03 September 2010

Damar Sewu

Jaman aku kecil dulu, 10 hari terakhir ramadhan disebut dengan istilah likuran. Ini berasal dari sebutan angka 20an dalam bahasa Jawa dimana 21 disebut se likur, 22 ro likur, 23 telu likur dan seterusnya. Waktu itu, ramadhan justru semakin semarak ketika masuk ke masa likuran tersebut. Bila di awal-awal puasa, setelah taraweh hanya satu dua yang tadarus, setelah likuran orang yang iktikaf semakin banyak.

Suasana malam menjadi meriah, karena setiap rumah akan membuat apa yang disebut damar sewu. Semacam obor tapi punya sumbu banyak. Dibuat dari sebatang bambu pasang mendatar pada tiang, lalu dikasih lubang untuk sumbu. Tak cuma di halaman rumah, sepanjang tepi jalan kampung pun warga memasang damar sewu. Sehingga desa yang semula gelap gulita karena belum ada PLN jadi terang benderang. Belum lagi para pemuda suka berkeliling kampung sambil pawai obor.

Anak-anak kecil sebaya denganku pun turut begadang sampai tengah malam, walau cuma ngaji sebentar lalu petak umpet dengan teman-teman. Apalagi setelah memasuki likuran, di masjid selalu dibagi nasi bungkus yang kami sebut takir seusai shalat taraweh. Kadang ada yang membawa tumpeng bosok. Bukan tumpeng yang sudah busuk, ini tumpeng nasi putih biasa tapi di dalamnya diisi ampas kelapa dan sambal teri. Kenapa disebut tumpeng bosok, aku tak pernah tahu. Tapi yang pasti uenak tenan. Udah gratis, makannya bareng teman berame-rame setelah kecapean petak umpet.

Tradisi itu yang membuat sepertiga ramdhan terakhir masa itu berbeda dengan saat ini. Coba lihat apa yang terjadi sekarang. Sepertiga waktu yang katanya lebih utama dibanding dua pertiga sebelumnya, masjid yang di awal ramahdan penuh jamaah malah makin berkurang. Jangankan yang tarawih, yang puasa saja mulai berguguran. Kebanyakan malah sibuk belanja-belanja dan mempersiapkan mudik. Berlawanan banget dengan masa lalu, dimana suasana ibadah semakin mendekati lebaran justru makin meriah.

Dari semua tradisi lama itu, damar sewu telah menyimpan banyak kenangan indah. Saat aku kecil, damar sewu membuat aku bisa bermain dengan teman-teman sampai tengah malam. Beranjak remaja, damar sewu membuatku berani bermain api. Dari sekedar sembur-semburan api dari mulut sampai sepak bola pakai bola api. Sedikit bertambah besar lagi, damar sewu selalu menjadi inspirasi saat duduk berdua dengan yang tercinta di samping mushola. Sebuah romantisme jadul yang takkan terlupakan.

Namun sayang seribu sayang. Sekarang semuanya tinggal kenangan. Masyarakat sekarang sudah berubah modern dan selalu menginginkan hal-hal yang praktis. Sudah belasan tahun berlalu, Iedul Fitri tak lagi dihiasi obor seribu. Apalagi setelah minyak tanah menjadi mahal, kenanganku semakin jauh menghilang. Diganti dengan program pemerintah kompor gas seribu. Yang katanya lebih praktis dan bisa sekalian untuk menghilangkan kebiasaan main petasan.

Satu lagi kenanganku menjadi tinggal kenangan...

7 comments:

  1. iya mas ,,tempat ane di bangka sama tuh istilahnya,,cuma dulu ane masih kecil,,yah malam likuran,,, ngeret mobil2an tambah lilin pake tali di tarik keliling kampung,,hehehe

    BalasHapus
  2. bener banget...
    sekarang malah saat-saat terakhir bulan ramadhan sepertinya orang semakin nggak peduli...
    ah... rindu banget masa ramadhan dimana masjid penuh berjubel dengan orang yang berharap bertemu dengan lailatul qadar...

    BalasHapus
  3. Di tempat saya, justru pas likuran mesjid malah makin sepi. Soalnya jemaahnya udah mulai pada mudik. Yang tersisa tinggal kaum pengemis yang makin rajin meminta-minta..

    BalasHapus
  4. dulu kalau sudah masuk selikuran kita waktu masih ngecil memang tidur di masjid terus .. kecapekan selesai tadarusan dan main-main
    kalau sekarang insya Allah juga bermalam di masjid
    mencoba menghidupkan sunnah itikaf meski belum sempurna

    *kenangan yang indah membuat kita bersyukur pernah hidup di dunia ini

    BalasHapus
  5. pragmatis n praktis aja... :D
    lagian klo nyalain banyak obor bisa boros minyak tanah...plus itu ndak esensial dalam ibadah...

    di tiap masa, para penghuninya punya cara sendiri untuk memaknai segala momen yang terjadi di zamannya :D

    BalasHapus
  6. hemm menilik dari asal bahasanya, damar = lentera, sewu = seribu.. jadi lentera seribu.. humm, baru tahu adat kayak gini. Di tempat saya nggak ada loh.. paling zaburan. Alias 10 hari terakhir disediain makanan (abis tarawih) buat yang mau pada tadarus dll

    BalasHapus
  7. sangat disayangkan yah, tradisi yg penuh dgn keceriaan sudah semakin tergerus oLeh roda2 modernisasi. sehingga apa yg dinamakan keindahan tradisi sudah tersirnakan oLeh hiruk pikuk aktifitas persiapan Lebaran. hmmm..., ironis memang.

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena