01 Agustus 2013

Kebenaran Itu Tidak Ada

#Dewasa

Ga tau kenapa, aku sok empet kalo sudah ada orang yang ngafir-ngafirin orang lain...

Kebenaran yang katanya cuma milik Tuhan, kenapa pula ada manusia yang merasa paling benar menyalahkan orang lain mengatasnamakan Tuhan.

Aku pikir di dunia ini, kebenaran hakiki itu tidak ada. Yang ada hanyalah kebetulan. Tidak pada tempatnya kita mengorbankan sisi kemanusiaan hanya karena faktor kebetulan semata.

Mungkin ini suatu kesalahan fatal. 
Tapi aku meyakini seyakin-yakinnya atas pemikiran itu.

Contoh soalnya gini...
Habib Rese suka teriak, "Islam agama paling benar di muka bumi, yang lain kafir..."

Buatku itu bukan kebenaran dan tetap suatu kebetulan. Kepikir engga sih, andai kata kebetulan dia tidak lahir di keluarga muslim, apakah akan tetap ngomong seperti itu..?

Bila kebetulan dia jadi anaknya DN Aidit misalnya. 99% aku yakin dia akan teriak-teriak kabir kalo ketemu orang NU atau Masyumi yang waktu itu jadi rival politik PKI.

Kebenaran hakiki di dunia tetaplah faktor kebetulan
Tak perlu terlalu jauh ngomong ketuhanan. Di hukum negara khususnya Indonesia Raya, faktor itu pun dominan berlaku.

Ambil saja contoh pada kasus kecelakaan lalu lintas.
Karena kebetulan namanya Afriyani Susanti, dia langsung jadi tersangka pada hari yang sama dia celaka. Pasti akan beda bila kebetulan namanya Afriyani Bangsat Rajasa misalnya. Tak perlu masuk penjara malah bisa keluyuran keluar negeri.

Trus kalo kebenaran tidak ada, bagaimana bisa menghindari kesalahan..?
Tak masalah kita meyakini sebuah kebenaran asal itu untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan ke orang lain. Benar salah ketika berselisih paham dengan yang lain, serahkan saja kepada hakim yang sebenar-benarnya. Tak perlu jadi hakim sendiri, apalagi rame-rame...

Seperti keyakinan kalo aku ganteng, tak pernah aku paksakan ibue untuk mengakui itu. Soal kenapa dia mau diajakin menikah, bisa saja karena kebetulan waktu ketemu lagi sakit mata. 
Atau kebetulan dia kasihan juga bisa...
Kasihan orang ganteng kok jomblo
#sampluk panci...



Intinya
Ketika orang sudah mulai menghakimi orang lain dengan mengatasnamakan Tuhan, saat itulah agama menjadi sumber bencana kemanusiaan terbesar dan tak lagi jadi rahmatan lil alamin....

Tapi itu prinsip pribadi
Orang lain mau ngomong apa juga monggo...

92 comments:

  1. Wah, kalau urusan menghakimi orang dengan menyebut nama Tuhan, aq gak berani om.

    Tp untuk yang terakhir ntu, saya perlu menambahkan #sampluksandal plus sepatu plus semuanyah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. biasa alas sandal nya ada telek kucinge , kebetulan ada telek kucing, dan kebetulan mantap nek kenek lambene

      Hapus
    2. semoga manusia seperti om berdua ini semakin banyak, sehingga tak orang orang sok suci bisa mendekati kepunahan..

      Hapus
    3. kalo urusan "sok suci" tiap2 orang punya jalan hidup untuk menyakini yg dipahami dan biasanya ini urusan Allah yg menilai, dan tetap bernilai bila berdasar syariat

      Hapus
    4. nah kalo itu aku setuju. keyakinan itu urusan vertikal dan jangan digunakan secara horisontal...

      Hapus
  2. Namanya prinsip pribadi, jadi gag mau ikut-ikutan deh..
    Mungkin saja dulu belum ada Insto atau Aito, jadi Ibue langsung saja mau.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibuke pas klilipen mas, klilipen sepur

      Hapus
    2. santai saja, om
      aku ga suka mengintervensi pendapat orang kok. kebebasan pendapat itu indah asalkan diimbangi kebebasan mendengar...

      Hapus
  3. Makin menjadi2. Sadarlah hai anak manusia bhw Alloh SWT berfirman
    Mendustakan kebenaran yg telah nyata termasuk perbuatan yg paling dolim (Al ankabut : 68)
    Utk para pembaca hati2lah dg tulisan provokatif dr kafir pki spt ini. Ingat ini sdh diingatkn dlm surah Al Hujurat : 6 Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini – dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) – sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.
    Jgn smp adzab turun ke dunia hari ini jg krn ikut org sesat spt ini. Ingat sdh ada larangan mendekati org yg mendustakan kebenaran : Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya kerana dia mempunyai (banyak)harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala." Kelak akan Kami beri tanda dia dibelalainya. (Al-Qalam:8-16)
    Berhati2lah dan berlindunglah dr godaan syetan yg terkutuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa yang Tuhan beri petunjuk tidak akan ada sesuatu pun yang bisa menyesatkannya....
      Janganlah menghakimi manusia dengan ayat-ayat Tuhan apalagi orang berbeda kepercayaan...
      Tuhan maha pengasih, kenapa manusia bersikap anarkis untuk memaksa orang lain percaya Tuhan maha pengasih..?

      Hapus
    2. kolom diskusi di sini menunjukkan bahwa kita saling sayang.

      Hapus
    3. Itu kan pendapat pribadi sik ya. Selow aja. Lagian kenapa pake anonim sik? gak aci ah.
      Kalo gak setuju ya bikin aja postingan yang menyanggah trus promosiin di sini tanpa pake nyetan-nyetanin orang. auk ah.
      Maturnuwun Kang dah disharing opininya..

      Hapus
    4. woles saja lah, lebih enak cari kimcil dulu...
      bener kata mas zach pak anoman memang sayang mas eko, kasih cipok basah dulu dong

      Hapus
    5. howalah sudah dikutipin an najm : 32 di posisi paling atas masih saja ngeyel nih orang.

      kalo suka nulis panjang lebar begitu, mbok bikin blog saja, pak. jadi enak kan..?

      jangan sampai aku jadi berpikir, "berteman dengan orang suci itu jauh lebih repot dibanding jadi orang suci itu sendiri..."

      Hapus
    6. om anoman ini sepertinya belum pernah merasakan hidup di keluarga seperti keluarga saya....

      Hapus
    7. Even God does not judge human-beings till the judgement day (hari pembalasan), why human does?

      Prinsip ceret ajalah..
      apa yang keluar sesuai isi
      :-)

      Hapus
    8. pak rawins gak usah di tanggapi toh orang seperti itu, malah makin seneng tuh orang kalo di tanggepi terus . anggap aja angin lalu

      Hapus
    9. apapun itu...
      beliau adalah tamu yang musti aku sambut layani dengan baik. karena aku tidak mau membenci orang lain hanya karena pendapatnya berbeda. pun aku tidak suka memutuskan silaturahmi dengan orang yang jujur mengungkapkan hasil pandangan matanya terhadapku.

      beliau lebih aku hargai ketimbang mereka yang tak suka dengan gayaku, namun cuma bisa diam di sini dan baru bicara banyak saat di luaran. efeknya, andai aku benar dia tak bisa menerima alasanku. dan saat aku salah, aku tak pernah tahu kesalahannya karena tidak dikasih koreksi.

      bagaimanapun juga aku butuh peran antagonis agar bisa instropeksi...

      Hapus
    10. maaf pak aku malah ngomong ke gitu, .. iya juga ya pak.. gak rame kalo gak ada peran antagonisnya :)

      Hapus
    11. apapun isinya, itu adalah respon jujur dari orang lain akan pemikiran orang yang lainnya. itu lebih keren ketimbang bilang nais impoh atau polbek ya :D

      Hapus
  4. kalo saya pro yang nafsi-nafsi saja lahh.
    lakum dii nukum waliyadiin.
    yang penting saya punya tim, saya punya gawang, itu saja yang saya jaga.
    kewajiban syiar yang ada, saya laksanakan semampunya.
    lha wong saya saja masih blentang-blenteng begini.
    cuma ya itu, saya juga pengin masuk surga.
    itu saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. simple tapi berat ya mas

      Hapus
    2. tujuan yg nyata perlu perjuangan yg keras.

      Hapus
    3. nyessss adem di kolom ini... meskipun perut kosong...

      Hapus
    4. emang pasukan cacing kemana, mang..?

      Hapus
    5. udah 17 taun belom..?

      Hapus
  5. ehh, Aidit itu juga melaksanakan shalat lho Kang...
    komunis tidak identik dengan atheist.
    sejarah lokal saja yang membelokkan itu kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini masalah politis saat itu, kebetulan mas rawin nulis aidit sih..

      Hapus
    2. disitu ironinya...
      komunis yang identik dengan atheis saja teriaknya kabir, tidak mengkafirkan orang lain. lupa bahwa manusia tak bisa digeneralisir. fidel castro, voltaire itu atheis namun teramat humanis. pejabat kita yang rata rata haji malah jadi haji ngan tengik, korupsi jalan terus.
      tapi sudahlah. aku pun kalo kebetulan jadi pejabat mungkin akan berbuat yang sama...

      Hapus
  6. Ilmu saya masih nakiroh tentang filsafat seperti ini, terlalu dalam bagi saya mas, yang penting saya sudah melaksanakan apa yang saya pelajari dari guru saya. Kalau masalah mengkafirkan orang saya tidak berani mas, lha wong saya sendiri kafir atau tidak hanya Allah subhanahu wata'ala yang maha tau. Mana berani mengkafirkan orang. Coba kalau yang ngomong kafir pernah merasakan kafir pasti deh tidak akan mengkafirkan orang, pasti lebih lunak pendekatannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. agama itu tentang keimanan kok...
      keimanan itu seringkali harus mengabaikan logika. jadi memperdebatkan keyakinan yang berbeda adalah kebodohan yang besar. karena kalo kita pikir secara logika, kita tak pernah punya jaminan tuhan atau agama mana yang benar. bisa jadi keyakinan kita itu sebanarnya kw7, tapi karena kita mengimaninya ya musti yakini 100% tanpa harus maksa orang lain yang beda

      Hapus
    2. makanya saya suka heran, bila ada debat ustadz bla bla bla dengan pastor bla bla dari bla bla...sudah jelas beda, ngapain pula didebatkan. bahkan di fesbuk banyak sekali beredar debat2 kayak gini. menurut saya, rugi kita menghabiskan banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk berdebat...sudah jelas dan pasti nggak akan sampai ke titik temunya--debat kusir saja...kusir saja nggak suka debat, mendik naik delman saja ...ehh

      Hapus
    3. itu yang aku anggap aneh
      orang dari sononya sudah beda kenapa musti disama-samain. lagian emang ada apa sih dengan perbedaan wong itu yang bikin dunia lebih berwarna. emang indah kalo dunia ini hitam putih saja
      tapi biarin sajalah, toh mereka mau menjalaninya...

      Hapus
  7. Saya hanya menduga duga mas eko juga kebetulan pipis kan, Jadi tidak sengaja dong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo pipisnya itu kebenaran, om
      kebetulannya adalah telat nyabut..

      Hapus
    2. keenakan sih...modol itu apa mas ?

      Hapus
    3. tuh di kotak pencarian di atas
      ketik modol...

      Hapus
  8. iya saya sepakat sama posting mas eko yang ini:)
    selamat pagi mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. tumben ada yang dukung
      trims, sis... :D

      Hapus
    2. tumben postingannya bener...hehee

      Hapus
    3. jiaaah...
      perasaan jurnal ini ngaco deh
      buktinya dikomplen...

      Hapus
  9. nyimak aja om,,,,
    namanya juga manusia pnya prinsip masing",,,
    kalau sama prinsip gmna? g asyeek dunk,,,,
    tiada warna,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. buwetul, neng
      sepakat untuk itu...

      Hapus
  10. yang ngerti postingan ini cuman 4 orang ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. engga
      cuman pak anoman doang tuh...

      Hapus
  11. saya nggak begitu mempermasalkan agama, karena kenyataan dalam keluarga saya ada banyak agama yang dianut, mulai dari oma saya, tante-tente, cici, koko dll, agama asli nenek moyang tionghoa, kristian, katholik dll, dan saya muslimah...tapi saya nggak mau mencampuradukkan diantaranya. karena setiap pribadi menganut keyakinannya masing-masing. bagi saya seperti pak Zach bilang, lakum dinukum waliyadin--untukmu agamamu dan untukkulah agamaku--saya berusaha menjalankan apa yang saya yakini, apa yang saya pelajari, bukan kata dia dia atau dia, tapi cukuplah bagi saya Quran dan Hadits...walau kami berbeda, bukan berarti saling benci--tapi tetep, keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yang aku kurang suka, bu
      kenapa perbedaan jadi sumber kebencian. kalo sukanya yang seragam, jangan-jangan kawinnya juga dengan yang sesama jenis, haha...

      Hapus
  12. sekarang banyak orang yang meng-kafirkan orang lain. tapi yang ngomong gitu nggak becermin dulu..*aneh

    saya nunngu pasukan pak anoman aja Mas. sapa tau pak anoman nongol bawa pasukan, jadi seru..xixixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya itu manusiawi sih, om...
      cuma sayang pada kebablasan ngungkapnya di muka umum
      memang benar kita punya kebebasan pendapat. namun kita juga harus ingat bila orang lain pun punya hak atas kebebasan yang sama

      Hapus
  13. Balasan
    1. erus dilaksanakan dengan baik ya..hehee

      Hapus
    2. minggu depan ulangan... :D

      Hapus
  14. hehe, kalo saya sih sudah biasa membedakan mana horizontal (hubungan manusia dengan manusia) dan mana vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan)

    kalo dianggap sama, mungkin kesamaannya cuman garis lurus aja (memiliki suatu penghubung)

    manusia tetaplah manusia, kebenaran mutlak itu milik sang pencipta, dan manusia hanya punya kebenaran semu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu poinnya...
      di dunia yang ada hanya kebenaran semu. kita jalani saja apa yang kita yakini tanpa perlu terpengaruh ataupun mempengaruhi orang lain yang berbeda keyakinan...

      Hapus
  15. Balasan
    1. nah dapat dua pendukung...
      satu lagi dapat payung nih...

      Hapus
  16. mrengees aja deh..

    saya dukung FPI oom..

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku kurang suka perilaku fpi yang sok sokan itu
      namun aku ga pernah benci fpi dan tak setuju fpi dibubarkan
      itu tidak demokratis...

      Hapus
  17. tema tulisan tentang agama atau perbedaaan keyakinan, memang sangat sensitif...

    Saya ikut nyimak aja gan...gak mau ikut campur, takutnya ada salah-salah kata

    BalasHapus
    Balasan
    1. duduk yang manis aja ya, jangan kemana-mana entar dikasih teh ama pisang goreng...

      Hapus
    2. pasti sensitif lah kalo kita memaksakan keyakinan pribadi kepada orang lain yang jelas berbeda. kalo pun kita ambil posisi normal masih ada yang tersinggung, berarti yang tersinggung itu memang tidak siap dengan yang namanya kebebasan pendapat...

      Hapus
  18. kalau masalah agama tidak sembarang ngomong, karena salah dikit aja bisa jadi perang brontoyudo. mungkin dikarenakan kemampuan berpikir yang minim jadi bisa cepet terbawa emosi. Yang paling gak aku suka menyalahkan orang lain karena kesalahannya sendiri....*balang sandal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. paling tidak itu jadi bukti bahwa agama seringkali tidak mampu mendewasakan umatnya. umat dibikin sibuk dengan tatacara beragama sampai melupakan tatacara bertuhan

      Hapus
  19. Superb sekali mas !!! Suka sama yang ini --> "Tak masalah kita meyakini sebuah kebenaran asal itu untuk diri pribadi dan tidak dipaksakan ke orang lain"

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah tambah satu lagi pendukung
      jadi deh dapat payung, hehe...

      Hapus
  20. beraaaaaaat... kalo urusan dinnul islam, sy yakin, bila masih dalam lingkar syariat, dia benar. kan urusan ijtihad, benar dapet pahala dua, salah dapet satu.
    cuman sy tidak sepakat ada term "kebetulan", karena Allah yg serba Maha tidak mnciptakan ssuatu dg kebetulan. pokoknya adem ayem sj lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. gapapa, om...
      kalo buatku sih sesuai. om bilang term tersebut tidak sesuai karena kebetulan om tidak setuju, hehe...

      Hapus
  21. Setuju banget Pak! Seseorang gak bisa mengklaim suatu agama adalah agama yang paling benar. Tuhan mungkin boleh ngomong gitu, tapi manusia... darimana dia bisa tau? Pengetahuan manusia, seluas-luasnya, belum tentu hakiki dan sejati kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo kita mau jujur dan melepas kata iman sesaat saja, kita pun sebenarnya tak pernah tahu yang kita anut itu yang paling benar apa bukan. karena semua kecap pasti bilang nomor satu.

      adalah fakta bahwa kebanyakan dari kita beragama itu bukan dari pencarian, melainkan warisan. karena kita lahir di keluarga dan dibesarkan di lingkungan beragama anu, maka kita ikutan pake agama anu...

      Hapus
  22. kalau saya belum nyampe seperti filsafat ini... jadi nyimak aja deh dengan kepala dingin eheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal jangan pipis dalam botol aja mang, nanti di tiru mas rawins

      Hapus
    2. emang yang bikin panas apanya..?
      ga ada gambar kompor kok... :D

      Hapus
  23. ngeri ini pemabahsannya, perlu tinjauan lebih mendalam
    #buka kamus siapin kalkulator

    BalasHapus
    Balasan
    1. harus itu, om
      ditunggu kajiannya...

      Hapus
  24. hihihi, sy mau senyum2 aja dulu baca yg anonim. Knp hrs anonim? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin beliau malu nulis namanya anoman...

      Hapus
  25. setuju dengan pembahasan elo sobat!.
    memperdebatkan hal yang bersifat keimanan atas dasar keyakinan dari diri pribadi tidak akan pernah selesai sampai kita tidak bisa berbicara sekalipun.
    100% Sepakat untuk tulisan ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. atau mungkin menyesuaikan prinsip
      kalo bisa diperpanjang, kenapa harus singkat...

      Hapus
  26. simple saja >> bagiku agamaku, bagimu agamamu
    toh semua agama yg baik juga mengajarkan kebaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya itu akan lebih bagus...

      Hapus
  27. aku yo ngunu kui... ketemu calonku yo kebetulan bien eruhe pas kuru ahahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo itu namanya untung besar, om...
      manjerin waktu masih 50 kilo, dapetnya sudah 80 kilo
      mantep...

      Hapus
    2. guduk 80 maning kie... 99

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena