17 November 2011

Gotong Royong

Saat masih di kampung kemarin, pagi-pagi dikejutkan oleh suara kenthongan dan teriakan kebakaran. Ga sempat mikir panjang, hanya pakai kolor dan singlet aku lari keluar berbaur dengan tetangga yang berlarian. Rumah yang kebakaran memang agak jauh dari rumah ortu, tapi hanya berselang beberapa rumah yang berjejer rapat itu ada rumah adikku.

Beruntunglah jadi orang desa yang sudah terbiasa gotong royong dalam segala hal. Sehingga setiap ada kejadian semacam ini, semua bisa bergerak ambil posisi masing-masing tanpa harus briefing. Yang merasa pemberani langsung ke garis depan. Yang badannya kuat tapi kurang berani jadi bagian mondar-mandir angkut air. Ada yang atur lalu lintas, ada yang angkut dan mengamankan barang-barang rumah sebelahnya dan sebagainya.

Posisi garis belakang yang tak kalah pentingnya adalah bagian mengurus anak-anak dan orang-orang histeris. Massa yang panik ini kadang malah lebih berbahaya dari kebakaran itu sendiri. Bukan hal yang aneh ada ibu-ibu lari keluar rumah sambil memeluk bantal sementara bayinya masih ada di tempat tidur. Hal yang sepele seperti membuka pintu pun kadang jadi sulit dalam kondisi seperti itu. Kunci sudah ditangan, tapi tak juga bisa memasukannya ke lubang kunci. Pernah pula aku temukan kejadian ada orang lari sambil bugil entah habis ngapain sebelumnya.

Walau sudah terbiasa kerja tim dalam situasi darurat, kekacauan tetap saja tak bisa hilang. Salah satunya dalam hal penyampaian informasi. Bisa dibilang setiap orang desa hafal kode-kode kenthongan yang suka dijadikan lagu dalam lomba tek tek tiap agustusan. Siji siji rojopati... loro loro ono maling... dst dst

Tapi setiap ada kejadian, jarang aku dengar kode itu mereka gunakan. Yang ada hanya kenthong titir alias dipukul bertalu-talu secara cepat. Payahnya bila ada yang dengar suara titir itu, setiap orang yang berada dekat masjid atau pos ronda akan melakukan hal yang sama. Jadinya warga seringkali bingung kejadiannya dimana karena suara kenthongan terdengar di seluruh pelosok negeri.

Begitu api berhasil dipadamkan, warga kembali berkumpul di lokasi untuk kerja bakti untuk membangun kembali rumah korban. Warga yang punya kayu atau genteng bekas di rumahnya secara sukarela dibawa serta. Bahan bangunan lain yang harus dibeli dibayar menggunakan kas RT atau desa. Ala kadarnya memang. Tapi minimal korban punya rumah darurat untuk berteduh dan mengamankan harta benda tersisa.

Dalam hati aku bersyukur. Di jaman global yang serba mbuh ini, sifat gotong royong masih tersisa walau hanya ada di pinggiran. Di kota, ada tetangga hajatan atau bahkan meninggal, kalo ga kenal-kenal amat, masih banyak orang yang cuek bebek. Boro-boro turun tangan membantu, masih mau nengok saja sudah untung. Dan sikap seperti ini, kayaknya makin lama semakin mewabah di antara kita.

Kita makin cuek dengan sesama
Bisa jadi karena kekeluargaan itu memang ibarat kentut
Kita yang melakukan tapi hanya orang lain yang merasakan
Baunya...

7 comments:

  1. Alhamdulillah masih ada gotong royong. Kalau di kota kayakx jangan ditanya, seringakli mungkin diitung untung ruginya dulu.
    Wah nek nang umahku, iso2 aku melu titir tuch,nduwe kentongan juga soale :D

    BalasHapus
  2. berkunjung sob..salam kenal..sukses ngeblog-nya..:)

    BalasHapus
  3. kalo aku tinggal di pinggiran Om, jadi sama tetangga masih pedulian sih.. gotong royong & pengajian juga masih sering.

    BalasHapus
  4. Sangat menyenangkan kalo masih ada sifat gotong royong seperti itu ya.

    Terakhir dengar kata 'gotong royong' ya waktu sekolah SD aja, lepas itu udah jarang denger lagi.

    Yang lari sambil bugil difoto gak pak?

    BalasHapus
  5. kalau sy petik dari kata2 ini--> setiap orang yang berada dekat masjid atau pos ronda akan melakukan hal yang sama<--benr juga ya ,, kalau semua otomatis pukul kentongan trus posisi tepatnya kebakaran malah bingung kan,, sementara tuh butuh cepat bantuan

    BalasHapus
  6. gotong royong dan peduli terhadap lingkungan serta sesama memang perlu di tingkatkan.

    BalasHapus
  7. masih inget pulang terakhir kemaren disuruh bapak bantuin duduk kuburan meski hanya dengan upah rokok dua batang...,,;D

    eh, lama ngga kesini kok comment form`nya jadi pop up gini yak....??

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena