01 Mei 2013

Demo


#Bimbingan Orang Tua

Pagi-pagi pada ribut ngobrolin hari buruh.

Aku sih ga terlalu sensitif dengan hari apapun kecuali malem jumat. Tapi kenapa ya, hari buruh selalu diisi dengan demo. Seolah-olah secara sadar mereka mensugesti dirinya sebagai golongan tertindas. Sekali-kali adain kegiatan sosial rame-rame kayaknya lebih bermanfaat. Kerja bakti di lingkungan perusahaan sambil pasang spanduk kan ga ada yang menyalahkan.

Demo pun sebenarnya ga masalah. Sebagai rakyat kecil kita berhak menyerukan aspirasi. Namun tidak semestinya aktifitas itu dilakukan dengan cara yang berpotensi merugikan rakyat kecil lainnya.

Beramai-ramai biar nilai paksanya lebih tinggi juga ada benarnya. Asalkan semua menyadari budaya buruk sebagian saudara kita yang kalem bener saat sendirian namun sok jagoan saat banyak teman. Ini mudah dimanfaatkan oknum yang sengaja cari masalah. Dengan provokasi sedikit, niat awal yang baik dengan mudah berubah tak terkendali.

Secara pribadi aku kurang menyukai aktifitas keroyokan semacam itu. Namanya hubungan kerja itu melibatkan dua pihak yang harus sepaham. Saat ada ketimpangan, masing-masing punya hak menyampaikan keluhan. Gaji kurang aku berhak nanya ke perusahaan. Sebaliknya saat kinerjaku dibawah standar, perusahaan pun berhak mempertanyakan. 

Aku tak suka pemaksaan kehendak. Ketika sudah tidak ada kesepahaman lagi, aku cukup ketik surat i'm sorry good bye. Toh bila perusahaan beneran butuh, aku suka dipanggil lagi untuk melakukan tawar menawar. Selama ini kebiasaan itu berjalan efektif tanpa perlu bawa banyak orang.

Kalo memang merasa diri pengecut tidak berani jalan sendiri, ajukan saja surat pengunduran diri rame-rame lalu bobo manis di rumah tak perlu pake acara ngeblokir jalan tol segala. Perusahaan ga mau bayar gaji memadai kok diikutin mulu. Cari kerjaan baru dong, yang sekiranya mau bayar sesuai keinginan.

Sebaliknya...
Ketika kepergianku dicuekin, tandanya aku harus instropeksi diri. Bisa jadi tenagaku memang tidak begitu diperlukan oleh perusahaan. Ini jaman kompetisi, bung. Kalo mau dibayar lebih tingkatkan dulu dong skill nya. Otak pas-pasan minta dibayar tinggi ya jelas bikin perusahaan mikir panjang untuk mengabulkannya. Tunjukkan kalo kita bukan preman dan mawas diri sedikit bukan hal sulit.

Pemikiran itu yang jadi alasan kenapa aku pilih masuk hutan. Aku sadar dengan kemampuan diri. STM saja tidak lulus kok ngiri sama mereka yang sarjana. 

Di Jawa kebanyakan orang pinter dan ketat persaingan. Tenagaku tak pernah dihargai lebih dari 2 juta per bulan. Untuk apa aku memaksakan kehendak ke perusahaan bila kenyataannya di luar Jawa banyak perusahaan yang berani bayar aku beberapa kali lipat.

Tapi ini cuma prinsip pribadi yang tak mau menganggap diri tertindas
Teman-teman berprinsip lain aku tetap hargai
Yang penting jangan merusak ya...

Selamat Hari Buruh



Intinya
Aku lebih suka menggunakan falsafah Kejawen dalam mengatasi persoalan hidup. Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Melawan tanpa pasukan dan menang tanpa merendahkan pihak lain...


84 comments:

  1. Hai, mas..

    Kalo saja semua pekerja punya pemikiran searif, nyantai dan mandiri spt mas.. mungkin ga perlu ada demo2 yang bisa bikin jalanan muacet dan bikin repot banyak orang..
    Cukup duduk berdiskusi bareng2 saja sambil ngopi.. dan tercapailah kesepakan yang 'win-win solution'..

    Pilihan berkarya dg masuk hutan..?? Perlu jiwa yang berani dan bermental baja.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf.., maksudnya kesepakatan yg 'win-win solution'
      Thx, ya.. :)

      Hapus
    2. ga gitu juga kali...
      selama ini kalo duduk bareng juga jarang sepakat bila itu tentang perbaikan kesejahteraan. begitu ditinggalin baru ribut ngajak negosiasi ulang. keliatannya pengecut sih cuman bisa kabur. namun dengan dipanggil ulang ini nilai tawar kita jadi lebih tinggi ketimbang saat kita nuntut.

      Hapus
    3. yang penting kerja sesuai skill yang dimiliki dan sebaik mungkin...karena itulah kewajiban kita sebagai karyawan, ntar kalo sudah melakukan kewajiban sepenuh hati, barulah kita bicara tentang hak :-)

      Hapus
    4. betul pak...
      asal skil kita mumpuni, perusahaan juga mikir panjang buat ngelepasinnya. nego nego kesejahteraan juga lebi mudah ga perlu pake demo bawa pasukan

      Hapus
  2. Pak, kalo disana gajinya berkali lipat, saya mau ikutan boleh pak?

    Hari buruh hari ini, di kawasan Bekasi (Cikarang atau Jababeka ya?) gak pake ngeluruk rame2, tapi dzikir bersama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah yang semacam itu kan bagus ga ngerepotin orang banyak. kalo tanpa kekerasan mungkin perusahaan akan lebih mudah memahami. kan katanya memancing kebaikan juga harus pake umpan kebaikan pula...

      Hapus
  3. setuju, kalo nggak layak gajinya ngapain bertahan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita kadang suka berpikiran sempit. seolah olah kerjaan hanya ada disitu saja. kalo kurang ya cari yang mau bayar lebih. kalo ga ada yg mau, berarti kesalahan memang ada di kita dong...

      Hapus
  4. Hari nyampah di senayan...

    BalasHapus
  5. iya Kang, susahnya ya kalau udah nutup jalan dan mengganggu yang lain itulho! bikin gregetan

    BalasHapus
  6. Postinganmu keren hari ini Kang...selamat Hari Buruh juga ya..

    # Yuk jadi buruh yang selalu mawas diri akan kemampuan diri ! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga buruh tapi wegah demo
      pengen sih ada demo masak disini
      biar bisa perbaikan gizi

      Hapus
  7. Suka banget dengan pemikiran Bang Rawins. Karena mereka selalu menempatkan diri sebagai orang yg tertindas lah makanya mereka ga pernah puas.

    Di China sini juga merayakan hari buruh, dan para buruh merayakannya dengan pergi liburan, manjat gunung, menikmati bunga di musim semi, dll...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang aneh juga, om...
      bawa spanduk mengaku rakyat miskin, tapi sambil online di gadget keren. mengaku gaji ga mencukupi kebutuhan hidup, tapi sambil ngerokok...

      menurutku mereka tidak miskin
      tapi bermental kere doang...

      Hapus
    2. hahaha.. gitu ya.. komen pak raw kece badai.

      Hapus
  8. wah asik tuh klo yang demo kayak gitu :D

    BalasHapus
  9. Balasan
    1. mayday bukannya minta tolong..
      kok happy..?

      Hapus
  10. ane juga termasuk buruhnya PLN nih gan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua yang statusnya pekerja adalah buruh...

      Hapus
  11. kapan nasib ane berubah ya dari buruh menjadi pengusaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. semua ada di tangan kita pak
      kapan kita mau memulainya...

      Hapus
  12. itu foto demo di mana, kok kiwir-kiwir?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hh....kalau yang demo seperti di fotonya berani jamin perusahaan langsung bertekuk di bawah lulut

      Hapus
    2. sayang yang demo kaum feminis menuntut kesetaraan
      coba kalo ada karyawan yang mau demo begitu...?
      ehehe

      Hapus
  13. kadang-kadang kita lupa bahwa kita adalah karyawan, dan bukan pemilik perusahaan,
    sebagai karyawan tuntaskan dulu kewajiban kita sesuai dengan kualitas yang kita miliki, setelah melaksanakan kewajiban kita barulah kita mulai membicarakan tentang hak kita sebagai karyawan,
    namun bukankan sebenarnya hal itu sudah dibicarakan saat kita melamar kerja, mulai dari gaji dan hak karyawan yang telah kita sepakati dengan perusahaan tempat kita bekerja,
    pada awalnya kita menunduk saat melamar kerja, namun setelah diterima,,kita malah menanduk ... ,kalau begini sikap kita..siapa lagi yang bisa percaya sama kita, yang jadi pekerja jumlahnya sangat sedkit dibandingkan yang mau melamar jadi pekerja......, ingat kawan, saat kita berhenti kerja atau dipecat, maka akan banyak orang yang mengantri untuk mengisi tempat yang kita tinggalkan..., jadi berpikir bijaklah sebelum bertindak, agar tak ada penyesalan dibelakang hari....salam :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju dengan kang Hariyanto, karyawan tak boleh membabi-buta tuntut ini tuntut itu tapi harus bisa memahami kondisi dan posisi perusahaan, ya kalau perusahaan itu kondisi keuangannya memungkinkan untuk memberi fasilitas idial yang diinginkan.

      Hapus
    2. itu yang aku pikir keliru dari pemahaman sebagian saudara kita. satu sisi mereka ingin kesejahteraan lebih tapi di lain sisi takut kehilangan pekerjaan sementara kemampuan tidak juga mau meningkatkan. ini tidak konsisten tapi tidak juga disadari karena mereka selalu memposisikan diri secara sadar sebagai kaum tertindas. wajar bila akhirnya perusahaan menganggap mereka sebagai aset bukan lagi mitra bisnis...

      Hapus
  14. endang palupi1 Mei 2013 14.45

    Andai dirimu di perusahaanku rika tak dadegna ketua buruh biar hidup rukun dan damai gaji gede.......hhheeee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hei bu...
      soal pendapatan itu tergantung masing-masing orang, bukan kelompok. kalo mau gaji besar ya berusahalah belajar dan bekerja sebaik-baiknya. serikat pekerja kan cuma organisasi atau paguyuban yang lebih berfungsi untuk menjalin silaturahmi, jangan dijadikan alat untuk minta tambahan kesejahteraan tanpa kita tingkatkan kemampuan pribadi...

      Hapus
  15. huhhh....fotonya itu lohh. ngeri dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan di lihat fotonya kalau ngeri...huh

      Hapus
    2. jurnal itu yang penting fotonya atau tulisannya sih..?

      Hapus
    3. Penting dua duanya mbah. Dulu tulisan gak ada fotonya gak apa apa. Tapi sekarang, kalau gak ada fotonya kok rasanya ada yang kurang gitu.

      Hapus
    4. berarti kedepannya jurnal foto doang tanpa tulisan makin bertambah dong..? hehe

      Hapus
  16. yuupp bener banget, aku jg kurang setuju dengan aksi yng buat macet dan merugikan pihak lain, kan masih ada jalan keluar yang lebih bagus, misalnya mengadakan diskusi antara keduabelah pihak yng bersangkutn,

    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. apapun kegiatannya asal tidak menganggu aktifitas orang lain bagus bagus saja menurutku. demo pun gapapa asal tidak merusak...

      Hapus
  17. Assalamu Alaikum wr. wb

    salam kenal mas,
    hari ini mayday, macet banget disana sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. pindah kalimantan saja sini
      bebas macet...

      Hapus
  18. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  19. "Otak pas-pasan minta dibayar tinggi" <<< Super sekali...!

    BalasHapus
    Balasan
    1. asal maju sendiri jangan bawa pasukan ga masalah
      itu baru namanya sportif

      Hapus
  20. mending demo masak aja. bisa makan-makan..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. demo ya sering jadi demolition...

      Hapus
    2. kalo demo kan biasanya di bongkar bongkar !! #korban iklan.

      Hapus
    3. lama lama jadi demokrasi
      orang demo dikerasi...

      Hapus
  21. Terkadang yang demo buruh itu orang orang bayaran, bukan buruh asli.
    Terus serikat2 buruh itu juga sering ngompas para buruh untuk bayar iuran yang kegunaannya juga gak jelas.

    O iya, ketemu lagi karo awakmu, tak goleki blogmu setelah digusur MP.
    Lagek ketemu iki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh mbak evi ketemu lagi...
      emang di duluth juga sering ada demo semacam itu ya..?
      kirain indonesia raya doang...

      dari dulu aku dah disini, mbak...
      mulkipli cuman rumah kedua

      Hapus
    2. Iyo, ketemu maneh neng kene, ubek2 nggoleki koyok nggoleki tumo.
      Gak, di Duluth gak ada demo yg sampe ribuan gini.
      Ada juga demo kecil2an, kayak kapan hari demo di depan pom bensin BP, waktu kilang minyak bocor di perairan di selatan dan mencemari laut. Demonya cuma bawa2 kertas gede yang ada tulisannya, demo di perempatan jalan cari perhatikan ke lalu lintas.

      Iya,ngerti sih nek ono blog iki, tapi kan sampeyan kan punya mulkipli juga yg terus diupdate, jadi ya baca di mulkipli.
      SEtelah digusur, mau nyari blog sampeyan, lali jenenge.

      Iki nganggo blogspot yo? Nek ono balesan, gak mlebu nyang notifikasi.

      Hapus
    3. warga duluth lebih memahami konsep kebebasan pendapat yo, mbak. jadinya kebebasan itu tak sampai mengganggu kebebasan orang lain dalam beraktifitas. mbuh kapan indonesia raya bisa begitu...

      blogger emang rada katrok soal notifikasi komen. alternatif yang disediakan cuma lewat email melalui tombol subscribe by email di bawah. lewat dashboard belum ada

      tapi piye neh udah telanjur sayang hehe

      Hapus
  22. sangat..sangat...sangat setuju pals, buruh di indonesia tercinta ini sangat aneh, pengen kerja dengan penghasilan tinggi, namun pendidikan tidak memenuhi standar perusahaan, dan tidak ada upaya untuk meningkatkan kemampuan diri, dan sudah pasti perusahaan punya hitungan yang mantap untuk masalah upah yang disesuaikan dengan tenaga dan hasil yang perusahaan dapatkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang dalam beragumentasi mereka suka membandingkan dengan gaji buruh negara lain. menurutku ga masalah asalkan kinerjanya juga bisa seperti mereka. akan susah ketemunya kalo hanya ngitung kurs tanpa melihat biaya hidup dan produktifitas

      Hapus
  23. masuk hutan apa mas rawins...luar jawanya mana juga nih??? aku juga lagi mimpi melirik masuk hutan karet nih..dulu waktu masih kuliah mikirnya*aduhh nggak banget sih bau-bau an ma getah karet* tapi dengan masuk hutan karet milik sendiri minimal 3 hektar..maka minimal 5 juta bisa dikantong * dengan itu maka saya telah bermimpi menjadi orang yang tdak akan berdemo setiap hari buruh nasional *uhuuu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. 5 juta bisa masuk perbulannya..malah bisa lebih *data ini berdasarkan pengamatan atau melirik duwit emak ma bapak kalau habis timbangan hehehe*

      Hapus
    2. barito timur, bu...
      ide bagus tuh biar bisa jadi bos dan bukan lagi buruh.

      entah kenapa begitu banyak orang yang mengeluh pendapatannya kurang atau kesulitan cari kerja tapi ga mau melirik ke luar jawa dimana peluang masih terbuka lebar. ogah kerja, peluang usaha juga banyak asal jeli...

      Hapus
    3. Iyo Win. Aku bingung sama orang2 yg suka mengeluh ttg pekerjaan, yg gaji kecil lah, yg susah cari kerjalah, tapi dikasih saran ke luar Jawa, adaaaaaaa aja alasannya.
      Emang dasarnya tukang mengeluh, dikasih saran apapun ya gak masuk di otak mereka yang sempit.

      Hapus
    4. efek dari tanah surga kali, mbak...
      biasa tongkat kayu dan batu jadi tanaman makane ga terlalu ulet mikir dan berusaha padahal untuk kesejahteraan diri sendiri. senengnya menuntut dan menyalahkan orang lain jarang mau instropeksi diri

      Hapus
  24. saya setuju dengan ulasan tulisan ini. intropeksi diri memang lebih baik.
    demo-demo sekarang biasanya dilakukan oleh orang2 bayaran, bukan atas nama buruh secara utuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang beneran ya, kalo demo itu dibayar..?
      pantesan beberapa waktu lalu ada teman yang katanya ditonjok orang ga dikenal gara gara tetap kerja dipabriknya dan ga mau ikutan demo. kalo beneran gitu, kacau dong dunia persilatan...

      Hapus
  25. bakulan manuk wae lah.. wkk.wkk.wkk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini contoh orang yang tidak mau jadi buruh lagi...

      Hapus
  26. mantab kang ...
    Selamat hari buruh ...
    *eh kalau hari ini udah ganti Hardiknas ding ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. gapapa, om...
      sama saja jadi wacana doang inih
      ga bakal terbukti di lapangan, hahaha

      Hapus
  27. makanya gaji pakai dinar/dirham

    negara ini salah pilih sistem perekonomian, makanya inflasi melulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. entahlah bro...
      semua orang ngaku pinter sampai bingung mau nyalahin siapa

      Hapus
  28. mas rawins memang top deh, walau hidup diluar jawa masih saja menggenggam falsafah jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimanapun aku orang jawa, om...

      Hapus
    2. ayo dong nulis tentang budaya jawa..

      Hapus
  29. Jempol mas. Sependapat sama sampean.

    BalasHapus
  30. huahaha.. kemaren pas hari buruh langsung gugling ya gmbrnya :D

    kalo dipikir pake otak kiri :D misalkan demonya ngrusak pabrik kan takutnya lowongan kerja di indo jadi sedikit.. pihak luar yang mau pasang pabrik di indo jadi males karena dikit dikit di demo dan... bakar pabrik, padahal nyari kerja susah.. masuknya juga susah
    kalo ada loker di BKK juga belum tentu juga bisa masuk kebanyakan sih manufactur, itu juga cuma sistem kontrak dan di bayar tunai !! sah?? sah....
    nah kalo udah kelar kontraknya biasanya jadi nganngur karena umurnya udah gondol sama pabrik yg pertama itu .. minimal umur 18th - 23th kalo gak salah.. mangkanya jadi pengusaha aja hahaha..
    aku pengen kedepannya alumni sma/smk atau yg kuliah dan yang pendidikan tinggi sehahahaha itu bisa membuka peluang usaha bukan jadi pegawe $_$ . hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. senengnya lari ke kota padahal skil paspasan sementara orang pinter di kota bejibun. coba kalo mau keluar jawa. skill lulusan sma jawa di kalimantan masih dibutuhkan banget dan masih ada yang mau bayar beberapa kali lipat...

      kalo mau buka usaha sih malah lebih bagus
      itung-itung bantu mengurangi pengangguran
      tapi ya siap-siap didemo buruh yang ga mawas diri
      hehe

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena