06 April 2010

E90ku Pensiun

Kemajuan teknologi konon kabarnya membuat hidup semakin mudah. Tapi nyatanya, tanpa peningkatan kemampuan otak, teknologi canggih hanya membuat masalah seakan semakin rumit.

Seperti ketika Nokia mengeluarkan seri E90 yang katanya lebih dahsyat kemampuan office nya.  Aku pun  tergiur dan melempar Communicator 9300i ke juragan jamur. Alasan utamaku adalah kemampuan 3G yang memungkinkan kecepatan pengiriman data ketika aku mobile. OS Symbian versi 3 juga banyak menyediakan aplikasi kantoran untuk mendukung pekerjaanku di lapangan.

Namun setelah aku pegang E90, mulai terasa kekurangannya dibanding leluhurnya 9300i. Kemampuan 3G kurang berfungsi maksimal, karena jaringan GSM walau mengaku sudah 3G, tetap saja berjalan di kecepatan GPRS.

Masalah lain, bila bekerja terlalu lama hape gampang panas dan tak jarang langsung mogok. Misalnya ketika aku kirim SMS undangan yang sekali kirim bisa ke 2000an nomor. Pada 9300i, tak pernah ada masalah walau aku klik send all. Tapi pada E90, aku harus melakukannya dalam beberapa kali kirim. Kirim ke 200 alamat sekaligus saja sudah membuat system error dan sisa sms belum terkirim di outbox akan tertulis failed. Dan bila sudah begitu, failed sms harus dihapus satu persatu secara manual. Tidak ada fasilitas select all. Bila tidak dihapus, sms berikutnya akan tertahan. Kebayang ga menghapus ratusan sms gagal satu persatu..?

Sampai akhirnya ada saran untuk beralih ke Sony Ericsson Xperia yang katanya mudah mengelola pekerjaan semacam itu, karena menggunakan OS Windows Mobile yang mudah diintegrasikan dengan Windows XP di PC. Dan kemarin sore E90 ku memasuki masa pensiun digantikan Xperia X2.

Ketika sinkronisasi data dengan MS Outlook di PC, terasa banget kenyamanannya. Begitu juga dukungan Office Mobile yang memudahkan pengelolaan data kantor dari MS Office 2007. Aku jadi merasa sreg deh dengan X2. Kayaknya pekerjaan selama keluyuran di luar kantor bisa makin mudah.

Sayangnya ketika sudah aku cabut dari PC dan mulai membuka-buka menu secara manual, mulai deh kekatrokanku terasa. Menunya hampir mirip PC dan sepertinya terlalu berjubelan di layar semungil itu. Banyaknya menu yang berjejalan malah membuatku mumet ga karuan mempelajarinya. Namun sementara aku berusaha pede aja dulu deh. Pepatah bilang alah bisa karena biasa.

Ini masih mendingan dibandingkan yang aku lihat dari teman-temanku, terutama di kalangan selebritis Jokja. Demam blekberi yang melanda, aku pikir turut merubah pola hidup mereka. Tapi ketika aku ngejob seseorang untuk menanyakan bisa apa tidak main di pembukaan event mendatang, jawabnya gini.

"Tar nunggu aku sampai rumah ya mas, aku lagi di jalan"
"Nanya kosong apa engga aja harus nunggu sampe rumah"
"Tak lihat kalender dulu, takutnya tanggal itu sudah dilingkari."
"Hari gini masih ngluweri kalender..? Kenapa ga dicatat di blekberi..?"
"Ga mudeng carane, mas.."
"Lha trus ngapain beli blekberi..?"
"Buat pesbukan, biar gaul..."

Owalah, nduuuk...
Tingkat pendidikan dan kehidupan jetset ternyata tidak menjamin kemampuan memanfaatkan teknologi yang harganya lumayan mahal. Kalo cuma ingin gaul, kenapa tidak minta aku gauli aja sih..?


 

2 comments:

  1. laaaaah.... kalimat terakhirnya loooh :D

    aku follow n link yah ^^

    BalasHapus
  2. Hahaha, lha piye tho..?

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena