22 April 2010

Perempuan Jawa

Di hari Kartini kemarin, aku sempat terlibat percakapan sedikit panjang melalui fasilitas chat dengan seorang teman yang jauh di seberang lautan sana. Berpuluh tahun hidup jauh dari budaya induknya tidak juga melunturkan falsafah hidupnya tentang sosok perempuan Jawa. Temanku sempat mengetik begini, "perempuan Jawa punya kekuatan cinta yang luar biasa walau kadang tidak tampak di permukaan."

Aku pun mengamini itu dengan melihat kenyataan, bahwa dalam budaya Jawa seorang perempuan seolah diwajibkan untuk menjadi wanita dalam artian wani ditata atau berani diatur hidupnya. Budaya narimo ing pandhum menjadi khasanah khas, dimana perempuan harus mau dan mampu menjadi pembantu laki-laki seberat apapun bebannya. Banyak keinginan pribadi yang harus bisa dia tahan dalam hati demi menunjukan rasa cinta itu kepada suami. Sampai-sampai untuk menyebut pasangan digunakan istilah garwa, sigarane nyawa, atau belahan jiwa.

Istilah garwa ini juga menepis anggapan bahwa perempuan dalam budaya Jawa hanya sekedar konco wingking, walau posisinya seringkali di urutan kedua. Karena disana, istri sering disebut juga sebagai pedharingan alias periuk. Jaman dulu periuk adalah tempat menyimpan beras atau menanak nasi. Ini disimbolkan sebagai perempuan yang berfungsi untuk menyimpan harta benda yang dicari suami dan mengolahnya untuk kelangsungan hidup keluarga.

Menurutku, adalah keliru bila sebagian aktifis perempuan menganggap itu sebagai penomorduaan posisi perempuan. Fungsi menyimpan dan mengolah ini tak ubahnya sutradara yang berperan di belakang layar. Tidak pernah tampak dalam film tapi sangat besar pengaruhnya atas kualitas filmnya. Atau bisa dikatakan perempuan adalah manager rumah tangga. Dimana penentuan keputusan rumah tangga yang ada di tangan suami akan banyak dipengaruhi oleh perempuan.

Ini kebalikan dengan salah seorang temanku yang lain kemarin berteriak di pesbuk, "Masih risi kalau ada kalimat "perempuan harus dilindungi dan dididik" sementara penjahat kelamin, koruptor dan yg terlibat kerusuhan tu kebanyakan bukan perempuan."

Aku tak sepenuhnya menyalahkan pendapat temanku itu. Namun aku ingin mengingatkannya akan sebuah pepatah Jawa, "man behind the gun." Atau ungkapan "di belakang laki-laki sukses pasti ada perempuan hebat." Ini sangat sesuai dengan falsafah Jawa yang menempatkan perempuan sebagai manager, bukan hanya pemandu sorak. Istilahnya mungkin "suwarga nunut neraka katut." Bukannya ada uang abang sayang, seperti pada sebagian perempuan modern saat ini. Sehingga ketika ada laki-laki korupsi, dia tak mau lagi mengatakan di belakang laki-laki bejat pasti ada perempuan bobrok.

Kesetaraan gender menurutku bukanlah persamaan posisi secara naif, melainkan pembagian tugas yang tepat guna untuk mencapai satu tujuan. Ketika semua tim ingin menjadi penyerang, siapa yang akan menjaga gawang..? Posisi sebagai konco wingking bukanlah untuk merendahkan perempuan. Masyarakat Jawa memandang perempuan sebagai makhluk indah yang dengan kecantikannya menunjukkan sisi keserasian dan keindahan. Menurut falsafah Jawa, perempuan adalah bumi yang subur, yang siap menumbuhkan tanaman. Perempuan adalah bunga yang indah, menebarkan bau harum mewangi dan membuat senang siapa saja yang melihatnya. Wanita ideal dalam budaya Jawa digambarkan panyandra. Panyandra merupakan lukisan keindahan, kecantikan, dan kehalusan melalui ibarat.

Itu adalah bukti kemenangan ala perempuan Jawa atas laki-laki. Dimana kemenangan itu diperoleh bukan dengan cara menyerangnya secara frontal, tapi dengan menghanyutkannya dalam aliran kelembutan. Atau sering diistilahkan "nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake..." Dengan cara itu laki-laki tak pernah merasa aib untuk dikalahkan. Persis lagunya Titik Puspa yang mengatakan wanita dijajah pria sejak dulu. Tapi disambung dengan kata "...tekuk lutut di sudut kerling wanita."

Jadi bisa dikatakan, menahan dirinya seorang perempuan Jawa, itu merupakan penjabaran dari apa yang diucapkan temanku yang pertama. Bahwa kekuatan cinta perempuan memang luar biasa walau kadang tak tampak dari luarnya. Perempuan memang sosok yang luar biasa.

Budaya adiluhung untuk mencegah perselisihan teramat indah untuk dijaga. Bila memang kemenangan laki-laki merupakan kemenangan perempuan juga, kenapa mesti di pertentangkan lagi. Percayalah, tidak ada laki-laki yang bisa hidup tanpa wanita. Minimal dia butuh seorang perempuan untuk melahirkannya ke dunia.

Dalam tahap lanjutnya, kan sudah ada istilah dimana istri adalah tangan kanan suami. Walau itu hanya berlaku di rumah. Soalnya ketika di luar rumah, tangan kanan adalah istri bagi suami....

Tapi bagaimana bila cinta perempuan Jawa itu harus dipendam dalam hati, karena harus menikah dengan orang lain yang tidak dicintainya..?

Akan aku bahas di tulisan selanjutnya deh...

...bersambung
kesini...

Ilustrasi Waiting for Your Love
Karya Katirin
Tujuh Bintang Art Space

2 comments:

  1. kadang perempuan mencari posisinya dalam hidup, hingga ingin disamakan dng laki2, padahal dr tidak sama itu peran perempuan juga punya andil penting dalam kehidupan
    itu sie menurutku ^^

    BalasHapus
  2. Ya gitu deh...
    Aku pikir kesetaraan itu bukan kesamaan, tapi pembagian tugas yang berbeda sesuai kemampuannya. Kenapa takut berbeda, bila kenyataan pake sandal kanan semua kita tidak merasa nyaman...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena