05 Agustus 2013

Kita Belum Siap

#Bimbingan Orang Tua

Dunia makin terbuka...
Orang-orang kian mudah menyuarakan pendapatnya di muka umum. Sayangnya tidak diimbangi dengan kemauan untuk mendengar sementara kemampuan menyaring informasi kadang masih kurang. Sehingga generasi ngeyel yang sulit dikoreksi jadi mewabah. Tak mau instropeksi malah menganggap permintaan konfirmasi sebagai tindakan kontra demokrasi yang melanggar hak asasi.

Seperti kemarin pagi stafku laporan ada yang ngotot minta blokir pesbuk dibuka. Temanku bilang itu tak mungkin karena masih jam kerja, justru dibalas dengan ceramah panjang lebar tentang aspirasi karyawan.

Sorenya aku kena tegur ibu deputy direktur, "ngapain sih lu bikin-bikin pesbuk segala. Bikin repot tau..?"

Ternyata yang pagi-pagi maksa minta pesbuk dibuka, cuma mau bikin status bernada komplen ke perusahaan. Kacaunya, status yang membuat karyawan heboh itu cuma ocehan tak jelas berdasarkan kabar burung. Mamake deputy sampai ikut ngomel, karena kejadian semacam itu sering terjadi.

Aku tak menyalahkan orang berceloteh di jejaring sosial. Asalkan itu sudah dikonfirmasi kebenarannya, sudah disampaikan kepada pihak berwenang namun tidak ada tanggapan. Kalo prosedur standar saja belum dicoba sudah berkicau didepan umum, aku juga empet dengarnya.

Makanya aku sering berpikir, kita itu belum siap dengan demokrasi. Di semua eselon kebanyakan masih gagap kebebasan. Yang di bawah merasa bebas ngomong apa saja, yang di atas belum siap dengan cara seperti itu. Akibatnya kebebasan salah tempat jadi ngetren dan cenderung ke arah oon berjamaah...

Budaya asbun semacam itu tak cuma milik orang hutan saja. Di kota yang katanya tingkat pendidikan lebih memadai, kasusnya bahkan lebih banyak. Paling mudah dilihat kayaknya di pesbuk

Sebagai contoh, aku repost saja dari jurnal lama. 
Lihatlah bagaimana generasi muda kita memanfaatkan kemudahan bersuara secara membabi buta. Ini aku capture dari fans page nya grup rock asal Jerman. Ada bebek aka cemutz komen disitu juga loh...








Manteplah...
Semoga Ibu Pertiwi tak lagi berduka dengan carut-marut pengelolaan negeri ini dan bisa ngakak guling-guling melihat teman-teman ajaib kita itu...



Intinya
Kebebasan yang lepas kontrol. Fenomena keren yang menjangkiti sebagian saudara kita tanpa memandang usia, pendidikan dan ipoleksosbudhankam. Mengharukan, namun begitulah kenyataanya. Jadi, nikmati sajalah tanpa perlu menganggap mempermalukan bangsa...
#kaya punya malu aja...


57 comments:

  1. Wah ... Cuma gara-gara setatus ternyata .. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal status bujangan...

      Hapus
    2. saya g bsa koment blog mas nazar,,,,,

      pake hape mas,,,, susah d akses dr beberapa hari yg lalu

      Hapus
    3. Iya tuh om nazar kenapa sih kolom komennya dibuang? Ketularan lik zach ya ga terima komen
      *tapi terima angpao...

      Hapus
    4. sebagai penjaga jin server, mas rawin harus bertanggung jawab

      Hapus
    5. itu yang aku bilang katrok di semua jajaran
      yang diatas kalo sudah urusan internet, it pasti kambing hitamnya
      hehe...

      Hapus
    6. mas rawins langsung misuhi teamnya gak ?
      modol ah..modol...karo garuk garuk irung alias ngupil

      Hapus
    7. misuhnya cukup di blog saja
      puas-puasin jadinya kembali ke alam nyata sudah tak perlu misuh lagi...

      Hapus
  2. lha wong rata-rata ngakunya bisa pesbukan tapi gak bisa internetan, priwe jajal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha iya wong minta dikirim file saja liwat pesbuk...

      Hapus
    2. hahaha, lucu lagi ibu-ibu sini, rata-rata pakai android, blackberry, dll giliran mau saya email koleksi dagangan saya katanya nggak bisa pakai e mail, pakai fesbuk atau bbm saja, lha wong saya nggak punya bb je, kan repot tuh...sedang fb saya bukan untuk berjualan, cuma untuk senang-senang. ANEEEEEHHHH....HERAAAAAAAANNNNN BENGOOOOONGGG SAYAAA

      Hapus
    3. Haha beginilah nikmatnya hidup di tengah bangsa yang nanggung. Semua cuma setengah setengah. Jarang mau susah payah belajar sampai ke dasar. Di permukaan doang asal keliatan gaul dah merasa cukup. Miris tapi sudah begitu faktanya gimana lagi..?

      Hapus
    4. itukah yang dinamakan bluluk ceblok urung dadi cengkir, utowo karbitan

      Hapus
    5. pengen gaul tapi tak mau belajar
      bluluk cengkir urung cebok judulnya...

      Hapus
    6. oooh hiya ding maap hihi

      Hapus
  3. Balasan
    1. Pacul mau bagi bagi zakat...

      Hapus
    2. saya menyarankan tetangga saya yang berhak menerima, kalau saya tidak mau terima zakat karena masih bisa memenuhi kebutuhan

      Hapus
    3. tapi zakat fitrah ya jangan zakat fitnah :D

      Hapus
  4. Lagi ada yang rame nih gara-gara status...... xixixixixi..... tutup muka ah,,,,,,, paling enak main blog aman dan banyak variasinya. he,,,, he,,,, he,,,,,


    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. mboten nderek nedi nongko, kengeng pulute nggeh

      Hapus
    2. itu asiknya di blog...
      orang kantor yang mau mainan blog, paling tidak pola pikirnya sudah jaduh lebih baik ketimbang yang kenalnya pesbuk doang...

      Hapus
  5. wakakaka :D

    koplak ane gan jadi nya,.

    parah bener

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling paling diambil sisi itunya, om
      mayan buat hiburan...

      Hapus
  6. Oalah...
    Tapi memang seringnya " orang tua" dan orangtua ga mau tau juga keadaan yg lebih muda. Baik2 ngomong malah dibales dalil dan dibilang: "bocah kie ngerti apa?"

    #pengalaman dua hari yg lalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang masih banyak kok orang tua yang belum mau mengikuti kondisi jaman yang sudah berprinsip kebo nusu gudel seperti sekarang ini

      Hapus
  7. Wkwkwkw... Asli ngakak guling-guling.

    BalasHapus
  8. Kebebasan tanpa batas juga bermasalah. Walaupun pesbuk milik kita tapi yang lainkan juga punya mata buat baca tulisan kita. Lha kalopun komplen mbkoyo pake bahasa yang baik. Lebih enak di bacanya. Nulis juga status juga yang baik. Pesbuk bukan dinding ratapan. Walah malah mbladrah-mbladrah. Dimaafken yo mas. Dirimu mudik ke Banguntapan ra mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya kebanyakan usia mereka masih menuju dewasa Bu, maklum lah...kayak saya juga sih masih abg menuju dewasa

      Hapus
    2. betul, harus nulis yang baik
      tapi itu di pesbuk kan..?
      kalo di blog bolehlah beda dikit :D

      Hapus
  9. kalau belum siap sih emang kayaknya belum siap, banyak sekali terutama anak-anak muda yang mendapatkan informasi secara bebas akhirnya mengekspresikan dirinya juga secara bebas dengan berdalih kebebasan, tapi sayang mereka justru mengganggu dan tidak menghormati kebebasan orang lain. mungkin ini hanya proses, seiring dengan jalannya waktu nanti kita akan sampai pada tingkat kedewasaan dalam bersikap

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu efek dari serbuan teknologi yang terlalu cepat melampaui kemampuan kita mengikutinya. sehingga banyak hal yang tidak semestinya terjadi. gampangnya, kita masih tergagap gagap dengan perkembangan teknologi...

      Hapus
  10. mmmmm...apa ya...di komen blog juga ada yang kayak gini, nggak cuma di fb saja...

    tapi saya justru prihatin dengan jejaring sosial yang sekarang sudah merambah ke dunia anak-anak...bahkan mereka rela berbohong usia demi mendapatkan akun fb...banyak orang tua yang nggak paham fb, sedang anak-anak mereka sudah melanglang buana di dunia maya...bukan karena orang tua yang lalai juga, karena keterbatasan, tak semua orang tua berpendidikan tinggi dan mampu mengakses internet...kasihan mereka yang sudah banting tulang demi putra-putrinya, eh malah anaknya asyik fb-an daripada tugas sekolahnya. kalau sudah kayak gini, siapa yang rugi hayo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. semuanya rugi mb,,,,
      orang tua di tipu secara halus oleh anaknya,,,
      anak sendiri pun rugi karena lebih mementingkan fb dr pda tugas sekolah,,,

      g fb an katanya ktinggalan zaman

      Hapus
    2. kasihan juga ya , ngelus dodo nelongso

      Hapus
    3. tapi yang sudah gabung di blog, menurutku rada mendingan lah tidak separah di pesbuk. apalagi melihat kondisi saat ini dimana blogger tidak sejaim dulu sampai aku ga punya teman dengan alasan kalo komen ngaco dan ga nyambung.

      tapi pernyataan itu pun sering ga konsisten juga. ga mau aku komen oot, tapi ketika aku komen sedikit serius malah dianggap menyerang. maunya dikomenin nais pos doang kali. atau polbek, bro... :D

      Hapus
  11. saya juga belum siap dengan post industrialis ini mas, lha wong komen aja saya sering belepotan clometan, jauh dari sopan. untuk saat ini saya hanya bisa internetan, membaca di portal berita, twitter aja saya tidak menggunakan, karena memang tidak mau menggunakan, sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. komen belepotan tak masalah
      karena blog juga punya fungsi jejaring sosial dimana pertemanan juga dianggap penting. namun komen serius juga diperlukan sekali-kali karena blog bukan jejaring sosial murni dan ada misi lebih dari sekedar berbagi komen dan jempol...

      Hapus
  12. Abege-abege itu kadang bikin ngakak, kadang bikin empet. Yang penting eksis katanyah, Kang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dipikir secara idealis malah bikin miris
      makanya anggap hiburan saja lah...

      Hapus
  13. Lah si om ngapain liat2 page nya smash, jgn2 suka komen pke nama samaran alay jug yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kan smash, mils...
      bukan sm*sh yuknowmisowel :D

      Hapus
  14. jan moco komen ketikane nang fb iku rasane ngakak karo nangis aku mas (piye lak ngunu ekspresine)

    ngkak soale lucu, nangis soale ternyata gak enek seng isok komen dengan EYD, ckck

    rasane pengen ngelus dodo (dodone sopo yo mas seng penak dielus, wkwk)

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha coba berekspresi trus posting potone
      tak tunggu, om...

      Hapus
  15. wkwkwk emang udah kebablasan :D

    BalasHapus
  16. wah kalah aku mas, gak pernah mampi2 ke FPnya smash tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. smash yang mana dulu, bu..?
      hehe

      Hapus
  17. sudah lamaaaa pisan saya menyesal jadi warga negara Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. mendingan jadi warga cilembu ya..?

      Hapus
  18. demokrasi tanpa ilmu demokrasi ibarat shalat gak tau bacaannya....
    kelihatannya indah dan alim tp gak bermanfaat dan kosong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. efek demokrasi yang ada hanyalah orang demo dikerasi
      hehe

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena