07 Februari 2011

Pasak Bumi

Semalem ngobrol ngalor ngidul dengan satpam dan sampai ke masalah oleh-oleh dari Kalimantan saat pulang kampung nanti. Kata beliau kalo cuma beli jajan makanan atau pakaian itu sih tidak ada artinya buat istri. Yang lebih berarti adalah akar tanaman yang disebut pasak bumi atau tongkat ali alias ginseng Borneo.

Sering aku dengar nama pasak bumi di iklan minuman energi, tapi seperti apa wujudnya aku tak tahu. Aku cari informasi di google isinya kebanyakan promo jualan obat kuat yang katanya khas Kalimantan. Walau ada artikelnya, tapi namanya iklan tetep saja berbusa-busa isinya dan susah dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Soalnya yang aku dengar dari penduduk setempat, pasak bumi lebih sering digunakan sebagai obat sakit pinggang, bukannya obat kuat. Di wikipedia juga tidak ada penjelasan yang berarti.

Baru pagi ini ketemu di websitenya Dephut:
Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) merupakan salah satu tumbuhan obat asal hutan yang memiliki banyak khasiat. Berdasarkan kajian farmakologis Pasak Bumi mengandung empat senyawa penting yaitu senyawa canthin, senyawa turunan eurycomanone, senyawa quassinoid, dan senyawa etanol. Senyawa canthin pada tumbuhan pasak bumi mampu menghambat pertumbuhan sel kanker, senyawa turunan eurycomanone sebagai anti malaria, senyawa quassinoid berfungsi sebagai anti leukimia, dan prospektif untuk anti HIV, senyawa etanol berfungsi sebagai afrodisiak. Hampir seluruh bagian tumbuhan ini mengandung substansi pahit yang dapat digunakan untuk obat. Akar tumbuhan ini  dicampur dengan tumbuhan obat lain seperti   kayu manis dan digunakan untuk tonik penyehat di Sabah. Selain itu di Malaysia kulit akarnya digunakan juga sebagai penawar demam, penyembuh luka-luka di gusi atau gangguan cacing serta tonikum setelah melahirkan. Kulit batang digunakan untuk koagulan darah setelah melahirkan, sedangkan di  Kalimantan dan Sabah kulit batang digunakan untuk mengobati nyeri pada tulang. Daun pasak bumi yang muda dapat dimakan untuk pengobatan sakit  perut. Di Vietnam bunga dan buah pasak bumi digunakan untuk obat desentri. Menurut sifat fisis, mekanis dan keawetan, kayu pasak bumi memiliki berat jenis 0,65, kelas awet 4-5, dan kelas kuat II.  Kayu golongan ini dapat digunakan untuk keperluan konstruksi dan mebel.

Sehabis makan siang tadi, satpam mengajakku ke hutan di depan kantor. Banyak banget pohon pasak bumi tumbuh liar disana. Sengaja dipilih-pilih yang pohonnya paling kecil. Karena ternyata untuk pohon yang sebesar pensil saja punya akar sepanjang satu meter dengan diameter 5 cm lebih. Harus digali dulu lalu ditarik menggunakan tali. Kalo jaman dulu, untuk mencabut pasak bumi katanya harus dengan cara membelakangi pohon dan baca-baca mantra.

Sepintas pahitnya mirip dengan pahit buah mahoni. Cara penggunaannya bisa dengan mencuil sedikit batang akarnya lalu diemut atau dibuat bubuk yang dikonsumsi setiap pagi sore satu sendok makan. Cara lain yang lebih hemat dengan merendam akarnya dalam segelas air panas dan dibiarkan beberapa jam untuk kemudian diminum. Yang umum adalah merendam pagi untuk diminum malam menjelang tidur lalu direndam lagi semalam untuk diminum pagi begitu bangun tidur. Bila air rendamannya sudah tidak terasa pahit, akar dicacah. Begitu seterusnya sampai habis masa berlakunya yang ditandai air rendaman yang tidak lagi pahit. Tidak boleh lupa harus dicek sebelum digunakan. Karena bila selalu direndam, lama kelamaan akar akan berjamur. Jemur dulu sampai kering dan siap dipergunakan lagi.

Menurut websitenya Dephut, harga komoditas ini di pasar ekspor bisa mencapai USD 80 per kilonya. Lumayan juga komoditas ini mengingat disini cuma jadi tumbuhan liar tanpa budidaya. makanya sempat sedih ketika baca di arsip republika yang mengatakan pasak bumi dipatenkan oleh Amerika.

Di pasar tradisional sini, biasanya dijual dalam bentuk bubuk berharga variatif antara 10 - 50 ribu per bungkus plastik ukuran setengah kilogram. Oleh penjualnya kadang kita ditawari akar-akaran lain semacam cawat hanoman, sampay dll yang katanya berkhasiat hebat untuk urusan keperkasaan. Malah ada yang sudah diracik dalam toples berisi arak atau ciu putih berisi banyak sekali bahan termasuk tangkur buaya dll.

Benar atau tidaknya aku belum berani bicara. Aku coba saja mengkonsumsi air rendamannya secara rutin selama disini. Mengingat aku mulai dapat keluhan sakit pinggang dan susah makan selama disini. Siapa tahu bener pas cuti nanti bisa ngamuk dengan dahsyat di rumah. Kalo ternyata menggunakan pasak bumi hasilnya kurang joss, mungkin aku coba pakai tiang pancang deh. Heheh...



13 comments:

  1. salah kenal brow, ane dari bloger newbi neh xoxoxo

    BalasHapus
  2. hahaha....semoga ndak ngamuk,,,, bisa hgancur rumah :D

    BalasHapus
  3. Gembar-gembor khasiat pasak bumi memang sudah kemana-mana tuh Bang, tapi kok bisa dipatenkan AS sih...gimana ceritanya tuh !? Kalau ujicoba sukses, kirim2 Bang Pendi ya...hehehe

    BalasHapus
  4. ya ampunn kecurian lagi deh kita

    BalasHapus
  5. kalo nanti ketahuan khasiatnya Joss...beri tahu daku sobat.

    BalasHapus
  6. Wah..bisa2 ntar jadi beringas mas, hahahah... :D
    Ntar kalo masih ada sisa, kirim ya mas ke Jayapura.
    Tolong dipaketin, hihihihi... :D

    BalasHapus
  7. hahahahahaaaaa pake tiang pancang?
    asal bukan tiang bendera mas

    BalasHapus
  8. beneran dahsyat ga mas kasiatnya. kalo bagus aku juga mau dong..

    BalasHapus
  9. Kalau sudah dicoba kasih tahu ya Kang, nyabutnya saja pakai tenaga tuh. Hm......

    Salam wisata

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Aku juga rung kebagian malah rika njaluk maning.....aku disit!

      Hapus
  11. Boleh juga itu...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena