20 September 2010

Mbah Buyut

Umur memang rahasia alam yang absolut. Paling tidak dibuktikan dari keberadaan leluhurku dulu. Saat aku lahir sampai mulai besar, yang tersisa dari generasi mbah cuma tinggal satu, mbah putri dari ibu. Tapi untuk generasi mbah buyut, hanya eyang kakung dari bapak saja yang sudah tidak ada. Dan yang masih sehat sampai saat ini hanya tinggal satu dari garis ibu, dua yang lainnya meninggal saat aku SD.

Lebaran kemarin merupakan masa bertemunya mbah buyut yang tersisa dengan anak turunnya sampai generasi kelima. Nama lengkapnya aku tidak tahu, semua orang menyebutnya mbah atau Aki Dali. Usia pastinya pun tidak jelas berapa. Namun mbah buyut putri pernah cerita bahwa pada saat ada gunung ditengah lautan meletus dahsyat sampai hujan abu sehari tujuh kali, beliau sudah perawan. Gunung di tengah laut mungkin adalah Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Sebutan perawan untuk gadis jaman dulu diawali dengan mulainya haidh pertama, mungkin sekitar umur 12 atau 14 tahun.


Bila dikaitkan dengan mbah buyut yang dari bapak, beliau punya keris yang katanya warisan dari mbahnya yang merupakan pasukan Diponegoro. Perang Diponegoro sekitar tahun 1825 - 1830, berarti wajar bila cucunya lahir di kisaran tahun 1880an. Memang di pelajaran sejarah, aku belum pernah baca Diponegoro perang sampai ke daerah Cilacap. Namun tak jauh dari kampungku ada pebukitan terjal yang memang strategis dijadikan benteng pertahanan. Masyarakat sekitar menyebut bukit itu sebagai gunung Nursaleh, sesuai dengan nama kyai yang menjadi komandan pasukan Diponegoro disitu.

Tak jauh dari situ ada juga petilasan yang dinamakan Cikracak. Secara bahasa, kracak adalah telapak kaki binatang. Di situs itu ada batu besar yang berstempel tapak kuda yang konon katanya itu kudanya Diponegoro. Banyak orang yang bilang, batu itu tidak bisa difoto. Kamera katanya tidak akan njepret bila diarahkan ke batu itu. Tapi entah kalo sekarang, soalnya aku sudah puluhan tahun tidak kesana lagi.

Mbah buyutku yang bernama Rono itu memang suka banget cerita tentang kepahlawanan Diponegoro. Beliau berceritanya dengan cara nembang, yang katanya bernama Pupuh Diponegoro. Aku kecil dulu suka mendengarkan mbah Rono nembang, tapi hanya tahu artinya dari penjelasan selanjutnya. Soalnya tembang itu dalam bahasa yang halus banget. 
Aku juga percaya dengan kesaktian keris mbah Rono itu. Pada malam-malam tertentu suka ada api terbang keluar rumah mbah, yang katanya itu keris simbah. Trus dulu di kampungku kan ada tobong ketoprak, kalo sekarang identik dengan XXI kali ya..? Nah, tetangga mbah Rono tuh ada yang suka main ketoprak. Pas ada cerita kolosal, katanya kekurangan peralatan dan pinjem keris mbah buyut. Malemnya ketoprak bubar gasik, karena begitu keris simbah dicabut dalam rangka action sesuai cerita, seluruh pemain dan kru kesurupan. Hihihi...

Saat mbah Rono mau meninggal pun kejadiannya lumayan unik. Setiap malam simbah tuh ngejejer-jejer batu koral di halaman. Kalo pagi batu-batu itu sama ibuku disapuin. Tapi besoknya pasti sudah dijejerin lagi. Cuma ibu tuh heran, setiap hari jumlah batu yang dijejer pasti berkurang satu. Pas jumlah batu tinggal 3 biji, simbah sakit dan tiga hari berikutnya meninggal. Ada-ada aja tuh simbah buyut...

Kembali ke mbah buyut yang masih sehat...
Dari ketiga mbah buyutku, memang beliau yang paling berkesan dan paling dekat denganku. Sejak kecil aku suka digendong kemana-mana. Sejak belum sekolah aku sering diajak nonton wayang kulit biarpun dari rumah harus jalan kaki 5 kilo ke tempat pertunjukan. Aku sih ga pernah tahu cerita wayangnya seperti apa, karena lebih suka tidur beralas tikar setelah dibeliin gembus. Paling-paling dibangunkan pada waktu goro-goro dan perang doang.

Walau rambut sudah putih semua dan penglihatan sudah kabur, gigi beliau masih utuh. Biarpun jalan sudah susah, tapi masih saja suka keluyuran ke tempat cucunya yang jaraknya sekilo. Padahal harus nyebrang jalan raya, rel kereta dan sungai segala. Bolak-balik dinasehatin agar diam di rumah ga pernah didengarkan.

Jarang sakit memang. Tapi saat ini kelihatannya sudah mulai payah. Saat ketemu kemarin beliau cerita kalo ramadhan ini sudah tidak kuat puasa dan membayar fidyah setiap hari. Beliau juga kuat sekali merokoknya. Kesukaannya adalah rokok klembak menyan yang aromanya persis dukun lagi manggil dedemit. Dinasehatin agar mengurangi rokok ga bakalan didengarkan. Alasannya hidup ini cuma sekali dan harus dinikmati. Fiuuuh...

Kalo ditanya tentang umur panjangnya, apa punya rahasia pribadi, beliau selalu jawab, "Nikmati hidup apa adanya. Jangan suka jahat ke orang lain, tar cepat mati..."

Nasehat yang bagus...
Selamat menghabiskan sisa usia dengan indah, mbah...

6 comments:

  1. nasehat yg benar2 bagus ya... :D

    tp kyknya harus ditambah... jgn ngeroko Mbah... :D

    BalasHapus
  2. wah..kalau simbah..udah mendongeng..memang asyik om...ceritanya..jadi ingat masa kecil dulu ketika sering di dongenin ama simbah...

    BalasHapus
  3. jangan jahat sama orang...
    ntar cepat mati...
    emang bener gitu ya ??
    hehehe...
    salam kenal buat si mbah..
    moga umurx masih tetap panjang...AMIN

    BalasHapus
  4. hi hi, benar tuh nasihatnya 1000% valid, hidup ini seperti mainan bola pantul mas, bola yang kita lempar ke dinding, akan balik ke kita. Semakin kuat kita lempar, semakin kuat pula pantulan. Begitu juga dengan nasihat simbah, kalau kita melempar jahat ke orang lain maka jahat yg akan datang kekita.

    BalasHapus
  5. namanya mbah rono...kok kayak simbahku yang udah almarhum ya,,simbahku juga namanya mbah rono..almarhumah dulu juga orang sakti..dan sisegani dikampung saya...

    BalasHapus
  6. assalamualaikum...
    silaturahmi pasca idul fitri..
    salam untuk si mbah..
    salam

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena