15 Agustus 2010

Ke Solo & Pengemis

Mengingat profesi sebagai pengangguran yang sudah tak punya berbagai fasilitas lagi, aku merasa perlu untuk mengajari Citra tentang hidup apa adanya sejak dini. Dan aku bersyukur dia tak rewel dan tetap menikmati perjalanan hari ini walau ini kesempatan pertamanya mengenal becak, angkot, pengamen serta pedagang asongan di bus. Dia juga tak terganggu oleh bising dan debu jalanan. Malah kayaknya dia lebih mengerti kondisi dengan tidak pipis saat berdesakan di terminal atau pasar. Pipis pertamanya baru ngucur saat istirahat di pendopo kraton. Dan dia baru throw big water begitu sudah sampai ke Jogja lagi menjelang maghrib.

Yang menarik dari perjalanan ke Solo ini adalah pengamen dan peminta-minta yang begitu banyak. Setiap satu pengamen turun dari bus seusai bertugas, pasti ada yang naik menggantikannya. Jadinya sepanjang perjalanan tak pernah sepi hiburan yang kadang ga jelas. Mau maksain tidur juga susah, karena suka disindir sama pengamennya lewat lagunya, "orang pelit kalo ada pengamen suka pura pura tidur..."

Nah pas pulangnya, yang aku temuin ternyata pengamen yang sama dengan lagu yang sama. Peminta-minta juga berkicau dengan kata-kata yang sama pula. Makanya aku jadi mikir, jangan-jangan mereka memang cuma hafal satu lagu doang. Peminta-minta juga kosa katanya tak pernah bertambah sepanjang waktu.

Udah gitu mereka pelupa lagi. Perasaan tadi pagi ketika menerima selembar recehan, doanya panjang banget. Termasuk ada yang mengatakan tidak akan melupakan amal ibadah bapak ibu sampai kiamat nanti. Tapi nyatanya hari belum berganti mereka sudah melupakan segalanya. Kalo benar ga bakal melupakan, paling tidak kan nanya dulu, "mau nambahin amal yang tadi pagi ga om..?"

Padahal aku paling risih bila ada peminta-minta yang sok mendoakan begitu. Apalagi yang panjang lebar menerangkan uang seribu bisa membawa kita ke surga nantinya. Sampai aku baru nyadar, kalo pengen ke surga tuh ternyata gampang banget. Cuma sayang teknik marketing mereka kadang kelewatan sehingga banyak melupakan kaidah marketing itu sendiri. Kalo mereka sudah kaya raya, gapapa setiap hari mendoakan orang biar cepet kaya. Mendoakan diri sendiri biar jadi kaya aja belum terkabul, kok maksa ngedoain orang lain dan minta bayar lagi. Hahaha kacaw...

Aku lebih suka peminta-minta yang natural dan tidak membawa-bawa agama dalam pekerjaannya. Sampai aku suka malu kepada diri sendiri melihat banyak orang sok nyantri banget saat meminta-minta. Seolah-olah kaum muslim tuh bisanya cuma bilang assalamu'alaikum, lalu nyuwun paring amal sodakoh. Apesnya lagi ga cuma sekali aku melihat mereka ceramah kuliah subuh di bus sambil mulut bau rokok atau bibir kelihatan klimis padahal waktu buka puasa masih lama. Makanya bila ada yang mendoakan tentang murah rejeki, aku suka bilang, "kamu dah doain aku banyak rejeki, kamu aku doain cepat kaya juga ya. Dah impas, jangan minta duit..."

Atau pengemis yang suka membawa anak-anak aku juga bencinya luar biasa. Apalagi kalo dengar bayi yang diem trus tiba-tiba nangis kenceng, wah aku sebel kuadrat deh. Bikin trik untuk mendapatkan penghasilan sih boleh, tapi mencubiti bayi agar menangis apakah itu bukan kebiadaban..?

Eh, maap..
Bulan puasa malah menggunjingkan orang lain.
Tar aja disambung abis lebaran ya...

8 comments:

  1. Kalo gitu, Pak, saya ndak mau mendoakan panjenengan kaya dulu, sebelum saya sendiri jadi kaya.. :-D

    BalasHapus
  2. Kadang doa bisa juga dari perantara orang lain, misal aku minta doa pengen punya baby ga pernah (belum) dikabulkan, tapi ketika kuminta doa biar temenku cepet dapet malah makbul..

    kupikir sih ga ada salahnya mendengar mereka berdoa untuk kita, cuma dengar kan ga susah :)

    si Ncit hebat juga ga mabok ya?

    BalasHapus
  3. benerin rumah 'dongeng sebelum tidur' dong.. ancur tuh kang..

    BalasHapus
  4. paling aman ya di amini saja, toh kita ga' tau dari mulut siapa doa yang terkabul :)

    BalasHapus
  5. salam sobat
    tidak hanya SOLO mas tapi Yogya juga banyak pengemis yang suka mendoakan orang yang diminta2.
    kalau di tempat saya sekarang jarang ada pengemis.
    selamat berpuasa.

    BalasHapus
  6. biasanya sih itu sudah ada yg mendoktrin atau sudah ada gurunya (komunitas)

    BalasHapus
  7. saya belum pernah ke solo ni kang...
    kalo di sini pengemis masih jarang

    BalasHapus
  8. sama....,,
    isi`nya sama dengan apa yg diotak`Q..,, ;(

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena