13 Maret 2010

Nama Jadul

Perasaan tidak pernah kongkalingkong, tapi karyawan di kantor kok istrinya banyak yang hamil dan berurutan bulannya. Si Tiyan bulan ini siap melahirkan, Lik Ihin istrinya sudah 8 bulan, istri si bos 7 bulan, dan istriku sendiri 6 bulan. Makanya kalo pas kerjaan sedikit senggang, obrolannya di skype selalu saja soal kehamilan istri. Dan sekarang pembicaraan mulai bergeser ke soal nama anak.

Bicara soal nama anak, aku jadi ingat keluhan mboknya Lik Ihin pas ketemu di kampung. Beliau mengeluh tentang nama cucunya yang panjang-panjang dan susah dihapalkan. Di kampungku sendiri, mencari anak kecil yang namanya yang ngirit sudah susah. Dan biasanya terbagi dua tipe, kearab-araban dan kebarat-baratan. Nama yang kejawa-jawaan sudah mulai susah ditemukan.
Seperti ketika anakku lahir dulu, dari keluarga dan teman-teman yang ngasih ide nama, semuanya mengarah ke kedua tipe tadi. Teman-teman dari pondok malah ngasih ide yang menurutku aneh. Nama yang baik katanya harus ambil dari Quran. Lalu aku disuruh tahajud trus buka Quran secara acak lalu tunjuk satu kata. Sepintas oke juga sih, tapi gimana kalo ujung jariku jatuh pada kata jahanam..?

Teman yang berpikiran "menurutnya" modern, menganjurkan beberapa nama yang modern juga sambil mencontohkan anaknya yang diberi nama Chila. Tapi ketika aku tanya arti nama itu, dia cuma bilang, "mbuh, yang penting bagus.." Kalo dah begini kan kacaw. Chilla itu kan nama sejenis tikus...

Penciptaan nama dalam budaya Jawa lama memang terlihat simpel namun biasanya mengandung sejarah. Ini bisa dimengerti karena jaman dulu orang jarang mencatatkan kelahiran anak secara administratif. Untuk mengingat waktu kelahiran anak, digunakanlah peristiwa besar yang terjadi saat itu. Seperti mbah buyutku, katanya lahir pada saat hujan abu sehari tujuh kali, mungkin saat Krakatau meletus. Karena waktu itu masyarakat sibuk ngungsi kesana kemari atau mrono mrene, jadi mbahku dinamakan Rono. Ada juga yang mengambil dari weton. Misalkan lahir Sabtu Wage, dinamakan Tuge. Tapi walau sistem itu jadul, nyatanya bisa go internasional. Seperti pabrik pesawat ada yang dinamakan Boeing, karena lahirnya pada hari Rabu Paing.

Anakku dulu pun aku ambilkan dari nama Jawa. Tapi aku mikir panjang kalo harus memberi nama yang terlalu ngirit mengingat lingkungan yang katanya mulai modern. Jadi aku carikan nama yang tidak terkesan jadul tapi artinya bagus, Satrio Adi. Mengingat jaman sekarang kadang ditanya surname, walau di budaya Jawa itu tidak ada, aku tempelkan buntut namaku di belakangnya. Jadinya Satrio Adi Nugroho.

Aku tak mau seperti yang dialami temanku. Anaknya diberi nama Nurkholis. Sepertinya ga jadul-jadul amat dan artinya juga cukup baik. Nur itu cahaya kholis itu murni atau ikhlas. Lha kok tahu-tahu ada undangan kenduren ganti nama, katanya anaknya ga mau pake nama itu. Pengennya dipanggil Nicholas...

Orang Jawa bilang "Asmo kinaryo jopo" Nama adalah doa. Seharusnya orang tua dan anak harus bisa mengartikan itu tidak secara mentah-mentah. Karena doa tanpa usaha kan tiada artinya. Apa yang diharapkan pada anak dengan nama itu, segala upaya secara fisik harus dilakukan. Jangan sampai seperti anak temanku. Harapannya sangat bagus dengan memberi nama anak Waluyo. Tapi karena orang tuanya jorok, tetap saja anaknya sakit-sakitan melulu.

Jadi untuk penamaan anak, prinsipku adalah cari arti yang baik sebagai harapan orang tua terhadap anak. Dan untuk nguri-uri budaya Jawa, aku tetap akan mencarinya dari kata-kata yang njawani. Soalnya ada temenku yang sok jawa banget. Anak dikasih nama Satrio Margono. Satrio itu pejuang, margo itu jalan, no itu bocah. Filosfinya memang benar, bahwa perjuangan hidup itu semata-mata untuk urusan "dalan bocah". Tapi bagaimana bila filosofi itu dimaknai dalam tanda kutip..?

Atau tetap mengikuti Sakespir, apalah artinya sebuah nama..?

Ilustrasi Yu Mona
Karya Danny Stamp
Tujuh Bintang Art Space


0 comments:

Poskan Komentar

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawins, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena