07 September 2013

Aku Ingin Bahagia

#Dewasa

Aku bukan orang filsafat. 
Makanya rada repot waktu di jurnal Gandhung Becak ada yang nanya, "Masa sich ketidaktahuan malah jadi sumber kebahagiaan. Bukannya harus banyak pengetahuan kalau ingin bahagia?"

Sebenarnya bisa saja aku bilang itu salah kutip dimana kalimat aslinya adalah, "Ketidaktahuan seringkali lebih potensial menjadi sumber kebahagiaan ketimbang kebanyaktahuan..."

Resiko beropini di blog. Berani nulis musti mau cari jawaban memuaskan setiap ada pertanyaan atau sanggahan, walau mungkin penanya tak nyamperin lagi. Tapi ini bakal rada panjang dan menyebalkan. Yang tak suka berpanjang-panjang, silakan dilewat saja.


Kembali ke laptop...
Saat baca pertanyaan itu, aku langsung ingat jurnal lama yang nyerempet kata-katanya Descartes, "Cogito Ergo Sum."

Menurut Descartes, rasio adalah sumber kebenaran. Namun rasio ini seringkali terganggu oleh banyak hal. Itu sebabnya saat mencari kebenaran, dia akan meragukan keberadaan semua hal di sekelilingnya agar bebas dari segala prasangka. Keterbebasan itu yang jadi modal untuk dia berpikir menuju kebenaran.

Implementasi sederhananya bisa kita contohkan begini. 

Kita seringkali mengambil kesimpulan hanya karena opini sepintas dari teman tanpa mau crosscheck atau cari data pembanding. Belum kenal dekat, baru dengar kalo mang Lembu itu tua langsung mikir, "ah pasti peot tidak menarik blas..."

Orang yang berpikir seperti ini, aku mengatakan baru sampai ke tahap banyak tahu. Tahu banyak, namun cuma di permukaan saja dan tidak obyektif bermodal prasangka.

Beda dengan yang banyak pengetahuan. Segala prasangka itu dilupakan kemudian cari tahu seperti apa mang Lembu dari dekat. Sehingga bisa ngerti kalo beliau itu masuk kategori tua-tua kelapa, makin tua makin banyak santannya. Selebritis sekelas Parah Kuin saja ngefans, masa yang biasa saja macam kita tidak mau..?


Rumit ya..?
Ada contoh yang lebih ringan nyomot dari cerita teman Buddhist. Tentang seseorang yang bertanya kepada Buddha, "aku ingin bahagia..."

Untuk meraih kebahagiaan, Buddha hanya memintanya melakukan dua hal.

Pertama buang kata "aku". 
Ini adalah tentang ego. Seseorang yang egois cenderung memikirkan diri sendiri sehingga seringkali terjebak dalam frase, "senang kalo liat orang susah. Susah kalo liat orang lain senang..."

Langkah kedua, buang kata "ingin". 
Keinginan atau hasrat seringkali menjadi liar membuat kita tak pernah merasa kecukupan. Contohnya aku saja. Dari awal kerja dapat gaji 60 ribu perbulan sampai sekarang yang entah berapa kali lipatnya, tetap saja merasa kurang dan ingin cari yang lebih banyak lagi. Efeknya sering galau musti jauh dari anak istri.

Aku ingin bahagia
Setelah dibuang kata aku dan ingin, tersisa satu kata saja. Bahagia...

Trus hubungannya dengan banyak tahu apa..?
Sudah jelas lah. Saat kita banyak tahu gemerlapnya dunia, keakuan dan keinginan makin menjadi-jadi. Hanya dengan pengetahuan yang rasional kita bisa memahami bahwa banyaknya duit itu tidak berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan seseorang.


Masih terlalu rumit juga..?
Aku kutipkan cerita dari Annie Dillard, penulis Pilgrim At Tinker Creek, peraih penghargaan Pulitzer tahun 1975, tentang orang Eskimo yang bertanya kepada seorang pendeta.

Eskimo : "Jika saya tak tahu apa-apa tentang Tuhan dan dosa, apakah saya akan masuk neraka?" 
Pendeta : "Tidak, jika kamu memang tidak tahu."
Eskimo : "Lalu kenapa kamu memberi tahu saya?"


Kalo belum mudeng juga
Ya sudah, aku juga mumet mikirin filsafat
Ngomonginnya saja sudah repot, apalagi ngejalanin
Betul..?


Intinya
Setidaknya kita bisa tentukan 3 tingkat pemikiran. Tidak tahu, banyak tahu dan banyak pengetahuan. Banyak pengetahuan paling positif. Banyak tahu itu negatif dan tidak tahu itu netral. Kembalikan saja ke hati nurani masing-masing, di level mana kebahagiaan kita paling besar saat memandang orang lain.


57 comments:

  1. Bahagia itu.......


    Kirain mau di terusin kalimatnya, gak tahunya titik,,,, titik,,,, titik,,,,,,, doang. !

    BalasHapus
    Balasan
    1. dibilang aku mumet
      makanya pak indra saja yang ngelanjutin...

      Hapus
    2. oper saja pada yang sudah bahagia

      Hapus
    3. om agus saja atuh ya..?

      Hapus
    4. saya bahagia karena berteman dengan mas eko

      Hapus
  2. Sumer kebenaran dr honkong??? Sumber kebenaran hakiki itu agama dan keimanan. Mau pintermau kaya spt apa kl tdk beragama tdk bakalan punya kebahagiaan. Bahagia itu dr Alloh. Bahagia di akherat itu yg utama. Bahagia dunia tdk ada artinya. Beragamalah yg benar tingkatkan iman dan takwa bahagia yg dijanjikan akan kamu terima

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahagia itu sperti alif yang berdiri tegak, seperti tegaknya ketika beridiri sholat yang tak terganggu dengan apapun termasuk celotehan rawins sesat itu....

      Hapus
    2. agama itu pedoman hidup, bukan pengubah. secanggih apapun agamanya kalo orangnya tak mau berubah tetap saja katrok. liat saja lah koruptor kita emang orang yang tak beragama..?

      level menteri agama saja bisa ngambek lagi pidato kepotong adzan
      piye jal..?

      Hapus
  3. Kalau WS mah cenderung bahagia kalau tidak tahu bahwa saya tidak tahu...ga akan banyak pikiran, da teterang nanaon, ga tau apa2, sabodo teuing kalau kata akang mah...(tapi kalau kelewatan mah bahaya juga sih ga tau apa2 :D)
    Paling nyesel kalau tidak tahu bahwa saya tahu...banyak peluang yg terlewatkan, atau mendatangkan penyesalan yang teramat sangat
    Paling galau sekaligus semangat kalau tahu bahwa saya tidak tahu...mulanya gundah gulana cari jalan keluar tapi jadi termotivasi karena hal itu.
    Paling bersyukur kalau tahu bahwa saya tahu...lebih mudah dalam membawa "tahu"nya itu.
    Dan daripada pusing mikirin tahu dan tahu mendingan beli Tahu Sumedang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah ini yang pas dengan maksud jurnalku
      dengan tidak tau kita bisa lebih bahagia ketimbang banyak tau tapi permukaannya saja...

      Hapus
    2. emangnya ciliwung..? :D

      Hapus
  4. Kalau yang ini SMS ( Senang Melihat Susah dan Susah Melihat Senang) ini salah satu penyakit hidup yang menjadi penghambat kita mencapai kebahagian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyak contohnya pak. salah satunya aku... :D

      Hapus
  5. bahagia itu kalau bisa membahagiakan orang lain, memberikan sesuatu kepada orang yang berhak...misal seorang ibu, dia akan bahagia ketika melihat buah hatinya tumbuh salih, sehat dan menjadi anak yang baik, tak peduli entah dia menjadi orang hebat maupun orang biasa saja...perjuangan melahirkan, membesarkan dan mendidik bukan sebuah penderitaan melainkan sebuah nikmat tiada tara...

    bagi guru, bahagia itu ketika melihat murid-muridnya menjadi pribadi yang berkarakter kuat, baik dan bertanggung jawab, tak peduli bahwa muridnya kelak menjadi dokter, scientist atau menjadi pedagang di pasar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku malah jadi kepikiran kalo jurnal diatas salah redaksi. tanggapannya bener cuma jadi melenceng dari yang aku maksudkan. yaitu membandingkan ketidaktahuan dan kebanyaktahuan. tapi gapapa ding udah biasa inih pada ngelantur. haha

      Hapus
  6. Saya dari pertama tulisan sampiyan yg ttg ketidaktahuan merupakan sumber kebahagiaan saya sudah setuju kok pak, dan penjelasan yg sedikit panjang lebar ini tidak menambah saya lebih setuju walaupun sedikit membuat saya mengkerutkan jidat utk bisa memahaminya.
    Dan ternyata yg pak raw tulis itu cukup benar kok pak.
    Kita tidak perlu menolak teori atau paparan tentang kebahagiaan, karena nilai dan persepsi masing-masing orang tentang kebahagiaan itu selalu berbeda-beda, dan semua itu adalah bisa menjadi betul pada akhirnya dengan segala latar belakang kejadian yg ada..

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha bener kan do mumet
      aku juga mumet maksudnya itu apa
      ini yang namanya pencerahan tapi ga bikin cerah :D

      Hapus
    2. tapi kalau disuruh milih, lebih bahagia kalau nggak ngerti babar blas, soalnya nggak ada tanggung jawab atas ilmu yang diketahuinya...tapi bukan berarti menyesal sudah tau suatu ilmu...


      eh, saya salah tangkap ya...itu efek dari ketaidak tahuan dan kekuarang jelian Pak, harap maklum...

      Hapus
    3. engga kok bu
      aku tau ibue zaki orangnya jeli dan teliti. berarti aku yang salah bikin redaksi sampe susah dipahami maksudnya :D

      Hapus
  7. bahagia itu kalau bisa menyenangkan/membantu orang tua, keluarga dan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. aslinya bahagia mana dengan dibantu..?
      dikasih duit segepok misalnya

      Hapus
    2. Bagaimana bisa dikasih duit, orang duitnya sudah di sita semua.......

      Hapus
    3. haha itu sih duitnya patonah
      doain aja masih nyisa, pak...

      Hapus
  8. kaya d kuliahin study pasca sarjana nih cara njelesinnya...
    Weh... Weh... Wehhh.....
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh enggak, bu
      itu cuma comot sana sini yang aku sendiri ga mudeng, haha

      Hapus
  9. komentnya nanti mas... sayahnya pulang kampung dulu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hati-hati ya Mang...bawa oleh-oleh ndak?

      Hapus
    2. Terimakasih, oleh2nya baju kotor hehe

      Hapus
    3. wah ada yang setor buntut neh keknya...
      aseeek...

      Hapus
  10. Filsafat.. sampai saat ini saya belum paham sepenuhnya, apalagi dengan yg tertulis di atas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. filsafat itu sesuatu yang baik
      namun tak selamanya baik kalo disampaikan ke orang awam
      nanti kejadiannya seperti syeh siti jenar

      Hapus
  11. banyak tau tapi tidak paham, itu yang sering bikin masalah. mending tahu sedikit tapi bener-bener paham, cuma repotnya sekarang informasi datang seperti air bah, glonjar-glonjor masuk memori tanpa sempat merenungkannya, akhirnya jadi banyak tau dan belagu.
    huahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalah umum di era keterbukaan internet seperti sekarang. kalo dulu orang bingung karena kekurangan informasi. sekarang bingung karena kebanjiran info sampe ga bisa menyaring lagi...

      Hapus
  12. bahagia itu jika meraih kepuasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo puasnya liat orang lain susah, bahagia gak..?

      Hapus
  13. Setelah baca sampai ke sini, malah makin ndak mudeng masalah pilsafat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah dibilang jangan baca
      masih ngeyel juga haha

      Hapus
  14. Tidak ada parameter yang pasti untuk mengukur kebahagiaan karena semuanya bersifat relatif. Nasihat para ulama bahwa kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika selamat di dunia dan akhirat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. idealnya begitu
      kenyataannya gimana, om..?

      Hapus
  15. Bahagia itu ketika bangun pagi dan mendapati diri kita masih bernafas..lalu masih bisa melihat pasangan kita lagi ngorok dan ngiler dalam tidur nyenyaknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo bangun siang gimane..?

      Hapus
    2. Berarti ga liat orang ngorok, tapi bawa golok..

      Hapus
  16. kadang emang ketidaktahuan itu bikin bahagia kok. kalo nggak tahu IP saya jelek, saya nggak bakal galau mikirin IP. kalo nggak tahu honor saya dipotong gegara dateng telat, saya nggak bakal bete. kalo nggak tahu global warming, saya nggak bakal pusing lihat hutan makin gundul. nggak tahu itu bikin ayem, santai. makanya, banyak orang bodoh yang hidupnya lebih bahagia dibanding orang pinter. orang kalo makin banyak tahu itu makin banyak mikir, makin banyak mikir jadi makin pusing. kalo pusing, gimana mau bahagia? makanya, mending kaya saya, nggak banyak tahu. *bodho kok sombong*

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukan sombong, bu...
      tapi jujur mau mengakui apa adanya kalo dia ga ngerti. menurutku ini lebih bagus ketimbang tau dikit tapi sok keminter. kalo nemu beda pendapat sedikit senengnya ngeyel tanpa mau mencari data pembanding. orang tipe ini biasanya betean dengan perbedaan dan sulit menerima pendapat orang lain. contohnya aku ini...

      Hapus
  17. tulisannya mantabh banget mas...
    inspiring...
    sama dengan sederhana itu tidak sesederhana dalam menjalaninya.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma ngomong apa susahnya. semudah copy paste dari artikel orang lain, om. hehe...

      Hapus
  18. Balasan
    1. murid lik zach masa bodoh sih..?
      kasian tar gurunya malu...

      Hapus
  19. mbuh lah mas aku mumet ra mudheng, belajar filsafat ra tau iso

    BalasHapus
  20. bahagia itu ketika nemu sepiring nasi dan gepuk pas laper, nikmaaattt...
    simple mas...:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gratisan, pulang dianterin, dikasih duit pula...

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena