11 Mei 2011

Monumen Rimba Tersisa

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Dengan hph berbuat semaunya
Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu…
Oh mengapa...


Sebuah lagu dari bang Iwan terlantun dari audio mobil saat jalan ke Telang kemarin. Terasa banget celoteh lagu itu dengan kondisi di jalan yang kutempuh. Apalagi mendengar cerita sopir yang menceritakan bahwa beberapa tahun lalu, daerah itu merupakan rimba yang penuh pohon-pohon raksasa.

Bukan hal aneh lagi dan mungkin memang sudah tak dirasakan aneh oleh orang Kalimantan. Kekayaan alam terus menerus diangkut keluar dan hanya menyisakan masalah untuk warga setempat. Pohon-pohon besar dibabat habis dengan reboisasi seadanya. Setelah penghuni permukaan tanah diamputasi menjadi gundul tak menawan, ganti isi perutnya dirobek untuk mengambil batu bara atau kandungan mineral lainnya. Setelah habis pun reklamasi tanahnya asal-asalan dan lebih banyak diserahkan kepada alam untuk disemakan lagi.

Setelah itupun penjarahan alam terus berlanjut. Semak-semak yang baru saja mulai bertunas sudah dibakar orang membuka lahan, untuk dijadikan ladang atau perkebunan. Ada yang benar berladang, ada juga yang cuma berniat menguasai lahan sebagai investasi. Ketika ada pengusaha yang akan membuka perkebunan sawit misalnya, mereka akan jual lahan tersebut dan kembali membakar hutan untuk memiliki lahan baru. Karena disini memang tidak perlu legalisasi negara bagi warga setempat untuk memiliki tanah hutan. Sebidang tanah secara adat akan dianggap milik seseorang atau keluarga hanya dengan syarat dia atau leluhurnya pernah berladang di lahan hutan tersebut.

Saat negara dan warganya sudah tak mampu lagi menjaga kelestarian hutan, kadang aku berpikir untuk menyerahkannya kepada setan. Bukan soal tahayul, tapi melihat kenyataan disini. Pohon yang katanya angker biasanya akan disisakan tidak ditebang. Makanya tak aneh bila kita melihat ada satu pohon tersisa di tengah lahan yang gundul. Mereka kayaknya lebih sayang setan daripada sayang anak cucu yang tentunya ingin diwarisi hutan lestari.

Tapi itu dulu...
Sekarang situasi pun mulai berubah. Hanya tersisa satu pohon untuk berlindung, sementara kuntilanak mungkin terus beranak-pinak. Lama-lama mereka tak betah dan mulai ngungsi jauh-jauh untuk cari perumnas yang layak untuk anak cucunya. Jadinya satu persatu pohon yang tersisa mulai ditebang juga, karena sudah tak angker lagi.

Sempat aku bertanya kepada warga setempat. Aku merasa sayang bila monumen sisa-sisa keperkasaan hutan di masa lalu harus dibabat juga. Kenapa sih musti ditebang..?

Dan ternyata jawaban beliau teramat sederhana, "kalo dicabut susah, pak..."

9 comments:

  1. yaiyalah, kalo dicabut siapa juga yang mau nyabut.. oooh jadi itu alasan kenapa sekarang kuntilanak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah-rumah? >.<

    BalasHapus
  2. jawaban polos yg bikin miris

    BalasHapus
  3. itulah manusia perutnya ndak pernah kenyang, apapun dimakan. Tanah, kayu, hutan, martabat, harga diri, kuntilaak bahkan seonggok bongkahan bekas tebangan kayupun mampu dilahapnya. Luar biasa keserakahan manusia

    BalasHapus
  4. setannya pindah ke rumahku..! hiks.. :((

    BalasHapus
  5. sayang banget. udah semakin bnyk bencana alam gara2 pohon2 semakin berkurang, orang2 msh blm sadar juga ya :'(

    BalasHapus
  6. setan sekarang nggak nunggu pohon, mereka ngumpul di gedung2 mewah di ibukota dan di kantor-kantor daerah. mereka adalah bara yang siap membakar negri ini yang ternyata adalah sebuah tempat yang selama ini kita dengar bernama neraka

    BalasHapus
  7. Pinter yah yang jawab.. :D

    BalasHapus
  8. ahahahaha... iyah juga darpipada mencabut yang amat sangat mengundang derita... hihihi...

    hm,,, memang masih banyak yah yang tak berkenan meluangkan waktu memikirkan kehidupan generasi buyutnya ^_^

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena