14 Maret 2010

Aku dan Game

Waktu kecil dulu, game buatku merupakan sarana olahraga dan pengisi waktu di malam purnama. Yang paling aku sukai adalah gobag sodor dan petak umpet. Setelah agak besar, fungsinya bergeser menjadi sarana pendidikan, terutama dalam kegiatan pramuka. Dan saat ini, game merupakan ajang pelarian dan pelampiasan pribadi buatku.

Bagaimanapun juga, aku adalah orang yang selalu terliputi dendam yang entah kapan bisa hilang. Aku harus bersusah payah membuangnya, tapi dengan teramat mudah dendam itu kembali tersulut oleh hal yang paling sepele. Dan sayangnya, selama bertahun-tahun dendam itu tak pernah bisa aku lampiaskan kepada yang bersangkutan, demi seorang sandra yang teramat berarti buatku.
Selain itu, aku adalah orang yang tak pernah bisa meluapkan amarah secara emosional, padahal sebagai manusia biasa marah selalu ada. Dan selama bertahun-tahun pelampiasan emosiku, aku tumpahkan melalui game di komputer. Mungkin itu alasannya kenapa aku menyukai game bertipe first person shooter daripada yang lainnya.

Ketika emosi sedang pada puncaknya, aku bisa begitu sadis membantai musuh-musuh dalam game. Apalagi bila tidak ada orang lain di sekitarku, aku bisa main dengan volume sound maksimal dan tak jarang sambil berteriak seperti orang kesurupan. Ada kepuasan tersendiri yang aku temukan dengan cara itu dan pada akhirnya tingkat emosiku kembali normal.

Aku tidak tahu, apakah ini akan berpengaruh pada kejiwaanku atau tidak. Yang pasti aku sudah bertahun-tahun melakukan itu dan dengan cara itu aku jadi tak pernah marah-marah di alam nyata. Di saat ada sesuatu yang menaikkan tensi darah sampai maksimal, aku biasanya malah diam. Setelah sampai rumah aku tumpahkan semuanya di game.

Efek samping yang aku rasakan baru sebatas aku jadi disepelekan anak buah. Soalnya kalo aku marah di kantor, malah diketawain. "Kalo masih bisa ngomel, berarti belum marah tuh..." Sebaliknya kalo aku sudah diam, baru mereka tidak berkutik. Malah jadi irit energi...

Alasan lain aku suka game fps adalah, game tipe ini tidak begitu banyak membutuhkan pemerasan otak seperti tipe role playing game atau strategi. Untuk menyelesaikan misi, lebih diperlukan kestabilan emosi. Makanya aku gunakan game untuk mengukur kadar stres dan emosiku. Ketika tingkat stres masih tinggi, permainan cenderung ngawur dan serampangan, jadinya sang jagoan akan mati terus.

Setelah aku selalu menang dan bisa bergerak hati-hati dalam setiap permainan, bisa dikatakan emosiku sudah stabil. Dan tak perlu menunggu game over, aku segera bisa mematikan komputer dan tidur. Soalnya bila aku paksakan tidur dalam kondisi emosi tak menentu, tidurku tak akan bisa nyenyak dan tak jarang mimpi buruk yang aku dapatkan. Akibatnya besok pagi di kantor bawaannya loyo melulu.

Makanya aku ndableg saja walau dibilang seperti anak kecil. Sakarepmu... Aku suka anak-anak dan i like game....

 

2 comments:

  1. lambemu kang...
    iki ana gelang karet gawe kuncir, xixixiii...

    BalasHapus
  2. dinggo nguncir lambemu...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena