10 Desember 2008

Budaya Misuh


Seorang teman memprotes ketika saya keceplosan menyebut nama binatang tak berdosa dalam sebuah percakapan. Memang itu tak menjadi masalah panjang. Tapi saya masih saja berusaha memikirkan ucapan yang mungkin sudah menjadi budaya.
Misuh...

Dulu saya berasumsi, budaya misuh merupakan milik masyarakat tingkat bawah. Terutama terasa sekali di kultur masyarakat Banyumas. Saya kutip sebuah tulisan lama "Inyong Bangga Dadi Wong Ngapak" yang antara lain berbunyi "Nek nyilih istilaeh kang Ahmad Tohari -budayawan ngapak- basa banyumas kuwe basa kerakyatan. Mulane ora kenal anggah-ungguh. Kowe madhang, lurahe madhang, bupatine madhang, ning inyong urung madang kiyeeeh..."

Dan ternyata setelah menyelami kehidupan di kota heroik ini, misuh juga cukup kental dalam budaya kemasyarakatannya. Hanya saja pengucapannya sedikit dipelesetkan. Mungkin ini berkaitan dengan kultur priyayi yang teramat melekat dalam hati manusia-manusianya.

Bila dalam masyarakat Banyumas yang terkenal blakasuta jelas terucap kata "asu" atau "bajingan", di kota ini akan terpeleset menjadi "bajigur". Pengucapan yang beda tapi dengan maksud sama. Dan menurut saya, budaya misuh ini bukan merupakan kejahatan yang menyamakan seseorang dengan asu atau bajingan dalam definisi kata yang sesungguhnya.

Karena kenyataan saat saya mengucap "asulaaah...", tidak ada sedikit pun bayangan binatang berkaki empat dalam benak. Teman yang dimaki pun tidak pernah merasakan sakit hati. Yang ada justru keakraban yang semakin erat.

Kembali ke soal makian di Jokja, saya ingat juga sebuah kaos yang sudah menjadi trade mark nya Jokja :

satoe lagi dari djokja
sesoeda geplak, goedeg en bakpia

kaos oblong bertanda merk mata


Bila pisuhan merupakan sebuah penghinaan, mengapa kaos "dagadu" makin merajalela? Mungkin sederhana saja. Bukan berarti penggagasnya hobi misuh atau tuna kesopanan. Tapi ada kejelian atas keadaan yang justru membuat mereka menjadi garis panutan.

Dan kenyataan bila kebiasaan memaki itu melekat di segala lapisan masyarakat. Terlepas dari tata cara pengungkapannya yang pasti akan berbeda, sesuai latar belakang budayanya. Yang pasti kita semua musti sadar akan sengkarut budaya kemanusiaan yang tak mungkin lepas dari kebutuhan akan keseimbangan. Dimana hitam putih kehidupan haruslah sama banyaknya.

Tak salah bila kita belajar memaki, daripada mengumbar iri dengki...
Dan marilah kita misuh asal tidak telat shalat subuh...

Asuuulaaaah....

3 comments:

  1. Bener banget, mas. banyak orang sok alergi dengan kata itu dengan alasan jorok dll dll
    Tapi nyatanya lebih kacaw...
    Nice post...

    BalasHapus
  2. Kasih daaahh..
    Hehe.. Biarpun budaya, tapi kalo ngomong kasar or jorok mending ga usah dilestarikan deh :P

    BalasHapus
  3. eman eman lambeneee

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena