24 Oktober 2011

Kalanis

Seminggu terakhir ini aku menjadi warga dadakan di Kalanis, sebuah perkampungan kecil di tepi Sungai Napu yang merupakan anak sungai Barito. Sekian lama menjadi orang gunung, sempat kena jetlag juga ketika harus berubah jadi manusia sungai. Agak berat harus belajar membiasakan mandi, cuci, kakus dan minum dari sungai yang sama.

Pemukiman di kampung pedalaman ini memanjang mengikuti aliran sungai. Sebagian rumah dibangun di darat dalam bentuk panggung dan sebagian lagi dibuat terapung di pinggiran sungai. Aku juga ga ngerti dengan adat mereka yang membangun rumah terapung bila di tepi sungai sudah ada bangunan. Padahal di belakang rumah yang di darat itu, tidak ada bangunan lain dan hanya hutan atau semak belukar. Tidak ada penjelasan teknis yang aku temukan selain kebiasaan turun temurun yang tak bisa jauh dari sungai.

Rumah-rumah yang di atas air, semula aku kira didirikan dengan tiang kayu ke dasar sungai. Ternyata dibawah lantai rumah hanya ada gelondongan kayu-kayu besar yang diikat seperti rakit. Rumah diikat dengan tali besar ke tepi sungai agar tidak hanyut tapi masih memungkinkan untuk naik turun mengikuti pasang surutnya sungai. Tak aneh saat ada perahu besar atau tongkag lewat, rumah akan goyang-goyang seperti naik ayunan.

Karena tidak ada jalan darat sebagai urat nadi transportasi, otomatis semua kegiatan termasuk ekonomi tergantung pada sungai. Barang-barang kebutuhan sehari-hari disuplai oleh pedagang keliling berperahu. Untuk pedagang sayur keliling, cukup menggunakan sampan. Yang sekelas mini market, perahunya lumayan besar dan barangnya komplet dari sekedar sabun mandi sampai bahan bakar minyak. Perahu tukang gado-gado pun ada. Bagian depan ada etalase dan dapur kecil dan selebihnya dipasang meja kursi sebagaimana layaknya warung makan di darat.

Walau rumah-rumah kayu kusam itu terkesan seragam, namun strata sosial masih tetap ada dan bisa dilihat dari sarana transportasinya. Yang ekonominya agak kurang biasanya cuma punya sampan kayuh. Sedikit diatasnya masih pakai sampan tapi sudah dipasangin mesin kelotok. Strata selanjutnya adalah yang didepan rumahnya tertambat speedboat. Pokoknya tetap sama dengan masyarakat darat yang bisa dilihat tingkat ekonominya dari kendaraan yang dimiliki. Sepeda onthel, sepeda motor atau mobil.

Kalo di darat banyak anak-anak muda yang suka kebut-kebutan pakai sepeda motor, disini pun kondisinya tak jauh berbeda. Anak kecil paling umur 10 tahun sudah lincah bermanuver pakai perahu kelotok atau speedboat. Tak jelas berapa biaya pecicilan mereka, mengingat speedboat yang aku pakai saja butuh bensin satu liter untuk menempuh jarak satu kilometer. Padahal bensin disini harganya antara 7 atau 8 ribu perak per liternya.

Kalo di perkampungan darat khususnya di Jawa suka ada papan peringatan bertuliskan "ngebut benjut", disini yang berlaku malah sebaliknya. Bolak balik naik speedboat perlahan malah akan dikomplen penghuni rumah terapung karena ombaknya lebih besar daripada waktu ngebut. Kalo ada yang maksa bikin papan pengumuman semacam itu, mungkin akan ditulis "lambat sikaaat..."

Ada yang berminat wisata sungai di pedalaman..?

9 comments:

  1. wah Om mahal banget bensin seliter??
    saya pernah nonton di tipi pas diliput mereka yang tinggal di sekitar sungai Barito memilih berumah di sana ada yang beralasan airnya gratis, cuman kayu2 yang di bawah rumah(dari bambu) itu tiap tahun harus diganti, plus lagi harus waspada kalau2 ada ular yang masuk...

    Om2 sebagai perantau neh, saya pingin tahu jawaban Om...plisss bantuin jawab aja Om di blog saya yang ini:

    http://dmasking.blogspot.com/2011/10/what-do-you-think.html

    BalasHapus
  2. Waah, kalo naruh apa2 apa ga goyang tuch mas? Seru jg kayaknya hehe

    BalasHapus
  3. Kok cuma seminggu, ngga kurang po? :p

    BalasHapus
  4. sy kira rumah2 kayu di pinggiran2 sungai kalimantan sn pd umumnya ada tiang sampai tanah,, ternyata mengapung y,, dan lucunya kalo makin kebut tuh spedboat makin di anjurkan,,hehe,, hal 2 yg unik kalo ngitu

    BalasHapus
  5. ngebut benjut vs lambat sikat, kayaknya cocok nih tinggal di sana

    BalasHapus
  6. teman saya waktu pertama diangkat jadi guru, ditempatkan di pedalaman kalbar, untuk mencapai sekolah dia tiap hari harus mendayung selama 30 menit dan itu dijalani selama 10 tahun. Awalnya membosankan, akhirnya setalh pindah ngajar, badanya lebih berisi karena tiap hari fitness alami.

    biaya pecicilan yang mahal apalagi kalo naiknya pelan. Udah ngabiskan bensin banyak, bisa benjut lagi wwwkkk

    BalasHapus
  7. wah seru kayae mas kalo cuma seminggu di situ... tapi klw sebulan, setahun,dst kayae bakalan beda ceritanya.. :D

    salam kenal mas

    BalasHapus
  8. maaf mas "Elsciour09" itu aku, salah pake ID.

    Yan Muhtadi Arba

    BalasHapus
  9. minum dimana? gawat tuh kalau dari air sungai yg dipakai untuk ngakus :D

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena