13 Juni 2010

Keceplosan

Pernah dengar sebuah anehdot tentang dua orang hidung belang yang mengkomentari pelacur yang baru dipakainya secara bergantian..?

Si A : Sialan ga enak. Enakan istriku...
Si B : Bener banget, enakan istrimu deh...

Kasus keceplosan seperti kata si B, mungkin pernah terjadi dalam kehidupan kita walau kasusnya beda. Orang keceplosan seringkali kita tanggapi negatif, terutama untuk hal ga enak yang menyangkut diri kita. Padahal kalo dipikir, itu adalah ungkapan yang paling jujur dari hati yang paling dalam. Atau sering dikatakan sebagai ungkapan dari alam bawah sadar yang tidak dikendalikan oleh hati dan pikiran.

Banyak orang mengatakan menyukai kejujuran dan tidak suka dibohongi. Tapi ketika kejujuran itu dirasa tidak enak, dengan mudah kita melupakan slogan yang kita ucapkan sendiri. Seperti ketika masa-masa pacaran. Jarang banget orang mau ngomong jelek tentang pasangannya, walau kita semua tahu manusia pasti ada sisi baik dan buruknya. Seringkali kita menutupi sebuah keburukan kita agar selalu tampak baik. Hanya sayangnya kita lebih suka untuk menutupi tanpa mau memperbaiki.

Di lain sisi, kita juga suka takut untuk mengkritik yayang dengan alasan takut dia tersingung dan memberikan ultimatum putus. Seperti ketika pacar nanya tentang cantikan mana dia dengan sandra dewi misalnya. Dengan enteng kita akan menjawab, "ya pasti cantikan kamu dong, say..."

"Masa sih mas..? Yang bener..?" biasanya dijawab gini sambil kedip-kedip mirip orang cacingan.
"Orang boleh bilang Sandra Dewi cewek paling cantik. Tapi di mataku kamu yang terindah..."

Jawaban paling jujur tuh. Di mata mungkin benar dia yang terindah. Tapi dalam hati tetap bilang gini, "Ya jelas cantikan si Sandra laaah..."

Budaya belajar tidak jujur dari hal yang paling kecil membuat kita makin lama makin mudah untuk membuat kebohongan yang lebih besar. Apalagi ada yang dinamakan efek domino, dimana satu kebohongan akan melahirkan kebohongan lagi. Makanya ketika ada yang keceplosan atau ngoceh pas ngelindur, orang seringkali shock.

Menuntut dan melakukan kejujuran sangat mudah untuk diucapkan tapi berat banget tuh dalam prakteknya. Selalu membuat dilema dan dilema yang tak pernah habis, apalagi bila berhubungan dengan pasangan atau atasan. Mungkin sama beratnya dengan ketika seorang istri disuruh milih oleh suaminya, "kamu lebih suka dimadu atau diracun..?"

Aku sendiri bersyukur banget jadi orang yang jarang keceplosan, karena memang udah bawaan bayi kalo ngomong suka ceplas-ceplos. Tak heran kalo apa yang menurutku ucapan biasa, orang lain ada yang tersingung atau bilang aku jutek, sinis, dll dll...

Dan kebiasaanku itu susah banget untuk dirubah. Secara kultural aku adalah orang Banyumas yang punya prinsip kehidupan manusia pinggiran yang jauh dari anggah-ungguh keraton, blakasuta atau apa adanya. Dalam budaya Banyumas aku akan menyebut aku madhang, bapake madhang, luraeh madhang sampai bupatine pun tetap madhang. Beda dengan kultur keraton yang membedakan madhang hanya untuk diri sendiri atau yang lebih rendah. Kepada yang lebih tua atau lebih tinggi akan dikatakan dhahar.

Lalu secara basic pendidikan dan pekerjaan, aku selalu di bidang teknik yang selalu mengurusi benda mati. Makanya untuk masalah basa basi aku kadang sulit banget. Beda dengan yang kerjaannya memang mengurus orang lain seperti resepsionis atau public relation yang lagi ngambek pun tetap harus bisa tersenyum.

Kadang aku pengen juga sih belajar ga jujur. Seperti pas istriku masak keasinan. Aku sedikit ga tega melihatnya pontang-panting ke pasar lalu sibuk di dapur sementara aku masih tertidur lelap selepas begadang. Makanya begitu istriku nanya, "enak ga, mas..?"

"Wah enak banget, sapa dulu dong yang masak..." begitu aku jawab walau sambil melotot-melotot nahan asin di lidah.

Dijawab gitu, istriku malah memandangku cemas, "Sakit ya, mas..?"
"Engga, emang kenapa..?"
"Kok ga bisa merasakan kalo sayurnya keasinan..."


25 comments:

  1. ngakak bgt baca percakapan pertamanya...

    kena skak dr istri, ketauan boong hihi...

    BalasHapus
  2. tapi kan niatnya gaik, inge...

    BalasHapus
  3. ya kadang-2 kita berlaku tidak jujur dengan maksid tidak melukai perasaan orang lain..padahal diri sendiri yang tersakiti..he he.salam kenal ya..nice artikel.

    BalasHapus
  4. hehehe iya bos, sama sama...

    BalasHapus
  5. memang kejujuran itu suliiit sekali kadang ada yang ngomong aku bisa jujur tetapi yang Kuasa pasti akan mengujinya kita semua tak ada yang sempurna di hadapan NYA

    BalasHapus
  6. Haha...bisa aja Mas, Tuh Istrinya Emang Jujur.
    Tapi contoh di atas kejujuren orang yang ke dua ...xixi...

    BalasHapus
  7. hahha niat nyenengin malah di kira sakit, brarti harus jujur terus sekarang :)

    BalasHapus
  8. hahaha..istrinya perhatian, ya..salam kenal, saya blogger pemula..hehehe

    BalasHapus
  9. hahaha,

    aku ngebayangin melotot nahan asin sih gimana ya,,

    BalasHapus
  10. indah...
    emang iya kok susah....

    BalasHapus
  11. abak rantau..
    jangan jangan punya pengalaman kayak yg pertama yak..?
    hehehe

    BalasHapus
  12. richoyul...
    serba susah yah..?

    BalasHapus
  13. wira...
    terima kasih, sama sama ya...

    BalasHapus
  14. naila payah deh...
    menari diatas luka
    hahaha

    BalasHapus
  15. masih bagus istrinya bisa masak, coba kalo aku jadi istrinya mas rawins.. paling2 cuma aku kasi mi goreng tiap hari.. hihihi.. :p

    BalasHapus
  16. wah payah...
    bisa keriting otk dong tiap hari makan mie...

    BalasHapus
  17. Katanya ga' bisa bohong???
    Tuh buktinya : "Wah enak banget, sapa dulu dong yang masak..." begitu aku jawab walau sambil melotot-melotot nahan asin di lidah.

    hehehheeee
    gpp kali ya berbohong demi kebaikan???

    BalasHapus
  18. ih... ^^
    nggak kuat mbacanya setelah di awal ada dialog tadi
    takut endingnya lebih ngeri... ^^

    BalasHapus
  19. shanty...
    aku kan ga bilang ga pernah bohong. cuma bilang jarang keceplosan...

    BalasHapus
  20. Kan ada yang namanya White Liar n Black Liar...
    Berbohong untuk kebaikan dan berbohong yang disengaja. Tapi tetap saja kembali ke diri sendiri, apakah benar BOHONG adalah jalan keluar satu-satunya =)

    BalasHapus
  21. Jujur ada tempatnya juga ya

    BalasHapus
  22. Jujur dan gak jujur kadang tergantung sikon nya juga. Kalau jujur tapi akibatnya berabe? Ya, mikir buat mengatakan yang sebenarnya. Nice posting. Salam

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena