09 Mei 2010

War

Bosku memanggilnya pak buah, tapi aku tahu namanya War. Menurut anak-anak produksi, namanya Suwar. Lengkapnya suwargo nunut neraka katut...
#Pekok

Dia juragan duren yang buka lapak di seberang jalan depan galeri. Tapi yang jualan lebih sering istrinya, karena dia lebih suka nongkrong di gudang atau ruang produksi dengan anak-anak. Karena aku lihat dia lebih sering lontang-lantung, aku pernah jadikan dia sopir pick up ku untuk antar jemput lukisan. 

Sayang setiap musim duren tiba, dia minta keluar kerja. "Keuntungan jual duren sehari sama dengan gaji sebulan, pak. Nanti kalo dah ga musim aku kerja lagi..."

Daripada ribet punya sopir tapi kadang aku harus nyupir sendiri, akhirnya dia aku suruh freelance saja. Ada kerjaan aku tarik kalo ga ada ya nganggur lagi dia. Cuma aku pernah dapat bocoran dari stafku, katanya istrinya nanyain, "Masa pak Eko pelit, seharian antar lukisan ke Wonosobo cuma dikasih 50 ribu."

Aku males jawabnya. Stafku cuma aku suruh nanya langsung ke Suwar berapa aku kasih uangnya kemarin. 

Dan mereka trus rame didepan kantor, "Emang aku dikasih 200 ribu. Tapi kan kalo pergi sama pak Eko, makannya di restoran yang sekali makan berdua 100 ribu. Walau berangkat sendiri, aku ya ngikut dong. Yang 50 ribu untuk beli minum sama rokok. Sisanya aku kasih istriku..."

Perhitungan akuntansi yang cerdas. Cuma bingung aja, bilangnya makan berdua, padahal aku tahunya dia berangkat sendiri. Masa sih aki-aki cari muatan di jalan...?

Dia juga punya kekuatan supranatural yang dahsyat. Setiap aku ada event, dia akan menawarkan diri, "Mending bayar aku satus, opo mending udan, pak..?"

Daripada event berantakan karena hujan, aku ngalah kehilangan duit 100 ribu setiap kali. Lagi pula dia jujur kok, berani kasih garansi uang kembali. Seperti pembukaan pameran tadi malam yang ternyata gerimis, pagi-pagi dia nyodorkan uang 50 ribu. Ketika aku tanya uang apa, jawab dia. "Kan tadi malem gerimis, pak. Jadi kembali separo deh..."

Walau badannya mungil tapi karena namanya War, dia berani mati juga apalagi saat mabuk. Kalo ada seniman mabuk yang rese, dia akan berada paling depan. Aku tanya emang berani lawan seniman yang badannya lebih gede. Dengan berapi-api dia menjawab, "malaikat mau nurunin hujan saja tak lawan kok..."

Semalam pun dia unjuk keberanian lagi. Aku sudah bilang ke anak-anak untuk jagain dia agar ga pulang. Dasar purnawirawan pasukan berani malu, nekat saja dia naik motor sambil ngebut. Hasilnya gerbang depan diembat...

Pagi ini aku tanya, "ngapain malem-malem nubruk pagar..?"
"Wong mabuk ki bebas kok, pak..."

Sakarepmu deh...


5 comments:

  1. Top cak war.....,, kalo berani sama malaikat, berani nglawan pejabat korup juga, ngga...?? ;D

    BalasHapus
  2. Hahaha...
    juragan duren dilawan...

    BalasHapus
  3. walah cah pedot

    BalasHapus
  4. Haha, kalo orang makassar bilangnya pak war itu "lingu"

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena