24 April 2012

Supri

#Semua Umur

Ada sebuah ketidaknyambungan terencana antara harapan dan kenyataan yang menjadi rutinitas setiap kali cuti. Saat masih di tengah hutan, yang terbayang akan cuti adalah istirahat panjang dan puas-puasin bobo siang. Padahal kenyataan di lapangan, semua bayangan itu tetaplah antara ada dan tiada. Anak istri yang sekian lama ditinggalkan, tidaklah sepantasnya kembali ditinggalkan ke alam mimpi sepanjang waktu.

Mereka yang selama 3 bulan terkungkung di dalam rumah sudah pasti mengingkan penyegaran suasana. Makanya tak heran bila jatah cuti 2 minggu, bisa santai di rumah paling banter 3 atau 4 hari saja. Selebihnya lebih banyak di luar rumah mencari hawa segar sebelum mereka kembali ke segala keterbatasan sampai jatuh masa cutiku berikutnya.

Mungkin disitulah letaknya apa yang disebut keseimbangan. Sekian bulan istri hanya menerima nafkah lahir saja, itu saatnya kebutuhan batinnya harus diisi. Sekian lama anak-anak hanya tahu belaian ibu, saat itu pelukan seorang ayah musti mereka rasakan. Bila dikerjaan aku kemana-mana diantar supir, kembali ke rumah adalah saatnya aku jadi supir.

Dan bila bicara tentang profesi supir, aku jadi kepikiran tentang keseharianku. Awalnya aku tak pernah tahu kenapa supir sarana yang paling rewel pun tak pernah menolak ketika aku minta antar. Padahal banyak kasus disini dimana supir tak mau melayani orang-orang tertentu atau mau melayani tapi sambil manyun. Rahasia besar itu baru terungkap ketika ada yang keceplosan bilang, "saya suka nganter bapak karena bapak mau gantian nyupir. Saya kan jadi bisa istirahat..."

Waktu mau cuti, ke Banjarmasin aku pakai travel. Baru seperempat perjalanan, aku merasa ada yang tidak beres pada lajunya kendaraan. Kadang oleng dan bolak balik berhenti sampai akhirnya supir bilang mau istirahat dulu karena ngantuk. Penumpang yang lain oke saja daripada celaka. Tapi mereka bisa mengiyakan karena memang pakai penerbangan siang. Aku yang harus terbang jam setengah tujuh pagi tentu saja menolak soalnya ga bakalan keburu. Dikomplen begitu, eh supir travelnya malah menawarkan aku yang bawa mobil. Antara enek dan kasian, jadilah aku yang jadi supir tembak sampai ke bandara.

Itu cuma dua contoh dari sekian banyak keapesanku harus jadi supir yang tidak pada tempatnya. Mungkin sebenarnya aku memang berkepribadian supir makanya disarankan berprofesi sebagai supir pribadi. Atau malah harus ganti nama jadi Supri..?

Hehehe jalani saja lah...
Toh dengan begitu aku jadi punya kesempatan untuk merasa lebih baik daripada seorang ulama. Sama-sama membawa banyak orang ke jalan yang benar, tapi kalo pak kyai lagi khotbah kebanyakan orang malah ngantuk tak jarang sampai ketiduran. Beda banget saat aku nyupir, yang lagi tidurpun terjaga dan tak henti-hentinya menyebut nama tuhan.

Astagfirullah..
Astagfirullah...

9 comments:

  1. hahahhaha, ganti nama gih mas ;p

    BalasHapus
  2. sembalap toh..? mosok..ra percoyo..

    BalasHapus
  3. Nah itu gak enaknya bisa nyetir mobil, selalu di andalkan kalau sopir aslinya ngantuk atau kecapekan. Tapi mas Supri, eh...Mas Rawin enak di kantor ada sopirnya lha aku mesti kebagian jadi sopir bila ada acara yg kudu harus menggunakan kendaraan. Gak enak jadi sopir gak iso santai dan bercanda dalam kendaraan sama teman. (hahahaha...pengene enak ae)

    BalasHapus
  4. wkkk.wkk..lha piye...le nyopir...marai..senam jantung para penumpang... dadi terus pada nyebuuut....

    pak tolong antar ke lapangan karang....wkkk..wkk.. cincing..sarung...#kabuuuuur.....

    BalasHapus
  5. yang penting tidak ketinggalan pesawat kan mas,walaupun harus jadi supir dadakan :)

    BalasHapus
  6. gaya nyetirnya kaya lewis hamilton yg agresif dan nekat atau kimi raikonnen yg tenang?

    #apapaun gayanya selalu ingat penumpang

    BalasHapus
  7. Rename : Supri Mugi Slamet

    BalasHapus
  8. wah pak rawin pernah gantiin supir travel ?
    jadi supir keluarga lebih bermakna pak. bisa nyenengin keluarga, terutama anak.

    BalasHapus
  9. maksudnya ketakutan, karena ngebut.. gitu ?

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena