29 Juni 2010

Khataman

Karena sudah masuk bulan rajab kali, sepanjang perjalanan kemarin seringkali terhalang pawai khataman atau abid-abidan yang merupakan salah satu prosesi ketika seorang anak sudah khotmil qur'an.

Dari segi edukasi, acara semacam itu sebenarnya bagus juga untuk merangsang anak giat mengaji dan bisa memberikan kebanggaan tersendiri pada si anak. Aku sendiri merasakan hal yang sama saat kecil dulu. Yang biasanya ngaji malas-malasan, sehari paling selembar. Menjelang juz juz terakhir jadi semangat 45 sehari bisa 5 lembar lebih. Tapi ya itu, motivasinya bukan lagi untuk memperdalam pembelajaran tentang agama, melainkan ingin segera khataman agar bisa balik mengejek teman yang belum khatam.

Hanya saja bapak punya pemikiran berbeda dengan kebanyakan orang waktu itu. Ketika aku laporan sudah tamat ngaji Qur'an, beliau cuma bilang, "Ngaji ya ga ada tamatnya. Ulangi lagi dari depan..."

Aku sempat protes karena tidak diarak keliling kampung untuk pamer kelulusanku. Beliau menjawab, "kemarin kan cuma baca saja. Besok mulai lagi berikut artinya. Kalo sudah selesai lagi, ulangi lagi dari depan berikut tafsirnya..."

"Ngaji kitabnya kapan..?"
"Ga usah mikir terlalu jauh tapi tanpa arti, yang penting kamu bisa mengeja Qur'annya dulu dengan benar baru kamu mengajinya dalam kehidupan sehari-hari."

Akibatnya di kampung, mungkin hanya aku dan adik-adikku saja yang tak pernah merasakan prosesi khataman dan ngaji kitab gundul. Paling-paling kalo ada temen sebaya yang ngaji, aku suka ikut mendengarkan di dekatnya. Tapi itupun tak lama karena aku keburu kecewa ke mbah kyai.

Waktu itu temanku ada yang baca begini, "Kalo sudah masuk walau cuma kepalanya, tetap harus mandi.."

Otak kecilku penasaran tentang kata masuk yang harus mandi. Aku pun bertanya maksudnya gimana. Bukan penjelasan yang sesuai bahasa anak kecil yang aku terima. Tapi, "kamu masih kecil, ga usah pengen tau dulu. Nanti kalo sudah dewasa..."

Jelas aku kecewa berat. Trus maksudnya disuruh ngaji tuh ngapain bila cuma disuruh baca artinya tapi tafsir dan pemaknaannya tidak boleh tahu. Kalo memang anak kecil tak boleh ngerti, kenapa teman sebayaku diajarin ngaji itu. Untung aku mendapat penjelasan memuaskan dari ortu yang memang terbuka sejak aku kecil termasuk untuk urusan yang kata orang banyak tabu.

Itulah sebabnya kenapa sampai sekarang aku tak pernah bisa membaca huruf arab gundul. Jangankan mengaji kitab kuning yang sifatnya hanya suplemen. Mengeja kata bismillah saja aku belum juga khatam sampai sekarang. Apalagi jika harus menerapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti kata bapak dulu.

Makanya kadang aku bingung dengan perayaan-perayaan khotmil qur'an seperti yang aku temukan sepanjang perjalanan kemarin. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa kuda, membayar pasukan drum band, mengamplopi kyai yang ceramah dll dll. Itu belum termasuk biaya sosial yang harus ditanggung pengguna jalan yang tak bisa lewat sampai berjam-jam seperti yang aku alami di Kebumen.

Bila memang hasilnya sebanding dengan yang diterima si anak secara edukasi, mungkin tak masalah. Tapi bila cuma jadi kebanggaan kosong tanpa makna di masa depan, lalu untuk apa. Mungkin kasusnya sama dengan anak sekolah yang konvoi dan corat-coret baju saat kelulusan, sementara nilai buruk tak begitu dia pikirkan. Hanya saja untuk kasus pertama pelaksanaannya lebih berbudaya.

Semoga saja sih apa yang mereka pikirkan tidak seperti ketika aku kecil dulu. Rajin mengaji bukan untuk menambah kemampuan religi, tapi hanya terobsesi ingin naik kuda keliling kampung. Sebuah kebanggaan kosong untuk memupuk rasa riya dalam diriku. Semoga terhambatnya perjalananku kemarin bisa berarti banyak buat calon-calon generasi penerus bangsa suatu saat nanti.

Maaf, ini bukan soal sara.
Aku cuma ingin bicara realita...

9 comments:

  1. semoga mas....apa yang dikeluarkan sebanding dengan kualitas...yang telah khatam alqur'an

    BalasHapus
  2. kira-kira begitu fajar...
    kadang pendidikan kita cuma mateng kulitnya doang...

    BalasHapus
  3. julianus...
    soalnya kalo post yang kayak gini suka dianggap memancing keributan sih. hehehe

    BalasHapus
  4. Sepakat..
    emang faktanyaa seperti itu mas sekarang..

    Salam ya.
    semoga bisa bersahabat.
    :)

    BalasHapus
  5. wah baru tau tentang tentang tradisi ini dan realitanya. makasi udah berbagi yah

    BalasHapus
  6. tukcol..
    rame banget tuh, ngalahin agustusan...

    BalasHapus
  7. Begini mas, sbenarnya acara perayaan seperti itu memang terkesan menghamburkan uang (menurut anda), meskipun sya juga tidak pernah merasakan perayaan tersebut. Tetapi ketika seorang anak diberikan penghargaan atas prestasinya itu merupakan investasi psikologis bagi perkembangan jiwa sang anak.
    terima kasih... (ni juga realita pengalaman pribadi)

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena