dilain pihak, petani seringkali menjadi bulan-bulanan kebijakan. Ketika asyik menggarap, tiba-tiba dikejutkan dengan langka dan mahalnya pupuk. lalu Ketika hasil panen melimpah sudah didepan mata, tiba-tiba harga jualnya anjlog

    Kebijakan ngimpor apa saja, kan dalam sistemnya memberikan celah salng berbagi, biarpun cuman serupiah perkilo kalo dikalikan dengan berton-ton, hasilnya pasti bikin perut tambah gendut

    #negoro bubrah

    BalasHapus
    Balasan
    1. kesalahan masyarakat juga kali, pak. sehingga anak muda sekarang merasa malu kerja berkotor-kotor. kalo di luar negeri kan ga keliatan biarpun kerja kasar juga.

      kalo alasannya di luar negeri pendapatannya tinggi, aku pikir di luar jawa juga lumayan. kalo dibanding ke arab atau malaysia, lebih besar di kalimantan hasilnya, pak.

      wong lebaran kemarin di pesawat aku bareng orang wonogiri. di sini beliau cuma jual martabak, sebulan bisa dapat 5 juta bersih. nyupir dump truk hauling di tambang sebulan bisa dapat 10 - 15 juta kotor. sering kelihatan ga ada hasilnya, karena mereka tak bisa mengendalikan diri. tahu disini biaya hidup tinggi, pola hidupnya tak mau sederhana. jadinya sama saja kaya kerja di jawa gaji sejuta...

      Hapus
    2. tuh kan, coba mereka berprinsip kerja dan penghasilan kalimantan dan gaya hidup seperti di kampungnya, pasti cepet sukses tuh

      Hapus
    3. itu yang susah, pak
      pasak selalu mengikuti besaran tiangnya. ga cuma satu dua yang tiap habis gajian malah sambat mumet. duit banyak, jauh dari anak istri, tingkat godaan tinggi...

      Hapus
  13. Hahahha... pekok kabeh kang penguasa negri ini, negara agraris tapi import beras, serasa nggak ada lahan pertanian. Blom sekarang di mall/supermarket sampe sayur ama cabe aja import...

    pengecualian untuk barang, berhubung aku dr dulu suka sama Converse jd termasuk penikmat barang import *jujur yg inih*

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu kerennya china...
      pertanian dan industri rumahan disubsidi habis-habisan. keliatannya memang makan banyak anggaran negara. tapi hasilnya bisa menekan mata anggaran lain habis-habisan. pertumbuhan ekonominya jadi tinggi dan negara jadi kuat.

      peluang kerja banyak, rakyat tiap hari sibuk bekerja, energi buat mikir yang engga engga berkurang dong. indonesia rakyatnya suka bikin kisruh ya wajar. namanya juga pengangguran sementara otak butuh kegiatan. dipake ngisruh lah energinya...

      Hapus
  14. Intisari dari tulisan ini mungkin bisa sedikit saya simpulkan bahwa negara ini salah urus ya pak?

    sa-lah u-rus

    mangkanya sekarang ini pak banyak sekali bak truk dan juga stiker-stiker dgn gambar pak Harto mesem sangat santun sambil bertanya 'piye le isik enak jamanku tho?'

    Jaman pak Harto dulu ada rencana pembangunan lima tahun dan juga pembangunan lima tahun, yg menjadi titik rencana bangsa ini mau dibawa kemana. Lha sekarang-sekarang yg pemimpinannya dan menterinya orang pinter-pinter kok malah etrek-etrek gak ada koordinasi babar blas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. pak harto memang bagus di perencanaan. kalo saja tidak dikisruhin sama anak-anaknya atau menjabatnya tidak terlalu lama, mungkin tak begini jadinya indonesia raya

      pejabat sekarang kan aneh. mereka menghujat orde baru, tapi bobroknya melebihi orang yang mereka hujat. apapun itu warisan orde baru asalkan yang baik, kenapa ga dilanjutkan sih..?

      Hapus
  15. Tentang ide mempersenjatai buruh tani, wah ini sepertinya bisa jadi bakalan menjadi ide yg lumayan kereen tapi sensitif pak..

    tentang buruh tani, ada group band namanya BVRTAN, kalau ada kesempatan dan berkenan bisa dicoba didengarkan pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha ga gitu kali, om...
      maksudnya bukan dipersenjatai bedil. tapi cangkul canggih, bibit unggul, pupuk murah dan regulasi komoditi pertanian yang bener dan diawasi betul pelaksanaannya

      Hapus
  16. tapi kalau kondisinya seperti sekarang gini terus pak, ini kan bisa menjadi lahan yg kondusif utk membangkitkan kembali angkatan ke-6, mempersenjatai buruh tani..

    akan tetapi yg menjadi pertanyaan selanjutnya adalah akankah buruh tani mau kalau ada yg ngomporin seperti itu? secara mental-mental orang di desa juga sudah berorientasi kekotaan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebentar lagi kayaknya mau
      tuh lahan nganggur eks proyek gambut sejuta hektar sudah dilirik australia. 132 ribu hektar mereka minta untuk digarap. kalo sudah kayak gini, orang kita kan pasti ribut membuntuti.

      *mental penggemar buntut...

      Hapus
  17. enakan jaman pak harto yak? bwahahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. persis seperti stiker di bagian belakang truk,
      "apa kabar bro ... enak jamanku to ? ...

      Hapus
    2. setiap masa ada enak dan tidaknya. tapi kalo urusan pangan, jaman orde baru memang saat saat yang indah...

      Hapus
    3. duduk sambil dengar aja deh.......

      Hapus
    4. tapi jangan jongkok ya pak
      tar kentut :D

      Hapus
  18. hmm, faktor penduduk juga sob. kan penduduk bnyak juga. jdinya, msih ngimpor beras. tp mudah2an kedepannya, pemerintah mendukung petani2 di indonesia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. sejak dulu penduduk indonesia sudah banyak. kenapa dulu bisa swasembada, sekarang engga..?

      Hapus
  19. ternyata nama yang melekat tidak selalu sama dengan kasunyatan ya mas....

    lha gemana. wong negri agrarise sak iki ra do ditanami polowijo lan pari,, neng para birakrasinya sibuk gawe bibit koruptor seng unggul se dunia,, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. mereka senengnya menyemai duit waktu kampanye, pak. wajar kalo tuntutannya juga panen duit setelah menjabat...

      Hapus
  20. diharmonisisasi Kang....

    mbuh ya, gimana gak suka memandang buruk penguasa. nyatanya kita ini kaya lho....tapi dimiskinkan.....apa ini yang disebut labil ekonomi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kaya lagunya bang haji dong..?
      tapi heran juga sih. banyak yang ngaku miskin, tapi gadgetnya keren. masih suka ngerokok pula...

      Hapus
  21. hehehehehe.....sawah di rengel tuban sana beda dengan sawah di eks karesidenan bojonegoro lainnya. petaninya kaya-kaya mas,makmur makmur.
    gimana tidak makmur lha sawahnya di lewati proyek pipanisasi pertamina-petrochina east java, sawah yang di liwati pipa dapat uang sewa sampai 500 juta, hehehehe. Akibat dari pipanisasi sawah tidak dapat berfungsi secara baik, karena aliran gas itu panas, kurang baik kualitas tanahnya.
    kalau sudah di buai begini, petani jadi bertani di pasar saja atau mencalonkan diri jadi kepala desa, ajooor

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah umum kemana-mana, om. orang punya kebon lebih suka ditanami tower bts ketimbang tanam kelapa apa rambutan. lha wong 5 tahun saja hasilnya 100 juta...

      Hapus
    2. hehehe..betul sekali, itu namanya ternak tower

      Hapus
    3. tapi aku nanem tower dimana mana, kok ga kebagian yo..?

      Hapus
  22. apakah situasisisasi petani sudah dipolitisisisasi...?

    BalasHapus
  23. aku sak jane wes males moco artikel iki mas, bukan karena artikel'e gak berkualitas, tapi karena aku wes jengkel ndelok nasib'e bongso iki, kok isok'e negoro iki ajur mumur koyok ngene

    ancen penguasane njaluk dihabisi mas, ben seng nyekel negorone wong seng bener bener isok mewakili rakyat dan memakmurisasikan rakyat

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha iyo...
      jurnal di atas hanya emosi sepintas saja om. wong niatnya mau ngelengkapi wikipedia, dapat data kayak gitu kok rasane pengin misuh misuh...

      Hapus
  24. artikel ini terkait dengan konspirasi hati penulisnya :)

    BalasHapus
  25. Iya mas aku setuju kalau petani dipersenjatai utk mengkudeta tikus2 gendut yg memiskinkan mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa pertanian kolektip diperlukan di indonesia raya, bu..?

      Hapus
  26. sepertinya semua sektor di jadikan lahan untuk mencari keuntungan sendiri (sang penguasa) tanpa memikirkan orang lain (masyarakat).

    BalasHapus
    Balasan
    1. berdoa saja om
      kayaknya pejabat sekarang mulai demam jokowi. semoga beneran jadi pada mikirin rakyat, bukan cuma euforia sesaat..

      Hapus
    2. semoga pak..
      pak rawins aja lah yang jadi pemimpinnya.. pasti semua pada happy :D

      Hapus
    3. wogah ah...
      aku ga berani jamin ga korup kalo jadi pejabat
      lagian siapa yang mau aku pimpin, hehe...

      Hapus
  27. lahannya pak tani dah bnyk dijual
    buat bikin rumah sama mall
    sampai sampai kawasan hijau saja di embat

    BalasHapus
    Balasan
    1. efek pemerataan penduduk yang kurang. kalimantan masih banyak tanah kosong, kenapa masih pada betah berdesakan di jawa ya..?

      Hapus
  28. ironisasi di negeri yang penuh konpirasi untuk mempolitisasi importisasi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ironisasi berarti setrikanisasi dong ya..?

      Hapus
  29. setuju, sm pendapatnya PakIes. Anak2 muda zaman skrg lebih suka kerja di kota walopun jd pelayan restoran drpd hrs turun ke sawa. Udah byk terjadi di kampung papah saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga terjadi di desa saya mas ... :D

      Hapus
    2. itu yang kayaknya ga kepikiran sama pemerintah. kalo pertanian bisa dimodernisasi macam di amerika, mungkin mereka tak lagi gengsi jadi petani. wong dari mulai ngolah tanah, nanam sampe panen semua dilakukan sambil duduk manis diatas traktor

      Hapus
  30. Kalo mikirin gini ya jadi mumet ya mas, yo wis mendingan berbuat apa saja yang kita bisa sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ada yang dipikir kok
      orang itu cuma sepintas lewat di kepala. makanya ditulis biar segera mengalir keluar dan ga membebani otak...

      Hapus
  31. Kalau tidak begitu kan, usaha sampingan untuk jadi broker mandek Kang. Mending main GA aja di blog, posting yan bagus dan BW yang banyak. Hitungannya pun jelas dan halal. he,,, he,, he,,,

    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. istilah kerennya jadi maclaren pak, hehe..

      Hapus
  32. karena semuanya hanya bersifat jangka pendek bukan jangka panjang....
    coba petani disubsidi, kan sekarang Indonesia udah swasembada pangan...
    lagi pula, pupuk kandang tu lebih manjur daripada pupuk kimia dan efek samping gak ada....
    nah selain bisa maju pertanian peternakannya juga bisa maju kan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanian organik kurang didukung, karena amplop dari pabrik pupuk bakalan berkurang kali ya, om..?

      Hapus
  33. ohhh dadi Rika sing wingi nlamar Mbokayu Gotik ya?

    BalasHapus
  34. dan lebih miris lagi mas, di Karawang, yang emang udah kesebut sebut sbg lumbung padinya orang indonesia, sekarang tanahnya abis dipake perumahan... tiap jengkalnya udah berubah fungsi...

    bikin perumahan sih bole2 aja, tapi jgn nyerobot lahan produktif lha ya, kan banyak jg lahan tidur yg sebenernya bisa diolah.. asal mau ngusahain aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo di jawa aku sih udah ga bisa komen
      kebanyakan manusia soalnya.

      setidaknya itu membuktikan bahwa manusia sekarang tidak suka tantangan. cari peluang ke luar daerah mikirnya macem macem kaya bakal mati saja. pindah ke luar jawa mikirnya lamaaa...

      pemerintah pun sama. membangun apa-apa senengnya di jawa. padahal tanah jawa merupakan tanah paling subur untuk pertanian efek banyaknya gunung berapi.

      Hapus
    2. dan orang Sunda itu biasanya gak mau jauh2 dr tanah leluhurnya hihihi..kayak aku mas.. jadinya ya, nguplek aja disitu2 jg...

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena