21 April 2009

Membandingkan Nasib

Hari kemarin, tetangga di kampung nelpon. Beliau mau jemput adiknya yang baru pulang dari Malaysia. Tapi di Purworejo mobilnya ngadat. Trauma kejadian yang menimpa adiknya beberapa tahun lalu di Sukarno Hatta, beliau minta tolong aku untuk jemput di Bandara Adi Sucipto. Nanti ketemuan di galeri saja setelah mobilnya beres.

Walau agak bingung karena berpuluh tahun tak pernah jumpa, akhirnya ketemu juga tuh tetangga. Malah berdua dengan temannya yang ternyata masih sekampung juga. Akhirnya dapet penumpang cewek dua biji neh.

Dalam perjalan dari bandara ke galeri, teman masa kecilku itu berceloteh tentang kepulangannya. Krisis keuangan dunia membuat perusahaan tempat dia bekerja gulung tikar dan dia harus di PHK.

Sedang asik-asiknya dia mengungkapkan isi hati, teman yang satunya menimpal. "Salah sendiri dulu ngotot pengen di pabrik. Malah "ngenyek" aku yang terima jadi pembantu. Nyatanya jadi pembantu aman dari krisis."

Lalu aku tanya temen yang satu, kenapa pulang juga padahal ga kena PHK.

Jawabannya malah memelas, "Aku cuti, mas. Mau ngurus cerai. Suamiku ga beres. Dikirim tiap bulan bukannya buat usaha malah buat "royal" terus.."

Aku yang dari tadi tertawa-tawa dengan pertengkaran kecil mereka jadi diam. Kehidupan memang sulit untuk ditebak, apalagi dibanding-bandingkan. Perputaran dunia sulit untuk bisa dilawan. Kayaknya kita pun harus mengikuti perputaran nasib. Tinggal sebisa-bisanya kita belajar mengatur gas dan rem agar bisa cepat naik ketika di bawah.

Meratapi nasib bukanlah cara yang tepat. Apalagi dengan mengkambinghitamkan pilihan masa lalu atau membanding-bandingkan dengan nasib tetangga. Karena kita tak bisa demo untuk kesempatan yang sudah jelas berbeda setiap orangnya.

Aku cuma komen pendek pada akhirnya. "Ya, sabar. Kamu ga punya kerjaan lagi tapi kan masih punya suami yang baik. Siapa tahu bisa nemu kerjaan baru yang lebih baik. Trus kamu, walau suamimu brengsek, kamu masih bisa kerja untuk menghidupi anak-anak. Siapa tahu nanti dapat suami yang lebih baik yang bisa mengerti tanggung jawab dalam rumah tangga."

Ealah...
Kasih nasehat kayak mbah-mbah malah ketempuhan.
"Mas kan punya perusahaan. Aku jadiin pegawe dong.."

Yang satu permintaannya lebih parah.
Ga perlu aku tulis lah...

Ilustrasi "Liku-liku kehidupan"
Karya Nanang Warsito
Tujuh Bintang Art Space

3 comments:

  1. Percakapan khas ndesoku sing aku rindukan.
    Wah, suami brengsek kaya gini pantas dikemplang dunk ama centong kayu!

    BalasHapus
  2. Permintaannya apa ya kira2.

    BalasHapus
  3. Hihihi...
    No comment deh...

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena