19 Desember 2010

Komputer Banci

Judul ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan soal genderisasi. Temanku Grontol mengecam letopku dengan istilah itu hanya karena aku bikin dual booting, windos dan linux.

OS bawaan letop itu sebenarnya Vista. Karena kurang suka dengan kinerjanya, aku instal ulang pakai XP bajakan. Awalnya aku sempat merasa enjoy dengan perubahan kinerjanya, apalagi sejak lama aku memang dah familiar banget dengan aplikasi-aplikasinya. Namun lama kelamaan kok ada rasa ga nyaman dengan penggunaan software ilegal itu, terutama saat dipakai cari rejeki untuk anak istri. Kata yang punya agama, kerja halal dengan alat haram tetap saja hasilnya haram dan dosa besar bila sampai termakan anak istri. Halah...

Setelah itu aku banting supir pakai Ubuntu versi 9 yang halalan toyibah. Sempat ribet juga ketika belajar hal-hal baru di linux. Walau sebenarnya tidak sulit-sulit amat. Seperti Open Office, prinsipnya ga beda jauh dengan MS Office, cuma posisi tombol dan menunya saja yang berbeda. Untuk sotosop pun tak banyak perubahan berarti saat harus menggunakan GIMP. Kesulitan utamanya adalah mensugesti diri bahwa linux itu tidak sulit.

Kadang karena ada perbedaan dan kita malas belajar memahami bahwa perbedaan itu indah, makanya kita telanjur ngasih stempel bahwa linux itu sulit. Aku kasih perbandingan dengan ketika aku pertama kali pakai Mac OS. Tampilan antar mukanya berbeda banget dengan windus yang biasa aku pakai sebelumnya. Tapi kenapa aku tidak menganggap itu sulit dan terus mau belajar mengutak-atiknya..? Aku pikir faktor perasaan telah mengalahkan logika disini. Demi gengsi kita rela mencoba sebuah perbedaan dalam Mac. Tak terbayang sulitnya Mac, yang ada hanya sebuah kebanggaan ketika ada orang lain yang tahu kita pakai MacBook. Tapi untuk program gratisan bernama linux tampaknya kita enggan belajar. Seolah tidak ada yang bisa dibanggakan disitu...

Pemerintah kita dalam hal ini Diknas juga sedikit mengherankan. Mengapa yang dimasukan kedalam kurikulum sejak dini bukanlah linux yang open source. Sedikit banyak aku jadi berburuksangka, kaum kapitalis ikut bermain disini. Sejak kecil siswa dicekokin dengan software komersial agar mereka ketergantungan dan bisa menjadi pasar buat produk-produk berbayar yang sebagian besar produk Amerika. Aku pikir bila sejak pertama kali kenal komputer sudah diberikan linux, mereka tak akan mengatakan linux sulit.

Ini sama dengan aku yang sok gaul, tidak mau menggunakan bahasa Indonesia untuk menu hape. Bukan soal nasionalisme, tapi aku merasa janggal dan suka bingung dengan menu yang berbahasa Indonesia. Ini jelas berbeda dengan mereka yang sejak kenal hape sudah menggunakan menu bahasa sendiri. Tak bakalan mereka bilang bahasa pribumi itu menyulitkan. Bahkan mereka ribut bila nemu hape yang tidak ada bahasa Indonesianya. Pemikiran ini juga yang membuat aku ingin Citra tak akrab dengan gambar jendela. Sejak pertama kenal komputer pokoknya harus akrab dengan pinguin. Aku ingin mencoba bangun linux dari keluarga kecilku saja dulu.

Bila maunya begitu, kenapa letopnya harus berjenis kelamin dua..?
Nah inilah bodonya aku. Relatif sedikitnya dukungan perusahaan hardware atau software untuk urusan gratisan, membuat mereka jarang mau menyediakan driver untuk barang produksinya. Contohnya modem semar yang aku pakai, cuma ada driver untuk windus dan mac. Di Ubuntu 9.10 yang aku pakai dulu, modem dikenali sebagai safely remove hardware. Memang banyak tutorial untuk merubah status storage (fff5) menjadi modem (fff1), tapi ternyata aku begitu oon aku ga bisa-bisa. Akhirnya linux hanya aku gunakan untuk aplikasi office atau utak atik foto. Bila harus nyambung ke internet, aku ngungsi dulu ke winduz. Hahaha payah...

Baru setelah Ubuntu 10.10 keluar, modem itu langsung dikenali sehingga ga perlu ribet lagi utak-atik salam perkenalannya. Seneng juga bisa lebih banyak pakai aplikasi gratisan yang ngebut tanpa benjut itu. Tak perlu ribut mikirin antivirus lagi. Juga lebih aman kalo digeletakin di ruangan umum, ga banyak yang ikut nimbrung numpang pake buat pesbukan. Begitu liat tampilannya linux dah langsung monyong bibir dan menghindar. Padahal browsernya firefox dan chromium yang ga ada bedanya dengan yang winduz. Asiiik...

Berarti sekarang full linux dong..?
Hehehe ternyata engga juga.
Masih tetep banci tuh letop.
Soalnya game-game kesayangan ga ada versi linuxnya.
Hiks...

12 comments:

  1. Harusnya memang linux di pelajari dalam pembelajaran, itu lumayan rumit apalagi kita ingin membuat server sendiri. Kalu xp bajakan hati-hati kalu donlod program anti malware, bisa merusak kinerja OS itu sendiri kalu linux bebas sepertinya.

    BalasHapus
  2. wah malahan saya sama sekali belum pernah mengoperasikan linux bro...

    BalasHapus
  3. hahhhhah, linux mang top saya ng gamenya lom familiar ya.. :-)

    BalasHapus
  4. tetep ujung2nya berjenis kelamin dua karena game >.<

    BalasHapus
  5. sama, saya juga gak mudeng. pokoke pake yang versi jaduL-jaduL aja Lah. huahahahaha.... *njungkeL*

    BalasHapus
  6. banci sih wujude kaya apa kang

    BalasHapus
  7. kalo nggak salah kita juga punya igos yang berbasis linux tapi gak ada kabarnya. kekuatan modal memang lagi atau tetap menang di bumi kita. harus dilawan itu.

    BalasHapus
  8. Met kenal.. ,aku Hofar - Pemalang.. ,aku tertarik sama info2-ny njenengan.. ,boleh tukeran Link ya..? ,

    BalasHapus
  9. yup, apalagi sekarang ada crossoverlinux.
    emang harusnya pelajaran linux wajib masuk kurikulum. Setujuu..!!!!

    BalasHapus
  10. A Fast Growing National English Language Consultant is hunting for :

    ENGLISH TUTORS!!!

    Qualifications:

    1. Competent, experienced, or fresh graduate
    2. Proficient in English both spoken & written
    3. Friendly, Communicative, & Creative

    Placement :
    Balikpapan – Makassar - Samarinda – Pekanbaru - Batam - Denpasar

    Send you resume to : easyspeak.hunting@gmail.com as soon as

    possible.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

    BalasHapus
  11. aku blum pernah make selain windows XP kalo make Linux gaptek akunya hehehe

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena