14 September 2013

Gombal Warming #1

#Semua Umur

Barusan ngobrol dengan teman bagian enviro, unit kerja yang tugasnya menghijaukan kembali lahan eks tambang. Secara umum aku setuju dengan uraian beliau tentang kelestarian lingkungan. Namun aku kurang sepaham saat istilah global warming dibawa-bawa.

Awalnya aku mendukung banget saat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mulai mengkampanyekan pemanasan global, termasuk waktu Protokol Kyoto diratifikasi. 

Namun melihat perkembangan selanjutnya, aku jadi berburuk sangka bahwa proyek ini bukan semata soal lingkungan hidup. Apalagi sampai sekarang, ilmuwan-ilmuwan ternama dunia masih berselisih paham dan belum ada kesepakatan tentang kebenaran global warming tersebut.

Carbon Credit adalah satu alasan kenapa aku anggap proyek ini sarat kepentingan ekonomi. Sebuah proyek yang membuka pasar baru berupa perdagangan karbon yang sebelumnya tak pernah ada.

Protokol Kyoto yang hanya berlaku untuk negara industri maju itu mensyaratkan batas minimal penurunan emisi sebesar 5% dari model yang disusun berdasarkan produksi karbon tahun 1990. Apabila ada negara yang bisa melebihi target, kelebihannya bisa dijual ke negara lain yang tak mampu mencapainya.

Misalkan Rusia bisa menurunkan emisi sampai 10%. Berarti Rusia punya kelebihan kredit karbon sebanyak 5%. Kemudian misalnya Belanda cuma mampu menurunkan 3%. Untuk memenuhi ketentuan 5% tadi, Belanda musti beli kredit karbon ke Rusia dalam satuan Certified Emissions Reductions (CERs).

Adil kan..?
Sepintas iya. Namun perlu diingat, di dunia tak ada yang tanpa pamrih.

Negara berkembang hanya diminta menandatangani Protokol Kyoto namun tidak ada tuntutan implementasi. Akibatnya industri di negara berkembang santai-santai saja dengan produksi gas rumah kacanya. Di saat yang sama, kampanye produk ramah lingkungan digalakkan. Jalan ceritanya sudah bisa ditebak kan..?

Gambarannya gini...
Saat industri negara maju yang wajib mematuhi Protokol Kyoto mendesain pendingin non CFC, negara berkembang masih asoy saja pakai freon. Ketika tiba-tiba dikampanyekan CFC merusak lapisan ozone, apa ga gelagepan tuh pabrikan negara berkembang..? 

Dampak paling awal adalah penurunan omset gara-gara konsumen mulai beralih ke non CFC walau harganya lebih mahal. 

Agar bisa bertahan, mereka musti transfer teknologi dari negara maju dan dibikin ketergantungan. Tak akan ada habisnya karena standarnya terus saja berubah. Kita baru saja pakai mesin berstandar EURO, mereka sudah keluarkan yang EURO2. Kita baru beralih ke EURO2, standar EURO3 sudah dikampanyekan.

Benar-benar strategi marketing yang jempolan atas nama kerusakan ozone. Padahal kalo kita mau sedikit berpikir, industrialisasi besar-besaran itu terjadi di bumi belahan utara, kenapa yang berlubang ozone di Antartika alias kutub selatan..?

Ok, tapi sudah panjang nih...
Pemikiran liar ini aku lanjutkan besok deh. 
Karena belum selesai, jangan komentar soal lingkungan dulu, ya. 

Kalo koneksi lagi kenceng, mending liat video pendek di bawah.
Syaratnya, sehabis nonton jangan bilang semprul
Oke, coy..?

video
Video credit : Quit Tobacco Indonesia

Bersambung...


53 comments:

  1. Baiklah izinkan saya memutar videonya mas :)

    BalasHapus
  2. merokok dapat merugikan kesehatan...
    tidak merokok belingsatan...:P

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa belingsatan lik..?

      Hapus
    2. yaiya kalau disekitar ndak ada yang merokok kita pengen merokok... mau minta rokok kemana hayooo

      Hapus
  3. bener juga mas. kenapa lubang ozone adanya di kutub selatan yang jarang penduduk apalagi pabrik???

    videonya koplak
    idenya mantep bisa berkurang polusi udara kalo begitu carane wkwkwkwkkksemprul

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga ga tau sebabnya
      udah dibilang dilarang ngomong semprul, semm..

      Hapus
  4. oww.. ternyata global warning tinggallah gombal

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum tentu juga
      ini sekedar wacana atas pemikiran sesaat yang melintas saja.
      ada tambahan pendapat yang lebih ilmiah..?

      Hapus
  5. Hmmm ga sanggup buat muter videonya, maklum inet terlalu lemot...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lemes ya..?
      pantesan feminim... :D

      Hapus
  6. Hahahahahaha biheiheiee. Unik, ringan dan mengundang senyum video. "Bagaimana jika ketemu sama orang yang menyebabkan globa warming?" Ya udah tonjok aja, Hahahahhaha beneran ditonjok waahahhaahhaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. perlu diimplementasikan gak, pak..?
      pak asep jadi ketua rombongannya ya...

      Hapus
    2. jadi harus berhati - hati kalau ada yang ngomong masalah gombal warming pas lagi meroko... nanti malah kena tonjok

      Hapus
    3. katanya udah berenti
      kumaha deuih..?

      Hapus
  7. Untung sedang pakai hape jadi nggak bisa liat videonya.
    Nunggu sambungan pemiikiran liarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. beruntunglah bu ga perlu ikutan misuh, hehe

      Hapus
  8. semprul, hahahaha

    lha saya dengar isu katanya gara gara esnya cair karena di colongin manusia buat ice cream yang di jual dipasar bebas, karena karbon ketiknya menipis, jadi bolong dech tembus ozone. hehehe. #semprul

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah aku malah baru dengar isu yang ini pak
      bisa dibikinin jurnal khusus kah, siapa tau menarik minat wisatawan ke kutub

      Hapus
  9. ujung2nya kapitalis lagi ya kang, mengatasnaman lingkungan pada akhirnya ya duit dan Untung!

    #konspirasi kemakmuran (ala Vicky)

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukannya itu yang diinginkan semua orang..?
      aku juga mau banyak duit, hehe

      Hapus
  10. Memang hidup ini setiap orang punya peran. Ada yang bagian sumur, ada yang bagian saluran dan lebih parahnya bagian comberan terakhirnya. Yang enak ya itu bagian yang suka menimba air sumurnya.
    Komentnya tidak nyambung ya ? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. disini nyambung ga nyambung bukan masalah. negara demokrasi kok, tidak sepakat pun boleh

      *jawaban ga nyambung ya?

      Hapus
  11. menahan diri nggak liat videonya deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ada yang aneh kok
      santai saja bu

      Hapus
  12. nunggu kelanjutannya.
    Untuk sekarang masih positive thinking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gausah ditunggu om
      takutnya lupa ngelanjutinnya besok :D

      Hapus
  13. nah nursery-nya sini ada di Town Site 1, nggak jauh dari rumah...

    siapa yang ngrokok, asiapa yang mau nonjok...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo bue zaky mau, mang lembu kayaknya siap tonjok tuh
      heheh...

      cuma kebalik kali ya bu
      disitu ditanami dulu baru dibabat, kalo disini dibabat dulu baru ditanami. sedikit bersyukur biarpun perusahaannya masih acakadut, environya bisa jalan. lahan eks tambang sudah ditimbun dan mulai kembali hijau...

      Hapus
  14. nggak boleh komentar, nggak bisa liat pidio ya sudahlah bali maing wae ngumbah gombal

    BalasHapus
    Balasan
    1. pak kyai ini lho, gitu aja kok mutung
      kalo mau nyuci gombalan, aku titip boleh kah..?

      Hapus
    2. khusus gombal mukiyo, sing liyane emoh

      Hapus
    3. lah jian...
      tadinya mau titip sempak :D

      Hapus
  15. ooh..begitu rupanya ya yang urusan barang elektronik berfreon itu.. Nggak pernah terpikir sebelumnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang ada kita dibikin ketergantungan dan selalu jadi pasar produk produk mereka.

      Hapus
  16. rika nelk esih udud tak jotos ngesuk lah...

    BalasHapus
  17. enyong melu nego jaman sejarehe protokol kyoto biyen,Kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. malah kebetulan, lik...
      lilike saja yang nerusin jurnal ini. klalen ga langsung diketik sambungannya. udah klewat gini, moodnya sudah bubyar...

      Hapus
  18. Mungkin karena bukan ahlinya... tulisan di atas belum sepenuhnya masuk ke otak saya... semoga di sambungannya bisa saya PAHAmi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan udah dibilang liat videonya saja
      kayaknya lebih mudah dipahami...

      Hapus
  19. paling enak ayo kendat bareng-bareng, alase di sikat entak ae...mati bareng. piye ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hush...
      belum wareg nyobain barang enak, om...

      Hapus
  20. merokok ternyata 10 kali lipat dari asap disel... untung saya lagi berenti merokok... tapi kasihan juga pada petani tembakau...

    semprul tuh vidionya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tembakau kan dibutuhkan oleh industri lain mang, walau konsumen terbesar memang pabrik rokok...

      Hapus
  21. ahahaha.. iya iya untung tulisannya pendek . videonya gombal hajar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senengnya yang panjang panjang ya miz..?

      Hapus
  22. mana gombal warming session 2 ne gan ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. walah iya, suer kelupaan om haha

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena