25 Mei 2011

Duduk di Bawah Pohon

Setiap kali pergi ke suatu tempat yang memiliki nuansa spiritual seperti ke Candi Cetho kemarin, selalu saja ada teman yang menghubung-hubungkan itu dengan suatu khazanah tertentu. Selama itu masih dalam konteks budaya dan dibawakan dalam bentuk berbagi pendapat, buatku enjoy-enjoy aja. Sayangnya ada satu dua teman yang kadang suka membawanya terlalu jauh, sehingga acara gojek kere ala angkringan itu bisa berubah menjadi perngeyelan yang nyebai tenan.

Aku sedang tak ingin cerita banyak tentang keyakinan memang. Namun agar tak terasa mengganjal dalam hati, aku ceritakan saja sebuah analogi atau anehdot yang mungkin relevan dengan kenyataan diantara aku dan teman-teman ngeyelku.

Anggap saja pada jaman dahulu kala, saat aku masih suka keluyuran ke pondok. Sebut saja namanya si Polan yang numpang duduk di bawah pohon duren depan pondok untuk melepas lelah. Saat itu, lewatlah pak kyai yang jadi mahaguru disitu dan menegur dengan ramah, "Janganlah engkau duduk di bawah pohon itu. Sungguh sedikit kebaikan di dalamnya..."

Saat itu, lewatlah seorang santri tua dan sempat menangkap sebagian isi dialog pak kyai. Sebagai orang sudah senior, dia berusaha menelaah setiap hal yang dia temukan, demi kemaslahatan umat. Apalagi ini dari pak kyai junjungannya. Diapun mengambil kesimpulan, "ternyata, duduk-duduk di bawah pohon itu sungguh sedikit kebaikan di dalamnya. Itu kan kerjaan pemalas yang tak berguna. Hmmm, sungguh arif guruku ini..."

Kemudian, diapun selalu mengajarkan kepada santri-santri juniornya dan kepada semua orang, bahwa duduk di bawah pohon adalah pekerjaan pemalas yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Sampai suatu hari si Polan yang kelelahan lewat lagi dan bermaksud numpang istirahat seperti dulu. Karena ingat pesan pemilik pondok agar tidak duduk di bawah pohon duren, dia pilih duduk di bawah pohon mangga. Baru saja duduk santai, ada seorang santri yang lewat dan menegurnya, "Hei, apa jadinya negeri ini. Kalo anak mudanya banyak pemalas sepertimu."

"Tidakkah kau tak lihat, aku sedang istirahat," jawab si Polan kaget.
“Kamu dinasihatin malah ngeyel. Tak tahukah kamu, duduk-duduk di bawah pohon itu sungguh sedikit kebaikan di dalamnya. Jangan sia-siakan waktumu.."
"Aku lelah. Justru banyak kebaikan dengan duduk di bawah pohon mangga ini. Sambil menikmati semilir angin, siapa tahu ada mangga jatuh dari pohon. Lumayan dobel tuh..."
"Apapun pohonnya, tetap saja sedikit kebaikan di dalamnya.."
"Apapun pohonnya..? Dasarnya apa..??"
"Guruku pernah bercerita. Bahwa dia melihat guru besar pondok ini menasehati seorang musafir agar tidak duduk-duduk di bawah pohon, karena sangat sedikit kebaikan didalamnya. Pak kyai sudah begitu terkenal kearifannya sampai ke luar daerah. Banyak orang menghormati setiap ucapan beliau. Apa kamu meragukannya..?"
"Bukan meragukan, tapi tergantung pohonnya dong..? Kalo pohon duren, memang benar kebanyakan kejelekan daripada kebaikannya. Ini pohon mangga..."
"Dasar tak tahu diri. Sudah pemalas, tidak bisa menghormati orang besar yang juga pemilik pohon tempat kamu berteduh. Pergi lo..."

Si Polan pun bangkit. Tak lupa dia bertanya, "berapa orang yang dinasehati oleh pak kyai tentang duduk di bawah pohon..?"
"Kan aku sudah bilang. Satu orang musafir..!!!"

Polan pun pergi meninggalkan kampung itu sambil terus memutar otak. Kalo nasehat itu diberikan hanya kepada satu orang, berarti hanya dialah yang dinasehati pak kyai yang arif itu. Dia tak pernah merasa bermasalah dengan nasehat itu. Namun kenapa, petuah bijak itu bisa jadi salah alamat, padahal generasi belum berganti.

Siapa yang salah..?
Salahkah pak kyai yang menasehati Polan agar tidak istirahat di bawah pohon duren..? Salahkah gaya bahasa pak kyai yang terlalu halus sehingga bisa multitafsir ketika dibaca sepotong-sepotong..? Salahkah orang kebetulan lewat dan mendengar pembicaraan orang..? Salahkah santri senior yang berusaha menafsirkan ucapan pak kyai agar bisa berbagi kebaikan dengan santri asuhannya..? Salahkah santri junior mau mendengar cerita santri senior tentang kearifan ucapan pak kyai..?

Aku pikir, ini yang sering terjadi diantara teman-temanku. Semuanya tidak ada yang bisa disalahkan karena merupakan hasil dari hukum sebab akibat. Rumus logika aljabarnya sudah benar, apalagi semua unsur disitu berusaha berpikir positif dengan masalah yang dihadapinya. Namun input datanya kurang lengkap, sehingga walau secara parsial nilai outputnya benar, bila ditelaah ke konteks awal, kebenaran nilainya baru terasa membingungkan. Dan sayangnya, menemukan jejak konteks awal ini yang paling sulit dan sering kita tak mau tahu karena berpuas hati dengan apa yang telah kita punyai saat ini.

Menyatukan cermin retak, jarang mau kita lakukan karena merasa telah memiliki wajah yang sempurna. Padahal bagaimana bisa melihat wajah kita benar sempurna, bila melihat jidat kita sendiri tanpa bantuan cermin kita tak mampu. Makanya selalu jadi pertanyaan dalam benakku, orang-orang yang fanatik ngeyelan itu benar-benar memiliki wajah sempurna, atau sebenarnya ketakutan melihat kenyataan saat bercermin. Siapa tahu wajahnya berjerawat atau malah tak punya hidung. Sebuah kenyataan bila obrolan tentang penyatuan cermin retak, lebih sering diakhiri dengan penghancuran cermin sebelum mozaiknya berpadu utuh.

Jadi apapun makanannya, yang salah tetap si Polan. Ngapain duduk-duduk di bawah pohon. Mendingan duduk numpang ngadem di warnet. Tidak ada yang ngomel, pulang bisa bawa koleksi IGO seplesdis penuh.

Kayaknya sih begitu...
Ndeyan

1 comments:

  1. assalamu'alaikum Kang,
    sebuah anekdot dan kisah yang sangat menarik Kang. Menerjemahkan sebuah makna seringkali berbeda antara individu satu dengan lainnya. Menjadi pembelajaran bahwa menyampaikan sesuatu hal perlu juga didasari dengan alasan yang baik dan melihat kondisi yang bersangkutan agar tidak terjadi salah penafsiran.

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena