31 Juli 2010

Kekerasan : Beradab atau Biadab..?

Kita seringkali mengaku menjadi masyarakat beradab. Tapi kenyataannya perilaku kita masih saja biadab. Kekerasan demi kekerasan tetap saja terjadi. Apalagi setiap menjelang bulan ramadhan, kekerasan berkedok agama terus saja terulang.

Aku sendiri tak habis pikir. Agama dan keyakinan itu adalah hubungan  manusia dengan Tuhan. Aku pikir semua agama mengajarkan kedamaian. Namun kenapa masih saja ada penyegelan paksa tempat ibadah kaum yang dianggap tidak sealiran. Lagipula keyakinan itu soal hati dan perilaku, bukan soal tempat ibadah. Siapa yang menjamin penyegelan itu bisa berhasil tanpa kita sentuh hatinya..?

Jaman berubah dan konon kabarnya manusia makin berbudaya. Kita punya Pancasila. Dunia punya Universal Declaration of Human Rights. Kenapa pula kita masih suka berbuat sesuatu yang tak berbudaya dengan mengusik ketenangan orang yang lain yang jelas-jelas tak mengusik kehidupan kita. Masalah pemahaman yang berbeda, itu bukan salah manusia. Salah Tuhan yang membuat aturan hanya dalam garis besar dan harus ditafsirkan. Wajar bila penafsirannya berbeda-beda karena isi otak setiap orang tidak sama.

Aku sendiri tak pernah mau tahu orang berkeyakinan apa. Asal dia tidak mengusik kehidupanku, aku tak pernah mau memusuhinya. Sekali lagi keyakinan itu urusan habluminallah, manusia dengan Tuhannya. Sesesat apapun ajaran itu menurut keyakinanku, selama dia masih bisa hidup damai berdampingan, buatku bukan masalah. Bukankah perbedaan membuat hidup makin penuh warna.

Kalo memang berniat mengajak orang mengikuti keyakinan kita, kenapa harus dengan cara seperti itu. Kita hidup di nusantara, bukan di negeri barat. Lihat sejarah kita. Masuknya agama-agama ke nusantara tanpa ada kekerasan. Jangan samakan dengan negeri orang yang harus menjalani perang salib sampai berabad-abad hanya untuk memaksa orang masuk agamanya.

Makanya aku suka tak habis pikir bila setiap waktu jemaat Ahmadiyah terus saja diusik. Belum lagi gerombolan bernama Front Preman Indonesia yang selalu membuat kekacauan dengan dalih agama terutama setiap menjelang ramadhan. Sama sekali aku tak menaruh simpati. Aku malah lebih menghargai program indomisasi suatu agama dalam mencari tambahan pengikut. Orang yang mengecam misi yang damai itu malah aku anggap bego, cuma bisa teriak doang tanpa ada gerakan. Jangan salahkan orang yang pindah keyakinan walau hanya dengan iming-iming mie instan satu dus. Siapa yang menjamin orang yang menghujat itu tidak melakukan hal yang sama bila sudah terdesak urusan perut.

Kalo memang tak ingin umatnya berkurang, perhatikan mereka dalam segala bidang dong. Jangan cuma diceramahin dengan omong kosong yang setelah ceramah sempat-sempatnya ngomel hanya karena amplopnya tipis. Jangan sampai kita hanya omong doang, tapi ketika banyak yang ngungsi lalu menyerang orang lain. Itu sama saja bagai pinang dibelah kampak dengan jaman jahiliyah dulu. Berteori itu teramat mudah, tapi untuk sebagian masyarakat kita, praktek itu teramat sulit.

Untuk apa sih mengusik keyakinan orang lain. Siapa yang menjamin orang yang pandai bidang agama tidak berbuat jahat kepada sesama. Dana haji saja, yang jelas-jelas orang berniat ibadah, sempat-sempatnya dicuri untuk memperkaya diri. Kalo sudah begini, siapa yang berani menjamin kita hidup di alam beradab.

Kalo memang menganggap diri kita tidak lagi biadab, ayo dong belajar berubah. Minimal dari diri kita sendiri, karena mengubah orang lain itu pasti sulit. Jangan sampai keinginan merubah kebiadaban menjadi peradaban malah terbalik kejadiannya seperti kisah Tarzan & Jane. Kalo yang suka baca sejarah tentu tahu kesalahkaprahan ini. Kalo ada yang belum tahu, aku ceritain aja deh. Tapi maap, yang belum 17 tahun, cukup baca sampai disini saja...

Jane adalah simbol manusia modern yang beradab dan ingin mengubah Tarzan yang katanya biadab. Salah satunya adalah ketika Jane melihat cara Tarzan menyalurkan hasrat biologisnya di lubang-lubang pohon. Merasa apa yang dilakukan Tarzan salah, Jane lalu menunjukan jalan yang benar secara teori dan praktek.

Jane cukup senang ketika Tarzan selalu mendatanginya ketika hasratnya memuncak dan tak lagi mencari lubang pohon. Hanya saja kebiasaan Tarzan menendang-nendang tubuh Jane setiap kali akan menyalurkan kebutuhannya tak pernah ditolak. Jane malah turut menikmati sebagai sensasi tambahan tanpa mau mencari tahu alasannya kenapa. Dia cuma berpikir, "wah asik juga bermain kasar begini..."

Dari analogi itu, kita bisa melihat bahwa kita seringkali terjebak dan turut larut dalam hal yang pada awalnya ingin kita hilangkan dari sifat seseorang. Ingin menghilangkan kemaksiatan di masyarakat tapi pada pelaksanaannya kita justru ikut melakukan kejahatan. Salah satu contohnya ya kekerasan dalam sweeping yang suka dilakukan Front Preman Indonesia.

Mari kita tanamkan dalam diri sendiri, bahwa damai itu indah. Keyakinan orang lain bukan urusan kita, tapi urusannya sendiri dengan Tuhan masing-masing. Selama kita tidak diusik, tak perlu kita mencampuri urusan orang lain. Pokoknya Lakum dinukum waliyadin deh...


--- update ---
Ada yang penasaran. Nanya kenapa Tarzan suka nendangin Jane terlebih dulu...

Jane baru tahu kalo dia salah persepsi terhadap kebiasaan Tarzan setelah Dr Jones menginterogasi Tarzan. Jawab Tarzan begini, "Soalnya saya pernah digigit tupai di lubang pohon. Makanya saya harus yakin dulu, di lubang itu ada tupainya apa engga..."

Biadab...

14 comments:

  1. Betul sekali sob...ini yang suka saya pikirkan kenapa kekerasan berkedok agama selalu di jadikan alat untuk melakukan tindakan tinndakan yang tidak terpuji. apalgi menjelang bulan puasa ini...!!!

    thanks bt pencerahannya bRADer. selamat beristirahat.

    BalasHapus
  2. Betul betul betul.....

    BalasHapus
  3. Itukah yang disebut masyarakat beradab?
    mengkotak2an semuanya tanpa batasan yang jelas
    kemudian saling menghancurkan bila berdiri diluar kotak?

    BalasHapus
  4. yah begitulah...

    izin jadi follower

    BalasHapus
  5. Kunjungan siang bOZ...!!
    Met beraktifitas...!!

    BalasHapus
  6. Front Preman Indonesia itu orang-orang yang suka pake jubah a la orang-orangan padang pasir itu ya..?

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Kalo soal ahmadiyah, saya ga setuju sama sampeyan. Kalo mereka mau tetep dengan keyakinan mereka, buat aja agama baru dengan nama ahmadiyah, jangan ngaku Islam. Baru deh bisa bilang lakum dinnukum wa liya diin.. Masalah aqidah ga bisa buat main-main.

    BalasHapus
  9. baru tau ada pilem tarzan yg hardcore.....,, T_T


    nyelang, pakdhe....,,

    BalasHapus
  10. perbedaan adaLah keragaman yang memeriahkan nuasna hidup ini, dengan adanya perbedaan tersebut bukan harus ditentang dengan kekerasan tetapi harus dihormati dan dihargai. biLa ada peLanggaran terhadap perbedaan tersebut, biarLah pihak berwenang yang menanganinya, bukan maLah main hakim sendiri seperti geromboLan preman kampungan yang berada di tengah kota.

    BalasHapus
  11. waaahhhhahha,,,
    tu plang nya bener ato plesetan tu?

    BalasHapus
  12. manusia punya banyak perbedaan, terkadang keburkannya juga banyak macamnya, kadang kita jugabingung, menurut kita salah, menurut mereka malah bener atau bahkan mulia !

    BalasHapus
  13. no commet dulu.. yang penting baca..

    BalasHapus
  14. Hello, ini kunjungan balik. Terimakasih atas jejak yang tertinggal di laman Pelangi Anak.

    Absolutely correct, apapun alasannya kekerasan tetap saja tidak civilized, dan tidak bisa dibenarkan! Keanekaragaman adalah anugerah yang sepatutnya disyukuri, karena dari situ akan muncul spektrum perspective yang beragam yang akan memudahkan kita dalam memetakan segala tantangan hidup berdampingan!

    Artikelnya bagus sekali, terutama yang bagian penghujung tulisan he he he ...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena