13 Februari 2010

Perempuan dan Kebertubuhan (bag. 4)

Lanjutan dari bagian 3

Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana cara pandang terhadap tubuh perempuan agar terlepas dari cara laki-laki memandang..?

Mungkin apa yang dilakukan pelukis untuk menguji pikiran, perasaan dan imajinasi bisa juga diterapkan. Pelukis pemula seringkali diuji dengan cara melukis model perempuan telanjang di depannya. Apabila dia masih saja memandang perempuan hanya sebagai obyek seksual semata, akan sulit sekali dia menggoreskan kuasnya dengan benar. Cukup banyak yang malah gemetar dan tak bisa mulai menggambar. Ketika pelukis itu sudah mampu menguasai dirinya dan menganggap perempuan di depannya adalah subyek dan obyek keindahan, imajinasi akan keindahan itu bisa tertuang di atas canvasnya.

Contoh lainnya adalah apa yang dilakukan oleh seniman perempuan yang suka berkreasi dengan body painting atau body printing. Orang awam mungkin masih memandang itu sebagai eksplorasi tubuh perempuan sebagai obyek seksual. Tapi bila kita mau terjun ke dalamnya, kita akan bisa tahu bahwa itu semata-mata karena profesionalismenya di bidang kesenian yang mengeksplorasi keindahan tubuhnya. Tidak ada kecanggungan sama sekali ketika tubuh telanjangnya meliuk-liuk di atas canvas. Kru atau penonton siaran langsung itupun menjadi sulit untuk berkonsentrasi pada pandangan mata atas tubuh bugil itu secara seksual. Perhatian penonton justru akan tertuju pada hasil karya yang terpulas indah dengan menggunakan tubuh sebagai kuasnya.

Bagaimana cara membuat perhatian laki-laki berpindah dari sekedar menatap tubuh secara seksual, itu yang harus dipikirkan oleh perempuan itu sendiri. Bila seniman perempuan yang tanpa sehelai benang pun mampu melakukannya, kenapa yang masih bisa berpakaian rapat justru tidak bisa..?

Walau perempuan juga membutuhkan seks, tapi dia harus bisa memposisikan dirinya tidak hanya sebagai obyek. Dan untuk itu sebenarnya ada celah dalam cara pandang masyarakat kita. Seperti istilah hubungan suami istri yang dikatakan sebagai nafkah batin suami kepada istri. Hanya sayangnya, sebagian dari perempuan itu sendiri sering keliru dengan menyebut aktifitas itu sebagai pelayanan istri kepada suami.

Mengutip lagu lamanya Titik Puspa kalau tidak salah, "Wanita di jajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu..." Sekilas ironis memang. Tapi jawabannya kan ada di kelanjutan lagu itu. "... tekuk lutut di sudut kerling wanita."

Selalu ada jalan untuk mengalahkan dominasi laki-laki. Tapi memilih jalan yang tidak keliru itu yang sulit. Bila kita melihat realita mungkin bisa dibuat semacam pembalikan fakta. Seperti laki-laki yang punya uang lebih berani berpikir mampu menggaet perempuan indah daripada yang ganteng tapi miskin. Tapi kenapa ada perempuan cantik yang bisa didapatkan laki-laki jelek dan miskin hanya dengan menyentuh hatinya.

Perempuan pun seringkali berpikir harus menjadi seindah mungkin agar tidak ada laki-laki yang mau menolaknya. Sehingga dia berusaha mendandani tubuhnya semaksimal mungkin. Apa ini tidak bisa sedikit diperbaiki oleh perempuan itu sendiri agar dia tidak menghabiskan segalanya hanya untuk tubuhnya saja. Bagaimanapun juga manusia diciptakan tidak hanya memiliki tubuh saja. Toh ketika jiwa pergi, tubuh akan berubah menjadi benda mati.

Lihat saja kontes putri-putrian yang mengacu pada penilaian yang mengambil mentah-mentah cara pandang orang barat yang terus menerus menyusupkan paham kapitalisme. Tidak bisa dipungkiri bila mereka mengadakan kegiatan semacam itu, selain menilai keindahan tubuh wanita secara seksual juga padat dengan unsur bisnis. Karena ujung-ujungnya mereka akan dicekoki paham bahwa bila ingin tampil indah, pakailah produk anu...

Aku pikir percuma bila perlawanan perempuan terhadap laki-laki hanya sebatas emansipasi sempit seperti yang berlaku sekarang ini. Sementara perilaku kebanyakan dari mereka masih saja tidak konsisten dengan yang jadi keinginan mereka menjadi manusia seutuhnya. Apalagi bila pandangan patriarki dan pengaruh hedonisme kapitalis mereka yakin tidak bisa dibendung, maka tidak mungkin perempuan untuk melakukan perlawanan. Dan memang tak perlu dilawan, cukup disikapi secara arif dan berperilaku sesuai dengan apa yang dia inginkan dengan kata emansipasi itu. Sehingga tujuan kaum feminis itu mengena pada akar permasalahannya bukan cuma ramai pada kulitnya saja sementara intinya tidak tersentuh.

Jadi kesimpulannya, perempuan perlu memiliki sikap dalam berketubuhan di dunia patriarki dan kapitalis. Merubah pola pikir dan perilaku yang mengarah pada penjadian tubuhnya sebagai obyek seksual laki-laki semata. Sehingga tubuh indah itu kembali menjadi miliknya seutuhnya secara merdeka dan bukan lagi milik laki-laki. Bila sebagian besar perempuan sudah mampu merubah pola pikirnya sendiri, aku yakin laki-laki akan ikut merubah otak kotornya terhadap tubuh perempuan. Bagaimanapun juga laki-laki akan bertekuk lutut di sudut kerling wanita...

Selesai.

4 comments:

  1. harus dibaca tiap perempuan bos

    BalasHapus
  2. Lhah... cuma untuk dibaca sendiri kok.
    hehehe

    BalasHapus
  3. lha, mengko disit
    kudu maca kang awal kiye
    tapi ketone manteb pisan tulisane

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena