28 Juni 2011

Adi dan Citra

Ingat tentang kerinduanku untuk kembali bertualang di alam bebas, akupun ingat pernah punya ambisi untuk menurunkan jiwa itu ke anak-anakku. Aku sendiri tak pernah tahu motivasinya apa. Yang aku rasakan hanya sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat kita sudah berada disana. Duduk termenung di puncak gunung sembari menikmati semburat mentari yang muncul di ufuk membuat jiwa benar-benar terasa tentram.

Apalagi ketika anakku terlahir laki-laki. Wah, ambisi itu semakin menjadi-jadi. Namun sayang, sejak kecil jagoanku itu malah lebih tertarik dengan komputer daripada bermain di luar rumah. Berbeda dengan Citra yag hanya sekedar mengacak-acak kabel, Adi terlihat lebih tertarik dengan aplikasinya. Dari umur setahun dia sudah gemar bermain mouse dan klak klik klak klik sana sini. Beberapa bulan berikutnya, kegemarannya balapan motor di game jadul roadrash.

Dari umur 3 tahun dia sudah kenal huruf-huruf di kibod walaupun ngaco. Beberapa huruf memang terbaca sempurna. Namun untuk huruf yang dimainannya digunakan untuk fungsi tertentu, dia akan sebut fungsinya, bukan bunyi hurufnya. Seperti misalnya huruf z yang di game balap jadi tombol gas, sampai menjelang sekolah dia tetap menyebutnya sebagai gas, bukannya jet.

Umur 4 tahun aku kenalkan dia dengan software anak-anak seperti mewarnai gambar atau permainan matematika sederhana. Tapi itu tak bertahan lama, karena pekerjaan ayahnya sepertinya lebih menarik perhatian. Tak pernah aku ajari, hanya dengan memperhatikan aku kerja, dia sudah bisa menggambar tank atau pesawat tempur menggunakan coreldraw. Kalo lagi ngambek ke ayahnya, dia suka cari fotoku dan mencorat-caret menggunakan photoshop. Semakin besar, hobinya ke aplikasi dan game semakin menjadi. Sampai-sampai, ketika ayahnya kerja cukup pakai pentium 3, dia sudah minta komputer AMD Athlon plus nodong, VGAnya yang bagus yah...

Lebih susahnya lagi, sejak TK dia sudah kenal dengan internet gara-gara sering aku ajak kalo lagi nyerpis di warnet. Sampai sekarang setiap kali ada yang kasih uang, tak pernah dia gunakan untuk jajan. Uangnya disimpan dan kalo ditanya untuk apa, pasti dia jawab, buat ke warnet. Untung saja dia bisa diatur jam penggunaan komputernya. Termasuk jadwal ke warnet, dia patuh hanya hari sabtu saja sejak pulang sekolah sampai jam lima sore. Gara-gara itu pula, teman-temannya tidak ada yang memanggil dia Adi, melainkan Didot. Soalnya kalo ditanya nama, dia selalu jawab, adidotcom...

Beralih ke Citra...
Kayaknya justru dia yang punya minat dengan alam bebas. Citra suka berantakin kabel, mencetin tombol power atau duduk di atas laptop, kelihatannya cuma protes karena aku suka sibuk dengan itu dan tak mengajaknya keluar rumah. Anak cewek yang aku harapkan kalem, malah lebih betah lari-lari di halaman daripada mainan boneka. Sejak belajar merangkak, dia sudah suka bermain-main dengan kelinci tanpa rasa takut.

Umur 9 bulan, saat jalan saja masih susah, dia sudah belajar naik meja. Asal lihat pintu terbuka, dia pasti nyelonong keluar dari sekedar nyabutin rumput sampai berantakin pot bunga. Takut lari ke jalan, pintu pagar lebih sering dikunci oleh ibunya. Dan responnya begitu cepat, besoknya dia sudah belajar naik teralis pintu pagar.

Kelihatan juga kalo Citra lebih betah di rumah mbahnya di kampung daripada di Jogja. Disana dia bisa lebih bebas bermain di halaman atau kebun. Mengejar-ngejar ayam atau isengin kucing tetangga. Seminggu di kampung, dijamin kulitnya sudah berubah keling dijemur terus. Mbahnya lengah sedikit saja, dia sudah lari ke belakang rumah dan nyebur ke kolam ikan. Makanya mulai kepikiran. Jangan-jangan ini anak, besok gede sedikit bukannya minta bedak atau lipstik, malah mintanya ransel dan carabiner..?

Harapan tinggal harapan kayaknya...
Tapi itu tak jadi masalah. Lagian aku memang tak suka terlalu mengatur-atur anak tentang minat dan bakatnya. Aku ikutin saja apa yang dia mau. Tak pernah aku kepengen memaksakan sesuatu kepada anak. Biar saja dia temukan jalannya sendiri. Aku hanya bisa mendukung dan meluruskan saja bila dia mendekati bahaya.

Citra cepet gede ya
Temani ayah ke gunung Rinjani
Ibu biarin aja jalan-jalan sendiri
Ke Gunung Simping atau Gunung Sahari...

13 comments:

  1. Dua2nya masih bisa kok asal diajari. Gua dari kecil diajarin hiking dan renang ma bokap, imbasnya sampe sekarang gua jadi anak yg mandiri. Kemaren ini sempet nyasar pas di Great Wall, dan semua pengalaman2 gua bikin gua mampu buat cari jalan pulang, hehehe

    BalasHapus
  2. Anak2 Selalu Merekam kejadian Bapak dan Ibunya dengan amat baik, mungkin dalam mengajari Anak, Tanamkan pada diri kita untuk menjadi teladan Terbaik untuk mereka. Sesumpek dan sebete apapun kita kali ya... ehhehe

    BalasHapus
  3. Setujua ama cerita dewasa deh... :-D

    BalasHapus
  4. wah... kok kebalik ya.. malah citra yang sepertinya punya jiwa petualang (merujuk cerita mas rawin)... tapi adi cepet tanggap. kayaknya dia bakal jadi anak yang pinter mas. yah, semoga semuanya berjalan baik. ^_^

    BalasHapus
  5. anak perempuan masa depan akan lebih banyak berperan di segala lapangan kehidupan. sekarang saja sudah banyak kenek metromini cewek, besok pasti ada supir bajaj cewek. cowok bagian cuci piring aja deh

    BalasHapus
  6. Oalah dari kecil udah kenal komputer sama Internet si adi haha... emank susah klo bapaknya dosen bahasa pemrograman wkwkwkw... :)sampe anaknya aja minta spek PC yg lebih tinggi dari bapaknya haha...

    eh malah yg cewe yg jiwa petualangnya keluar wkwkwk.. yo wes rencana berubah Citra ae yg diajak daki gunung wkwkwkw... :)

    BalasHapus
  7. Untuk saat ini bapak cukup mendaki "gunung" yang lain aja dulu.. :p

    BalasHapus
  8. kalo adi nt besarnya kerja kayak ayahnya nah citra udah gede hobinya juga kayaknya ayahnya :D
    nah yg mirip ibunya mana

    BalasHapus
  9. Yah... anak itu memang membuat hidup semakin berarti ya

    BalasHapus
  10. terima kasih atas kunjungannya ya, maaf agak telat

    BalasHapus
  11. tiap anak punya karakternya masing2 laah, jangan dipaksain toh masih kecil ini.. yaa mending diliat dulu ntar gedenya kayak gimana.. siapa tau, citra malah interest jadi model?.*halah*

    BalasHapus
  12. wah lucu bgt dede2nya...

    adidotcom, hahaha jadi didot deh

    :))

    BalasHapus
  13. jadi lebih cinta citra atau adi? keduanya punya setengah gen hobi bapakanya :D

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena