06 Februari 2011

Banjarmasin

Ini adalah kali pertama aku ke Banjarmasin. Ketika awal datang kemari, sempat kecele juga di bandara. Karena hari sudah malam, aku tanya-tanya tentang hotel di Banjarmasin. Sempat bete mendengar ongkos kesana lumayan mahal. Baru ngeh ketika mendapat keterangan kalo letak bandara Syamsudin Noor itu 25 km dari Banjarmasin dan lebih dekat ke Banjarbaru. Untung saat itu aku dapat travel ke Tamianglayang sehingga tidak perlu menginap. Di travel itupun aku sempat "ketipeng" juga. Tanpa rasa dosa sopirnya minta ongkos 130 ribu. Padahal saat aku ke Banjarmasin yang sekarang cuma bayar 80 ribu.

Selama di Tamianglayang, cerita tentang Banjarmasin terutama tentang HBI alias Hotel Banjarmasin International begitu santer di antara teman-teman pekerja tambang. Diskotik dengan akuarium ceweknya menjadi tujuan utama untuk manusia-manusia hutan yang haus hiburan. Makanya saat ada surat perintah aku harus ke Banjarmasin, tak perlu berpanjang kata langsung aku jawab siap. Cuma sayangnya aku berangkat sore hari dari Tamiang, sehingga ketika tiba di depan HBI, waktu sudah menunjukan pukul 03:00 waktu setempat. (terbaca cuma bisa duduk manis di warung kopi depan hotel...)

Banjarmasin yang suka disebut kota seribu sungai memang benar banget. Sungai Barito dan sungai Martapura yang begitu lebar membelah kota. Ditambah sungai-sungai kecil yang bermuara di kedua sungai itu muncul dari sela-sela pemukiman penduduk. Tak cuma sungai, kota juga didominasi tanah-tanah berawa. Tak heran bila di tengah kota, kebanyakan rumahnya berbentuk panggung yang becek di kolongnya. Bagian depan rumah yang menghadap jalan memang bisa saja berkeramik permanen. Tapi ke belakangnya tetap saja menggunakan panggung dari kayu ulin. Hanya sebagian kecil saja rumah penduduk yang benar-benar permanen dari semen. Katanya sih, biaya untuk pengurukan terlalu mahal dan lebih murah dibuat panggung di atas rawa.

Kayaknya hanya hotel, mall atau bangunan besar saja yang menguruk total rawa di seputar bangunan. Untuk bangunan semacam instansi pemerintah atau toko kecil, cukup banyak yang membiarkan halaman rumahnya berawa. Mungkin rawa disana identik dengan taman depan rumah kalo kita di Jawa. Cuma memang, walau air dimana-mana, nyamuk tak sebanyak di Tamiang yang notabene hutan lebat tidak berawa.

Pembangunan disana cukup pesat juga. Jauh dari bayanganku semula tentang Kalimantan yang terbelakang. Jalan-jalan raya cukup lebar dan bersih walaupun ketika masuk gang kita akan kembali menemukan rawa-rawa. Kemacetan di siang hari dan jablay berkeliaran di malam hari sudah hampir mirip kota besar di Jawa. Makanan juga lumayan mahal untuk ukuran orang Jawa. Sarapan nasi kuning plus telur rebus yang di Jogja cukup 5 ribu perak, disini 17 ribu.

Keberadaan kota besar di pinggir sungai sepertinya sudah menjadi semacam keharusan di bumi Borneo ini. Coba lihat bagaimana Banjarmasin dengan sungai Martapura dan Baritonya, Pontianak dengan sungai Kapuasnya, Samarinda dengan sungai Mahakamnya, Palangkaraya dengan sungai Kahayannya, Kuching dengan sungai Sarawaknya, Bandar Seri Begawan dengan sungai Bruneinya dan lain lain. Hanya Balikpapan yang tidak berada di sungai, tapi tetap saja di pinggir laut alias dekat dengan air yang pernah menjadi tulang pungung lalu lintas manusia sejak jaman purba.

Yang aku suka dari kota ini adalah keberadaan pasar terapung. Lumayan asik juga untuk pendatang baru seperti aku melihat perahu yang lalu lalang dan hiruk pikuk berjual beli di atas sungai. Ciri khas teramat unik yang sempat menjadi jargon di sebuah televisi swasta ini sebenarnya layak jual kepada wisatawan. Jadi inget kota-kota sungai di luar negeri semacam Venesia. Sayangnya menelusuri sungai disini sedikit kurang nyaman mengingat kebiasaan di negeri ini lebih suka membuat rumah menghadap ke jalan darat. Jadinya bila kita berwisata sepanjang sungai yang terlihat adalah kamar mandi, kakus, dapur dan tempat jemuran yang berantakan. Tak sedap dipandang blas, kecuali pas kebetulan ada cewek abg lagi BAB pamer bokong. Heheh..

Kalo saja surat tugasku tak hanya sehari, kayaknya tak cukup waktu seminggu untuk menikmati segala keunikan kota Banjarmasin. Tapi tidak termasuk menikmati jablainya loh...
*Inget Citra yang mau punya adik lagi...

Mobile post via XPeria

4 comments:

  1. wah asik tuh om
    jablainya maksudnya
    hihihi

    BalasHapus
  2. Kayanya alam indonesia, sayangnya aku belum pernah ke banjarmasin. Tapi aku yakin semua pasti indah di sana

    BalasHapus
  3. fotonya bagus sekali izin copy yah

    BalasHapus
  4. Aku hampi setiap mlam k'hbi.. Dugem2 d' athena hyper disc0theque..... Banjarmasin aryy0 redy..

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena