21 Januari 2012

Salam Dari Tamianglayang

Seharusnya jurnal ini aku tulis kemarin. Tepat setahun sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di Tamianglayang yang merupakan ibu kota kabupaten Barito Timur. Sebuah kabupaten pemekaran baru di wilayah Kalimantan Tengah.

Saat itu aku baru dua hari bergabung di tempat kerja baru yang langsung menugaskan aku ke pedalaman Kalimantan. Hanya berbekal tiket Jakarta Banjarmasin aku berangkat tanpa kawan atau pencerahan tambahan dari kantor selain kata Tamianglayang yang jadi tujuan. Begitu mendarat di bandara Syamsudin Noor, sempat aku terdiam sejenak mengingatkan diri bahwa aku berada di daerah asing dan waktu sudah larut malam. Tanpa panduan aku harus ambil keputusan dari sekian banyak penawaran yang aku temukan. Bagaimanapun juga aku belum tahu situasi bandara, terminal dan kotanya sekondusif Jogja atau sedikit menyeramkan seperti Jakarta dengan kekejaman calo Pulogadungnya.

Baru saat itu aku tahu bila bandara terletak di Banjarbaru yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Banjarmasin. Baru saat itu juga aku tahu bahwa mencari kendaraan umum disana tidak semudah di Jawa. Sulit untuk mendapatkan bus antar kota bila kita mencegat di jalan. Beruntung saat itu aku masih kebagian bus terakhir walau sempat pontang panting kebingungan.

Untuk yang kebetulan akan menuju ke Tamianglayang untuk pertama kalinya, mungkin bisa sedikit aku kasih gambaran. Ada beberapa pilihan transportasi dari bandara. Yang pengen langsung dan eksklusif, bisa mencarter kendaraan semacam avanza yang ngetem di parkiran taksi. Tarif umumnya adalah 700 ribuan tergantung sopir atau calonya mau ngemplang apa engga. Tapi kalo mau jalan keluar parkiran bandara sedikit dan pinter nawar, biasanya 500 ribu juga mau. Paling praktis adalah menggunakan travel. Untuk yang ini kita harus pesen per telpon dulu agar tahu jam keberangkatannya. Kendaraan yang digunakan kebanyakan jenis elf atau L300 dengan tarif 100 ribu per orang.

Menggunakan bus tarifnya lebih murah. Non AC 50 ribu dan AC 70 ribu. Untuk mendapatkan bus kita harus ke terminal Banjarmasin dulu yang terletak di km 6 atau orang Banjar bilang pal 6. Bila masih siang, dari bandara kita bisa gunakan taksi colt atau lebih suka aku sebut angkot dengan tarif 10 ribu. Menggunakan taksi argo tarif resminya 100 ribu. Tapi kenyataan di lapangan suka berbeda. Walau disebut taksi argo, kayaknya belum pernah aku lihat mereka menggunakan argo dan lebih suka borongan. Bisa ditawar jadi 60 atau 70 ribu per orang tapi harus bawa penumpang lain. Kalo tidak bawa banyak barang, aku lebih suka ngojek dengan tarif 30 ribu.

Kalo malas menempuh perjalanan darat selama 6 jam, kita bisa menggunakan pesawat kecil yang terbang sehari sekali dari Syamsudin Noor ke bandara perintis Warukin di Tanjung. Tarifnya sekitar 600 ribuan dengan waktu tempuh sekitar setengah jam. Dari Tanjung ke Tamianglayang harus menggunakan jalan darat dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.

Kira-kira begitu gambaran sekilas tentang sarana transportasi dari Banjarmasin menuju Tamianglayang. Siapa tahu ada teman yang berminat mengais rejeki di wilayah yang baru dimekarkan dan sangat banyak peluang usaha disana. Perusahaan tambang batubara bejibun, kebun sawit atau karet juga teramat banyak. Kotanya kecil dan masih dikelilingi hutan dengan sarana hiburan sangat minim.

Cukup banyak pendatang dari berbagai daerah luar Kalimantan disana. Dari yang sekedar ingin bekerja sampai buka usaha. Tak perlulah mikir terlalu jauh bikin perusahaan besar. Saat pulang lebaran kemarin, aku duduk bersebelahan dengan perantau dari Wonogiri. Sudah 5 tahun beliau berjualan martabak di Tamianglayang dan katanya hasilnya lumayan bisa buat bangun rumah kecil-kecilan di kampung. Entah benar entah tidak, beliau juga cerita kalo lebaran kali ini bisa bawa pulang uang hampir 60 jutaan hasil dari 3 lapak martabaknya selama setahun. Sebuah penghasilan yang lumayan untuk usaha yang tak membutuhkan modal terlalu banyak atau sekolah sampai bangku kuliahan.

Kalo memang Tamianglayang bisa dijadikan tempat pengharapan, kenapa pula harus memaksakan diri bertahan di Jawa yang sudah penuh sesak manusia...?
Salam dari Tamianglayang...

---Update
Berhubung banyak yang nanya masalah transport via email, aku tulis saja disini bahwa aku biasanya pake Joko Travel nomor kontaknya 081 348 756 612. Armadanya Avanza dan Inova melayani travel reguler dan carter.

Misalkan mendarat terlalu malam dan ketinggalan travel reguler, tinggal telpon saja nanti dijemput dari bandara dan bisa numpang istirahat dan mandi di mess. Cuma lesehan tapi lumayan nyaman buat kaum backpacker daripada nginep di hotel.




22 comments:

  1. jualan martabak aja bisa bikin rumah yaa?.. setahun penghasilan bersih nya ngalah-ngalahin karyawan tambang #eh?

    kenapa gak coba bikin warung martabak aja wins?

    BalasHapus
  2. Wew, kota Tamianglayang sebegitu sejahteranyakah? Sampe2 penjual martabak bisa sukses gitu mas. sebenarnya saya baru sih dengar ttg tempat ini dari mas rawins. hehehe, geograpi jeblok :))

    BalasHapus
  3. hebat juga ya penjual martabak itu, penghasilannya cukup banyak

    BalasHapus
  4. sodara saya juga ada yang kerja di perusahaan batu bara di kalimantan,sempat di pindahin ke sumatera,tapi di pindahin lagi ke kalimantan,,cuma gak tau di daerah mana

    BalasHapus
  5. oiiiii slam blogger gw orang tamiang hehe

    BalasHapus
  6. ya tamiang memang seperti itu,,pedagang masih sedikit jdi peluang usahanya juga lumayan besar,,kalau mau coba silakan datang ke kota tercinta kami,,kota manuwu/tamiang layang

    BalasHapus
  7. Tamiang layang...dari kata2nya sih seperti di daerah sunda ya kang :D
    Jadi penasaran eung pengen kesana

    BalasHapus
  8. info terbaru nya donk transportasi dari bandara syamsudin noor banjarmasin ke tamianglayang..
    rencana nya saya bulan mei mau ke tamianglayang..

    BalasHapus
  9. Pake travel kijang inova yg ada di dkt pintu keluar bandara,harga nya di kisaran 100.000 - 120.000,lumayan nyaman mengingat waktu tempuh yg lumayan lama antara 6 - 7 jam,area banjar - tamiang gak ada macet lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau nyampe bandara jam 11 mlm bg, jalan keluar buat ke tamiang layang gmn bro.?

      Hapus
  10. wahh keren,,ga sia2 dong suamiku bakalan dipindah tugas ke tamiang layang,, :D

    BalasHapus
  11. Aku biasa pake Joko Travel. Bisa pesen avanza atau inova. Kalo mau irit ikut armada reguler, kalo pengen cepet carter aja. No kontaknya 081348756612. Semoga membantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau jam 11 mlm nyampe bandara. Solusinya gmn klw mau ke tamiang layang bro.? Newbi aku

      Hapus
    2. Kontak aja nomor diatas, mas. Misalkan ga kebagian travel reguler dan ga mau nyarter, bisa numpang istirahat di mess travelnya. Dari bandara ke mess minta dijemput aja.

      Hapus
  12. Hehe he.....Ogut orang Tamiang Layang ( Dorong ), tapi tinggal di Jakarta......, pulang belum tentu 5 tahun sekali..........

    BalasHapus
    Balasan
    1. pulang lah
      banyak wawey mawiney nungguin, hehe

      Hapus
  13. mohon info, nomer travel ke barito timur,,sekian terima kasih,,

    BalasHapus
  14. satu tahun lagi aku akan pulang ke kalimantan..tepatnya desa dorong...sekarang aku masih di jawa menempuh pendidikan kuliah ku...rindu rasanya aku dengan kampung halaman..ku

    BalasHapus
    Balasan
    1. lahirnya di dorong ya..?
      temennya si oneng kristin pasti ini...

      Hapus
    2. Siapa itu..aku ga kenall
      nama aslinya apa

      Hapus
  15. Halo mas, salam kenal ya.

    Saya pertama kali baca blog mas ini di awal bulan Juni waktu tau suami saya diperlukan untuk ke Tamiang setelah lebaran. Agak kaget awalnya karena suami dan saya yang sama2 tinggal di pinggiran Jakarta belum pernah ke Kalimantan sebelumnya.

    Stigma mengenai suku, ritual, transportasi, dsb masih menempel kuat di benak saya. Jadi saya super khawatir waktu suami mau diberangkatkan kesana. Syukurlah saya ketemu blog mas, dan saya jadi dapat gambaran yang lebih jelas dan juga faktual.

    Lucunya, driver yang dipesan sama perusahaan tempat suami saya itu Joko Travel dan yang nyetir kebetulan Pak Jokonya sendiri. Sebuah kebetulan yang menarik, mengingat blog mas tentang Tamiang ini dari 2012.

    Saya jadi tertarik untuk membaca sebagian besar aktifitas mas selama di Tamiang melalui post lainnya :)

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena