27 November 2010

Kesasar

Menjadi relawan di daerah yang asing membuatku lebih pantas disebut tim kesasar daripada tim sar. Makanya saat orientasi medan tidak dianjurkan untuk bergerak seorang diri agar tidak celingukan saat nyasar. Waktu posko masih di garis belakang rada mendingan karena masih banyak penduduk yang bisa kita tanya arah. Setelah posko ditarik ke garis depan, tak jarang kita temukan perkampungan tanpa penghuni atau tegalan luas yang dipenuhi jalan bercabang-cabang.

Dalam kondisi seperti itu biasanya perasaan yang dipergunakan. Selalu mencari jalan yang arahnya turun gunung, walau kadang jalannya kemudian muter dan naik lagi. Bila cuaca cerah dan puncak Merapi kelihatan, kita bisa memilih jalan yang berlawanan dengan arah puncak. Sayangnya kondisi cuaca lebih sering disaput mendung sehingga puncak gunung atau matahari sulit untuk dilihat.

Kalo cuma mencari arah barat atau utara kita bisa mencari masjid atau kuburan. Tapi mengingat arah menggunakan perasaan tuh tidak bisa diandalkan. Tak jarang kita merasa yakin berjalan ke arah barat, ketika sedikit demi sedikit membelok, kita masih saja merasa ke arah barat. Tak heran bila kita merasa telah berjalan jauh banget, tahu-tahu sudah kembali ke perempatan yang tadi.

Radio komunikasi cukup membantu untuk menghubungi posko dan menanyakan arah kepada yang hapal medan. Namun dengan modal antena sejengkal seringkali sulit menembus lalu lintas di frekuensi yang suka crowded atau diisengin jammer. Alternatifnya adalah hape, walau saat ini mulai banyak yang mengeluh kehabisan amunisi karena memang tidak ada donatur pulsa pantas pakai. Dengan kedua alat ini, yang sering jadi masalah adalah pencarian "ancer-ancer" lokasi. Mending kalo disitu ada sekolahan yang pasti ada papan nama. Soalnya banyak juga perkampungan kosong yang tanpa kejelasan identitas. Papan nama kepala dusun hanya tulisan Kadus 50 m, tanpa ada tambahan dusunnya apa. Ada toko pun cuma pajang tulisan toko anu tanpa tambahan alamat jalan atau rt rw.

Untuk aku sendiri, andalan ketika nyasar adalah GPS yang terpasang di hape. Deviasinya cuma 5 - 20 meter dan ini menurutku lumayan akurat untuk menentukan posisi. Apalagi aku selalu di lapangan terbuka yang pasti bisa menjangkau lebih dari 10 satelit. Peta jalan-jalannya yang menggunakan aplikasi Google Maps juga sudah lumayan komplit. Untuk daerah seputaran Merapi, jalan-jalan kecil sudah masuk peta.

Tapi bukan berarti GPS bisa mengatasi masalah tanpa masalah. Persoalannya GPSku ditracking oleh istriku di rumah. Ketika kelihatan posisiku makin mendekati puncak, dijamin teleponku mulai bertalu-talu. Apalagi kalo tipi sudah mulai mengumbar berita bohong berlebihan tentang Merapi, wah makin rewel deh hapeku.

Tapi syukurlah, sampai saat ini walau banyak relawan yang langganan kesasar, tidak ada yang sampai hilang atau terjadi hal-hal yang fatal. Walau kadang harus muter-muter sampai 3 jam yang penting bisa kembali pulang dengan selamat. Biarpun kalo lewat jalan yang benar harusnya ga sampai setengah jam sudah nyampe...

Tetap semangat kawan...

9 comments:

  1. tetep semangat Om... dan jangan nakal sampe maen ke puncak merapi kesian tante kudu nelponin mulu >.<

    BalasHapus
  2. itu namanya isteri yg sayaaaaaang bgt ama suami
    hehe..
    :)

    BalasHapus
  3. relawan itu mulia...walao kesasar, tetep jasanya tinggi lho..
    salam kenal.

    BalasHapus
  4. tidak apa apa kawan menambah pengalaman ...

    BalasHapus
  5. Ahahahaa..nyasar adalah aspek yang cukup menarik buat para relawan. Untung ada GPS ya Mas. GPS itu penemuan yang sangat bermanfaat dalam kurun 10 tahun terakhir.

    Selamat ulang tahun, Mas Eko. Semoga jadi relawan yang diberkahi Tuhan.

    BalasHapus
  6. semoga kesasarnya bikin pahalanya tambah banyak
    amiiiiiiiiin

    BalasHapus
  7. Dija salut sama para relawan

    BalasHapus
  8. tapi untung bawaannya GPS ama peta kan.. meski nyasar tetep bisa nemuin jalan pulang lagi.

    *baca posting soal istri, bukan SUZZIS kan yak??.. hihihihi*

    BalasHapus
  9. kerennya hp yg punya gps... :D\\jd kepingin juga pyy :D

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena