05 Februari 2013

Muso Munawar


#Bimbingan Orang Tua

Dapat sebutan PKI di jurnal Level Kemanusiaan, aku makin yakin bahwa saudara kita yang berpikiran sempit masih teramat banyak. Memandang dari satu kacamata lalu ambil kesimpulan paten tanpa bisa digoyang lagi. Padahal bukti sudah begitu banyak dimana agama, pendidikan dan latar belakang ekonomi tidak menjamin perilaku seseorang.

Banyak pejabat kita yang katanya ulama, namun ketika sampai di masalah uang ternyata sama saja. Nama Tuhan cuma dipake alat mencari dukungan yang tujuan akhirnya tetap saja memperkaya diri.

Ketuhanan dan politik adalah dua hal yang beda tapi sering dicampuradukan. Saat suatu partai tampak cerah bercahaya, akan dikatakan, "mantap kan kalo pake dasar agama ane..."

Begitu ada masalah sebagian teriak konspirasi dan sebagian lagi berubah lidah, "itu urusan pribadi, jangan sangkutpautkan dengan agama dong..."

Bicara soal PKI aku malah ingat Muso yang namanya berkibar di Madiun tahun 1948. Aku contohin beliau saja deh daripada tar kesandung sapi.

Kita bisa berkaca dari Munawar Muso bahwa PKI hanyalah partai politik dan komunis itu tidak identik dengan atheis. Anggapan komunis = atheis bisa jadi karena yang kita lihat kondisi di Soviet atau China. Wajar bila disana anggota partai komunis sebagian besar atheis karena memang kebanyakan warganya memang tidak beragama. 

Di Indonesia kita tak bisa menganggap PKI seperti itu. Hampir semua warga negara ini menganut agama makanya anggota PKI pun tidak banyak yang atheis. Masalah agamanya KTP doang apa bukan aku ga mau bahas orang itu sudah jadi rahasia umum. Dalam kasus berbeda aku berani bilang 99% koruptor di Indonesia adalah orang beragama.


Coba pelajari sejarah awal pergerakan kemerdekaan pada waktu Soekarno, Muso, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo ngekos di rumah HOS Cokroaminoto. Mereka semua tokoh pergerakan yang punya satu tujuan Indonesia Merdeka dari Belanda dengan pilihan politik yang berbeda. Sukarno memilih jalan nasionalis. Muso, Alimin dan Semaun ambil jalur kiri sedangkan Kartosuwiryo ambil jalur kanan.

Benarkah Muso atheis..?
Muso anak seorang kyai besar pengasuh Ponpes Kapurejo, Pagu Kediri. Putra KH Hasan Muhyi mantan pasukan Diponegoro dari istri pertamanya bernama Nyai Juru. Walau di dunia serba mungkin, akan jadi tanda tanya bila seorang santri besar bisa berubah keyakinan dalam waktu singkat. Aku menganggap kedekatannya dengan Stalin bukan tentang ideologi, melainkan karena pilihan politik waktu itu teramat sedikit. Mencari dukungan ke Amerika tak mungkin karena sebelum Trikora, Amerika dekat dengan Belanda. 

Kalo memang tujuannya sama dengan Sukarno atau Kartosuwiryo kenapa memberontak...? 

Itulah politik. 
Jaman sekarang pun masih sama. Banyak kasus mertua dan menantu berseteru hanya karena beda jago dalam pilkades. Pilihan bupati buntutnya tawuran masal dan banyak lagi. Karena waktu itu jaman pergerakan dimana setiap organisasi bisa punya laskar bersenjata makanya kejadiannya berbeda.

Sekarang Peristiwa Madiun disebut pemberontakan, karena Muso dapat ditumpas. Andaikata dulu Muso berhasil memegang kekuasaan, catatan di buku sejarah pasti berbeda. Bagaimanapun juga sejarah suatu bangsa adalah milik siapa yang berkuasa.
Kira-kira begitu...
Sekedar contoh...


Intinya
Apa masih perlu kita campuradukan ketuhanan dan politik bila anak kyai besar justru memilih komunis sebagai kendaraan politiknya..?

Tuhan itu nyata. Agama yang menjadikannya mitos... (Marto Art)

gambar dari wikipedia


50 comments:

  1. berat nih bahasanya....
    bener2 BO, aku yg ortunya jauh, jadi binun mau nanya siapa...?? hehe...
    #kaburr ah... ntr ada panci melayang... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh...eh... pertama lho...
      #skrg kabur enelan....

      Hapus
    2. Betul. Biarpun berat mba Sun sudah pertamax. Itu suatu kebanggan tersendiri karena pertamax sering diborong tuan rumah.

      Hapus
    3. tuang rumahnya pemborong

      Hapus
    4. hahaha.. Pak Asep lutjhu...deh

      Hapus
    5. kapan ada yang borong feminax..?

      Hapus
    6. Nah urusan "gituan" plus sama yang nyerempet nyerempet saru sudah tidak ada duanya mas Rawins. Top

      Hapus
    7. emang ga cuma dua pak
      tapi banyak termasuk pak asep juga kan..?

      Hapus
    8. Biar bisa ikut nimbrung dengan senior, maka ikut nagkring disini aja ya Kang.

      Sukses selalu
      Salam Wisata

      Hapus
    9. senior itu temennya seniman ya pak..?

      Hapus
  2. Kiye serius timen Kang postinganya...ra rak komen wes !

    BalasHapus
  3. bikin saja bung Partai Kemerdekaan Indonesia, kan nek disingkat sama to?

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa sih artinya singkatan kalo tujuannya sama memperkaya diri..?

      Hapus
  4. postingane mantep. membuat saya jadi mengernyitkan dahi. mikir.

    PKI jelas pencitraan buruk yang sengaja diciptakan oleh pemerintah Orde Baru.
    PKI bukan atheis, meski kebanyakan pemikir berhaluan komunis adalah seorang yang tidak mempercayai Tuhan.

    tapi Kang, nek sampeyan dicap kaya wong PKI, aku kayane setuju, soale wajahnya sampeyan mirip pemeran Aidit di film Pemberontakan G30S/PKI, tapi juga mirip pemeran Ahmad Yani loh. bingung..

    #srampang jembatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku pilih jadi pki wae lah asal bisa bikin hati orang seneng. ketimbang jadi politikus agamis tapi doyan sapi...

      Hapus
    2. Mengrenyitkan selalu di dahi atau dijidat kira kira gitu hiehiehiehe. Sebab kalau letakknya bukan di dahi bukan ngrenyit namanya ya hiehiheihee.

      Tapi bagi saya mas Rawins sama Juru Bicara Komisi Pemberantasan Pemilu (KPK) mas Johan Budi. Punya kemiripan yang sangat tinggi. Mungkin beda rezeki aja

      Hapus
    3. bagiku jubir itu jurusan bibir, pak...
      nyosor isedebes...

      Hapus
    4. daging yang paling enak dari SAPI adalah pantat dan seputarannya.. kang.
      jadi walaupun jidat pada item2(gara2 keseringan digosok2 sajadah)..tetep suka sama yang namanya daging pantat SAPI...wakwaw

      Hapus
    5. kalo itu sih ane juga doyan pak..

      Hapus
  5. Kok bulan pebruari ngomongin PKI sih, Win.. Ini kan bulan palentin-palentinan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. di hutan ga ada palentain dae...

      Hapus
    2. habitat mas Rawins di hutan soale
      pisssssssss

      Hapus
    3. iya pak
      makanya hobi menelusuri gunung dan menuruni lembah mencari sumber air di tengah belukar...

      Hapus
  6. Ini butuh bimbingan orang tua lagih.. Orang tuaku satu udah meninggal, Win.. Yang satu masih hidup tapi sakit. Bener-bener nggak bisa diharapin buat ngebimbing aqwuh pada saat ini...

    Pinjam orang tua nya syapa ya aqwuh ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. sinih sinih nak, aku usap usap ya...

      Hapus
    2. yang jelas2 menggantung bukankah ada dikita2 ini?

      Hapus
    3. wah si mamang jorok yeuh...

      Hapus
  7. Wah baru tahu aku tuh bahwa Soekarno, Muso, Alimin, Semaun, dan Kartosuwiryo pernah satu kos di rumah HOS Cokroaminoto.. Kok bisa jadi beda bagitu ya alirannya.. Berarti Sukarno ada ditengah-tengah ya...

    Kalo soal anak Kyai jadi komunis itu kan masalah hidayah.. anaknya Nabi Nuh aja juga ada yang beda keyakinan sama Nabi Nuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. balada 3 sahabat itu yang membuat sukarno pada akhirnya menelurkan asas nasakom dengan ide untuk menyatukan bangsa yang selama ini terpecah jadi 3 bagian, nasionalis, agama dan komunis
      sayang gagal juga karena dijegal militer...

      Hapus
  8. Wah belajar sejarah dari mana mas, koq jelentreh banget. Aku tahu Muso, tapi tidak sampai tahu keturunan siapa. Anak seorang kyai besar ?!? kaget aku mas. Namun memang itu begitulah politik. Aku tidak terlalu pintar berpolitik namun dalam kehidupan nyata, banyak hal yang memang perlu berpolitik dalam mencapai tujuan. Tergantung caranya bisa diterima atau malah menjadi hal aneh ditengah orang2 yang sudah berwawasan sama. Menjadi beda itu penuh resiko, kalau kalah telak yang ditumpas namun bila bisa menjadi warna yang dominan, bisa membuat sejarah sendiri.

    Waduh aku ngomong opo iki mas, koq blakrak gak karuan ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. modal baca sana sini semua pro kontranya ditelan untuk kemudian membuat analisa dan kesimpulan sendiri. ga jelas juga biarin karena sejarah juga sering dikaburkan orang, hehehe...

      Hapus
    2. Oalaaaa... nemu nang yahoo ki :-)

      Hapus
    3. ada apa di yahoo, pak..?

      Hapus
  9. namanya juga politik, segala taktik dilakukan untuk meraup tujuan | kekuasaan, bikin aku makin mumet. Pencitraan diri dengan label ini dan itu seringkali dilakukan dengan taktik dan intrik seperti dalang memainkan wayang.
    Di kampung asalku, buaannyyaaak sekali yang menjadi korban politik dengan cap pki, hingga saat orde baru anak keturunannya harus menanggung label di KTPnya dengan tulisan OT (organisasi terlarang), mirip pesakitan yang di cap kayak sapi. Padahal, orang tua mereka sama sekali nggak paham politik, yang terjadi hanyalah rubuh gedhang. Wong kae dulure si A, wong kae senengane jagongan karo si B berarti PKI.
    Jadi, ketika kekuasaan wis ditunggangi kepentingan dunia dan hawa nafsu maka kata amanah wis dilalekne kabeh. Emboh wis aku yo melu mumet kalo mikir politik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu yang aku bilang pki itu tidak identik dengan atheis. wong di kampungku juga banyak ktp ot tapi orang-orangnya tekun beribadah. karena kepentingan politik saja yang membuat kita berasumsi bahwa komunis itu atheis. bukannya ideologi politik yang arahnya berlawanan dengan kapitalis. lebih jelasnya, komunis yang sebenarnya lebih membela rakyat kecil khususnya kaum buruh. mungkin ini yang jadi kegagalan komunis di indonesia yag notabene negara agraris, bukan negara industri...

      Hapus
  10. jadi manusia harus punya pilihan mau jadi apa.... yg punya prinsip siap melawan arus

    BalasHapus
    Balasan
    1. namanya milih itu spesifik, bro...
      bukan mencampuradukan sampai bentuknya samar...

      Hapus
  11. luar biasa ah tulisan ini.... agama satu hal dan Tuhan lain hal. tidak boleh di campur campur. jangan bilang juga belain agama sama dengan membela Tuhan... karena itu pasti ga benar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku lebih suka mengatakan ketuhanan itu berbeda dengan keagamaan. ketuhanan lebih universal ketimbang agama yang mengkotak-kotakan diri.

      Hapus
  12. waduh bos, kok jadi bahas politik ya, apa ndak pusing ??? memang benar bos, kebanyakan para pejabat kita membuat agama sebagai kedok menutupi kebobrokan otaknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin ariel perlu kita dukung jadi presiden, pak
      biar bisa mengadakan gerakan buka dulu topengmu...

      Hapus
  13. Balasan
    1. dooh jangan bikin aku cemburu dong...

      Hapus
  14. Apapun benderanya itu mungkin hanya sebuah simbol ideologi, namun tujuan akhir masing-masing biasanya selalu lari dari komitmen. Makanya banyak potisi yang tumbang Kang, karena oknum-oknum tersebut telah banyak mengkhianati doa dan janji mereka dengan menyebut nama Tuhan mereka.

    He...x9 (aku bukannya kiyai loh Kang ! hanya seorang blogger saja)

    Sukses selalu
    Salam Wisata

    BalasHapus
  15. di dunia itu, tuhan pun seringkali hanya jadi kendaraan doang...

    BalasHapus
  16. artikel kang Muso Munawar nya biar disimpen dalam hati.
    sayah mah cari musuh sayah...mana...mana...mana...

    Tak terdengar PKI korup.
    PKI isdebes (sambil kepalkan tinju)

    BalasHapus
    Balasan
    1. okelah kalo begitu aku siapin dukungan...

      Hapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena