13 Februari 2011

Mitos & Cara Berhenti Merokok

Proses berhenti merokok memang tak semudah cara kita memulainya. Banyak orang mengatakan sulit, tapi pada intinya bisa. Aku sendiri melakukannya hanya dengan sugesti tanpa obat-obatan ataupun cara yang aneh-aneh. Yang paling utama adalah kemauan termasuk kekuatan hati untuk tidak gampang tergoda saat ada kesempatan untuk memulainya lagi. Aku mengawalinya dengan menanamkan pemahaman-pemahaman umum atas rokok sebagai mitos. Misalnya :

Kecanduan secara biologis.
Semula aku selalu mengkambinghitamkan nikotin sebagai penghambat kemauan untuk berhenti merokok. Secara medis sering dikatakan, nikotin akan selalu merongrong tubuh untuk memberi asupan nikotin baru saat dalam darah kandungannya sudah berkurang. Padahal aku belum pernah menemukan kasus orang yang ketagihan nikotin efeknya sama dengan yang kecanduan narkoba, sampai badan menggigil, sakit kepala atau keluar keringat dingin. Tidak ada efek secara biologis yang aku rasakan dan yang ada sekedar rasa ingin merokok saja.

Pemahaman itu aku perkuat dengan ujicoba saat aku dikirimin permen nicorette dari Yu Windie. Permen karet tanpa pemanis itu hanya berasa tembakau yang mengandung nikotin dalam dosis tertentu yang aman bagi tubuh tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh yang sudah kecanduan. Dan hasilnya boleh dikatakan tidak ada. Saat ngemut permen memang tak ingin merokok. Tapi sesudahnya tetap ingin merokok lagi. Ini sama kasusnya dengan kita ngemut permen biasa. Sempat aku bagikan permen itu kepada teman-teman untuk melihat efeknya, siapa tahu memang aku sudah parah tingkat kecanduannya. Ternyata teman-teman yang selalu merokok kelas mild - dalam artian kadar nikotinnya rendah - tetap saja tak mampu menghilangkan keinginan untuk merokok lagi.

Ujicoba kedua aku lakukan ketika muncul produk rokok elektrik yang tanpa asap. Produk buatan China itu menggunakan nikotin murni dalam dosis tertentu. Nyatanya teman-teman yang rutin menggunakan rokok elektrik, tetap saja tak bisa meninggalkan rokok konvensional dalam kesehariannya.

Dari situ aku tanamkan kedalam otak, bahwa kecanduan nikotin secara medis adalah mitos. Ketergantungan itu terjadi karena masalah psikis saja. Tidak ada bagian tubuh yang memaksa minta asupan nikotin selain perasaan dalam diri sendiri yang merasa aneh ketika tidak menghisap rokok.

Banci.
Mungkin kata-kata ini yang menjadi sebab kebanyakan orang terutama anak muda terpaksa belajar merokok. Ketika kita berkumpul dengan teman-teman dan merokok bareng, suka ada yang mengatakan teman yang tidak merokok sebagai banci atau tidak jantan. Padahal kenyataan di lapangan menunjukan bahwa kebanyakan banci selalu merokok terutama saat mangkal cari mangsa. Dan studi medis selalu menyatakan, merokok bisa menyebabkan impotensi. Jantankah orang yang impoten..? 

Mulut kecut.
Mitos mulut kecut aku pikir merupakan sugesti yang kita tanam sendiri karena banyak orang yang ngomong begitu. Tanpa kita sadari alam bawah sadar kita menerima pemahaman bahwa tanpa merokok mulut jadi kecut. Cobalah secara sadar kita berhenti merokok beberapa lama dan tahan keinginan untuk merokok sebagai eksperimen. Rasakan dengan baik, benarkah mulut terasa kecut..?

Beberapa kali aku coba tak pernah aku temukan rasa kecut itu. Kecuali bila tak tahan kebelet ngerokok kita ngemut ketek, itu sih beda kasus. Kadang memang terasa ada rasa kecut itu, tapi aku tak langsung memvonis itu sebagai akibat pengen merokok. Aku coba ingat-ingat sebelumnya aku makan apa. Soalnya ketika habis makan yang mengandung karbohidrat atau minum manis rasa kecut itu akan muncul. Aku simpulkan yang dimaksud kecut itu sebenarnya cuma kiasan harus tersenyum kecut, merasa tak ada kegiatan yang biasa dilakukannya untuk tangan dan mulutnya.

Sehabis makan.
Ini pun sugesti yang keliru akibat banyak orang yang mengatakan merokok tuh paling enak kalo habis makan. Sehingga selesai makan yang dilakukan adalah merokok. Aku berusaha menghilangkan sugesti umum itu dan mencoba membandingkan dengan benar-benar antara kenikmatan merokok setelah makan dan tidak. Nyatanya aku tak menemukan perbedaan itu. Merokok sebelum atau sesudah makan rasanya relatif sama. Jadi gembar-gembor tentang merokok setelah makan menurutku mitos pula. Kasus ini berlaku pula untuk mitos tentang merokok sambil beol yang katanya paling nikmat.

Mengusir dingin.
Mengusir dingin dengan rokok menurutku juga sugesti. Tidak ada perbedaan secara fisik antara merokok dan tidak saat kita kedinginan. Yang ada hanyalah pengalih perhatian dari rasa dingin itu kepada hisapan rokok. Masalah ini mungkin berkorelasi dengan teknik yang pernah aku gunakan saat masih suka mendaki gunung dulu. Saat kedinginan dan tak bisa banyak bergerak untuk menghangatkan badan atau membuat api unggun karena hujan misalnya, aku suka memperhatikan kelap kelip lampu di kejauhan dan menganggap itu api unggun lalu aku bayangkan berada didekatnya. Ternyata teknik mengalihkan perhatian itu efektif untuk membuatku bertahan dari serangan dingin agar tidak terlalu terasa menyiksa. Kalo kita mampu mengalihkan rasa dingin kepada rokok, kenapa pula kita tak mampu mengalihkan keinginan merokok ke hal yang lain..?

Setelah aku coba mencari fakta-fakta atas mitos-mitos itu, aku mulai masuk ke proses mengeliminasi. Untuk masalah ini kita butuh dorongan dari orang lain. Paling gampang adalah dari orang yang kita sayangi, misalnya anak dan istri. Aku coba tanamkan dalam otak, aku begitu menyayangi anak-anakku dan ingin dia sehat. Tak boleh aku meracuninya dengan asap dalam rumah. Lalu aku pikirkan istri yang begitu mencintaiku. Aku berangkat dan pulang kerja dia selalu siap didepan pintu dengan ciuman sayangnya. Tak adil rasanya bila aku selalu menemukan bibir istri yang wangi tapi dia selalu mencium mulut apek. Berawal dari itu rokok selalu tersimpan rapi di laci kantor dan tak pernah aku bawa pulang. Akupun bisa berhenti merokok setiap berada di rumah atau bareng anak istri. Termasuk saat cuti dan pulang kampung, aku bisa stop sama sekali selama seminggu.

Sudah bisa mengendalikan itu, aku mulai tambah lagi aturan baru. Aku hanya merokok saat bareng perokok saja. Saat di kendaran umum atau ruang publik, apalagi ada anak kecil atau perempuan aku tak akan merokok. Mengingat di ruanganku di kantor dulu ada teman cewek, aku selalu keluar ruangan saat kebelet. Jadi pada saat pusing ngitung angka-angka di excel yang sering jadi pemicu keinginan merokok, aku jadi bisa stop lama karena susah untuk meninggalkan pekerjaan keluar ruangan. Untuk yang kerja di gedung bertingkat tinggi, kayaknya akan lebih mudah upaya berhentinya. Masa sih ga merasa sebel ketika ingin merokok harus turun keluar dulu. Bila kurang menyebalkan, usahakan turun naiknya gedung jangan pakai lift, tapi lewat tangga. Kayaknya makin males saja buat merokok.

Ketika lingkupnya sudah semakin sempit, cobalah untuk stop sama sekali. Buang rokok, korek dan asbak dari sekitar kita. Ketika merasa ingin merokok, coba alihkan perhatian ke hal lain yang kita sukai. Misalkan suka main game, download game terbaru dan mainkan di ruangan yang tidak memungkinkan kita merokok. Rasa penasaran ingin menyelesaikan permainan akan membuat kita relatif mudah melupakan rokok. Siapkan saja cemilan atau permen dan air putih. Hindari kopi, karena yang aku tahu orang selalu mensugestikan diri bahwa kopi itu jodohnya rokok.

Menurutku, siksaan terberat itu bukan pada upaya berhentinya, melainkan saat mempertahankan status stop merokok itu. Apalagi bila bertemu teman-teman perokok dan berbungkus-bungkus rokok bertebaran di meja. Tapi yang aku tahu, setelah kita berhenti merokok selama beberapa hari, saat merokok lagi untuk pertama kali pasti rasanya sangat tidak enak. Perlu beberapa batang kita hisap sampai rasa nikmat itu bisa kembali kita rasakan. 

Kalo merasa tak tertahankan atau demi menghormati teman, tak masalah kita nyalakan satu batang. Yang paling penting saat itu adalah, ingat kuat-kuat dalam otak tentang rasa rokok pertama yang tidak enak. Sehingga saat kita ingin lagi, kita bisa tepis dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa rokok pertama itu tidak ada enaknya sama sekali. Kesalahan kita yang terbesar adalah kita langsung beli satu bungkus rokok saat kebelet. Ini kesalahan besar. Dengan membeli satu bungkus, saat merasa tidak enak pada kesempatan pertama, kita masih punya sisa rokok lain di saku yang pastinya akan kita coba hisap di lain kesempatan.

Sampai sekarang, kadang-kadang aku masih ikutan merokok juga sekali-kali. Tapi selalu aku batasi tak sampai aku bisa merasakan nikmatnya rokok lagi. Seringnya baru setengah batang sudah aku buang karena merasa ga enak di mulut. Bukan untuk coba-coba kembali. Tapi untuk meyakinkan diri bahwa rokok itu tidak enak. Apalagi situasi kadang meminta kita untuk ikutan merokok dengan alasan "menghormati" teman, tanpa aku tahu apa makna menghormati itu sebenarnya.

Dulu aku perokok berat. Sehari bisa dua tiga bungkus rokok kretek tanpa filter habis. Larangan pemerintah, orang tua, anjuran dokter, artikel kesehatan termasuk rasa sesak dada tak pernah mampu menyembuhkan kecanduanku. Tapi hanya dengan sugesti dan eksperimen kecil di atas aku bisa berhenti dari ketergantungan itu. Walau kadang masih merokok lagi, tapi itu karena alasan lain dan bukan karena aku ingin merokok. Sehingga bisa aku simpulkan, kecanduan rokok adalah masalah psikis yang hanya bisa disembuhkan oleh diri sendiri.

Sedikit melenceng dari topik...
Berhenti merokok bisa meningkatkan kejantanan, menurutku bukan sekedar masalah kesehatan semata. Rokok bisa dihentikan dengan pengendalian otak dan perasaan. Ini sama dengan masalah seks laki-laki yang didominasi masalah ejakulasi dini. Belajar mengendalikan keinginan merokok ternyata berguna juga saat kita harus mengendalikan ejakulasi. Karena pada dasarnya, alat seks yang utama adalah otak bukannya alat kelamin. Tanpa obat-obatan aku bisa mengatur kapan aku mau menyelesaikan permainan. Menurutku, obat-obatan semacam itu hanya menegangkan atau membuat kepekaan syaraf kelamin menjadi berkurang. Efeknya memang jadi tahan lama, tapi kita tak bisa kendalikan kapan kita mau selesai. Jadinya malah menyebalkan. Pinggang sudah pegel, si tuyul belum juga mau muntah.

Bahagiakan istri tanpa rokok.
Secara batin terpuaskan, secara lahir tak perlu mencium asbak.
Dan anggaran rokok bisa lebih bermanfaat untuk menambah belanja dapur.

Sekedar berbagi, semoga bermanfaat.

22 comments:

  1. Yang jelas..kl gak ngerokok kesehatan gak terganggu dan juga keuangan bisa lebih irit,,,,

    BalasHapus
  2. Yang Pertama aq ucapkan selamat karena mas Rawins sudah melalui rintangan yg amat sulit bagi perokok berat yaitu 'NO SMOKKING'.

    Yang kedua,soal mitos2 tersebut di atas kalo menurut aq pribadi sebagai perokok berat gak semua nya mitos2 itu salah.Contoh nya merokok habis makan memang terasa enak.Aq sndri merasakan nya mas.

    Yang ketiga,Apapun alasan nya saya pribadi setuju ama pendapat mas Rawins bahwa keberhasilan untuk berhenti merokok bukan terletak pada obat2an dan artikel kesehatan,namun lebih kepada kemauan dari diri kt sendiri.

    Yang ke empat,Nyuwun pamit kang.

    BalasHapus
  3. wah ini yang saya cari. selama ini kalo cari artikel stop merokok. buntut buntutnya harus berobat dengan biaya mahal. aku coba dulu bro...

    BalasHapus
  4. Alhamdulalh Um sampe sekarang masih belum bs berhenti merokok ni hehehehe...!!! Emang susah um menghilangkan yg satu ini. kayanya pabrik rokonya yg g produksi lg br susah nyari rokoknya....

    BalasHapus
  5. Jawaban yang ku tunggu-tunggu ini. Selama nanya ke cowok apa sih manfaat nya merokok? bisa nggak berhenti ngrokok? yang ditanya malah jawab gini : "Daripada nggak ngrokok, aku pilih nggak makan nasi".

    Intinya kan emang dari niat si perokok, mau lanjut atau stop sama sekali. Kalau menginginkan perubahan ya jangan setengah-setengah. Mengawali emang penuh gejolak dan banyak godaan kan sudah pasti, jadi ya selamat buat Anda yang berhasil berhenti merokok :)

    BalasHapus
  6. Kunjungan perdana Kang,
    Sebuah kerja keras yang dilandasi niat yang kuat sehingga bisa membuat sebuah penalaran yang masuk akal dan gampang diterima tentang upaya menghentikan kebiasaan merokok.
    Semoga tetap istiqomah

    BalasHapus
  7. Kalo saya sih tetap dalam pendirian, TIDAK MEROKOK.
    Bagaimanapun juga, takut akan efek kecanduannya :D
    Bodoh amat teman mau bilang apa, toh saya menikmatinya tanpa rokok :D

    BalasHapus
  8. kalo aku malah selalu cari cara untuk tetap merokok maski juga sayang istri [pacar.red]dan menghormati mereka yang tidak merokok dengan hanya merokok kalo sedang sendiri.

    Jadi, kalo udah kepingin ngerokok ya cari tempat sendiri sambil membawa secangkir kopi.

    Ngga tau lagi kalo udah ada anak nanti.., hihii...,,

    BalasHapus
  9. sebaiknya menggunakan permen ber xilitol.. itu sih saran di buku yg sempet ku baca..hehe

    BalasHapus
  10. Hebat..., bs brenti merokok..., n bs 'mngendalikan" diri...,
    wkwkwk
    n.nv

    BalasHapus
  11. andai saja hubby mau berhenti merokok :(

    selamat pagi..makasih sharing nya ..sangat bermanfaat....

    BalasHapus
  12. sebenrnya banyak alesan orang-orang yang pengen ngrokok itu mah. Dan sebenernya cuman ada 2 pilihan bagi yang mau berhenti merokok : segera lakukan atau beralasan..
    nggak mungkin dua-duanya dipilih.

    BalasHapus
  13. Wah, bagus tu kata2 nya,asap rokoknya ditelan aj, iya..bahayanya buat perokok pasif ..

    BalasHapus
  14. saya pernah dikatain teman merokok seperti lokomotif. padahal saya baru saat itu melakukannya, dan saya merasa bukan perokok karena merokok cuma kalo lagi ngumpul saja. saya tak pernah merasa kecanduan, maka bingung kenapa ada orang bisa kecanduan begitu.

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah ...termotivasi lagi nih kang ...maturnuwun ...

    untuk merenungkan tulisan rika kayaknya perlu ngrokok dulu nih ... (xi xi xi)

    anyway ....
    ...semoga tulisannya bisa bernilai jariah untuk yg pengen berenti .....

    BalasHapus
  16. sebenarnya kembaLi Lagi kepada kebuLatan tekad untuk berhenti, jika memang sudah memiLiki kekuatan soLid pada niat untuk TIDAK maka dengan sendirinya apapun yang menggoda bukan menjadi kendaLa berarti.

    BalasHapus
  17. Salut....salut ! Bang Pendi blom bisa nih brenti merokok, barangkali niatnya blom kuat kali ya. Lagian kasian sama yang kerja di pabrik rokok...klo Bang Pendi ga ngerokok nanti mereka kerja apa ? hehehe...

    Tapi sip deh Bang, nanti ta coba2 deh ikutin jejaknya

    BalasHapus
  18. beraarti merokok adalah masalah psikis, maka penyelesaiannya juga dengan cara psikis juga, jadi obat2an dan suplemen pengatnti tidak ada gunanya....

    BalasHapus
  19. klu di jahit mulut nya pasti bisa berenti ngerokok....!!

    BalasHapus
  20. Alhamdulilah sudah hampir 4 tahun berhenti merokok. Betul sekali kuncinya adalah kemuauan yang kuat dan setting di fikiran kita aja. Hanya dampaknya beratbadan naik ....dan baru turun dikit2 hehe

    BalasHapus
  21. alhamdulillah ane sekarang ngrokok cuman klo mau tidur aja
    soalnya enak bgt ,ngerokok kan bikin lemes abis itu ngantuk ngantuk lalu tidur ,wenak tenan

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena