08 April 2011

Kesan Pertama

Kepergianku ke Jakarta berawal dari laporanku ke komisaris perusahaan yang datang ke tambang tentang pekerjaanku yang jalan di tempat, karena terbentur masalah standar operational procedure di lapangan yang tumpang tindih. Karena pihak-pihak terkait di lapangan tidak bisa memberi keputusan, aku minta saran beliau untuk mengambil jalan tengah. Dan jawaban beliau, "silakan jadwalkan ke Jakarta. Kemarin saya meeting dengan direksi, sudah ditunjuk penanggungjawab proyek anda di kantor pusat..."

Dengan jawaban semacam itu, asumsi dalam otakku adalah, permasalahanku sudah dibahas di tingkat direksi dan sudah ada yang bisa memutuskan. Sampai di Jakarta, pagi-pagi sudah dipanggil ke ruang meeting. Aku duduk di sebelah direktur keuangan baru yang juga menjadi bos baruku di proyek IT. Beliau langsung menyuruhku pasang proyektor dan presentasi tentang segala pekerjaanku. Karena tidak ada perintah untuk presentasi dari awal, aku memang tidak membuat slidenya. Aku pikir semua masalah sudah dibahas dan aku tinggal terima keputusan dan perintah.

Di pertemuan pertama sebelum sempat kenalan itu, beliau malah berceloteh tak enak di forum didepan jajaran direksi. Dibilang ga beres, ga siap, ga ngarti, dst dst... Aku coba sampaikan, kalo dokumen pekerjaan semuanya aku bawa di letop. Tapi kan ga mungkin semua detail itu aku presentasikan. Apalagi ketika aku serahkan sebuah dokumen yang sudah aku cetak, dengan arogan dibanting ke meja. "Saya ga ngerti kenapa you bisa jadi IT disini. IT tuh harus selalu siap dengan data yang bisa dipresentasikan. Apaan yang begini disodorkan ke direksi, you bisa mikir ga sih..?"

Masih bersabar aku sampaikan ini cuma salah paham. Aku kasih segepok kertas hanya ingin menunjukan kalo dokumen pekerjaan aku bawa. Tapi kalo harus presentasi, aku minta waktu sebentar untuk bikin rangkuman di power point. Aku sampaikan juga bahwa semuanya memang baru aku susun ulang, karena data lengkapnya ada di laptop yang hilang di tambang. Langsung disamber juga, "you jangan mengeluh disini. Disini you harus tunjukin you bisa kerja..."

Panas hati, aku pamit ke forum untuk bikin presentasi. Sampai di lift, aku dirangkul oleh manager keuangan dan malah diajak ke minibar. "Sabar, pak. Mending kita ngopi dulu. Sekalian saya mau pamit, akhir bulan ini saya sudah tidak disini. Pusing, pak.."
Halah...

Habis ngopi, aku menghadap ke direktur HRD untuk minta pertimbangan agar cari orang lain yang jadi penanggungjawab proyek. Beliau malah jawab, "Saya sudah tidak bisa memutuskan lagi, ini hari terakhir saya di kantor ini. Kita saling doakan saja dan semoga suatu saat bisa kerjasama lagi..."

"Maksudnya, pak..?"

"Saya sama dengan kamu. Pada waktu bergabung, saya merasa idealis dan tertantang melihat kekacauan di perusahaan ini. Tapi nyatanya saya tak pernah bisa membuat perubahan apa-apa. Orang-orang yang bisa membuat perusahaan ini menjadi baik tak pernah bisa bertahan lama. Yang awet justru orang-orang aneh yang sering bikin masalah. Kamu sabar dulu deh..."
Haduh...

Dari situ aku menghadap ibu big bos. Mempertanyakan apakah perlu proyekku ini ditinjau ulang dari awal. Kalo memang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan, mendingan aku cabut dan pasukanku di Kalimantan aku tarik pulang, daripada mereka tak bisa kerja disana dan gaji bulan ini masih dipending oleh bos baru. Beliau minta tetap dilanjutkan karena memang itu keinginan beliau. Tapi disitu aku sempat dikecam dengan lambatnya pekerjaanku. Aku coba menjelaskan, bahwa yang membuat lama itu bukannya di pekerjaan coding, tapi di pengumpulan data yang selalu dihambat orang. Juga oleh SOP yang tak jelas dan tumpang tindih di lapangan. Bagaimana aku bisa ujicoba programku, minta pengadaan server saja sampai saat ini belum terealisasi. Aku minta supaya ditunjuk satu penanggungjawab di kantor pusat. Agar aku hanya memiliki satu pintu dan tidak keluyuran kemana-mana seperti saat ini. Beliau setuju dengan satu pintu itu, tapi sialnya yang ditunjuk tetap direktur baru itu.

Nongkrong lagi di minibar. Eh, disitu ada manager yang ngomel akan sikap bos baru yang sangat tidak mengenakan. Sampe sore malah jadi curhat disitu dan lupa harus menghadap bos dengan membawa slide presentasi. Emang gua pikirin, mau dipecat juga silakan saja dah. Mumet oleh pekerjaan sih bukan masalah, tapi kalo mumet oleh orang lain yang seharusnya mendukung pekerjaan, kan nyebelin banget.

Suer, aku dah ga mikirin kerjaan lagi. Aku malah telpon agen travel pesan tiket pesawat ke Jogja. Mending pulang kelon di rumah biar otak fresh. Eh, tiba-tiba si Mr Crab nongol, "Besok jam 1 kita meeting ya..."

Buset dah...
Semoga berakhir baik
Dan aku ga perlu nyantet orang...

gambar nyomot di google

6 comments:

  1. nggak perlu nyantet sgala lah, hadapi dulu. kalo dah nggak betah lagi ya putuskan saja.

    BalasHapus
  2. rumit banget kak masalah pekerjaannya..
    saya doakan semoga dapet yang terbaik ya kak.. biar gak pusing pusing..

    BalasHapus
  3. sabar.. sabar.. wkwkwkkkk

    BalasHapus
  4. .. You ndak gentle kalo nyantet, you tonjok ajah mukanya.. Hahahaha

    BalasHapus
  5. seru sekali...kayak sinetron cinta fitri

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena