31 Juli 2011

Kejar Setoran

Kantor pusat kasih deadline, pekerjaanku membangun infrastruktur IT selesai tanggal 15 Agustus. Rencanaku, pekerjaan jaringan di lapangan bisa selesai hari ini, agar masuk puasa aku tinggal kerjain server di ruangan. Walau pekerjaan bukanlah alasan sebagaimana musafir atau masalah kesehatan, tetap saja aku tak yakin bisa bertahan naik turun tower di bawah panas yang menyengat. Iklim yang tak menentu bisa membuat cuaca berubah-ubah cepat dalam waktu pendek antara panas terik dan hujan lebat.

Kondisi jalan antar site yang lebih pantas disebut kubangan sangat menghambat mobilitas. Jarak sekitar 35 kilo dalam kondisi normal harus ditempuh dalam waktu 2 - 3 jam. Bila hujan turun, bisa setengah hari aku drifting ala fast furius di atas lumpur. Apalagi kalo dikasih bonus tergelincir ke selokan, harus nginep sambil nonton kuntilanak hutan ngeceng pun tak bisa aku hindari. Lebih parah lagi, minggu-minggu terakhir ini banyak kendaraan 4WD yang masuk bengkel. Sehingga aku harus ikhlas menguatkan hati untuk offroad bermodal kijang. Pas dengan callsign di radio, "kijang satu, kijang dua kejang-kejang..."

Hambatan kedua, tenaga bantuan skill IT yang aku dapat dari Jakarta hanya untuk programmer dan analis. Untuk networking dan IT support di lapangan menggunakan tenaga lokal yang hanya bisa bantu optimal di pekerjaan instalasi saja. Setting-setting perangkat tetap saja harus turun tangan sendiri. Akibatnya harus mondar mandir ke masing-masing site setiap kali ada masalah saat sinkronisasi perangkat. Menugaskan helper untuk setting client lebih banyak menimbulkan masalah baru daripada menyelesaikan masalah.

Lebih susahnya lagi, sinyal hape di site susah banget sehingga kesulitan untuk membimbing mereka lewat telpon. Nebeng radio tambang juga susah, karena repeater selalu sibuk dan susah untuk dipinjam jalurnya terlalu lama. Baru ngomong sebentar, sudah ada sopir dump truck yang teriak-teriak susah diatur. Bagaimana bisa menang, cuma modal HT ditubruk pakai RIG. Yang ada malah jadi ngedumel di radio. "Kutu satu, kutu kupret memanggil..."

Melihat kondisi lapangan seperti ini, aku jadi kurang optimis bisa mengejar target waktu. Teman-teman bagian software sudah aku minta bersabar sampai server siap. Toh mereka chatting seharian juga ga akan ada yang negur. Bilang saja lagi coding. Aku rada kasihan ke pasukan di lapangan yang selalu nanya, bisa engga masuk bulan puasa tanpa berpanas-panas di tambang. Aku cuma bisa menjawab pendek.

"Ada berita baik dan buruk, mau tahu yang mana dulu..?"
"Kabar buruknya dulu deh..."
"Buruknya, sampai saat ini kita belum punya kabar baik..."

Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankan...

Read More

30 Juli 2011

Bau Mudik

Puasa saja baru mau akan menjelang. Orang sudah mulai hiruk pikuk mempersiapkan lebaran. Tak terkecuali pekerja tambang yang banyak perantau dari Jawanya. Kasak kusuk dengan HRD agar bisa menggeser cuti disambung libur lebaran, tanya THR, cari tiket dan segala yang berbau mudik. Soal keseharian disini yang tak pernah dengar yang namanya adzan kayaknya tidak terpengaruh. Persis iklan minuman pokoknya. Apapun keyakinannya, yang penting lebaran harus pulang kampung...

Mudik lebaran memang bukan lagi soal lebaran apalagi puasa. Tak bisa lagi mengatakan mudik itu berkaitan dengan ibadah walau alasannya demi idul fitri. Bagaimana mungkin kita bisa merayakan kemenangan, bila saat mudik saja kita tak merasa salah makan minum di pinggir jalan siang hari. Apanya yang menang kalo dah begitu..?

Sepertinya mudik lebih lekat dengan budaya Jawa yang berprinsip, makan ga makan asal kumpul. Sehingga menjadi semacam keharusan kumpul keluarga saat lebaran. Yang bikin parah adalah mitos bahwa pemudik adalah orang yang sukses di rantau. Makanya saat pulang kampung, kita harus keliatan ngejreng, baju bagus, hape bagus dan sebagainya. Tak peduli di kota jadi gelandangan, pokoknya waktu mudik bisa bagi-bagi ke sanak saudara. Saat mau berangkat lagi, mulai deh tawarin hape kesana kemari atau nodong ke ortu minta ongkos buat balik.

Tak terlalu salah bila dikatakan orang Jawa perantau lebih sulit untuk sukses dibidang ekonomi. Mereka berbeda dengan suku lain yang tak pernah mikirin lebaran harus pulang. Padahal filosofinya sama, perantau itu harus sukses. Disini banyak teman dari suku lain yang bertahun-tahun tidak mau pulang kampung karena merasa belum berhasil. Kalo orang Jawa, sukses apa engga ga terlalu peduli. Yang penting lebaran bisa pulang dan kelihatan gaya saat kumpul keluarga. Makanya ada satu pemeo di kalangan perantau Jawa yang mengatakan, kerja setahun penuh duitnya habis saat mudik.

Aku tak ikut ribut cari tiket, karena karyawan penempatan dari Jakarta memang diurus kantor segala sesuatunya. Semoga saja sih orang HRD sigap dan tak ada yang tidak kebagian tiket saat mudik nanti. Aku cuma bolak balik ingetin kalo tiketku ke Jogja. Soalnya mereka kadang teledor kasih aku tiket ke Jakarta. Bisa kacaw tar dari Jakarta ke Jogjanya.

Bias ritual tahunan itu memang tidak bisa digeneralisir. Namun secara umum aku pikir begitu, termasuk ibue Citra. Tiap nelpon yang dibicarakan hanya mudik lebaran dan aku pulang kampung. Siapa yang ga empot-empotan hati, lama ga ketemu ditelpon bilang gini.

"Tar kalo mudik lebaran, kita coba posisi baru yuk? Kan ada mbahnya yang ngasuh Citra. Jadi agak bebas gituh.."
"Siyaaaap...!!! Emang ibu pengen posisi yang kayak gimana..??"
"Ibu selonjoran sambil nonton TV. Ayah yang nyuci ama nyetrika...!"
"Hmmmm @@#$%^&*...."
Read More

28 Juli 2011

Tidak Mandi

Setelah beberapa hari berkubang di lapangan, balik ke mess niatnya mau puas-puasin mandi. Eh, nyampe mess kran air dah mampet lagi. Struktur tanah disini memang lumayan menyebalkan untuk urusan pengairan. Bukannya tidak ada air. Bagaimanapun juga Kalimantan adalah bumi berair. Masalahnya ada di filter pompa yang selalu mampet oleh lumpur. Berkali-kali bor ulang menambah kedalaman pipa air, tetap saja mampet.

Suplai air menggunakan truk tangki tak pernah mencukupi untuk semua kebutuhan, walaupun bolak-balik kirim air tiada henti. Air yang diambil pun air sungai yang tidak bisa dijelaskan secara teknis tingkat kebersihannya. Sudah gitu, perilaku sebagian penghuni susah sekali ditertibkan. Kran seringkali dibiarkan terbuka sampai luber kemana-mana.

Mandi di kubangan atau sungai bisa menjadi alternatif. Namun tak boleh kita asal nyebur tanpa survai sebelumnya. Minimal nanya ke penduduk sekitar tentang keadaan sungai tersebut. Dalam atau tidak, banyak biawak apa tidak, itu memang tempat mandi atau khusus beol. Tak boleh lupa menanyakan disitu banyak cewek mandi apa engga. Kali aja mau sambil menyelam ngintip cewek mandi.

Bertanya ke penduduk setempat juga harus detil interogasinya. Pertanyaan sepotong-sepotong juga akan dapat jawaban setengah-setengah. Jangan sampai kita langsung nyebur walau orang situ sudah bilang disitu tidak ada ularnya. Perlu dikejar lagi kenapa tidak ada ular. Jangan-jangan semua ular menyingkir karena takut disantap buaya-buaya penghuni sungai itu...

Kembali ke kamar mandi mess
Masalahnya tak cuma soal kran. Ada sebagian orang yang belum bisa merubah kebiasaan mandi. Sudah tahu air harus dihemat, masih saja banyak yang mandinya gebyar gebyur tak cukup air satu bak. Sial bagi yang dapat nomor urut terakhir. Sudah kelamaan nunggu, tapi ga kebagian air. Suka heran juga dengan teman yang mandinya ga cukup setengah jam. Ngapain aja berlama-lama di kamar mandi.

Soalnya teman-teman satu mess katanya cowok tulen. Kalo cewek sih aku bisa mengerti, karena memang banyak lekak-lekuk yang harus dibersihkan. Cewek kan beda dengan cowok yang katanya selalu mengedepankan pikiran. Kalo cewek, karena perasaan sering diposisikan dominan, untuk urusan mandi pun wajar bila dirasakan segala sensasinya. Tak bisa panjangnya waktu cewek di kamar mandi itu dikatakan sebagai kelemotan.

Di banyak hal aku sudah merasakan hal itu
Seperti jaman nembak cewek dulu
Cuma ditanya, mau ga jadi pacar aku
Mau jawab saja harus pakai banyak acara

Mau... enggak... mau... enggak... mau...

Sambil ngitung rambut...
*jambak...
Read More

27 Juli 2011

Ibu dan Anak

Secara umum, kedekatan ibu dengan anak tak bisa disangsikan lagi. Sedekat apapun seorang bapak dengan anak, jarang yang bisa memberikan perhatian melebihi kasih sayang seorang ibu. Namun ini bukanlah sebuah kesalahan, karena secara naluriah manusia memang diciptakan seperti itu. Sejak jaman purba dimana kehidupan masih berjalan secara nomaden, tugas utama bapak adalah berburu untuk makan keluarga. Sedangkan tugas ibu adalah menjaga rumah dan anak-anak dari gangguan serangga atau binatang liar yang nyamperin ke rumah. Mungkin itu sebab kenapa laki-laki cenderung menyerang (ofensif) dan perempuan cenderung bertahan (defensif). Tapi bukan berarti bahwa perempuan itu lebih lemah dari laki-laki. Karena survai membuktikan, belum pernah aku dengar perempuan minum obat kuat...

Begitu lekatnya anak dengan ibu, sampai-sampai banyak hal yang berkaitan dengan anak selalu digandengkan dengan ibu. Layanan kesehatan saja menyediakan rumah sakit khusus ibu dan anak, namun tak ada rumah sakit khusus bapak. Di dunia maya, yang pernah aku rasakan saat aku pasang headshot atau foto profil anak-anak. Banyak orang yang belum kenal memanggilku mbak, teh, bu atau bun. Sampai aku tanya, bun apaan..? Penggemar sabun maksudnya..?

Pemahaman tentang kedekatan ini kadang disalahartikan oleh sebagian suami yang kebetulan bisa bersama keluarga sehari-hari. Beberapa teman pernah cerita, kalo suaminya jarang mau bantu-bantu mengurus anak. Aku sendiri tak tahu kenapa cape seharian bekerja digunakan sebagai dalih. Padahal istri pun pasti lelah setelah seharian ngurus anak dan rumah. Memang pekerjaan perempuan itu tidak pernah tampak bekasnya, namun aku bisa mengerti bila capenya bisa melebihi pekerjaan laki-laki. Makanya aku tak ingin melepaskan istri sendirian. Gantian bertugas sebenarnya cukup indah juga dijalani. Aku tak boleh malas mengganti celana Citra saat pipis. Orang saat aku kepingin "pipis" saja, ibue juga suka ngebukain celanaku...

Indahnya kebersamaan mengurus anak, itu yang kadang membuatku sedih saat harus kerja jauh seperti ini. Mau tidak mau aku harus kagum dengan ketegaran ibue Citra menyelesaikan semua kewajibannya tanpa bantuanku. Kalo ditanya apa pandanganku tentang ibue Citra, bisa panjang banget ceritanya. Padahal aku di mata ibue cukup sederhana. ABCD, katanya.

"Apaan ABCD..?"
"Asik, Baik, Cute & D'bestlah..."
"Segitu doang..?"
"EFGH juga..."
"Apalagi tuh..?"
"Elegant, Famous, Good person & Hebat banget pokoknya..."
"Trus apa lagi...?"
"IJKL, yah..."
"Maksudnya..?"
"I'm Just Kidding Lho..."

 
Read More

Berkubang

Tiap pulang cuti, ibue Citra suka komplen. Katanya kerja di tambang yang terjamin akomodasi, tapi malah tambah kurus dan dekil.

Kalo di mess memang iya. Makan 3 kali boleh nambah sekuatnya perut. Tidur di kamar berAC yang adem asal genset tidak lagi ngadat. Nyuci ga perlu mikirin, tinggal taruh di keranjang besoknya sudah tersetrika rapi. Mandi juga bebas selama kran tidak mampet karena filter pompanya tersumbat lumpur gambut.

Sayangnya aku tuh tidak kerja di mess. Melainkan harus ke lapangan yang panas berdebu saat kemarau dan penuh lumpur saat hujan. Saat di lapangan itulah, kadang aku tak bisa kembali ke mess. Baik karena kerjaan belum beres atau kendaraan sarana terhambat medan tidak bisa jemput.

Waktu ga bisa pulang itu, kalo makan sih ga bingung karena dikirim nasi bungkus. Yang agak susah tuh soal mandi dan buang air. Kehidupanku hanya tertumpu pada kubangan atau bekas galian alat berat.

Bagaimana aku tidak dekil bila cuci muka saja di genangan bekas minum babi hutan. Makanya suka mangkel kalo ada teman habis buang air trus ceboknya dengan cara mencelupkan pantatnya ke air.

Paling seneng itu kalo nemu sungai berair jernih. Bisa puas-puasin mandi disitu biarpun ga bisa nyabun. Yang penting tau tata caranya biar tidak terjadi masalah apa-apa. Berdoa itu wajib, minimal permisi dulu pada penghuni hutan. Saat masuk air bebas saja ga harus sambil menghadap kiblat. Tapi selama mandi kita harus menghadap ke batu tempat kita menaruh baju.

Bukan soal kualat atau apa
Takut pas mandi bajunya ilang aja
Tar dikira monyet aneh buntutnya didepan...

Mobile Post via XPeria

Read More

26 Juli 2011

Mbek Citra

Sudah tau cutiku diundur sampe habis lebaran, ibue Citra malah terus-terusan mengusik rasa kangenku dengan mengirim foto-foto Citra sehari-hari. Memang ada rasa bahagia bisa mengikuti perkembangan Citra walau jauh di seberang lautan. Namun rasa haru juga selalu muncul mengingat Citra yang tak mendapat perhatian sebagaimana mestinya. Bapaknya pulang tiap beberapa bulan sekali. Sedangkan ibue harus berbagi perhatian kepada adiknya yang masih dalam kandungan.

Apalagi di foto-foto terakhir, Citra semakin akrab saja dengan binatang peliharaan mbahnya. Sampai ibue kadang bingung kalo mau pulang ke Jogja. Bukan bingung tentang kesibukannya ngurus rumah dan anak sendirian. Tapi tentang teman-teman akrab Citra selama di kampung. Kayaknya ga mungkin ayam, kelinci, kucing dan kambing ikut diboyong ke Jogja. Biar kata rumah di belakang kebon binatang Gembiraloka, emang bisa nitipin kambing disana agar ada yang urus...?

Bisa jadi Citra memang bisa memahami kerepotan ibunya sehingga tak perlu lagi makan disuapin walau baru setahun umurnya. Makan dengan ayam dan mandi dengan ikan di kolam belakang sudah jadi kegiatan sehari-hari yang bisa bikin dia ngambek kalo dilarang. Ini yang suka bikin aku sedih. Saat nelpon ibue dan minta bicara dengan Citra, hapenya malah dilempar lalu memilih ngoceh dengan kambingnya.

Namun aku bisa sedikit menghibur diri dengan kenyataan itu. Paling tidak aku yakin kalo Citra itu aku banget. Bagaimanapun juga, masa kecilku dulu seperti itu. Menggembala kambing, cari kayu bakar ke hutan, mandi di sungai, cari belut di sawah menjadi hiburan sehari-hari. Karena memang ortu jaman dulu tak mungkin bisa kasih perhatian seperti ortu jaman sekarang.

Setiap kali nelpon ibue sambil nemenin Citra ngobrol dengan kambing, aku cuma bisa senyam-senyum sendiri mendengarnya. Citra ngoceh pake bahasa bayi dan dijawab kambing dengan bahasanya sendiri. Pake bahasa yang berlainan, tapi kedengarannya nyambung tuh obrolan. Sempat aku suruh rekam obrolan mereka dan aku coba analisa pake software.

Hasilnya kira-kira begini (C: Citra, M : Mbek)
C: "Mbek, mandi di kolam lele yuk..."
M: "Ogah. Kamu rajin mandi juga rambutnya kriwil kaya aku.."
C: "Iya ya. Ayah jarang mandi juga cakep.."
M: "Tapi bau ya..?"
C: "Iya. Tapi ayah bau wangi, kalo kamu bau prengus..."
M: "Biarin. Yang penting ga seprengus yang baca tulisan ini..."

Read More

25 Juli 2011

Mana Yang Pinter..?

Ada sebuah anehdot di perusahaan ini tentang karyawan lokal yang mengatakan, asal bisa copy paste berarti sudah memenuhi syarat untuk menjadi admin.  Mengenaskan, tapi memang begitulah adanya. Berawal dari keinginan perusahaan untuk memberdayakan tenaga kerja lokal yang lahannya tergusur untuk penambangan, ditambah budaya pemaksaan ala yang punya kawasan, membuat penerimaan karyawan tidak berjalan sesuai kebutuhan spesifikasi.

Awal datang kemari, ada sedikit keprihatinan saat melihat pekerjaan yang menurutku bisa aku selesaikan sendiri, disini dikerjakan oleh beberapa orang staf. Sepintas tak ada yang kelihatan ganjil. Namun setelah dilihat lebih dekat, mau ga mau aku merasa iba sekaligus pengen ketawa. Mereka memang mengerjakan tabel-tabel menggunakan excel. Tapi saat melakukan perhitungan, mereka sibuk dengan kertas dan kalkulator untuk kemudian hasilnya dimasukan ke tabel excelnya.

Aku ajari mereka membuat satu rumus sederhana dan tinggal copy paste. Pekerjaan hari itu pun bisa selesai lebih cepat. Namun besoknya aku ditegur juragan mereka karena pekerjaan berantakan. Waktu aku cek, baru ketahuan kalo rumus yang aku bikin itu tidak cuma digunakan di tabel yang dimaksud. Tapi setiap mereka kerjakan tabel lain yang perhitungannya beda, rumus itu juga yang mereka kopikan.

Pelatihan demi pelatihan non formal aku lakukan. Walau progresnya lumayan lambat, namun sudah lebih mendingan dibanding saat aku pertama datang dulu. Dan ada beberapa benang merah yang bisa aku bilang kalo mereka itu Indonesia Raya banget. Dimana kita terbelenggu oleh pepatah lama yang mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Tanya di jalan malu-maluin...

Seolah ada pemahaman yang menyatakan, bertanya artinya bodoh. Makanya rasa penasaran sepertinya tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan atau pelatihan. Karena takut salah atau takut dianggap bodoh, di sekolah atau workshop, peserta jarang mau bertanya. Tetapi setelah sesi berakhir, peserta mengerumuni narasumber untuk minta penjelasan tambahan. Lebih payahnya lagi, disuruh tanya malah diam, kalo ditanya tambah diam lagi...

Dalam budaya kita, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi atau jabatan yang dimiliki. Passion atau rasa cinta terhadap sesuatu kurang dihargai. Akibatnya, bidang pengembangan kreatifitas kalah populer oleh pencapaian karir yang dianggap bisa lebih cepat mendatangkan kekayaan. Orang jadi lebih suka bayar duit segepok untuk nyogok biar dapat jabatan daripada buang sedikit duit untuk meningkatkan kemampuan. Kuliahpun kadangkala hanya menargetkan ijasah dan wisuda secepatnya tanpa mikir apa yang dia dapat selama kuliah. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun diterima sebagai sesuatu yang wajar.

Tingginya jabatan yang dimiliki lebih dihargai daripada cara memperoleh jabatan tersebut. Tidak heran bila banyak orang menyukai sinetron atau cerita yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak. Gelandangan cantik yang tiba-tiba diperistri direktur dan sejenisnya.

Pendidikan dan pelatihan seolah identik dengan hafalan berbasis kunci jawaban, bukan pada pengertian. Makanya kita lebih mudah menerima apa yang kita dapatkan dari pengajar tapi bingung ketika harus mengembangkan apa yang sudah diketahui. Lebih parahnya lagi, kita suka fanatik dengan apa yang telah kita dapatkan. Sehingga ketika ada pemahaman baru, sangat susah untuk diterima dan tak jarang ditentang habis-habisan. Tak aneh kalo kita mudah cari orang pinter tapi susah cari yang cerdas.

Seperti percakapan dua orang teman yang mau minta rokok.
"Kalo aku bisa nebak jumlah rokok di sakumu, boleh bagi sebatang ga..?"
"Jangankan satu, lima-limanya aku kasihin kamu!"
"Sip! ada tiga batang kan...!"

#Mana yang pinter..?

Read More

24 Juli 2011

Mitos Awan Kodok

Aku pikir, nephelomancy cuma ada di serial Avatar Last Airbender atau Harry Potter. Ternyata ada temen disini yang juga suka memperhatikan bentuk awan dan mencoba-coba mengaitkan dengan sesuatu. Nephelomancy sendiri merupakan ramalan yang memperhatikan bentuk awan untuk memperkirakan sesuatu yang akan terjadi. Namun bukan ramalan cuaca sebagaimana yang dilakukan BMKG. Apa lagi ramalan pra pernikahan.

Aku yang tak terlalu memikirkan mitos-mitos semacam itu, awalnya cuek bebek. Ketika ada teman lain yang gabung dan mulai membahas bentuk-bentuk awan, aku masih saja diam. Aku baru terusik ketika mereka mulai mengadudombakan mitos awan itu dengan masalah keyakinan. Mereka saling mengunggulkan kebenaran masing-masing keyakinannya bermodal gambar-gambar koleksi bentuk awan di letopnya. Aku tak habis pikir, ngapain beradu pendapat tentang satu hal yang sama dari dua sisi yang berbeda. Saling bersaing memamerkan bentuk awannya sebagai kebesaran Tuhannya masing-masing. Terganggu dengan bibit keributan yang ga perlu, aku potong saja mereka dengan dengan mempertanyakan, apakah kalo awannya berbentuk tulisan fakyu atau gambar kucing kawin itu bukan kebesaran Tuhan..?

Walau aku tak begitu percaya dengan mitos jadul, namun aku berusaha untuk menghormatinya. Biarpun kadang teramat bersebrangan dengan apa yang aku yakini. Karena yang namanya mitos tak akan pernah hilang dan selalu mengikuti perkembangan jaman. Tak perlu menganggap mitos hanya milik orang kampung dan menyebutnya sebagai klenik. Orang kota berpendidikan tinggi pun seringkali terbelenggu dalam lingkaran mitos dan selalu menciptakan mitos-mitos baru sesuai kecanggihan otak mereka.

Mitos jadul dan modern tetap berdasar pada kekuatan yang identik namun berbeda bentuk. Orang dulu selalu mengaitkan dengan hal gaib seperti Tuhan, malaikat, keramat, setan atau iblis sesuai kepercayaan mereka. Manusia modern pun tak pernah bisa lepas dari kegaiban baru yang disebut uang. Mengenai bentuknya, terserah keyakinan dia menjadikan uang itu sebagai tuhan atau setan. Yang jelas, mereka begitu mengagulkan kekuatannya.

Kenapa aku berusaha menghormati mitos jadul walau aku tidak mempercayainya, karena aku pernah merasakan akibatnya. Jaman masih suka keluyuran ke gunung dulu, pernah dikasih petuah oleh juru kunci saat akan naik gunung tugel. Ada mitos yang berlaku disana, bila kita menginjak kodok, maka kita akan dapat jodoh yang buruk rupa. Dari tiga orang yang mendaki, nasibku paling beruntung karena tak sampai menginjak kodok seperti temanku.

Waktu itu sih, mitos gunung tugel itu lewat begitu saja dan terlupakan. Namun saat acara reuni beberapa tahun kemudian, kenangan akan mitos kodok mendadak terungkap. Dua temenku itu ngajak ngobrol berbisik-bisik setelah mengenalkan istri masing-masing. Aku cuma tersenyum saja dan berusaha memberikan pemahaman bahwa istri kan bukan sekedar casing doang. Hatinya lebih penting kan..?

Namun bukan nasib baikku itu yang selalu jadi pikiran
Melainkan cerita istriku yang juga ngerti mitos itu
Soalnya dia juga pernah jalan-jalan kesana
Dan menginjak kodok...



Read More

Kebawa Jorok

Manusia-manusia hutan yang jauh dari peradaban memang butuh banyak siasat agar tak merasa sepi. Tambang memang bising dan hingar bingar oleh alat berat, tapi semuanya sibuk berkonsentrasi dengan alat masing-masing. Komunikasi dengan orang lain hanya bisa dilakukan lewat radio yang tak mungkin dipakai becandaan. Kesempatan mengurai ketegangan hanya bisa dilakukan sejenak saat kembali ke mess sebelum terlelap untuk membuang lelah di badan.

Kesempatan yang sempit itu yang membuat suasana nongkrong jadi heboh. Padahal yang ngumpul setiap malam di teras mess adalah manusia-manusia bergagang semua. Makanya acara bercanda tawa itu tak pernah jauh dari ngobrol tentang cewek dan ngomong jorok. Saat ngumpul seperti itu, naluri kelelakian selalu muncul dominan dan sepertinya malu kalo kalah rekor. Yang katanya bujangan saja, kayaknya bisa dihitung dengan jari yang mengaku belum pernah menjamah perempuan. Kalo yang sudah berkeluarga biasanya pamer kekuatan kuat ML sampe sekian jam dan saling berbagi ramuan obat kuat.

Terasa lebay memang. Namun tak perlu dipermasalahkan karena begitulah caranya untuk menghibur diri. Toh aku yakin, saat bersama ceweknya, pasti yang diomongin bakal berubah 180 derajat. Aku cowok baik-baik, neng... Belom pernah ngejablai, belum tahu rasanya ML, makanya tar kita cobain yuk...

Bejat...
Namun memang begitu bawaan naluri manusia untuk mencari selamat. Itu yang membuat kita kadang jadi mencla-mencle dengan ucapan sendiri. Jarang orang yang mau konsisten seperti aku. Sejak jaman dulu sampe sekarang kalo kenalan dengan cewek. Trus ditanya umur, aku selalu jawab 20 tahun. Konsisten kok...

Orang yang waktu datang ke tambang paling alim pun tak pernah bisa bertahan dengan prinsip hidup sebelumnya. Semuanya hanyut terbawa arus minimal dalam obrolan. Kalo perbuatan sih masih banyak yang tetap baik-baik saja. Mungkin karena dasarnya memang orang baik, atau bisa juga karena tidak ada kesempatan untuk nakal dalam praktek.

Seperti seorang teman yang begitu religius. Awalnya jarang gabung dalam forum manusia jorok. Setelah tingkat stresnya meningkat, dia mau juga ngumpul bareng kita-kita. Melihat majalah pleboi di meja, keliatan banget kalo dia ragu-ragu untuk meraihnya walau bolak balik melirik juga ke covernya. Dasar orang alim, saat mulai berani buka-buka halamannya, selalu terlontar ucapan khasnya saat kaget. Ya ampun, ya tuhan dan sebagainya.

Baru pada halaman terakhir dia bilang, ya habis...



Read More

23 Juli 2011

Malem Mingguan di Tambang

Pagi-pagi nemu pengumuman kalo sore ini big bos mengundang staf dan supervisor untuk bakar-bakar ikan di halaman kantor. Siapa yang ga seneng nemu kesempatan langka bisa makan-makan enak di malem minggu. Apalagi sejak siang ibu dapur sudah kelihatan sibuk potong-potong ikan segede paha, cumi, udang dan entah apa lagi. Yang jelas, satu bak mobil carry penuh belanjaan untuk acara malam nanti.

Tapi menjelang maghrib, turun perintah mendadak, tim IT harus segera ke pit. Aku pikir cuma masalah kecil yang tidak memakan waktu lama. Eh, ternyata terjadilah apa yang harusnya engga terjadi. Kayaknya aku harus malam mingguan di tambang yang gelap dan bising oleh alat berat. Mana lupa ga bawa bekal air minum dan cemilan lagi.

Yasudahlah...
Semoga saja masih ada yang ingat kirim nasi bungkus kemari
Cobaan semacam ini memang sudah resiko buat orang baik
Halah...

Mobile Post via XPeria
Read More

22 Juli 2011

Sambel

Saat big bos dari pusat datang di site, semua orang berubah sibuk. Jangankan yang sehari-harinya sibuk beneran, yang suka nyantai saja jadi sok sibuk. Karyawan kelas teri dipencet habis-habisan oleh atasannya biar semua tampak rapi. Yang rada punya jabatan, sebagian ikut turun lapangan bantu pasukan. Sebagian lagi mondar-mandir dan banyak teriak ke bawahannya untuk cari muka.

Ibu-ibu dapur juga mulai mengeluh dengan beban pekerjaannya yang semakin berat. Mereka memang sudah biasa masak untuk sekian banyak orang. Tapi apapun masakannya, jarang sekali dapat komplen. Berbeda dengan pasukan big bos yang jumlahnya tak terlalu banyak, tapi banyak cingcong soal makanan. Mungkin mereka pikir, datang ke tambang itu untuk pelesiran. Bukannya untuk memahami betapa beratnya kerja di daerah terisolir dengan segala keterbatasannya.

Saat makan tadi, kulihat ibu dapur ketambahan tugas mendadak mengajari sekretaris bos. Kalo ga salah dengar sih, si bos suka dengan sambal ibu dapur dan pengen sambal itu ada saat di Jakarta. Awalnya aku ga begitu pikirkan. Wajar orang menemukan makanan unik dan enak lalu minta resepnya. Tapi setelah mendengar konsultasi di pintu ruang makan itu, perasaanku mulai ga enak. Kemampuan orang dalam menguasai sesuatu memang berbeda-beda. Tapi yang ini kayaknya keterlaluan banget, sampai setiap detil ucapan ibu dapur diketik.

"Cabe merah diulek. Kalo mau pedas kasih 10 biji, kalo jangan terlalu pedas 5 biji saja. Eh, bu itu kok ada ijo-ijonya di sambel..?"
"Cabe ijo juga boleh.."
"Oooo... cabe ijo juga boleh. Jumlahnya sama engga sama yang merah. Emang kalo merah sama ijo dicampur, engga papa..?"

Buruan aku keluar dari ruang makan.
Pengen muntah...

Untung cakep lo. Jadinya bisa milih-milih calon suami yang banyak duit biar ga harus masak sendiri. Ga kebayang kalo tiba-tiba harus jatuh miskin dan ga bisa bayar tukang masak. Kayaknya bisa kaget setengah mati trus minta dikagetin sekali lagi biar matinya ga setengah-setengah.

Aku jadi inget seorang teman yang cantik jelita. Kecantikannya itu menjadi modal yang kuat untuk mendapatkan suami kaya raya. Dengan begitu, cita-citanya jalan-jalan ke seluruh pelosok dunia bisa dia wujudkan. Setiap ketemu aku, dia pasti cerita habis pelesir kemana dan ngeledek aku yang sejak sekolah keluyurannya cuma ke gunung dan hutan doang. Pas lagi ultah nongkrong bareng dicafe, suaminya nanya minta hadiah apa. Jawabannya sudah bisa aku tebak, "aku pengen pergi ke tempat yang belum pernah aku kesana.."

Beberapa hari kemudian aku ketemu dia dan aku tanya hadiah ultahnya, karena tumben dia ga nyerocos duluan. Aku tanya begitu, dia malah cemberut. Harus didesak beberapa kali sampai akhirnya dia jawab setengah membentak, "masa aku cuma diajak ke dapur..?"
Buruan aku ke toilet.
Keselek...

Makin merasa beruntung aku dapat istri orang kampung yang tak pernah merasa asing dengan pekerjaan rumah semacam itu. Orang-orang semacam itu mungkin tak pernah tahu bahwa urusan perut tetap nomor satu, sampai ada pepatah mengatakan, katakan cinta dengan masakan. Seperti saat masih ada asisten rumah tangga, tetap saja aku lebih suka masakan istriku. Rasa sayang semakin berasa bukan sekedar dari rasa masakan, tapi dari ketulusan istri mau bersusah payah di dapur walaupun sudah ada yang bantu masak.

Menikmati jerih payah istri, biarpun hanya mie instan atau sambel trasi, tetap saja terasa nikmat. Buktinya setiap kali istri tanya, enak apa engga. Pasti aku jawab, enyaaaak...
Lalu ke teras pura-pura nelpon
Sambil melotot keasinan...


Read More

19 Juli 2011

Kebhinekaan

Merantau ke luar daerah, membuat kita harus banyak belajar hal baru. Budaya lokal mau tidak mau harus dipelajari agar kita tak salah paham dengan masyarakat setempat. Masalah bahasa juga penting untuk segera dikuasai minimal secara pasif. Dengan sedikit tahu bahasa setempat, paling tidak kita bisa tahu kalo ada yang menggosipkan di depan mata.

Belajar bahasa kepada teman pun tak pernah lepas dari resiko digampar orang, karena diajarin yang engga-engga tanpa kita tahu makna sesungguhnya. Ucapan jorok dibilang itu pujian. Semprul...

Daerah tempat kerjaku masuk wilayah budaya Dayak Maanyan. Sebagian kosa katanya hampir mirip-mirip bahasa Jawa. Tapi huruf vokal di suku kata akhir diganti "e", dengan pengucapan seperti pada kata bebek. Seperti kata lima, disini jadi lime. Telu atau tiga tetap telu, hanya berbeda di pengucapan "e" saja. Aku tetap aku, kamu itu hanyu dan dia hanye. Yang agak hati-hati mungkin kalo kita ke warung beli minuman kemasan. Karena ale merupakan sebutan untuk aktifitas biologis manusia lain jenis.

Masalahnya, biar daerah ini secara geografis dikuasai Dayak Maanyan, pengaruh budaya Banjar cukup kental membaur. Jadinya aku suka ditertawakan orang, ngomong dengan bahasa campur bawur antara Maanyan dan Banjar. Seperti kata ulun yang dalam bahasa Banjar berarti saya, dalam bahasa Maanyan artinya manusia. Terus terang aku kesulitan untuk untuk memilah masuk kemana kosa kata itu. Soalnya bahasa Banjar dengan bahasa Jawa pun cukup banyak penyerapannya. Misalnya pian yang artinya kamu, mungkin dari kata sampeyan. Nggih untuk iya. Bulik untuk balik atau pulang.

Yang bikin tambah susah, kebhinekaan bahasa para pekerja tambang lebih beragam lagi. Dari Sabang sampai Merauke ada. Kalo sudah ngumpul, awalnya sih iya pakai bahasa Indonesia. Namun lama kelamaan kicauannya beralih ke bahasa masing-masing. Terasa banget waktu rapat. Saat suasana mulai panas, aku jadi berasa pindah ke planet asing.

Jangankan pas banyak pasukan. Saat kumpul sendiri-sendiri pun mereka suka menggunggulkan kesukuan masing-masing. Seperti misalnya waktu duduk-duduk di kantin mess. Orang Bugis lebih suka pesan, Krating Daeng. Orang Manado, Extra Jo. Orang Buton, La Segar. Orang Papua, Ale-ale. Orang Jawa, Mari Mas...

Aku kasihan ke temen dari Ambon.
Bingung semuanya pesan minuman dengan ciri khas daerah masing-masing
Tak mau kalah dia teriak
Beta Din...

Read More

18 Juli 2011

Potokopian

Kita sering dengar kalo kasih sayang orang tua ke anak tiada batasnya. Namun sebesar apapun sayang mereka ke anak, jauh lebih besar lagi rasa sayang mereka kepada cucu. Sesayang apapun ke anak, tetap saja orang tua pernah ngomel saat kita nakal. Tapi senakal apapun anak kita, tetap saja mereka ngebelain seolah tak rela cucunya dimarahin.

Waktu kecil, aku ngelemparin gelas saja sudah dimarahin ibu. Sekarang melihat Citra ngejatuhin laptopku dari meja malah dibelain. Namanya juga anak-anak, katanya. Emang dulu aku bukan anak-anak..? Atau karena aku ngelemparin gelasnya ke kepala orang kali ya..?

Rasa sayang orang tua ke cucu yang berlebihan juga pernah dimanfaatkan oleh seorang temen. Dulu temanku sudah mabok berat karena pacaran overdosis. Tapi mau menikah ditentang keras karena ortunya ga setuju dengan calon mantunya. Mereka nekat kabur dari rumah dan kawin lari. Benar-benar tak dianggap anak dan tak diijinkan pulang ke rumah. Sampai suatu saat temenku maksa pulang. Dibawain oleh-oleh cucu, orang tuanya berubah total dan memintanya tetap tinggal di kampung. Boleh pergi lagi ke kota asal cucunya ditinggal. Kacaw...

Makanya membesarkan anak dekat dengan mbahnya tetap ada ga enaknya. Kita seperti tak bisa sepenuhnya mengarahkan anak sesuai harapan kita. Anak pun seringkali lebih berani membantah karena merasa punya perlindungan ekstra. Kalo nakal dan kita tegur, dengan damai dia lari ke mbahnya. Dari segala tingkah orang tua dalam membela cucunya, ada satu kalimat yang tak bisa kulupakan. Saat aku memarahi si Adi dulu, tanpa rasa dosa mbahnya bilang, "Jangan dimarahin, bagaimanapun juga anak itu potokopianmu..."

Suka bingung juga kalo dah mikir gitu. Biar kata maling tak ingin anaknya jadi nyolong, tapi yang menurunkan gen maling kan siapa lagi kalo bukan kita. Makanya waktu si Adi sejak bayi sudah ga mau lepas dengan mouse dan keyboard, aku cuma bisa mengarahkannya sedikit sedikit untuk mengurangi jam tayangnya di depan komputer. Bicara agak keras aku ga berani karena mbahnya pasti pasang badan di belakang dia. Aku jadi sedikit trauma dengan kata potokopian itu.

Termasuk dengan Citra yang sejak kecil jadi penyayang binatang
Makan dengan ayam, bermain dengan kucing, tidur dengan kelinci
Aku sudah tak ingin berkata apa-apa lagi...



Read More

17 Juli 2011

Bego

Beberapa temen nanya tentang paragrap terakhir jurnal kemarin yang katanya bikin bingung dan ga nyambung. Perasaan kalo urusan ga nyambung dan bikin bingung itu emang kebiasaanku, kenapa dipertanyakan lagi.
Hehehe...

Dalam kehidupan sehari-hari, memang banyak sekali liku-liku hidup yang kadang mengandung kebegoan atau mungkin kepolosan kita dalam suatu kasus. Sudah menjadi kebiasaan bahwa kebloonan itu sering dijadikan bahan tertawaan orang lain. Dari sekedar joke atau dijadikan bahan ejekan.

Karena joke tentang kebegoan begitu tipis batasnya dengan ejekan, aku lebih suka menceritakan kebegoan diri sendiri dibanding orang lain. Kalo butuh korban pelengkap penderita paling sering aku libatkan istri atau anak. Gapapalah aku diidentikan dengan Tukul yang lebih suka mengorbankan diri untuk jadi bahan tertawaan, daripada jadi Komeng yang senengnya mengorbankan orang lain.

Tentang joke ini juga bisa dibedakan antara cerita slapstik yang vulgar untuk pembaca ga mudengan dan cerita tersamar cerdas untuk yang suka mikir dulu. Dengan melihat tipe joke yang kita sukai, paling tidak kita bisa mengukur tingkat kecerdasan kita dalam mencerna sebuah cerita hidup.

Seperti kutipan kebegoan di jurnal kemarin. Walau sederhana, ternyata ada yang susah memahami maksud dari cerita tentang teh manis itu. Kayaknya ga asik kalo harus ditambahin penjelasan kenapa itu dikatakan bloon. Udah jelas minta teh manis, kenapa masih ditanya pake gula apa engga. Atau tentang cita-cita setelah besar nanti, yang malah jawab jadi penyanyi cilik. Ga nyambung kan..?

Membaca cerita di internet yang ditulis oleh beragam orang, kita juga harus memahami latar belakang penulisnya agar tidak sampai salah tangkap. Misalnya cerita tentang tukang bakso.

"Gerobaknya rusak ya bang..?"
"Engga, emang kenapa..?"
"Kok didorong..?"
"Habis bensin..."

Kalo penulisnya orang Jawa, bisa jadi itu cerita tentang tukang bakso dan pembeli yang sama-sama iseng. Tapi kalo ditulis oleh orang Kalimantan, itu merupakan cerita serius. Karena tukang bakso disini, gerobaknya memang dinaikin ke atas sepeda motor.

Kebegoan juga bisa terjadi bila satu pihak orang kota dan pihak lainnya orang udik banget. Seperti ketika aku ke mol dan nanya ke seorang cewek disitu.

"Mbak, serpis senter dimana yak..?"
"Serpis senter apa, pak. Beli aja senter baru, murah inih.."
"Mau nyerpis obor, mbak %$#@$%^..."

Tanpa pemahaman latar belakang masalah, kita bisa salah komplen. Dengar teman dihukum berat hanya karena memecahkan kaca akuarium, kita langsung bikin gerakan sejuta pesbuker mendukung pembebasan. Padahal yang dipecahin itu akuarium seaworld. Satu kata atau cerita yang hampir sama, bisa beda jauh maknanya saat digunakan oleh orang yang berbeda.

Misalnya :
Krisdayanti : Pilihlah aku
Anang : Jangan memilih aku
Syahrini : Kau yang memilih aku
Ashanty : Aku yang dipilih
Tukang CD : Dipilih dipilihhhhh...

Seberapa cerdas atau begokah kita..?

NB.
Sekedar guyonan belaka
Jangan ada ngambek diantara kita ya...
Read More

16 Juli 2011

Ucul

Ibue Citra nelpon kalo dia mau balik ke Jogja. Soal kehamilannya sih ga masalah untuk menempuh perjalanan paling lama 4 jam dari Cilacap. Yang kepikiran tuh justru di Jogjanya nanti. Citra yang semakin "ucul" dan lebih suka lari-lari di luar rumah perlu dipikirkan solusinya. Kalo di kampung kan ada mbahnya yang bisa ngikutin kemana kaki mungilnya melangkah. Kalo ga ada temen, kasian ibue harus ikut kesana kemari. Susahnya lagi, di Jogja tidak ada halaman luas untuk tempat bermainnya.

Soal tingkah Citra, kadang aku jadi mikir soal karma. Jaman sekolah dulu aku mbolosan banget dan lebih suka naik gunung atau pramukaan. Apalagi kalo inget Citra seneng banget ngerjain ibunya. Dia suka nyuruh ibunya nyanyi topi saya bundar sementara dia bergaya. Mending kalo cuma sekali dua kali. Ini sampe ibue ndower belum mau berhenti. Jadi kepikiran di pramuka aku suka menghukum dua orang nyanyi bareng keras-keras dengan lagu yang berbeda. Kalo ada yang nadanya kebawa lagu tetangga dapat hukuman tambahan.

Tapi ini juga bukan salah aku sepenuhnya. Soalnya jaman jadi junior, aku pernah dihukum suruh nyanyi topi saya bundar dan burung kakak tua sekaligus. Dan hasilnya aku dapat hukuman tambahan, karena nyanyinya jadi begini.
Burung kakak bundar...
Bundar burung kakak..."

Mungkin Citra memang gemar menyanyi. Namun karena belum bisa bicara jadinya cukup lipsing dan ibue yang urun suara. Bisa jadi hobi nyanyinya ini merupakan karma dari ibue. Soalnya mbahnya pernah cerita. Waktu ibue Citra masih kecil, ditanya cita-citanya apa setelah besar nanti. Jawabnya, mau jadi penyanyi cilik...

Semoga saja yang nurun cuma soal nyanyi saja. Mbolosan sekolahnya jangan deh. Aku dulu jarang masuk sekolah, karena nurut ke guru fisika yang memang jadi pelajaran favoritku. Pak guru pernah menerangkan, Newton suka banget duduk-duduk di bawah pohon apel sampai akhirnya bisa menemukan rumus gravitasi ketika ada apel jatuh. Karena aku terobsesi menemukan sesuatu, jadinya aku lebih suka duduk-duduk di bawah pohon mangga depan sekolahan daripada masuk kelas.

Jangan pula beloon kayak bapaknya kalo didepan ibue.
"Bu, bikinin teh manis ya..."
"Pake gula gak..?"
"Gausah..."
"Ok..."

Read More

Membagi Duit

Selama ini aku paling males bila berurusan dengan yang namanya uang. Terutama urusan duit perusahaan yang juragannya jutek, makin wegah saja rasanya. Seperti untuk urusan pengadaan barang, aku maunya bikin spesifikasi doang trus tau beres barang di tempat. Eh, juragan tetep nyuruh aku yang cari. Alasannya takut salah beli. Tapi kalo aku berangkat sendiri, kalo pas laporan nota sering ditanya, beneran nih harganya segini..?

Bete engga sih kalo keseringan digituin. Kalo ga percaya, kenapa ga berangkat sendiri atau suruh orang lain. Lagian buat apa aku nambah-nambahin nota. Dapet duit sedikit tapi bisa kehilangan banyak hal. Kayaknya ga sebanding rasanya. Kalo ada vendor kasih amplop setelah proyek selesai, itu sih beda lagi. Lagian aku ga pernah minta. Ada yang kasih syukur, proyek selanjutnya diajak lagi. Kalo engga ya besok cari vendor lain. Hehehe..

Bukan aku idealis dengan dengan hal-hal semacam itu. Aku cuma ga mau membiasakan diri menjadi preman yang suka minta-minta didepan. Soalnya aku sendiri suka sebel kalo digituin sama orang. Tapi aku merasa nyaman kasih sesuatu ke orang yang sudah bantu kelancaran kerjaanku sampai tuntas. Karena aku juga ngerti, kalo dapat tambahan bisa bikin kerja jadi semangat. Tinggal caranya mendapatkannya saja yang sebisa mungkin tidak terlalu nyerempet norma yang berlaku.

Sejak masih bujangan, aku sudah membiasakan diri memisahkan uang panas dan dingin semacam itu. Kalo disaku, saku kanan untuk duit adem dan yang kiri untuk duit remang-remang. Atau yang adem di dompet yang gajelas di saku. Kalo mau ambil musti mikir dulu kepentingannya apa. Kalo buat keluarga jangan sampe salah ambil duit yang panas. Kalo urusan jajan bareng temen sebisa mungkin jangan ambil uang dingin, kecuali kepepet. Cuma payahnya untuk cara terakhir ini lebih sering mepet-mepetnya daripada enggaknya.

Aku ga pernah mikir tentang dosa atau apa. Aku cuma membiasakan diri agar uangku yang ga jelas jangan sampai ikut dimakan keluarga. Batasan antara jelas dan ga jelas, aku hanya pakai patokan gaji dan bukan gaji saja. Makanya gaji langsung ditransfer ke rekening istri agar ga kecampur yang macem-macem. Uang terima kasih dan sejenisnya aku pegang sendiri sebagai anggaran ga jelas.

Untung ibue Citra mengerti bahwa uang ga jelas ga baik dibawa ke rumah. Jadinya ga pernah komplen walaupun anggaran nakal kadang lebih besar daripada anggaran belanja dapur.

Terima kasih atas pengertiannya
Lapyu tenan, ibu...

gambar dari google
Read More

15 Juli 2011

Lancar

Inget beberapa temen dan istri temen yang baru melahirkan keluarnya cewek semua, pas nelpon ibue, sempat aku tanya perkiraan adiknya Citra. Katanya, kalo lihat bentuk perut yang memanjang kemungkinannya cowok. Pas mengandung Citra dulu diperkirakan cewek karena bentuknya bulat dan ternyata benar. Sampai saat ini memang belum USG. Lagian baru 6 bulan jalan, belum bisa kelihatan cowok ceweknya. Dulu Citra saja baru ketahuan cewek setelah lewat 8 bulan. Mungkin karena bawaannya pemalu, jadi kalo pas diUSG lebih seneng ngimpet ga mau ngangkang.

Laki-laki atau perempuan buatku ga penting-penting amat. Persiapan baju bayi kayaknya ga bermasalah dengan kelamin. Toh ga ada popok cowok atau cewek. Soal nama aku ga pernah nyiapin jauh-jauh hari. Begitu anaknya keluar baru aku bikin, itupun ga pernah mikir panjang. Kebiasaan nulis blog secara spontan kali, jadinya cari nama anak dan artinya juga muncul secara instan.

Bila bicara soal gaya bahasa dalam nama anak, aku ga terlalu idealis. Cuma memang aku lebih suka pakai nama yang berbau Jawa. Bukan ga pengen nama anaknya keren sok kebarat-baratan atau kearab-araban. Aku cuma ingin anak ngerti bahwa dia bukan anak bule atau arab. Biar dibilang jadul yang penting maknanya bagus dan diharapkan anak bisa memahami bahwa falsafah Jawa begitu adiluhung dan wajib dilestarikan secanggih apapun jaman.

Aku bisa mengerti banyak temen yang menamai anaknya mengikuti modernisasi jaman yang kian menyudutkan budaya sendiri dengan budaya impor. Namun aku juga harus ngerti bahwa aku punya orang tua yang tinggal di kampung. Lidah mereka beda dengan lidah orang kota yang lancar mengucap kata-kata asing yang paling sukar sekalipun. Kasihan aja kalo melihat anak-anak temen di kampung yang kakek neneknya kesulitan menyebut nama cucunya sendiri. Seperti anak temen yang semua orang di kampung memanggilnya Hendro. Baru-baru ini saja aku tahu kalo nama di akte kelahirannya begitu keren, Andrew. Ada lagi yang namanya George. Tapi entah bagaimana sejarahnya, kakek neneknya memanggil dia Gejos.

Tapi sekali lagi, tentang nama lokal ini merupakan prinsip pribadiku.
Don't try at home...

Balik ke soal adiknya Citra...
Pas jalan-jalan waktu mudik kemarin, ibue pernah nyeletuk kalo nanti namanya Lancar. Aku sempat menanggapi serius sebagai permintaan seorang ibu. Lagipula itu bukan nama yang jelek dan berpengharapan besar agar jalan kehidupannya senantiasa diberi kelancaran. Eh, saat aku mikir tentang itu, beliau malah ngikik sambil nunjuk bis yang lewat. Citra Adi Lancar...

Ya memang bener sih...
Kan dah ada Adi dan Citra
Berarti tinggal Lancar yang belom
Tapi engga aja deh
Tar malah dianggap pencatutan merk





Read More

14 Juli 2011

Bos

Ada seorang teman yang kadang membuat aku mual saat bersama dia. Penyebabn sebenarya cuma hal sepele saja. Hanya untuk urusan makan saja dia terlalu banyak cingcong minta dilayani seperti tamu hotel berbintang. Kalo saja posisinya lagi di kantor, mungkin tak terlalu aneh. Tapi kalo sudah di lapangan juga masih bersikap sama, pengen juga sekali-kali lempar dia dengan bunga mawar merah berikut potnya.

Di perusahaan lama, perasaan aku pernah pegang jabatan di atas levelnya dia sekarang ini. Tapi rasanya risih kalo mau makan saja sampe nyuruh orang ini itu. Untuk urusan kerjaan saja, aku selalu tanya dulu lagi sibuk apa engga. Kayaknya ga terlalu susah untuk basa-basi dan bilang tolong bantu kerjain ini ya...

Temenku ini, jangankan mau angkat piring kotor dari meja. Mau nambah saja kudu diambilin nasinya ke piring makan dia. Dibilang kekanakan, dia sudah pinter bikin anak. Merasa punya jabatan, kayaknya bukan alasan untuk pamer kekuasaan kepada karyawan kelas bawah. Biarpun itu memang tugasnya sebagai bawahan, kayaknya tidak terlalu salah kalo kita lihat orang itu sibuk apa engga sebelum nyuruh. Apalagi ketika nyuruh sesuatu yang tak ada hubungan dengan job descriptionnya. Untuk pejabat kelas teri saja sudah begitu lagaknya, bagaimana dengan juragan di tingkat manajemen..?

Sebagai pimpinan, kayaknya begitu bangga dia aku panggil bos. Padahal kalo dia mau mikir, harusnya ga nyaman dengan panggilan itu. Buatku, sok ngebos main tunjuk bukan hal yang membanggakan. Aku lebih suka kalo ada yang menyebut pemimpin. Paling tidak ada sedikit sikap kepemimpinan atau leadership yang diakui bawahan dengan sebutan itu.

Aku jadi ingat direktur galeri tempat kerjaku dulu. Walau orangnya keras kepala termasuk ke bawahan, beliau begitu merakyat dan lebih suka aku panggil pae. Sebagian teman-teman di Jakarta malah manggilnya mas. Agak parah lagi staf-stafku cewek ada yang panggil dedi.

Pola kepemimpinan beliau membuat karyawan menyadari akan tugasnya. Contoh sepele saat beliau melihat lantai kantor agak kotor. Tanpa banyak bicara langsung ambil sapu dan bersihin sendiri. Makanya tak cuma OB, seluruh karyawan juga jadi sigap ambil sapu tiap melihat sampah, sebelum juragan turun tangan sendiri. Rasa sungkan membuat karyawan jadi sadar akan tugasnya tanpa perlu ngomel-ngomel karena disuruh-suruh.

Jalan keluar kota juga ga pernah rewel soal makan tidur bareng karyawan. Gantian nyupir denganku juga sudah bukan hal yang aneh lagi. Tak bisa kulupakan pemahamannya tentang pekerjaan. Jadi bos itu hanya saat meeting saja. Begitu sudah dilapangan kita sama-sama lagi cari makan. Biarpun kehidupan dibuat berkasta-kasta, tapi kita tetaplah manusia yang sama-sama terlahir telanjang.

Tapi sudahlah...
Pemahaman orang tentang hidup berbeda-beda
Toh hidup itu sering dikatakan cuma mampir minum
Biar hidup bisa berasa, kita harus banyak minum-minum
Pantas saja kehidupan jadi carut marut ga karuan
Kebanyakan orang mabok...

gambar nyomot di blognya pacul
kayaknya dapat nyolong di Tubi Art Space

Read More

Tersaru

Menonton hingar bingarnya award dalam rangka ultah MPID, sempat heran juga aku yang ga gaul di jagad MP bisa tercatut sebagai salah satu nominator. Cuma si Vonie jahat juga, memasukan aku dalam kategori MPers Tersaru. Untungnya ada Mbah Marto yang berjasa besar menggeser posisi itu walau masih dalam status sementara.

Biarinlah aku dibilang saru. Toh niatku cuma pengen jujur apa adanya. Aku menulis selalu realtime antara otak dan ketikan jari di kibod. Tak pernah pakai konsep atau edit ini itu. Jadi apa yang saat itu ada di kepala, ya itu yang tertuliskan. Makanya awal akhirnya suka ga nyambung. Ngeblog buatku cuma buat buang hajat doang. Wajar kalo dibilang ga mutu banget. Dan aku memang jarang banget deket-deket dengan kategori bermutu dan berciri, karena aku memang ga doyan sambel.

Berusaha menampilkan yang putih-putih saat isi otak sebenarnya remang-remang, menurutku cuma mendekatkan diri pada kemunafikan. Bahasa kerennya sok jaim kali. Aku tak pernah takut dicap apapun karena aku sadar manusia selalu berubah dari waktu ke waktu. Orang yang saat ini kelihatan buruk, bisa jadi besok lebih baik dari kita. Makanya aku polos-polos saja dalam menulis. Istilah kerennya, lugu. Tapi bukan luguwoblok ya...

Saru apa engga menurutku bukan di tulisan yang kita baca atau atau kata yang kita dengar, melainkan di isi kepala masing-masing orang. Contohnya ketika aku bilang, sejak di Kalimantan jadi boros sabun. Langsung berhamburan komeng yang mengatakan aku jorok. Sebagian cuma terkikik-kikik dan sedikit saja yang bilang bagoos...

Sangat mengherankan aku malah dibilang jorok. Padahal maksudku boros sabun tuh, justru karena aku ga mau jorok. Kerja di tambang yang kotor, mau ga mau aku harus sering-sering mandi. Secara umum mandi yang bersih dan higienis selalu mensyaratkan penggunaan sabun. Kalo sering mandi, wajar kan jadi boros sabun. Trus sarunya tuh dimana..?

Kalo sudah begini, yang jorok sebenarnya siapa..?
Orang aku cuma cerita lagi rajin mandi aja kok
Soal kegiatanku apa aja selama mandi
Itu sih suka-suka ane, gan...


Read More

13 Juli 2011

Biaya Hidup

Pengen pelesiran dan puas-puasin makan enak di Banjarmasin saja susah buat diwujudkan. Telpon terus saja bersahutan laporan ini itu dan memaksa aku buru-buru kembali ke pedalaman. Mau tidak mau, bayangan wisata kuliner beberapa hari harus segera dihapuskan.

Enak atau tidak enak, mungkin bukan soal menu saja. Bisa jadi suasana hati disini lebih memungkinkan lidah untuk bisa leluasa mengecap segala rasa yang ada. Biarpun tetap di sebrang lautan, dekat dengan bandara membuatku merasa Jogja hanya satu jam dari sini. Bisa dibandingkan dengan di site yang harus menempuh perjalanan darat selama 6 jam dari Banjarmasin.

Apalagi soal menu yang jarang berubah tak hanya aku temukan di mess saja. Saat keluyuran ke kampung atau kota kecil terdekat, tetap saja susah mencari makanan ala warteg di Jawa. Warung yang menyediakan bermacam masakan sayur sangat langka disini. Setiap melihat daftar menu, paling-paling tertulis ayam, bebek, ikan, telor dan yang sejenis. Pernah aku jalan-jalan ke pasar tungging dan melihat ada yang borong sayuran sampai memenuhi bagian depan motor bebek. Aku pikir bapak-bapak itu pemilik warung makan yang menyediakan menu sayur. Buruan aku samperin dan bertanya. Buset, ternyata buat pakan babi.

Aku baca di tribunnews tentang Jakarta yang masuk peringkat ke 77 kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Aku pikir bego juga yang survai itu. Semahal-mahalnya Jakarta, belum pernah aku makan mie rebus plus es teh dengan merogoh kocek sampai 25 ribu perak seperti disini. Sate kambing memang ada yang sepuluh tusuk 25 ribu, tapi dagingnya segede sate ayam di Jogja. Bandingkan dengan sate Tegal yang dagingnya seukuran jempol kaki. Sama 25 ribunya tapi untuk satu kodi. Eh, apa malah aku yang bego ya. Yang disurvai kan kota, sedangkan disini pedalaman.

Pertimbangan soal biaya makan ini pulalah yang membuat ibue Citra mundur teratur ketika dulu agak ngotot pengen ikut kemari. Memang kalo dilihat dengan ukuran Jogja, penghasilan kerja disini tampak sangat besar. Tapi kalo harus hidup disini bersama keluarga, tetap saja sisanya sama dengan kerja di Jogja dengan gaji sejuta setengah. Belum lagi sarana hiburan yang teramat kurang. Orang pengen nonton tipi saja tak bisa hanya bermodal antena UHF, harus berlangganan tipi satelit. Apalagi bila dikaitkan dengan masa depan anak, sarana pendidikan tak bisa dibandingkan dengan Jogja.

Sedikit serba salah memang.
Kembali ke Jawa atau tetap bertahan seperti ini sama-sama punya efek samping
Harus ngempet pun sudah jadi resiko yang tak boleh dipermasalahkan
Mau enak harus mau pula mikir kebutuhannya ketika jadi anak

Nikmati sajalah
Toh harga sabun masih murah...
Read More

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena