07 Desember 2008

Belajar Miskin

Menyaksikan berita tentang pembagian kupon daging kurban yang turut memakan korban di masjid Tegal, di liputan 6 SCTV sore tadi, saya jadi ingat beberapa kejadian serupa beberapa waktu lalu.

Masih di liputan 6, pembagian kupon di Polda Metro Jaya menampilkan wawancara dengan mereka yang ikut berebut. Antri dari pagi dan akhirnya protes kepada panitia karena tidak kebagian. Tapi mereka tidak akan menyerah dan akan datang lagi pada saat pembagian besok.

Tidak hanya dalam kegiatan semacam ini, dalam banyak hal termasuk dalam pembagian BLT yang kesemuanya itu mensyaratkan "untuk orang tidak mampu", kejadian semacam itu selalu terulang.

Hmmm...
Mengapa sih orang begitu bangga ingin menjadi miskin tanpa mau memahami apa arti hidup miskin dalam kehidupan. Mereka berebut mempertaruhkan nyawa demi predikat miskin tapi akan ngamuk bila dibilang, "kere loe..."

Kenapa kita tidak juga mau belajar bahwa miskin itu indah. Kita tak akan pernah berani berhutang ke bank dan tak perlu dikejar-kejar debt collector. Kita jadi tak berambisi menjadi caleg yang butuh dana milyaran untuk membeli suara yang kenyataannya membuat kita menjadi koruptor dan penjahat berdasi.

Malah mbah kyai bilang, di akherat pertanyaan kita akan berkurang satu. Darimana harta kau dapatkan dan kemana kau belanjakan.

Salahkah bila kita belajar menjadi miskin dengan pemahaman hati. Bukan dengan cara mempertontonkan ketakutan akan kemiskinan itu sendiri. Bila kenyataanya dengan sepincuk nasi kucing saja, cacing di perut kita sudah damai.

Semoga saya bisa belajar miskin...

1 comments:

  1. yah, setidaknya ntu cara bersyukur yg lebih baek.. :D

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena