01 April 2011

Sapidi Juga

Perjalanan ke Banjarmasin kemarin tujuannya adalah ke Telkom untuk mencari solusi jaringan internet yang handal di tambang. Telkom lokal dekat tambang payahnya minta ampun. Boro-boro bisa kasih pelayanan bagus untuk menarik pelanggan baru, menjaga pelanggan lama saja tidak becus. Apa mentang-mentang belum ada provider pesaing, sehingga karyawan setempat merasa nyaman makan gaji buta tanpa takut ditinggal kabur pelanggannya. Yang aku lihat, TLH malah lebih berperan dibanding karyawan yang gajinya besar.

Untungnya pelayanan di Telkom Banjarmasin sudah sangat swasta, sehingga aku tak merasa buang waktu jauh-jauh kesana. Negosiasi dengan Account Manager juga terasa akrab dan tidak kaku seperti yang aku dapatkan di STO. Semua yang aku butuhkan bisa didapatkan solusinya walau masih sekedar informasi dan belum aku coba implementasinya di lapangan. Peganganku sementara adalah jaminan kehandalan dan kompensasi atas gangguan yang terjadi. Salut deh atas pelayanan yang aku terima. Tapi kenapa ya, karyawan yang di pelayanan garis depan masih selemot Sapidi..?

Soal target ke Banjarmasin memang bisa aku katakan mission acomplished. Nah, masalahnya malah terjadi di proses perjalanan dinasnya. Di perusahaan ini, IT masih dianggap anak tiri. Sehingga permintaan kendaraan sarana untuk tugas-tugasku belum bisa diberikan secara ekslusif. Aku masih saja harus menunggu beberapa hari sampai ada "orang penting" ke Banjarmasin. Kebetulan kemarin ada beberapa orang yang akan meeting ke Jakarta. Jadilah aku dititipin ke rombongan yang akan diantar ke bandara Syamsudin Noor itu.

Pas mau berangkat, seperti biasa aku menghadap ke bagian keuangan untuk minta akomodasi. Oleh staf keuangan aku ga dikasih duit, karena juragan duitnya ikut dalam rombongan itu dan aku disuruh minta langsung saja. Sebagai karyawan yang berusaha menjadi baik dan patuh, aku nurut aja. Tapi ketika sampai bandara aku minta dana akomodasi ke juragan, beliau malah bilang, "pengajuannya ke kasir dong. Yang bisa keluarkan uang kan kantor..."

Buset deh...
Sapidi juga perusahaan ini. Lebih kacau beliau lagi ketika aku dalam perjalanan pulang, bagian duit di kantor sms, "pak, jangan lupa oleh-olehnya dari Banjar ya..."

Dikiranya aku jaelangkung apa yak..?
Berangkat ga dikasih ongkos...
Pulang dimintain oleh-oleh...

10 comments:

  1. aku juga minta oleh-oleh...

    BalasHapus
  2. welcome to Banjarmasin, ahahah

    BalasHapus
  3. oleh opo cemz..?

    jeng..
    maap ga mampir. bentar doang. namanya juga barang titipan. :((

    BalasHapus
  4. owh yang namanya jaelangkung gitu thoh

    BalasHapus
  5. Jauh jauh x kebanjarmasih cari solusi jaringan internet pak..?

    BalasHapus
  6. Kunjungan pertama:caritanya ndak dpt oleh oleh lah ya.?

    BalasHapus
  7. emang yg namanya jelangkung kaya apa..?

    detiker..
    waduh... kalo ke jepang, kejauhan bos..

    onlen..
    gimana beli oleh oleh, diongkosin juga engga...

    BalasHapus
  8. wah saya kira cuma modem saya yang lemot...

    BalasHapus
  9. pengen punya nih sapidi di rumah.

    btw, ikhlas ya ngasi oleh-olehnya..:D

    BalasHapus
  10. dasar birokrat pelit....,manya ribet n mantul melulu...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena