10 Juli 2010

Kepribadian Ganda

Hidup di dua dunia kian lama kian membuatku merasa memiliki dua kepribadian yang kadang saling berlawanan. Berusaha menyelaraskan apa yang ada di alam nyata dengan alam maya ternyata teramat berat. Membiarkan semuanya mengalir apa adanya justru membuatku merasa hidup di alam surogatesnya Bruce Wilis.

Ketika kita melihat kenyataan bahwa kita sulit menjadi orang baik di alam nyata, kadang kita berusaha tampil baik di alam maya. Ketika kita merasa punya kekurangan yang sulit ditutupi, kita suka membuat diri seolah sempurna di alam satunya. Tak jarang kita temukan orang yang begitu narsis sok gaul, tapi dalam kenyataannya otaknya teramat jongkok dalam nyatanya. Tak kurang-kurang kita temukan sosok yang teramat religius dan selalu mendengungkan dalil-dalil keagamaan yang teramat dalam, tapi jangankan di kondisi nyata, di internet ketika bersembunyi lewat PM atau japri ternyata omongannya jorok.

Aku sendiri katika masih sedikit berjaya dulu, suka sekali menulis tentang tutorial atau yang bersifat motivasi mencari hidup. Dan ternyata orang kemudian memandangku terlalu tinggi. Sehingga ketika aku ambruk menjadi gelandangan, muter-muter ke teman yang aku kenal di internet untuk sekedar mencari kerjaan susahnya minta ampun. Dibilang ga pantes ngasih aku kerjaan kasar, ga kuat bayar skillku yang tinggi dan sebagainya. Seperti ketika aku datang dengan kondisi lusuh, tetap saja mereka tak percaya itu aku. Ketika aku berusaha meyakinkan mereka bahwa itulah aku yang sebenarnya, mereka malah berkata, "kamu ternyata low profile orangnya..."

Hidup jauh di bawah garis kemiskinan tak memupus semangatku untuk menulis, walau kemudian tulisannya banyak yang bernada penderitaan dan keinginan untuk bangkit. Efek dari tulisan itu ternyata membuatku jadi banyak penggemar yang merasa kasihan. Beberapa orang berbaik hati mengulurkan tangan. Namun sayangnya ditambah embel-embel, "maukah kau jadi pacarku..?"

Hanya sayangnya tawaran itu datang tidak semestinya. Karena seringkali datang dari perempuan yang sudah bersuami atau tengah dalam konflik. Aku tak bisa membayangkan apa yang mereka harapkan dariku saat itu karena secara materi aku pasti tak mampu. Dan bila didesak apa alasannya, seringkali mereka bilang, "aku suka semangatmu yang tak pernah pudar ketika menerima musibah yang luar biasa seperti ini..."

Di saat aku bisa bangkit dan bahagia dalam keluarga kecilku, tulisanku banyak terinspirasi oleh kebahagiaan itu. Pandangan orang lain pun berubah dan tetap saja suka menimbulkan masalah. Paling banyak adalah yang mengeluhkan tentang ekonomi. Termasuk dari teman-teman yang dulu senasib seperjuangan dalam kemiskinan. Ketika mereka aku ajak hijrah melupakan apa yang sudah dimiliki untuk mencari jalan baru, mereka menolak karena menurut mereka sama saja mencari hal yang tak pasti.

Dan kini ketika aku sudah tak berniat mengajak, justru mereka berdatangan dan mengatakan ingin ikut aku. Padahal aku sudah kecewa dengan mereka ketika mereka mencemooh ucapanku dulu. "Ketika beban sudah teramat berat dan tubuh penuh luka, apa salahnya kita letakkan saja dulu dan cari kehidupan yang baik. Setelah badan kembali sehat dan mampu berlari, baru kita ambil lagi semua beban itu. Dan bila ternyata sudah diambil orang, berarti itu memang bukan rejeki kita..."

Mengumbar kebahagiaan keluarga di internet ternyata juga tak membuat godaan menjadi hilang. Tetap saja ada yang datang dan berusaha mengusik. Ketika aku bilang aku cukup bahagia dengan keluarga kecilku, mereka terus terang minta aku berbagi kebahagiaan itu. Padahal semua itu adalah hal yang teramat sulit untuk bisa dibagi dua, tiga atau empat. Pada tempatnya kah membagi kebahagiaan dengan menyakiti orang yang sudah jelas membuatku bahagia..?

Berusaha menghindar dengan tidak menyakiti teman baik itulah yang sering membuatku merasa berkepribadian ganda. Ketika ada teman mengeluh tentang kesusahan aku suka mengatakan lihat hidupku yang penuh semangat ini. Sebaliknya ketika ada teman yang berkata iri dan ingin mendapatkan kebahagiaan itu, aku berubah menceritakan bahwa hidupku teramat nakal dan tidak sebaik yang mereka kira.

Entahlah...
Aku sudah mulai pusing dengan kenyataan ini.
Aku pamit mudik dulu aja deh...
Kangen Citra dan ibunya...


7 comments:

  1. pertamax ni,,
    tls kesehariannya aja brada,,
    kayak umy,,
    ckckkckc (just kid)
    met pagi,,,
    umy baca2

    BalasHapus
  2. Hai Friend, apa khabar?
    Saya buat postingan baru nich.
    Kalau sempat silahkan mampir di blog saya, yaa…
    http://sosiomotivation.blogspot.com
    Kita bisa berbagi tentang motivasi.
    Kali ini saya posting “Mampu Memperhatikan”.
    Selamat menikmati, semoga bermanfaat.
    Thanks.

    BalasHapus
  3. Living a beautiful dream or dreaming a beautiful life, that's d'point. So, let d'depth of ur heart 2 choose...

    BalasHapus
  4. Waw...ada yang sampe segitunya, pake nawarin jadi cowoknya, padahal udah berkeluarga.

    Tulisan ini memberiku pencerahan, bahwa jadi orang memang harus konsisten, antara perilaku dengan kata-kata, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

    Awalnya saat aku baca judulnya yang terlintas dalam pikiranku adalah kepribadian ganda yang negatif.

    Sama sekali nggak terpikir kalau isinya beda dengan yang kupikirkan.

    BalasHapus
  5. Wah...ribet juga ya mas.
    Tapi saya gak merasa kasian kok sama.
    Kemampuan keuangan seseorang bukan penghalang bagi saya untuk tetep bersilahturahmi :)
    Semangat mas, dan met mudik :)

    BalasHapus
  6. memang susah..
    sejak kemajuan teknologi, ada dunia yang kita hidupi..dunia nyata dan dunia maya..

    (hoeeek! aku mule sok pinter!)

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena