23 Juli 2010

Dua Tiga Juli

Tidak banyak yang ingin aku tulis hari ini. Entah mengapa aku jadi malas menuliskan tentang 23 Juli seperti biasanya. Bisa jadi karena tulisanku selalu berbuntut kecaman dan membuatku bermasalah dengan aktifis LSM gender seperti yang lalu-lalu. Tapi yang jelas aku sudah malas berteriak-teriak lagi tanpa aku bisa membuat gerakan yang berarti.

Aku tetap tak tahu kenapa aku selalu sensitif bila bercerita tentang anak-anak. Apalagi melihat kenyataan anak-anak makin banyak di jalanan. Kekerasan demi kekerasan terus saja terjadi. Lembaga yang berwenang hanya mau turun tangan setelah rame di tipi. Padahal jumlah anak korban kekerasan begitu banyak dan tak mungkin semuanya masuk tipi.

Sejak negara ini lahir sudah disebutkan fakir miskin dan anak telantar dipelihara negara. Tapi tetap saja fakir miskin senayan yang terus saja diurus. Kalaupun negara mau berbagi tetap saja jadi omong kosong. Dengan BOS anak-anak bisa sekolah gratis, tapi pungutan seragam saja sampai 1 juta lebih. Sekolah unggulan apalagi. Anak pinter tapi tak punya duit jangan harap bisa dapat pendidikan berkualitas. Ketika ditanya kenapa lebih milih nerima anak goblok tapi kaya, jawabnya "sekolah kan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang goblok. Yang kere ga perlu dicerdaskan juga dah pinter." Pinter menghayati penderitaan maksudnya....

Pemerintah melalui KPAI terlalu banyak omong kosong, persis aku yang cuman bisa teriak doang. Budaya birokrasi kita yang tak pernah tuntas menyelesaikan sesuatu mewabah dimana-mana. Lihat saja seperti apa kalangkabutnya mereka ketika si anak perokok Sandy ramai di internet dan tipi. Mereka langsung sok sibuk melakukan konseling dan perbaikan mental anak. Tapi ketika tipi dah ramai-ramai memuji gerak cepatnya, mereka langsung berpuas diri dan menganggap tak perlu ditindaklanjuti lagi. Lihat saja buktinya, katanya mau dibantu tinggal di perumahan yang layak, ternyata cuma dititipkan di sekolahan. Itu pun tanpa seijin pihak sekolah sampai akhirnya diusir dan kembali ke habitat semula. Bila kemudian Sandy kembali merokok dan ngomong jorok, apakah pemerintah akan turun tangan lagi..?

Kekerasan terhadap anak, kita tak perlu jauh-jauh sampai menceritakan bobroknya pemerintah yang tak pernah salah. Dalam lingkup kecil dalam rumah tanggapun begitu banyak kasus yang tak pernah tersentuh. Jangankan disentuh, disadari pun tidak oleh kita sebagai pelakunya. Apalagi yang namanya kekerasan psikis, sama sekali kita jarang mengakuinya sebagai KDRT. Makanya dengan damai kita melakukan kekerasan kepada psikis anak hanya dengan dalih absolut, "aku orang tuanya..." Bangsat..!!!

Sudahlah...
Aku lagi enggan cari mengumpat...

Selamat Hari Anak Nasional, anak-anakku...
Semoga kalian bahagia hanya dengan upacara tanpa makna ini...



3 comments:

  1. ngga tahu harus merasa apa sama negeri-kita-tercinta ini.. sudah mati rasa kayanya, kasihan anak-anak, diwarisi tanah yang kerontang, maha karya nenek moyangnya yang serakah..

    BalasHapus
  2. Menurut saya, pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang-orang yang juga haus kasih sayang. Yang dapat kita lakukan adalah melakukan pendekatan persuasif.

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena