18 Juli 2010

Ayo Misuh

Ketika ide lomba menulis ngapak digulirkan, ada yang mempertanyakan tentang batasan kesopanan dalam tulisan itu. Untuk hal yang satu ini terus terang aku bingung. Kalo kesopanan secara umum, dalam artian tidak bokep mungkin tak perlu dibahas lagi. Tapi bila yang dimaksud kesopanan itu menyangkut perbedaan budaya lokal, ya susah untuk menilainya.

Kebudayaan daerah secara geografis biasanya akan terbagi menjadi kultur tengah dan pinggiran. Seperti dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa Jogja Solo merupakan bahasa yang terpengaruh unsur kraton yang pastinya penuh anggah ungguh. Sedangkan bahasa Jawa pinggiran baik itu Jawa Tengah bagian barat atau Jawa timuran cenderung akan dikatakan kasar dan tidak sopan oleh orang Jogja Solo.

Sebenarnya sih tidak berbeda secara prinsip, karena yang namanya "misuh" adalah budaya yang sama tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Hanya saja bila orang Jawa Timur bilang jiancuk, orang Banyumas bilang mondol, orang Jogja pun sama parahnya dalam memelihara mulut toiletnya. Hanya saja diperhalus menjadi affu atau bajigur...

Terlepas dari kata sopan atau tidak, misuh ini tak akan bisa hilang. Karena itu merupakan ucapan yang reflek keluar tanpa disadari ketika ada lonjakan emosi secara tiba-tiba. Hanya saja bentuk ucapan yang keluar pasti berbeda setiap orangnya tergantung kebiasaan dan budaya setempat. Penghalusan kata seperti bajingan menjadi bajigur pun aku pikir tak banyak berarti dalam pemaknaannya. Sama seperti yang suka mengucap astagfirullah atau astopiloh. Karena aku yakin ketika pisuhan itu terucap, tak pernah muncul pemaknaan yang sebenarnya dalam hati atau pikiran.

Ketika kita misalnya berteriak "asu", aku tak yakin kalo yang tergambar dalam otak adalah binatang berkaki empat. Dalam kultur masyarakat tertentu, pisuhan semacam itu tak dianggap sebagai penyamaan orang dengan binatang. Makanya orang tak pernah ambil pusing. Hanya saja bila kita bertemu dengan masyarakat dari kultur lain, kadang hal semacam itu bisa menimbulkan nada miring walau jarang sampai menjadi masalah. Dipermasalahkan pun susah, karena kultur dia pun mungkin memiliki pisuhan yang teramat kotor buat kultur lainnya.

Penggunaan pisuhan religius mungkin dianggap sebagai titik aman buat semua budaya. Tapi sayangnya manusia tetap saja suka dengan pernylenehan. Sehingga malah diplesetkan tanpa sadar. Jadinya malah jadi ga aman, terutama kalo kita misuhnya deket pasukan Front Preman Indonesia.

Makanya aku tak pernah mau membahas pisuhan orang itu sebagai tidak sopan atau tidak. Karena semua itu juga terlahir dari khasanah budaya bangsa yang bhineka tunggal ika. Aku ga mau memvonis orang lain hanya karena pisuhannya aneh di telingaku. Lagian kenapa marah ketika disebut dengan nama binatang. Wong nyatanya manusia banyak yang perilakunya melebihi binatang tanpa melihat keyakinan, budaya atau tingkat pendidikannya. Profesor tukang jiplak banyak, pengayom rakyat jahat tak kurang, kyai cabul juga selalu ada.

Misuh yang hanya sekedar pelepasan emosi alam bawah sadar menurutku masih lebih baik daripada ucapan halus tapi sengaja dibuat untuk memusuhi orang lain. Kembalikan saja semuanya ke diri masing-masing. Kalo dirasa masih dalam batas sopan menurut diri sendiri, ya jalani saja deh. Toh mau dipuji atau digamparin orang karena misuh, kita juga yang merasakan.

Hidup tanpa misuh bagai makan tanpa garam, kata temanku. 
Kalo menurutku, sih bagai beol tidak cebok...

12 comments:

  1. ojo misuh...
    opo maneh misuhi kancane...

    BalasHapus
  2. Huahahha...masa sih sampai segitunya? :D
    Tapi kalo di Jayapura di bilang apa yah?
    Gue gak tau soalnya, ckckckc...

    BalasHapus
  3. hehehe disini misuh malah dianggap tanda keakraban je...

    BalasHapus
  4. tanya suku asmat deh, zip. pisuhannya kayak apa...
    hehehe

    BalasHapus
  5. misuh misuh juga sehat lho, untuk memuntahkan uneg2 he he he iya ga sih?

    BalasHapus
  6. ambil positifnya aja lah. aku aja rada plong kalo abis misuh. hehehe

    BalasHapus
  7. yang sewajarnya ajalah,,,
    hehehe

    BalasHapus
  8. waaah ada perang iklan ya mas

    BalasHapus
  9. kadang2 misuh itu juga buat candaan,,
    tapi ya liat2 temennya dulu =)

    BalasHapus
  10. Kalo misuh berarti siap dipisuhi..

    BalasHapus
  11. first of all, thank you for visiting my blog
    i realized my blog must have looked very strange to you ;p

    oohhh
    culture and religions are a tricky one!
    ga akan komen apa2 deh..

    come back visit me anytime

    http://escapesweetest.blogspot.com/

    BalasHapus
  12. waduh kata2 terakhirnya ekstrim hehehehe

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena